
"Aku melakukannya karena itu tanggung jawab saya saat bersama kamu," jawab Satya dingin menanggapi ucapan terima kasih dari Rayna.
"Ish sombong banget sih," gumam Rayna kesal.
Dia tak menyangka Satya akan bersikap dingin terhadap dirinya.
Satya hanya tersenyum di dalam hati mendengar umpatan Rayna yang masih terdengar jelas di telinganya.
Akhirnya tak seorangpun yang mengeluarkan kata-kata. Satya fokus mengendarai mobilnya sedangkan Rayna menoleh ke arah luar jendela menikmati pemandangan lalu lalang kendaraan yang memadati jalanan.
Setelah tiga puluh menit berlalu, mobil yang dikendarai Satya sampai di depan kediaman keluarga Surya.
Rayna turun dari mobil tanpa menunggu Satya membukakan pintu mobil untuknya.
"Silakan, Nona," ujar Satya mempersilakan Rayna masuk ke dalam rumah majikannya.
Rayna hanya tersenyum sekilas, dia masih kesal dengan sikap Satya tadi.
"Tenang saja Rayna, dia pasti akan luluh dengan cintamu," gumam Rayna di dalam hati.
"Assalamu'alaikum," ucap Rayna saat memasuki rumah suami kakaknya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Arumi dan Kayla yang tengah duduk di ruang keluarga bersama Kayla dan Raffa.
Kayla bergegas berdiri dan melangkah menghampiri Kayla yang sudah mulai masuk ke dalam rumah.
"Gimana capek?" tanya Kayla menyambut sang adik.
"Enggak terlalu, Kak. Lagian cuma perjalanan 2 jam," jawab Rayna santai.
Kayla mengajak Rayna melangkah menuju ruang keluarga untuk menyapa Arumi.
"Assalamu'alaikum, Ma," ucap Rayna ramah dan sopan.
"Wa'alaikumsalam, Sayang," jawab Arumi.
Arumi memang tipe seorang ibu yang penuh kasih sayang, dia sangat menyayangi Kayla oleh karena itu dia juga menyayangi Rayna.
Rayna meraih tangan Arumi, menyalaminya dan menciumi punggung tangan ibu mertua kakaknya itu.
Rayna melihat Raffa sekilas dan tersenyum pada sang kakak ipar sebagai tanda, dia menyapa suami kakaknya itu.
Rayna tahu, dia dan Raffa bukanlah muhrim sehingga dia tidak perlu menyalami sang kakak ipar seperti yang dilakukannya terhadap Arumi.
"Kayla, kamu antar Rayna ke kamar tamu, ya. Dia pasti capek,: perintah Arumi pada menantunya.
"Iya, Ma."
"Yuk!" ajak Kayla pada adiknya.
Kayla menggandeng tangan adiknya menuju sebuah kamar yang terletak di dekat ruang keluarga.
"Ini kamarmu," ujar Kayla memperlihatkan sebuah kamar yang luasnya lebih besar dari kamar Kayla dan Rayna.
Di dalam kamar juga tersedia sebuah tempat tidur ukuran besar yang terletak di tengah-tengah kamar.
Tatanan kamar yang sangat rapi dan menggunakan peralatan yang serba berwarna putih membuat kesan elegan dan mewah, membuat Rayna merasa nyaman menempati kamar itu.
__ADS_1
"Kamarnya besar sekali, Kak. Suami kakak pasti orang kaya banget, ya," ujar Rayna jujur.
Dia merasa kagum dengan kemegahan rumah milik sang kakak ipar.
"Apaan, sih?" Kayla mengabaikan ocehan sang adik.
"Kakak beruntung punya suami kaya, baik hati ditambah dengan mertua yang sangat sayang sama kakak," oceh Rayna masih mensyukuri keberuntungan yang didapat oleh sang kakak.
"Alhamdulillah, semoga kamu juga mendapatkan jodoh yang lebih baik dari kakak," ujar Kayla menanggapi ocehan adiknya.
"Aamiin, do'akan aku berjodoh dengan supir pribadi suami kakak," ujar Rayna sambil mengedipkan matanya.
"Apa? Kamu naksir sama Satya?" tanya Kayla.
Dia memutar bola matanya tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut sang adik.
"Sssstt, jangan keras-keras. Nanti orangnya dengar," bisik Rayna membungkam mulut sang kakak.
Kayla hanya menggelengkan kepalanya, dia sudah mengerti dengan sifat adiknya yang mudah naksir dengan cowok.
Namun, kali ini Kayla menangkap ekspresi yang penuh keyakinan dalam ucapannya.
"Ya udah, sana bersih-bersih. Bentar lagi kita makan siang,: perintah Kayla pada adiknya.
"Oke, siap, Bos!" seru Rayna sambil berlagak hormat bendera di hadapan sang kakak.
Kayla menggelengkan kepalanya, lalu dia keluar dari kamar tamu itu.
Kayla mulai melangkah menuju dapur. Dia ingin membantu Bi Sari untuk menyiapkan makan siang untuk keluarganya.
Saat Bi Sari tengah asik mencuci beberapa perkakas yang baru saja mereka gunakan untuk memasak, Kayla asik menghidang menu makan siang di atas meja.
Dia kaget saat merasakan tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya.
"Istri idaman," bisik Raffa di telinga Raffa.
"Bang, malu. Nanti dilihat mama atau Bi Sari." Kayla berusaha melepaskan dirinya dari tangan kekar sang suami.
Wajahnya berubah seketika, warna merah terpancar dari wajah anggun gadis yang telah bersuami itu.
"Biarin aja, kamu kan istri aku," bantah Raffa menggoda sang istri.
"Alhamdulillah, sepertinya Raffa mulai mencintai Kayla," gumam Arumi di dalam hati yang berdiri di belakang sepasang suami istri itu.
"Hem." Arumi berdehem.
Raffa terperanjat kaget, wajahnya memerah malu. Dia malu kedapatan menggoda sang istri di hadapan mamanya.
Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo makan, mama udah lapar. Bi Sari!" teriak Arumi memanggil pembantu rumah tangganya.
"Iya, Nyonya," jawab Bi Sari.
"Tolong, panggilkan Rayna, ajak dia makan siang bareng," perintah Arumi pada Bi Sari.
"Baik, Nyonya." Bi Sari pun melangkah menuju kamar tamu tempat Rayna berada.
__ADS_1
Setelah semua berkumpul di ruang makan, mereka pun menikmati makan siang bersama.
Raffa semakin menikmati statusnya sebagai seorang suami yang dilayani oleh istri sholehah.
****
"Ma, Pa, kami berangkat, ya," ujar Raffa pamit kepada kedua orang tuanya.
Hari ini Raffa akan membawa istrinya traveling sekeliling Sumatera Barat.
Walaupun rencananya sedikit terganggu dengan keberadaan sang adik ipar, tapi dia berusaha menikmati situasi yang ada.
Raffa juga merasa nyaman karena dalam perjalanan ini Raffa membawa Satya yang nantinya bisa menemani Rayna di saat dia ingin berduaan dengan sang istri.
Di hari pertama, Raffa membawa Kayla ke kota Bukittinggi, objek wisata yang menjadi maskot propinsi Sumatera Barat.
Di sana Raffa membawa Kayla berkeliling kebun binatang, berjalan-jalan di pelataran jam gadang.
Mereka menikmati perjalanan yang sangat menyenangkan.
Di setiap langkah mereka ada dua insan yang menatap keki pada kemesraan yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang berjalan di depan mereka.
"Bro, kalian mau main ke tempat lain, gak apa-apa, kok," ujar Raffa saat melihat dua insan itu memasang wajah ditekuk tidak suka.
"Ayo, kita cari tempat lain," ajak Satya pada Rayna saat mendapat perintah dari bosnya.
Raffa hanya menggelengkan kepala melihat kepergian Satya dan adik iparnya.
"Kayaknya Rayna sama Satya cocok juga, ya," ujar Raffa berpendapat.
"Menurut, Bang Raffa, Satya itu orangnya gimana?" tanya Kayla penasaran dengan sosok Satya.
"Kenapa kamu tiba-tiba nanyain tentang Satya?" tanya Raffa balik dengan tatapan tajam pada istrinya.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya πππ