
Dengan wajah menunduk Alita menghampiri Om Rahman.
"Hei, kau anak Muda!" panggil Om Rahman sambil menunjuk pada Raymond yang masih berdiri saat Alita sudah berada di dekat Om Rahman.
Raymond pun melangkah mendekati Om Rahman. Tatapan tajam Rahman membuat suasana seketika tegang dan tak ada seorang pun yang berani berbicara.
Raffa menoleh ke arah Kayla, seolah dia bertanya pada sang istri apa sebenarnya tengah terjadi.
Alex menoleh ke arah sang Bunda sambil mengernyitkan dahinya, dia juga ingin tahu alasan Om Rahman tiba-tiba marah pada Alita dan Raymond.
Hurry yang tadinya berada di samping sang suami langsung mendekati sang adik.
"Rahman, tenangkan dirimu. Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Kamu jangan terbawa emosi," ujar Hurry sambil mengelus lengan adiknya agar emosinya mereda.
Sedangkan Rahma istri Rahman hanya bisa diam. Dia tak pernah melihat suaminya marah pada keponakan kesayangannya itu.
Hurry menarik lengan Rahman dan membawanya ke ruang keluarga.
Semua anggota keluarga yang lain pun ikut melangkah menuju ruang keluarga.
Kali ini, Arumi dan Surya tidak datang menghadiri acara akad nikah adik Kayla karena ada urusan yang harus mereka selesaikan.
"Kak," lirih Rahman setelah duduk di sofa ruang keluarga.
Rahman berusaha meredam emosinya karena di sana ada Raffa dan Irene sebagai menantu di baginya.
"Jelaskan padaku, apa alasan kakak dan Bang Hendra meminta aku menyetujui pernikahan Alita dan Raymond sedini ini," tanya Rahman meminta penjelasan.
Hurry dan Hendra saling melempar pandangan.
"Ehem." Hendra berdehem menatap ke arah sang istri.
Melihat istrinya menunduk, Hendra dapat membaca situasi, dia mengira-ngira bahwa adik iparnya sudah mengetahui alasan pernikahan Alita dan Raymond.
"Begini Rahman, sewaktu kami pergi berlibur,--" Hendra sengaja menggantung ucapannya.
Dia melihat ekspresi Alita yang kini terlihat sangat ketakutan. Gadis itu terlihat menangis dan mulai menyesali perbuatannya.
Alex bingung harus berbuat apa, sebenarnya ini bukanlah kesalahan Alita.
Dia juga merasa bersalah, bahwa idenya membuat adik bundanya akan sangat kecewa terhadap Alita sang keponakan kesayangan Rahman.
"Mungkin saat ini aku hanya bisa membiarkan apa yang akan terjadi, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya pada om Rahman agar beliau tidak marah pada Alita," gumam Alex di dalam hati.
"Kami mendapati, Alita dan Raymond berada di kamar yang sama," jelas Hendra jujur.
Rahman menatap kecewa pada keponakannya.
"Benarkah itu, Alita?" tanya Rahman.
__ADS_1
Alita langsung menjatuhkan tubuhnya di kaki Rahman dan Rahma.
"Maafkan aku, Om, Tante," isak Alita.
Terlihat jelas kini gadis itu mulai menyesali perbuatannya.
"Maaf, Om. Ini semua tak sepenuhnya salah Alita, ini juga salahku yang tidak bisa menahan diri," tutur Raymond seolah dia membenarkan bahwa dia sudah merenggut kehormatan Alita yang belum disentuhnya sama sekali.
"Astaghfirullahaladzim," lirih Rahman penuh penekanan.
Ingin rasanya dia menampar Alita dan Raymond sekarang juga, tapi wajah kakaknya yang terbaring tak bernyawa beberapa tahun lalu seketika melintas di benaknya.
Hal itu membuat Rahman dengan susah payah menahan emosinya. Pria yang masih berumur 40 tahunan itu menahan pedih di hatinya.
Rahman kini mematung dengan wajah penuh kekecewaan, Rahma hanya bisa mengusap lembut punggung sang suami berusaha mengendalikan emosi sang suami yang kini terpendam.
"Aarghh," teriak Rahman tiba-tiba.
Dia berdiri dan melangkah keluar dari rumah sang kakak.
"Bang!" teriak Rahma panik.
Alex panik melihat Rahman keluar dari rumah, dia langsung mengejar Rahman yang kini sudah berada di dalam mobilnya.
Rahman melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Hendra entah ke mana tujuannya.
"Yah, bagaimana ini?" Hurry panik dan khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada adiknya dan putranya.
Alita dan Raymond berdiri, mereka juga panik dengan apa yang baru saja terjadi.
"Bun, apa sebenarnya yang sudah terjadi?" tanya Hendra berusaha untuk tenang.
"Tadi saat aku menjemput Alita ke kamar sebelum acara akan dilangsungkan,--" Hurry menceritakan apa yang terjadi pada semua orang yang ada di sana.
Semua orang yang tadinya masih bingung kini mulai mengerti dengan situasi saat ini.
Alex terus mengikuti mobil Om Rahman, terlihat Om Rahman melajukan mobilnya ke arah luar kota.
"Om Rahman mau ke mana, ya?" tanya Alex di dalam hati.
Saat ini dia tidak tahu ke mana tujuan Om Rahman, yang bisa dilakukannya hanya terus mengikuti mobil milik Om Rahman.
Satu jam lebih perjalanan yang mereka tempuh, Rahman menghentikan mobilnya di sebuah TPU yang terletak di daerah Solok.
Rahman melangkah lunglai mendekati gundukan tanah makam sang kakak yang sudah lebih dahulu meninggal dunia.
"Kaaaak," pekik Rahman penuh penyesalan.
Terlihat Rahman sangat rapuh, dia mulai menangis di depan makam sang kakak, ummi Kayla dan Alita.
__ADS_1
Awalnya Alex ingin mendekat, tapi dia mengurungkan niatnya. Alex membiarkan Rahman meluapkan rasa sesak yang ada di hatinya.
"Maafkan aku, Kak, hiks," tangis Rahman mulai pecah.
"Aku sudah lalai menjaga putrimu, maafkan aku, Kak. Kamu pasti menyesali kejadian ini, Aku seorang paman yang tidak bisa menjaga keponakanku dengan baik. Aku bukanlah Paman yang baik, Kak. Hiks hiks," isak Rahman sambil. mengumpati dirinya sendiri.
Setelah membiarkan Om Rahman meluapkan sesak di dadanya, Alex pun mulai mendekatinya.
Alex menyentuh bahu Rahman.
"Om," lirih Alex.
Rahman mendongakkan kepalanya, dia menatap nanar Alex yang kini berdiri tepat di belakang.
"Om," lirih Alex.
Alex menghembuskan napas kasar.
"Semua ini bukan kesalahan, Om," ujar Alex.
Alex mengajak duduk di sebuah rebahan pohon yang tak jauh dari makam orang tua Kayla.
"Semua yang Om pikirkan itu sebenarnya tidak pernah terjadi," ujar Alex ingin mengungkapkan kenyataan sebenarnya.
"Maksud kamu apa, Lex?" tanya Om Rahman bingung.
"Raymond dan Alita tidak pernah melakukan hal haram itu," jelas Alex.
"Kamu jangan membuat Om semakin bingung, Lex. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi," pinta Om Rahman masih bingung.
"Begini, Om. Sebenarnya pernikahan ini adalah rencanaku dan Raymond agar Alita berubah," Alex mulai menjelaskan apa yang masih belum dipahami Om Rahman.
"Mungkin ini saatnya Om Rahman tahu bagaimana sifat Alita selama ini."
"Selama ini aku mengetahui bagaimana tingkah laku Alita di luar pandangan Om dan Bunda. Hal ini sengaja aku tutupi karena kau tidak mau Om kecewa padanya. Namun, tingkah Alita semakin menjadi, dia sudah bertindak di luar batas. Dia ingin merusak hubungan Kayla dan Raffa. Dia berencana ingin menjebak Raffa agar kakak iparnya itu melakukan hubungan terlarang dengan dirinya, makanya aku dan Raymond merekayasa kejadian itu seolah-olah mereka sudah berbuat hal haram itu agar Alita mau menikah dengan Raymond." Alex menceritakan semua yang terjadi pada malam itu.
"Tapi kenapa harus memaksa Alita untuk menikah secepat ini, Lex?" tanya Om Rahman kurang setuju.
"Setelah menikah ini, aku akan sibuk dengan keluarga dan pekerjaanku, ditambah dengan kuliah. Jadi, aku tidak bisa lagi memantau berbagai kelakuan Alita," jawab Alex.
"Separah itukah kelakuan Alita di belakang kami?" tanya Om Rahman seakan tak percaya dengan apa yang dikhawatirkan oleh Alex.
"Iya, Om. Bahkan waktu itu Alita pernah menyuruh orang untuk memperko*a Kayla," ujar Alex memberitahukan keburukan Alita.
"Apa?"
Terdengar suara Raffa menahan emosi.
Bersambung...
__ADS_1