Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 210


__ADS_3

Setelah maghrib, Raymond mengajak Alita ke rumah Om Rahman untuk berpamitan karena merek akan berangkat ke Jakarta.


Walaupun Alita lebih sering menginap di rumah Bunda Hurry, tapi dia juga harus menghormati Rahman sebagai adik dari ibunya. Karena selam ini Rahman lah yang membiayai segala kebutuhan Alita sejak dia ditinggal oleh kedua orang tuanya.


“Kamu udah siap?” tanya Raymond pada Alita yang baru saj ke luar dari kamar.


“Udah,” jawab Alita ketus.


“Kok ngomong sama suami seperti itu, sih?” tegur Alex yang tiba-tiba datang bersama Irene.


“Kamu masuk enggak bilang-bilang sih, Bang?” tanya Alita mengalihkan perhatian Alex.


“Lagian pintu rumah terbuka, ya udah aku masuk aja,” jawab Alex.


“Kalau sama suami itu sopan dikit, karena surgea seorang istri itu dibawah keridhoan suami,” nasehat Alex lalu berlalu melangkah menuju kamarnya.


“Dengarkan tuh, nasehat kakakmu,” timpal Raymond.


“Enggak sudi,” ujar Alita ketus.


Akhirnya mereka pun melangkah keluar dari rumah. Untuk sementara waktu mereka berada di Padang. Alex mengizinkan Raymond memakai mobilnya.


Raymond melajukan mobil meninggalkan kediaman Hendra menuju rumah Om Rahman yang terletak di komplek Mawar putih. Jarak rumah Om Rahman dengan bunda Hurry tidak terlalu jauh, sekitar 20 menit perjalanan mereka pun sudah sampai di depan rumah Rahman.


“Assalamu’alaikum,” ucap Raymond id saat mereka sudah berdiri di depan pintu rumah Rahman.


Seorang wanita paruh baya keluar untuk membukakan pintu.


“Buk, Om Rahman di rumah, kan?” tanya Alita pada Pembantu rumah tangga di kediaman Rahman.


“Ada, masuk, Non,” ujar wanita itu pada Alita dan Raymond.


Alita langsung masuk, dan menghampiri Rahman yang sudah duduk di ruang keluarga. Alita sudah tahu kebiasaan Omnya setelah makan malam, dia dan istrinya akan bersantai di ruang keluarga sambil menonton berita.


“Om,” seru Alita saat mereka sudah berada di dalam ruang keluarga.

__ADS_1


Alita dan Raymond langsung duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


Rahman langsung mematikan TV, dia menghentikan kegiatannya sejenak, terlihat suami dari keponakannya hendak membicarakan sesuatu.


“Ada apa, Ray?” tanya Rahman terus terang.


“Begini, Om. Kami datang ke sini mau minta izin bahwa besok kami akan berangkat ke Jakarta. Aku sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku,” ujar Raymond terus terang menyampaikan tujuannya datang ke rumah Om dari istrinya.


“Ma, tolong bawa Alita ke kamar dulu. Aku akan berbicara empat mata dengan Raymond,” ujar Rahman pada istrinya.


“Om ingin membicarakan apa? Kenapa harus dibelakangku?” bantah Alita.


“Al,” lirih Rahman dengan memberi sebuah tatapan peringatan pada keponakannya.


Tanpa banyak bicara, Alita pun akhirnya diam, dia mengikuti Tante Rahma yang melangkah masuk ke dalam kamarnya yang ada di rumah Om Rahman.


Kini tinggallah Raymond dan Rahman berada di ruang keluarga. Rahman tidak ingin pembicaraannya di dengar oleh Alita sehingga dia membawa Raymond berbicara di taman belakang.


“Ray,” lirih Rahman setelah mereka berada di taman belakang rumah Rahman.


“Om sudah tahu semuanya yang berkaitan dengan Alita, Om juga sudah tahu sebenarnya tidak terjadi apa-apa di antara kamu dan Alita pada malam di saat kalian berlibur,” ujar Rahman memulai pembicaraannya.


“Om juga sudah tahu bagaimana sifat dan sikap asli Alita, yang selama ini Om dan Bunda Hurry tidak mengetahui sifat aslinya. Tapi yang Om tahu, Alita itu sebenarnya adalah anak yang baik dan penurut.”


“Saat ini ALita sudah sah menjadi istrimu, Om juga tahu kamu sangat mencintai Alita, tapi Om mohon jangan hapus rasa cintamu padanya jika ALita belum mencintaimu. Pahamilah dia, dan semoga suatu hari nanti dia akan mencintaimu melebihi cintanya pada kakak iparnya,” ujar Rahman lagi.


“Om berharap kamu bisa mencintai dan menjaga Alita hingga maut memisahkan kalian, Om sangat menyayangi Alita. Om harap kamu berjanji pada Om tidak akan pernah menyakiti Alita dan berjanji akan menjaganya dengan baik,” pinta Om Rahman pada Raymond.


Rasa kecewa Rahman terhadap Alita membuat Rahman harus meminta pada Raymond untuk menjaga keponakan kesayangannya agar keponakannya bisa berubah kembali ke jalan yang benar seperti kakak dan adiknya.


“Untuk hal ini, Om jangan khawatir. Aku mau menikah dengan Alita karena aku sudah lama menyukainya, aku tahu Alita adalah wanita yang baik, dia akan berubah beriringnya waktu. Tapi aku harap Om mengizinkan aku melakukan apa pun demi kebaikannya,” ujar Raymond.


“Om serahkan semuanya padamu, asalkan kamu tidak menyakiti dan melukai Alita, jika sedikit saja kamu melukai atau menyakiti Alita, maka kamu akan berurusan langsung dengan Om,” ujar Rahman mengingatkan Raymond.


Walaupun Rahman sangat kecewa dengan sikap dan tingkah laku Alita dibelakangnya selam ini, tapi dia tetap tidak rela jika ada orang menyakiti atau melukainya, terlebih lagi itu pria yang sudah dipercayanya untuk menjaganya.

__ADS_1


“Siap, Om! Om tidak perlu khawatir, aku mencintai Alita dan aku berjanji tidak akan menyakitinya sedikitpun, aku akan berusaha meraih cintanya dan membuat Alita bahagia hidup bersamaku,” ujar Raymond meyakinkan Om Rahman.


Rahman dan Raymond mulai bercerita berbagai hal tentang kehidupan mereka, dari percakapan yang terjadi di antara mereka, Rahman dapat menilai bagaimana pribadi Raymond.


Rahman juga yakin bahwa Raymond bisa menjadi pria yang bisa diandalkan untuk membawa Alita menjadi lebih baik.


Tak terasa malam semakin larut, jam dinding sudah menunjukkan angka 10. Raymond pun minta izin untuk pamit kembali ke rumah Hurry.


“Alita mana, Tan?” tanya Raymond pada Tante Rahma setelah mereka masuk ke dalam rumah.


Raymond hanya melihat tante Rahma yang duduk di ruang keluarga sambil menonton sedangkan Alita tak berada di sana.


“Alita tadi bilang mau masuk ke kamar, katanya sudah ngantuk,” jawab tante Rahma.


“Mhm,” gumam Raymond bingung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kamu coba lihat saja dia ke kamarnya,” ujar tante Rahma pada Raymond.


Raymond masih berdiri diam, dia hanya menggaruk kepalanya, dia tampak kebingungan.


“Kenapa?” tanya tante Rahma heran melihat tingkah Raymond.


“Maaf, Tante. Kamarnya Alita di mana, ya?” tanya Raymond.


Ternyata dia diam karena tidak tahu di mana letak kamar Alita yang ada di rumah Rahman, karena mereka baru kali ini datang ke rumah Om Rahman.


“Oh iya, ya. Kamu belum tahu di mana letak kamar Alita. Di lantai 2, kamar urutan nomor 2,” ujar Rahma memberitahukan letak kamar Alita pada suami keponakannya itu.


“Oh iya, terima kasih, Tante. Aku coba lihat Alita ke kamarnya dulu ya, Tante,” ujar Raymond.


“Iya,” sahut tante Rahma.


Raymond pun melangkah menaiki anak tangga lalu mencari kamar istrinya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2