Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 239


__ADS_3

Alex termenung sejenak mendengar nasehat dari Fitri. Menurutnya ada benarnya saran dari rekan kerjanya itu.


Dia mengangguk pelan.


"Terima kasih, Fit. kamu tidak hanya rekan kerja tapi teman baik untuk berbagi," lirih Alex tersenyum.


Raut wajahnya yang tadi kusut kini mulai ceria.


Fitri tersenyum melihat Alex tak lagi murung, ada rasa bahagia melihat wajah tampan yang semakin hari terlihat kurus itu kembali bersemangat.


"Kalau kamu mau pulang, pulanglah terlebih dahulu. Aku yang akan mengecek persediaan bahan baku makanan di dalam mesin pendingin, Irene pasti sedang menunggumu," ujar Fitri


"Ya udah aku pulang duluan. Kalau nanti ada masalah kabari aku, ya," ujar Alex.


Fitri mengangguk dan tersenyum.


Alex pun melangkah menuju parkiran dan menaiki kuda besinya. Dia melajukan sepeda motornya meninggalkan parkiran cafe menuju rumah kontrakannya.


Sesampai di rumah, waktu maghrib sudah masuk. Alex bergegas masuk ke dalam kamar, di sana dia melihat Irene yang sedang bersiap-siap untuk shalat maghrib.


Alex tidak menghiraukan istrinya, dia langsung meletakkan tas di atas meja, dia berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Usai shalat maghrib, terlihat Irene duduk di atas tempat tidur masih asik dengan ponselnya. Alex yang baru saja selesai melaksanakan ibadahnya langsung berdiri dan mendekati sang istri.


"Ren, aku sudah transfer ke rekeningmu. Gunakan uang tersebut untuk kebutuhanmu sehari-hari selama di kuliah! Uang tersebut tidak terlalu banyak tapi aku rasa cukup untuk kebutuhanmu satu bulan ini. Uang dapur akan aku berikan langsung kepada Mak Ijah karena beliaulah yang mengurus urusan dapur dan lainnya," ujar Alex memberitahukan bahwa dia telah memberikan nafkah bulan ini pada istrinya.


Setelah itu Alex langsung keluar dari kamar, dia tidak melihat ekspresi apapun dari sang istri.


Ada rasa sedih yang menyelinap di hati Irene dengan sikap Alex yang sudah 1 bulan tidak memperdulikan dirinya, tapi egonya tak sanggup membuatnya mengucapkan kata maaf pada sang suami.


Bahkan, ucapan terima kasih pun tak dapat dilontarkannya setelah mendapat kabar bahwa sang suami sudah mengirimkan uang saku untuknya selama satu bulan ke depan.


Irene langsung membuka aplikasi mobil banking yang ada di ponselnya, dia mengecek transferan yang dikirim oleh sang suami.


Irene cemberut melihat nominal yang tertera di sana. Alex memberikan uang saku satu bulan sama persis yang biasa diberikan oleh kedua orang tuanya dulu tak lebih sedikitpun.


"Lima juta? Ini cuma cukup buat kuliah doang, Aku tidak bisa bersenang-senang membeli keperluan yang aku mau," gumam Irene di dalam hati.

__ADS_1


"Ya sudahlah, aku harus menerima uang ini dari pada enggak ada sama sekali," lirih Irene.


Irene menghela napas panjang, dia pun melangkah keluar kamar. Dia mendengar perbincangan antar Alex dan Mak Ijah.


"Kamu dapat uang sebanyak ini dari mana, Nak?" tanya Mak Ijah panik.


Belanja dapur yang biasanya hanya kurang 3 juta dalam sebulan, hari ini Alex memberikan uang sebesar 5 juta pada Mak Ijah untuk keperluan dapur dan lain-lain.


"Alex baru terima gaji, Mak. Enggak nyangka gajinya lumayan besar. Alhamdulillah," jawab Alex.


"Alhamdulillah," lirih Mak Ijah terharu.


Ada rasa syukur yang disematkan di hatinya, dan dia berharap Irene bisa berubah dengan kemampuan Alex dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.


"Yang penting, untuk masalah dapur Mak Ijah tidak perlu pakai uang yang dikirimkan Ayah sama Bunda lagi, biar uang itu bisa Mak Ijah simpan," ujar Alex dengan ramah.


"Alhamdulillah, bagi Mak, kamu sama seperti anak Mak sendiri, Mak ingin melihat kamu bahagia, apa pun akan Mak lakukan agar wajah tampan kamu tidak kusut lagi," ujar Mak Ijah menahan pilu di hatinya melihat sikap Irene yang belum juga berubah.


Irene memang ramah pada Mak Ijah, hanya saja Irene belum bisa menyadari bahwa dia merupakan seorang istri. Dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dengan separuh hati. Mungkin dia masih waktu untuk menyadarinya.


"Mhm," gumam Irene masuk ke dalam ruang makan.


"Ayo, kita makan. Kalian pasti sudah lapar," ajak Mak Ijah.


Mak Ijah pun mengambil piring di rak piring dan meletakkannya di atas meja.


Alex dan Irene duduk berdampingan.


"Kamu mau makan pakai apa?" tanya Irene pada Alex.


Alex menoleh heran pada sang istri.


"Apakah dia berubah begitu saja dengan uang yang baru saja aku berikan padanya?" gumam Alex menatap dalam ke arah wanita yang hingga saat ini masih bertahta di hatinya.


"Kamu mau, ayam goreng atau,--"


"Ayam goreng," ujar Alex memotong ucapan istrinya.

__ADS_1


Ada rasa bahagia di hati Alex melihat perubahan Irene, dan dia berharap istrinya mulai sadar bahwa dirinya bukanlah seorang gadis lagi.


Irene mengambilkan nasi dan ayam goreng ke piring Alex, dia tak lupa memasukkan sayur bayam yang sudah terhidang di atas meja.


Menu makan malam mereka sangat sederhana, tak banyak macamnya. Namun, cukup gizinya.


Mereka mulai menyantap makan malam dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah selesai makan, Mak Ijah izin ke dapur untuk membersihkan piring-piring bekas makan mereka.


"Lex, makasih udah ka,--"


"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, itu aku berikan padamu bentuk tanggung jawabku sebagai seorang suami tidak lebih. Aku hanya tidak ingin dianggap suami yang tak berguna dan tak mampu menafkahimu seperti yang dituduhkan keluargamu padaku," ujar Alex.


Alex sengaja memotong pembicaraan Irene, Alex tidak ingin Irene berbasa-basi setelah apa yang dilakukannya.


Alex hanya ingin Irene berubah dan menyadari bahwa dirinya sekarang sudah menjadi seorang istri.


Irene menatap dalam pada suaminya, dia dapat melihat masih ada cinta di hati pria yang juga masih dicintainya.


"Apakah kamu masih marah padaku?" tanya Irene pada Alex.


"Aku tidak marah padamu, aku hanya kesal dengan sikapmu," tutur Alex jujur.


"Maafkan aku," lirih Irene nyaris tak terdengar.


"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu hanya perlu berubah dan menyadari statusmu saat ini adalah seorang istri bukan gadis lajang lagi yang bebas melakukan apa pun sesuka hatimu," ujar Alex tegas memberi nasehat pada istrinya.


"Aku lelah, aku mau istirahat," lirih Alex.


Alex berdiri dan melangkah menuju kamar yang biasa ditempati oleh Alita.


Alex sengaja menghindari Irene agar Irene bisa berpikir dan sadar dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini.


Irene hanya diam membisu, dia tak menahan langkah suaminya karena hati dan egonya masih berperang.


Akhirnya Irene pun melangkah menuju kamar meninggalkan meja makan yang masih berantakan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2