Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 223


__ADS_3

Alita melebarkan bola matanya, telinganya terasa panas saat mendengar seorang wanita asing yang tiba-tiba datang menghampiri sang suami dan memanggil suaminya dengan sebutan sayang.


“Diana!” seru Raymond kaget saat melihat keberadaan wanita di masa lalunya datang menghampirinya secara tiba-tiba.


“Kamu masih ingat aku, Sayang?” tanya Diana memastikan mantan kekasihnya masih ingat dengan jelas namanya.


Wanita itu yakin namanya masih terukir jelas di hati pria yang pernah menjadi kekasihnya itu. Diana menoleh pada wanita yang ada di depannya. Di antara mereka hanya dibatasi sebuah meja.


Diana menatap sinis pada wanita yang kini sedang menatap tajam padanya, sorot mata wanita itu menyatakan bahwa dia tidak menyukai keberadaan dirinya di samping Raymond.


“Siapa wanita ini, berani sekali dia menatap tajam padaku,” gumam Diana di dalam hati.


Raymond masih diam saat melihat wanita yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun lalu kembali hadir dalam hidupnya setelah dia menikah dnegan Alita.


“Ray, kamu semakin tampan,” ujar Diana mulai merayu Raymond.


Tanpa memperdulikan keberadaan Alita di hadapannya, Dia mengelus manja lengan Raymond dengan mesranya, dia berlagak sebagai wanita yang sangat berarti dalam hidup Raymond.


Mata Alita mulai memanas melihat tingkah wanita yang tak tahu diri itu menyentuh suaminya tepat di hadapannya. Hati Alita semakin terbakar saat melihat reaksi Raymond yang biasa saja dengan perlakuan wanita tak tahu diri itu.


Raymond melihat dengan jelas api cemburu yang kini tengah membakar hatinya, tapi dia tak bisa berbuat banyak karena Raymond merasa tak enak hati pada Diana.


Diana, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Raymond sambil bergeser sedikit menjauh dari mantan kekasihnya itu.


Diana mengernyitkan dahinya melihat tingkah Raymond. Dia merasa Raymond memiliki suatu hubungan dengan wanita yang ada di hadapannya.


"Ini kan tempat umum, Ray. Wajar aku di sini," jawab Diana santai.


“Maaf, Tuan. Ini pesanannya.” Susi datnag membawakan pesanan Raymond dan ALita.


Dia meletakkan, makanan yang dipesan Raymond dan Alita di atas meja.


“Kamu belum selesai makan? Kalau begitu kita makan bareng ya, Sayang,” ujar Diana dengan manja.


“Mbak, tolong pesanan saya yang tadi duduk di meja itu bawa ke sini saja, ya,” pinta Diana pada Susi.


Susi pun mengangguk mengiyakan permintaan pelanggan kafe. Dia berlalu meninggalkan meja bosnya.


"Makanlah, kamu pasti lapar," ujar Raymond pada Alita.


Alita hanya diam, dalam kesal dia menyantap makanan yang kini sudah tersedia di atas meja.


Tak berapa lama Susi kembali datang dengan membawakan pesanan Diana tadi.


Mereka pun menyantap menu makan siang yang sudah tersedia di hadapan mereka masing-masing.

__ADS_1


Dalam menikmati menu makan siangnya, Diana masih sempat memperhatikan penampilan Raymond, bahkan dia membersihkan sudut bibir Raymond yang berlepotan saus.


Alita masih saja diam melihat aksi Diana yang terus saja mencari perhatian Raymond.


"Diana, aku harus pergi!" ujar Raymond setelah makanannya habis.


Dia sengaja tak berlama-lama duduk di kafe agar dapat menghindar dari Diana secepatnya.


"Lho, kenapa cepat sekali?" tanya Diana heran.


Diana masih ingin berlama-lama berada di samping Raymond. Dia ingin melancarkan aksinya agar Alita merasa bahwa dirinya masih ada di hati Raymond.


Diana ingin Alita tak banyak berharap pada Raymond karena Raymond masih membuka hati untuk dirinya.


"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Raymond agar Diana tidak tersinggung.


"Oh ya udah, kalau gitu kapan-kapan kita ketemu lagi, ya," ujar Diana dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Mhm," gumam Raymond dengan senyuman terpaksa.


"Yuk, kita pulang," ajak Raymond pada Alita.


Alita berdiri dan mengikuti langkah Raymond, di saat itu Raymond meraih tangan Alita lalu menggenggamnya dengan erat agar Diana dapat melihat dia memiliki hubungan dengan Alita.


Alita hanya menatap sedih pada tangan Raymond yang menggenggam tangannya.


Raymond langsung membawa Alita pulang, dia bingung melihat ekspresi Alita saat ini yang hanya diam.


Sepanjang perjalanan, tak ada seorang pun yang memulai percakapan. Perjalanan menuju rumah di isi dengan keheningan di antara sepasang suami istri itu.


Sesampai di rumah, ALita langsung masuk ke dalam rumah dalam keadaan diam, wajahnya yang tadinya sumringah pergi makan siang dengan sang suami kini hilang begitu saja di terbangkan angin.


“Huhft.” Raymond menghela napas panjang.


Dia ingin menguji perasaan Alita terhadap dirinya makanya Raymond bersikap seperti orang bingung antara sang istri atau sang mantan kekasih.


Raymond mengikuti langkah Alita, dia masuk ke dalam kamarnya. Dia memilih istirahat karena merasa lelah.


**


"Oek...oek...!"


"Oek...oek...!"


Rumah Raffa dan Kayla kini heboh dengan suara tangis bayi, kedua nenek dan Kayla rempong mendiamkan ketiga bayi-bayi yang sejak tadi menangis.

__ADS_1


Kayla berusaha memberikan susu satu per satu tapi belum ada satu orang pun yang bisa diamankan.


Raju akan diam di saat dia menyusu, Raja dan Ratu menangis. Jika Raja yang menyusu maka Raju dan Ratulah yang menangis, begitu juga saat Ratu menyusu Raja dan Raju menangis.


Hurry dan Arumi yang ikut ke Jakarta sementara waktu karena tidak tega membiarkan Kayla mengasuh ketiga bayinya seorang diri. Untuk saat ini Surya dan Hendra terpaksa mengalah karena mereka masih aktif bekerja.


Mereka juga tidak tega membiarkan cucu-cucu mereka diasuh oleh baby sitter karena cucu-cucu mereka masih sangat kecil.


"Assalamualaikum," ucap Raffa saat masuk ke dalam rumah.


Dia heran melihat ketiga bayinya menangis. Raffa langsung melangkah menuju kamar tempat mereka berada.


"Anak papa kenapa nangis?" ujar Raffa saat sudah berada di dalam kamar.


Dia menyentuh pipi putra putrinya satu persatu.


"Mmmm." Seketika ketiga bayi itu mulai diam saat melihat sosok Raffa.


Ketiga wanita itu sejak tadi sudah bingung memikirkan cara untuk mendiamkan ketiga bayi kembar, ternyata saat dia melihat sosok pria kekar dan tampan itu mereka langsung diam.


“Lho? Mereka diam saat melihat papanya, kalian kangen papa, ya?” ujar Arumi.


Raffa tersenyum melihat reaksi bayinya.


“Iya, Nak. Kalian kangen papa?” ujar Raffa menirukan suara anak kecil pada ketiga buah hatinya.


Raffa mendekati mereka satu per satu.


“Papa harus bersihkan tubuh dulu, habis ini kita main bareng, ya,” ujar Raffa pada buah hatinya.


Raffa pun hendak melangkah, tapi saat dia membalikkan tubuh tangan Raja menarik ujung jasnya.


Kayla tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh putra sulungnya.


“Eh, Raja mau sama papa?” tanya Raffa lembut.


Dia mengajak bayinya berbicara seakan bayinya itu sudah mengerti apa yang dibicarakannya.


“Mhmm,” gumam Raju seakan menjawab apa yang diucapkan Raffa apadanya.


“Papa mandi dulu, ya. Papa bau,” ujar Raffa pada putranya.


Raffa berusaha melepaskan tangan Raja yang memegang ujung jasnya. Setelah itu, dia pun meninggalkan ketiga bayi itu bersama mama dan nenek-neneknya.


Baru saja Raffa keluar dari kamar, tiba-tiba…

__ADS_1


“Oek…oek…” Ketiga bayi itu kembali menangis.


Bersambung…


__ADS_2