
"Baiklah, aku ke sana sekarang," ujar Raffa.
Raffa memutuskan sambungan telponnya, lalu dia menghentikan mobilnya di depan kafe.
"Ada apa, Bang?" tanya Farhan ikut cemas.
"Ada yang menculik Lola, Fitri minta aku datang ke lokasinya sekarang juga," ujar Raffa.
"Lalu?" tanya Farhan ikut panik.
Akifa juga ikut panik, dia bingung harus berbuat apa.
"Han, aku minta tolong antarkan Akifa ke rumah, aku harus ke tempat Fitri sekarang juga," pinta Raffa pada Farhan.
"Baiklah, Bang. Kalau ada apa-apa, langsung kabari aku," ujar Farhan.
Farhan pun turun dari mobil, Raffa menoleh ke bangku belakang.
"Dek, kamu ikut Farhan dulu, ya," ujar Raffa meminta pengertian adik iparnya.
"Iya, Bang," lirih Akifa menunduk, mau tidak mau dia harus ikut dengan Farhan.
Akifa juga ikut turun mobil. Dia mengikuti langkah pria asing yang baru saja dikenalnya.
Sesampai di samping mobilnya, Farhan membukakan pintu mobil bagian depan untuk Akifa.
Akifa terdiam sejenak, dia tampak ragu untuk masuk ke dalam mobil, dia tidak ingin duduk berdampingan dengan pria asing yang belum terlalu dia kenal.
"Ada apa? Ayo naik," ujar Farhan mempersilahkan Akifa masuk ke dalam mobil.
Akhirnya, mau tidak mau Akifa pun masuk ke dalam mobil. Setelah gadis belia itu duduk dengan nyaman di kursi mobil, Farhan melangkah mengitari mobil lalu masuk ke dalam mobil melalui pintu kemudi.
Saat dia hendak melajukan mobilnya, dia melihat gadis belia itu belum mengenakan sabuk pengaman.
"Jangan lupa pasang sabuk pengamannya, Dek," ujar Farhan mengingatkan Akifa.
Akifa pun memasang sabuk pengaman sendiri, karena sudah terbiasa menaiki mobil pribadi, Akifa tidak mengalami kesulitan dalam memasangnya.
Farhan mulai melajukan mobilnya setelah memastikan Akifa sudah duduk dengan nyaman tepat di sampingnya.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di sepanjang perjalanan tak ada kata yang keluar dari mulut gadis belia tersebut.
Dengan susah payah Farhan mencoba mengajak gadis belia itu berbicara, tapi sang gadis hanya membalas perkataan Farhan hanya dengan kata iya atau tidak.
Semenjak Akifa masu pesantren dirinya mulai tertutup bagi orang-orang yang tidak dikenalnya.
Dia tak ingin banyak bicara dengan lawan jenis yang sama sekali tidak dikenalnya.
__ADS_1
Kepribadiannya saat di luar ruang lingkup keluarga sangatlah berbeda 180 derajat dibandingkan saat dia bersama keluarganya.
Melihat sikap Akifa yang sangat tertutup membuat Farhan semakin penasaran dengan sosok gadis belia itu, terlebih dia yakin bahwa gadis belia yang kini duduk di sampingnya adalah gadis yang sudah mengubah jalan hidupnya.
Tak berapa lama mereka sampai di depan rumah kediaman Raffa, Farhan menghentikan mobilnya.
Bergegas Akifa turun dari mobil tersebut.
"Terima kasih," ucap Akifa sebelum dia keluar dari mobil.
Akifa tidak menawarkan Farhan untuk masuk terlebih dahulu. Justru gadis itu ingin Farhan cepat berlalu meninggalkannya.
Namun, Farhan masih saja belum melajukan mobilnya hingga akhirnya Akifa memilih melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan pria yang sudah rela mengantarkan dirinya.
"Assalamu'alaikum," ucap Akifa saat dia sudah berdiri di depan pintu rumah.
"Wanita yang sangat berbeda," lirih Farhan sebelum melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Raffa.
"Wa'alaikummussalam," jawab Kayla sambil membukakan pintu rumah.
Kayla kaget saat melihat adiknya sudah berdiri di depan rumahnya seorang diri.
Kayla berusaha melirik ke kiri dan ke kanan.
"Adek? Kamu sendirian?" tanya Kayla khawatir.
Akifa meraih tangan sang kakak lalu menyalaminya dan mencium punggung tangan sang kakak.
"Terus sekarang dia di mana?" tanya Kayla heran.
"Udah pergi," jawab Akifa tanpa merasa bersalah.
"Kamu enggak suruh mampir?" tanya Kayla lagi.
"Enggak, Kak. Lagian buat apa nawarin dia mampir bukan muhrim," jawab Akifa lagi.
Kayla menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik, tapi Kayla juga bersyukur memiliki adik seperti Akifa yang sangat menjaga diri dalam bergaul.
"Aku boleh masuk, Kak?" tanya Akifa saat sang kakak tak kunjung menyuruhnya masuk.
"Eh, iya. Boleh dong, Dek." Kayla menarik tangan adiknya untum masuk ke dalam rumah, setelah itu dia kembali menutup pintu rumah.
"Siapa, Kay?" tanya Arumi yang baru saja keluar dari kamar 3R.
Ketiga bayi mungil itu baru saja tertidur setelah diberi ASI eksklusif oleh sang mama.
"Akifa," pekik Arumi surprise saat melihat adik dari menantunya itu.
__ADS_1
Arumi sangat senang berjumpa dengan Akifa.
"Assalamu'alaikum, Ma," ujar Akifa lalu meraih tangan ibu mertua dari sang kakak.
Dia menyalami wanita yang merupakan teman baik Ummi dan Bundanya itu.
"Wa'alaikummussalam, bagaimana kabar kamu, Sayang?" tanya Arumi sambil menarik tubuh Akifa ke dalam dekapannya.
Arumi sangat takjub melihat cara berpakaian gadis belia itu. Seketika Arumi teringat dengan mendiang Ummi Akifa yang merupakan sahabatnya dulu.
"Alhamdulillah, baik, Ma. Mama apa kabar?" tanya Akifa ramah.
"Alhamdulillah, mama juga baik, Nak. Kamu udah makan?" tanya Arumi.
"Belum, Ma," jawab Akifa jujur.
"Ya udah, kamu bersihkan tubuhmu dulu. Mama siapkan makan siang untuk kamu, ya." Arumi mengajak Akifa masuk menuju kamarnya lalu mengajak gadis itu bersiap-siap untuk makan siang.
Sedangkan Kayla kembali masuk ke kamar 3R untuk menemani anak-anaknya tidur.
****
Mobil Fitri dan anak buahnya kini sedang mengepung mobil yang sudah membawa Lola kabur.
Fitri dan anak buahnya terlibat perkelahian untuk merebut Lola dari para penculik.
Raffa sampai di lokasi Fitri saat semuanya sedang adu kekuatan masing-masing. Mau tak mau, Raffa pun ikut mengeluarkan ilmu bela dirinya.
"Fit, bawa Lola pergi dari sini!" perintah Raffa saat dia menghadapi para penculik tersebut.
Fitri bergegas menarik tangan Lola lalu membawanya pergi meninggalkan perkelahian tersebut.
Kekuatan para penculik kalah banyak dan mereka kalah saing dengan anak buah Fitri serta Raffa yang memiliki ilmu bela diri yang sangat terlatih.
Para penculik memilih kabur dari pada mati di tangan anak buah Fitri dan Raffa.
"Terima kasih, Tuan," ucap salah satu anak buah Fitri pada Raffa yang ikut membantu.
"Sama-sama," ujar Raffa.
Raffa pun kembali masuk ke dalam mobil, dia langsung menghubungi Fitri.
"Amankan gadis itu! Aku akan mengirimkan anak buah Satya untuk berjaga lebih hati-hati lagi," ujar Raffa pada Fitri saat sambungan telepon sudah tersambung.
"Baik," sahut Fitri.
Fitri membawa Lola ke rumah kostnya yang berada tak jauh dari salah satu kafe cabang SatRa yang dikelolanya.
__ADS_1
Setelah itu, Raffa meminta Satya untuk menyuruh anak buah handal Satya untuk menjaga Fitri dan Lola agar tak ada orang yang bisa membawa Lola pergi karena Lola merupakan kunci dalam pembebasan Raymond.
Bersambung...