
Kayla dan Raffa salin melempar pandangan, mereka mengerti dengan maksud Alita.
Raffa tersenyum pada istrinya, lalu dia mengambil keputusan.
"Ya udah, aku duduk di sini saja," ujar Raffa memilih bangku satu.
"Kamu enggak apa-apa bareng Alita di sana?" tanya Raffa sebelum Raffa duduk di bangku tersebut.
"Enggak apa-apa, Bang. Kalau ada apa-apa. Kamu kan masih di pesawat yang sama denganku," ujar Kayla dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Alita menatap kesal ke arah sepasang suami istri yang menunjukkan keharmonisan rumah tangga mereka di depannya.
Hati Alita semakin panas, dan semakin membenci Kayla. Namun, dia akan berpura-pura baik agar bisa mendapatkan cinta Raffa.
Kayla pun duduk di samping adik kandungnya. Kayla tidak ingin membuat masalah lagi dengan Alita, dia akan mengikuti apa yang Alita mau agar adiknya bisa memahami kasih sayang yang tulus dari hatinya.
Alita tersenyum senang, walaupun dia tidak bisa duduk di samping Raffa, setidaknya dia tidak menyaksikan kedekatan suami istri tersebut.
"Makasih, Kak. Kamu memang baik sekali sama aku," ujar Alita berpura-pura manis di hadapan Kayla.
Dia merangkul lengan sang kakak, dia bersikap manja pada sang kakak.
Kayla tersenyum memahami maksud sang adik.
"Iya, Dek. Kamu adalah adikku, setelah bertahun-tahun kita terpisah, dan kini kita telah berjumpa dan berkumpul, Mak aku akan berusaha menjadi kakak terbaikmu dan Akifa," ujar Kayla dengan lapang dada.
"Dasar munafik, aku yakin, kamu hanya ingin membuat hatiku luluh dan melupakan Raffa," gumam Alita di dalam hati.
Dia masih saja berprasangka buruk terhadap Kayla, sebaik apapun sikap Kayla di matanya akan tetap salah.
"Iya, kak. Makasih atas perhatian kakak," ujar Alita.
Raffa menoleh ke arah dua kakak beradik itu, dia mendengarkan sayup sayup obrolan mereka.
Raffa merasakan ada sesuatu yang tengah direncanakan oleh Alita.
"Aku harus berhati-hati terhadap Alita, aku merasa dia belum berubah sepenuhnya. Jangan jangan dia memiliki rencana lain agar aku dan Kayla berpisah," gumam Raffa di dalam hati.
"Ya Allah, hanya padamu aku bergantung pertolongan jagalah hati dan cintaku hanya untuk hatiku seorang," gumam Raffa di dalam hati memohon pada sang pemilik hati
Pesawat pun mulai lepas landas, Raffa mencoba memejamkan matanya. Agar sepanjang perjalanan dia dapat mengabaikan Alita jika dia mengajak dirinya mengobrol.
Satu jam empat puluh lima menit, pesawat terbang di atas awan akhirnya pesawat pun mendarat di bandara Soekarno Hatta.
Setelah pesawat benar-benar sudah berhenti, para penumpang pun dipersilakan untuk turun dari pesawat.
__ADS_1
Para penumpang mulai keluar dari pesawat satu per satu termasuk Kayla, Raffa dan Alita.
Saat keluar dari pesawat Raffa mengulurkan tangannya hendak menggandeng tangan istrinya.
Dengan senang hati Alita meraih tangan kakak iparnya. Dia hendak memegangi tangan kakak iparnya tapi, Raffa langsung mengelak.
Alita langsung memanyunkan bibirnya saat mendapat penolakan dari kakak iparnya.
"Kamu berjalanlah terlebih dahulu," ujar Raffa tegas.
Dengan terpaksa Alita melangkah sambil menahan rasa kesalnya pada Raffa.
Raffa pun meraih tangan istrinya. Dia memegangi tangan tersebut dengan sangat erat.
"Hati-hati, Sayang." Raffa merangkul pundak Kayla lalu menuntun sang istri melangkah keluar dari pesawat.
Sesampai di Jakarta, Rayna dan Satya sudah menunggu kedatangan mereka.
Rayna melambaikan tangannya lalu berlari menghampiri sang kakak.
Rayna langsung memeluk erat tubuh sang kakak, karena dia sangat merindukan sosok sang kakak.
"Kakak, aku kangen," ujar Rayna manja pada sang kakak saat bertemu dengan Kayla.
Rayna menoleh ke arah Alita, dia tidak suka melihat Alita ikut bersama kakaknya. Sejak bertemu dengan Alita dia merasa Alita bukanlah orang yang baik.
"Kakak juga kangen sama kamu, Sayang," ujar Kayla penuh kasih sayang.
Kayla membelai lembut kepala Rayna.
"Baru juga beberapa hari di tinggal kakaknya, sudah seperti di tinggal bertahun-tahun saja," ledek Satya.
Entah mengapa akhir-akhir ini Satya merasa Rayna sangat manja dan cengeng.
"Ish, kamu nyebelin, Mas," gerutu Rayna mengerucutkan bibirnya.
Satya, Kayla dan Raffa tersenyum melihat tingkah Rayna.
"Yuk, kita pulang!" ajak Satya.
Mereka pun masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan Bandara.
Satya sengaja memarkirkan mobilnya di sana agar mereka tidak perlu berjalan jauh menuju tempat parkir.
Satya dan Rayna duduk di bangku depan, sedangkan Raffa, Kayla dan Alita duduk di bangku belakang.
__ADS_1
Raffa membukakan pintu untuk dua kakak beradik itu, Kayla menyuruh Alita untuk masuk terlebih dahulu.
Alita masih sempat menatap kagum kakak iparnya. Raffa mengerti dengan tatapan Alita, dia berusaha bersikap biasa saja.
"Hati-hati," lirih Raffa saat Kayla hendak masuk ke dalam mobil.
Setelah mereka masuk mobil, Raffa pun ikut masuk ke dalam mobil.
"Kita berangkat, ya," ujar Satya setelah memastikan semua orang masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana kabar kafe, Bro?" tanya Raffa memulai pembicaraan di sepanjang perjalanan.
"Aman, Bro. Gue suruh Raymond buat handle semua kafe yang ada di Jakarta. Masalah kafe di Bandung gue serahkan tanggung jawabnya sama Nick. Teman lu berbakat juga buat bisnis, perkembangan kafe semakin maju di tangannya." Satya menjawab pertanyaan Raffa dengan detail.
"Sekarang gue bisa fokus sama bisnis online gue dan Brama grup," tambah Satya.
"Syukurlah, kalau begitu. Gue juga bisa fokus sama kuliah dan seminar," ujar Raffa menanggapi.
Ketiga wanita di mobil itu hanya bisa diam, karena pembicaraan mereka tentang masalah pekerjaan yang mereka sama sekali tak mengerti apa-apa.
Sepanjang perjalanan Raffa menggenggam erat tangan sang istri, dia tak ingin melepaskan tangan itu walaupun hanya sedetik.
Mata Alita memanas melihat sikap Raffa pada sang istri, dia mencoba melempar pandangan keluar jendela agar tidak menyaksikan hal-hal yang akan membuat dirinya sakit hati.
"Di mana kost-an mu Alita?" tanya Satya pada Alita saat mereka hampir sampai di kawasan Universitas Al-Azhar.
"Gang Mawar di dekat Indomaret belok kiri," jelas Alita pada Satya.
Satya mengangguk lalu membelokkan mobilnya di gang yang baru saja ditunjukkan oleh Alita.
"Rumah yang bercat hijau," ujar Alita setelah mobil Satya memasuki gang Mawar.
Tak berapa lama, Satya menghentikan mobilnya di depan kost Alita.
Alita turun dari mobil diikuti oleh Kayla, sebagi seorang kakak dia ingin mengantar adiknya hingga masuk ke dalam kost-an.
Sementara itu yang lainnya menunggu Kayla di dalam mobil.
"Kamu hati-hati di sini ya, Dek," ujar Kayla sebelum meninggalkan Alita.
"Kak, aku boleh minta sesuatu?" ujar Alita pada sang Kakak sebelum Kayla keluar dari kostnya.
Kayla menautkan kedua alisnya penasaran.
"Minta apa, Dek?" tanya Kayla.
__ADS_1