Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 219


__ADS_3

Mata Irene masih tertuju ke arah seseorang yang berada di toko perhiasan tersebut.


Alex pun mengikuti tatapan sang istri. di sana terlihat Raymond dan Alita sedang berdebat.


“Aku enggak mau perhiasan itu, kamu enggak perlu membujukku,” ujar Alita sambil cemberut.


“Terus kamu mau apa?” tanya Raymond membujuk Alita.


“Aku enggak mau apa-apa,” jawab Alita terlihat kesal pada suaminya.


“Hah? Raymond dan Alita? Ngapain mereka di sini? Sepertinya mereka sedang bertengkar,” gumam Alex di dalam hati.


Alita keluar dari toko perhiasan, dan berlalu. Dia tak menyadari keberadaan Alex dan Irene yang sedang melihat mereka.


Alex sengaja tak memanggil mereka karena tidak ingin ikut campur dalam masalah mereka.


Setelah Alita pergi, mata Irene tertuju pada kalung yang dipegang oleh penjaga toko. Kalung yang ditolak Alita begitu saja.


Wajah Irene berubah sendu, dia menginginkan kalung itu, tapi dia tahu Alex pasti tidak sanggup membelikan kalung itu untuknya.


Alex dapat melihat dengan jelas kesedihan sang istri.


“Maafkan aku, ya. Saat ini, aku belum bisa membelikanmu perhiasan. Untuk saat ini kita harus berhemat terlebih dahulu, jika tabunganku habis bagaimana dengan kehidupan kita selanjutnya?” ujar Alex pada Irene.


Irene mengangguk, dia berusaha mengerti dengan kondisi suaminya saat ini, oleh sebab itu dia harus bisa menahan diri.


“Iya, enggak apa-apa, kok. Masih banyak hal-hal yang kita butuhkan selain perhiasan itu,” ujar Irene.


“Ya udah, yuk kita lanjut beli perlengkapan yang kamu butuhkan untuk kuliah,” ajak Alex.


Irene mengangguk. Lalu melangkah mengikuti langkah Alex. Mereka masuk ke sebuah toko pakaian, di sana banyak terpajang kode berbagai diskon.


“Pilihlah pakaian yang kamu suka,” ujar Alex.


“Iya,” lirih Irene mulai memilih beberapa baju, celana dan rok yang cocok untuknya.


“Apa salah, ya. Aku iri sama Alita? Dia saja mau dibelikan perhiasan malah menolak, lah sedangkan aku yang mau perhiasan justru suamiku tak sanggup membelikannya, apakah aku sudah salah menikah dengan Alex?” gumam Irene sedih saat masih memilih pakaian untuknya.


****


“Hei, kamu mau ke mana?” Raymond berusaha meraih tangan istrinya yang hendak ke luar dari mall.


“Aku mau pulang!” ujar Alita kesal.


“Oke, kita pulang, tapi kita makan dulu, ya!” pinta Raymond pada Alita.

__ADS_1


“Kamu makan aja sendiri, aku enggak nafsu makan,” tolak Alita.


Alita kesal pada Raymond, karena sejak tadi pagi Raymond mengajak dirinya ikut ke kafe. Raymond tidak membiarkan Alita jauh darinya sedikitpun. Raymond sengaja melakukan hal itu agar di saat dia sibuk, ALita tidak bisa berbuat sesuatu yang tidak baik.


Walaupun Alita sudah bertaubat dan sadar atas perbuatannya selama ini tidak baik untuk kakak dan kakak iparnya, tapi Raymond selalu waspada karena Alita belum bisa menerima Raymond sebagai suaminya. Jadi, di dalam rumah tangga mereka masih terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil.


Tadinya Raymond sengaja hendak membelikan Alita perhiasan sebagai permintaan maaf sudah membuat Alita capek ikut bekerja bersamanya seharian. Alita yang sudah kesal pada Raymond langsung menolak.


“Ya udah, tapi kamu harus ikut aku!” Raymond menarik tangan Alita dan membawanya masuk ke dalam sebuah foodcourt yang ada di mall tersebut.


Dengan hati yang mendongkol Alita pun mengikuti langkah sang suami.


“Dasar tukang paksa!” gerutu Alita.


“Kamu kalau enggak dipaksa pasti selalu menolak!” ujar Raymond.


“Ish, selalu saja begitu! Kamu egois,” maki Alita.


“Untung saja kamu suami aku, kalau enggak sudah aku bunuh,” gumam Alita terus saja mengumpati sang suami yang menurutnya semakin menyebalkan.


Raymond hanya tersenyum, menurutnya semakin hari istrinya membenci dirinya maka semakin sulit istrinya untuk melupakan dirinya, dengan kebencian yang dirasakan Alita saat ini, Raymond suatu hari nanti Alita akan mencintai dirinya melebihi cintanya.


Raymond memilih tempat bagian pojok, di pinggir jendela. Dari sana mereka dapat melihat pemandangan kota Jakarta di malam hari. Gemerlap cahaya yang menghiasi kota menjadi pemandangan yang sangat disukai oleh siapa saja yang duduk di posisi mereka saat ini.


Pria tampan itu kini sedang melahap makanannya tanpa menghiraukan istrinya yang menatap kesal ke arahnya.


Gadis itu hanya bisa menggerutu di dalam hati, dia tak bisa meluapkan apa yang ada di hatinya karena walau bagaimanapun. Pria yang kini aada di hadapannya adalah suaminya.


Baru saja Raymond menyelesaikan makannya, tiba-tiba terdengar suara dari perut Alita pertanda cacing-cacing di perutnya mulai protes minta diberi makanan.


Raymond menatap ke arah sang istri dnegan tatapan yang sulit diartikan.


“Kamu kenapa liatin aku begitu?” tanya Alita kesal.


Wajah Alita kini memerah menahan rasa malu karena ketahuan sedang kelaparan.


“Kamu lapar?” tanya Raymond.


“Eng,--“ belum juga Alita menjawab pertanyaan sang suami, perutnya kembali berbunyi sehingga Alita tak lagi bisa berbohong.


“Mhm, ya udah. Kamu mau pesan apa?” tanya Raymond mengerti.


“Tidak perlu,” bantah Alita.


“Udah ketahuan lapar, masih saja menolak.” Raymond melambaikan tangannya pada seorang pelayan.

__ADS_1


Pelayan itu datang menghampiri mereka.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya si pelayan.


“Mhm, kamu mau pesan apa?” tanya Raymond pada istrinya.


“Ayam rica-rica sama jus buah naga,” jawab Alita.


“Ada yang lain, Tuan?" tanya sang pelayan lagi.


“Tidak, cukup itu saja,” jawab Raymond.


Raymond tersenyum melihat Alita.


“Ish, senang banget kamu ngeledekin aku,” ujar Alita kesal.


“Hahaha,” tawa Raymond pecah.


Dia tak dapat lagi menahan tawa. Dia melepaskan tawanya yang sejak tadi tertahan.


“Puas? Tertawa aja sepuas hatimu,” gerutu Alita.


Tak berapa lama pelayan pun kembali membawakan makanan yang dipesan Alita tadi.


“Silakan, Nona,” ucap pelayan basa-basi.


Alita tersenyum dan mengangguk. Gadis itu pun mulai menikmati makanan yang dihidangkan oleh pelayan tadi dengan lahapnya.


Raymond menatap dalam pada wajah wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Wanita yang selalu heboh dan marah-marah tak keruan pada dirinya, tapi hal itulah yang disukai Raymond.


Alita menghabiskan makanannya, setelah itu menyeruput jus buah naga yang sudah tersedia di atas meja,


“Ayo kita pulang!” ajak Alita pada Raymond.


Dia sudah lelah, seharian ikut bekerja dengan Raymond. AKhirnya Raymond pun mengikuti keinginan istrinya.


Raymond membayar tagihan makanan mereka, lalu dia berdiri dan meninggalkan foodcourt diikuti oleh sang istri dari belakang.


“Auww,” pekik Alita saat dia terjatuh karena tersandung oleh kaki seorang pria yang melintang di hadapannya.


Alita terjatuh ke lantai hingga membuat kakinya terkilir.


“Eh, maaf,” lirih pria itu menghampiri Alita.


“Kamu?” sahut Alita dan pria yang kini berada di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2