Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 163


__ADS_3

Tak berapa lama mereka menunggu Wisnu dan Lina datang, mereka langsung duduk di ruang tamu tepat dihadapan Hurry dan Hendra.


Hendra langsung menjabat tangan Wisnu sebagai tanda basa basi diikuti oleh Agung. Sedangkan Hurry mengatupkan dua telapak tangannya di depan dadanya.


“Maaf, Pak Wisnu. Kedatangan kami ke sini mengganggu kalian,” ujar Hendra berbasa-basi.


“Tidak, masalah,” balas Wisnu.


“Mhm, perkenalkan, saya Ayahnya Alex,” ujar Henda memulai pembicaraan.


“Saya datang ke sini ingin menyampaikan maksud anak saya yang ingin meminang putri Pak Wisnu, Irene,” ujar Hendra perlahan.


Wisnu menatap ke arah Agung, dia mengira pria yang duduk di samping Hurry adalah Alex.


“Mhm, sebenarnya saya sudah menjodohkan putri saya dengan,--“


“Assalamu’alaikum,” ucap seseorang dari luar rumah.


Seketika pembicaraan mereka terpotong. Wisnu berdiri dari duduknya dia melangkah keluar rumah untuk melihat tamu yang datang ke rumahnya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Wisnu sambil membukakan pintu.


“Surya,” seru Wisnu kaget saat melihat sahabat lamanya datang ke rumahnya.


Hurry, Hendra dan Agung saling melempar pandangan saat mendengar nama yang tidak asing bagi mereka.


“Silakan masuk,” ujar Wisnu mempersilakan Surya dan istrinya masuk ke dalam rumah.


Hendra dan keluarganya kaget saat melihat besan mereka juga berada di rumah Wisnu. Arumi menutup bibirnya dengan telunjuknya saat keluarga Hendra melihat kedatangannya.


Surya dan Arumi duduk di sofa yang kosong.


“Maaf, Wisnu. Mungkin kedatangan saya saat ini mengganggu kenyamanan kalian.” Surya mulai berbasa-basi.


“Eh, enggak kok, Sur. Kami tidak merasa terganggu dengan kedatangan kalian,” jawab Wisnu sungkan.


Wisnu sangat menghormati Surya, karena saat ini Surya merupakan investor terbanyak di perusahaan Wisnu.


“Langsung saja, Nu. Aku dengar kamu mau menjodohkan putrimu dengan Ahmad yang sudah memiliki istri dua, apa itu benar?” tanya Surya pada sahabat lamanya itu.


“Mhm,” gumam Wisnu bingung.


“Untuk Apa? Apakah dana yang aku investasikan di perusahaan kamu masih kurang?” tanya Surya terus terang memojokkan Wisnu.

__ADS_1


“Mhm, maaf Sur. Ini bu,--“


“Jika itu menyangkut putri kamu akan menjadi urusanku, Nu. Karena seharusnya putri kamu sudah menjadi menantuku, tapi karena dia kabur Raffa terpaksa menikah dengan Kayla, keponakanmu. Sekarang aku akan memberi pilihan untukmu. Kamu akan tetap melanjutkan perjodohan itu atau aku cabut investasiku di perusahaan kamu,” ujar Surya tegas.


“Maaf, Sur. Maksud kamu apa?” Wisnu merasa terpojok dengan ucapan Surya.


Dia juga malu dengan Hendra dan Hurry, tamu yang belum dikenalnya.


“Maksud aku, biarkan Irene menentukan pilihan pria mana yang akan mendampingi hidupnya. Cukup menjodoh-jodohkan putrimu dnegan siapa pun,” ujar Surya memperjelas tujuan kedatangannya ke rumah Wisnu.


Hendra, Hurry dan Agung masih diam berusaha mencerna apa yang dibicarakan oleh besannya itu.


Wisnu dan Lina hanya diam, dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.


“Sekarang, aku boleh bertemu dengan Irene?” tanya Surya.


Wisnu menoleh ke arah sang istri meminta istrinya untuk memanggil putri semata wayangnya. Lina langsung berdiri dan melangkah menuju kamar Irene, dia memanggil Irene dan mengajak gadis itu bertemu dnegan Surya.


“Ada apa sih, Bu?” tanya Irene penasaran.


“Ikut aja dulu,” ujar Lina.


Lina sendiri sedang bingung dengan situasi yang kini mereka hadapi.


“Bunda, Ayah!” seru Irene saat melihat Hurry dan Hendra berada di rumahnya.


“Irene, kamu apa kabar, Sayang,” sapa Arumi ramah pada calon menantunya yang tidak jadi.


“Baik, Ma,” jawab Irene.


Dia pun menyalami Arumi. Setelah itu Arumi meminta Irene duduk di sampingnya


“Ren, Mama sama Papa datang ke sini untuk menanyakan sama kamu, apakah kamu setuju menikah dengan pria yang dijodohkan sama kamu?” tanya Arumi terus terang.


Wisnu dan Lina benar-benar merasa malu dengan apa yang terjadi malam ini di kediamannya, mereka saat ini memilih untuk banyak diam.


“Mhm,” gumam Irene sambil menggelengkan kepalanya.


“Nah, kamu lihat sendiri, Nu. Irene tidak mau menerima perjodohan itu.” Surya langsung menanggapi.


“Lalu, siapa yang kamu pilih untuk jadi pendampingmu?” tanya Arumi lagi pada Irene.


Irene menatap bingung ke arah kedua orang tuanya. Dia harus mengungkapkan siapa pria pilihannya di depan mertua Kayla.

__ADS_1


“Sedari dulu aku hanya mencintai satu pria yaitu Alex,” tutur Irene jujur.


Lina dan Wisnu menatap tajam ke arah Agung yang duduk di samping Hurry.


“Pak Hendra, kita sudah mendengar penuturan Irene, alangkah lebih baiknya kalian langsung menyampaikan tujuan kedatangan kalian ke sini,” ujar Surya pada besannya.


Lina dan Wisnu menautkan alisnya, mereka penasaran degan siapa sebenarnya tamu mereka yang ada di hadapan mereka.


“Mhm, Kami ke sini ingin meminang Irene untuk putra kami Alex,” ujar Hendra mengutarakan langsung tujuannya datang ke kediaman wisnu.


“Jadi pria ini kekasihmu, Ren?” tanya Wisnu pada putrinya.


Irene mengernyitkan dahinya, dia menggelengkan kepalanya.


“Maaf, Pak wisnu. Ini bukan Alex tapi abangnya Alex,”bantah Hendra.


“Lalu di mana anak anda yang bernama Alex?” tanya Wisnu heran.


“Alex saat ini sedang di Jakarta,” jawab Hendra jujur.


“Apa yang dilakukannya di sana?” tanya Wisnu mulai menginterogasi jati diri kekasih putrinya.


“Mhm, Alex kuliah di Jakarta,”jawab Hendra jujur.


Hendra tidak ingin ada kebohongan sebelum mereka menyatukan putra dan putri mereka.


“Apa? Dia masih kuliah, lalu siapa yang akan bertanggung jawab dengan biaya hidup putri saya nanti?” tanya Wisnu khawatir.


“Kamu tenang saja, Nu. Alex sudah bekerja sebagai direktur kafe terbesar di Jakarta,” jawab Surya tegas.


“Apa?” Hendra dan Hurry tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Surya.


“Iya, dia bekerja sebagai direktur di beberapa cabang kafe SatRa di Jakarta” jelas Surya.


“Mhm,” gumam Wisnu sambil menghela napasnya.


Sementara itu Lina semakin bingung dengan apa yang kini terjadi, dia memilih untuk diam dan memahami situasi.


“Bagaimana, Nu? Apakah kamu masih mau menjodohkan putrimu dengan pria beristri dua itu?” tanya Surya memastikan keputusan sahabat lamanya itu.


Wisnu menoleh ke arah sang istri untuk meminta pendapat, Lina hanya mengangkat bahunya. Sebenarnya dia juga tak rela membiarkan putri semata wayangnya menikah dengan pria beristri dua itu. Lina terpaksa setuju karena pria itu menjanjikan akan memajukan perusahaan sang suami setelah menikah dengan putrinya.


Ambisi Wisnu untuk lebih maju membuat dirinya gelap mata dan menjadikan putrinya sebagai tumbal demi kelancaran bisnisnya.

__ADS_1


Wisnu tampak mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh Surya. Kalaupun dia menerima tawaran pria beristri dua itu, dia akan kembali mengalami kesulitan karena Surya akan mengambil semua investasinya di perusahaan Wisnu.


Bersambung…


__ADS_2