
"Tante, Om," lirih Alex menoleh ke arah asal suara yang memanggil namanya.
Arumi dan Surya langsung melangkah masuk mendekati adik dari menantunya.
"Bagaimana keadaan Raffa, Lex?" tanya Arumi tak sabar ingin mengetahui keadaan putranya.
Mereka belum mengetahui hasil operasi yang dijalani oleh Raffa. Alex terdiam sejenak menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan Arumi.
"Mhm, dokter bilang operasi nya berjalan lancar, hanya saja dokter sedang menunggu reaksi tubuh Raffa hingga esok hari agar mereka bisa menindak lanjuti kondisi yang dialami Raffa," jawab Alex menyampaikan keadaan Raffa saat ini pada kedua orang tuanya.
Arumi menoleh ke arah sang suami, Arumi merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami, lalu dia pun menangis di dalam dekapan Surya.
Arumi tak sanggup mendengar penjelasan dari Alex tadi, karena sesuai penjelasan dari Raffa, saat ini mereka tidak tahu apakah Raffa akan selamat atau meninggal, putra mereka tengah kritis.
"Kayla di mana?" tanya Surya.
Dia juga mengkhawatirkan keadaan Kayla, mereka tahu Kayla pasti syok menerima cobaan ini, terlebih karena saat ini menantunya tengah mengandung calon cucu mereka.
"Kayla sedang berada di ruang rawat, tadi dia sempat pingsan. Tekanan darahnya mulai melemah karena tidak sanggup menerima ujian yang menimpa Raffa," jawab Alex.
"Lalu, apakah kita sudah bisa menemui Raffa?" tanya Arumi.
"Belum, Tante. Saat ini, Raffa sedang berada di ruang ICU. Kita hanya bisa melihatnya dari kaca jendela.
"Pa, Raffa," lirih Arumi kembali menangis.
Arumi mengajak sang suami untuk melihat Raffa yang hanya boleh dilihat dari jendela.
Mereka melangkah menuju ruangan ICU tempat Raffa berada.
Arumi dan Surya dapat melihat dengan jelas putranya sedang terbaring lemah di brangkar dengan berbagai peralatan medis yang terhubung di tubuhnya seta balutan perban di bagian kepala.
Air mata Arumi terus mengalir dengan derasnya, tak ada seorang ibu pun yang sanggup melihat anaknya terluka.
Bagi seorang ibu, luka buah hatinya adalah luka baginya, sakit yang dirasakan buah hatinya sudah jelas dia juga akan lebih merasa sakit.
Surya memeluk erat tubuh Arumi yang mulai melemah. Surya tahu, istrinya tak kuat menerima kenyataan ini.
"Sayang, kuatkan hatimu. Kita harus sabar, dan banyak berdo'a agar Raffa bisa kuat melewati masa kritisnya." Surya memberi semangat pada istrinya yang sebenarnya dia juga rapuh tak tahan melihat keadaan putra semata wayangnya terbaring lemah.
__ADS_1
"Papa, Mama," panggil Satya dan Rayna yang baru saja sampai.
Arumi dan Surya hanya menoleh melihat kedatangan Satya dan Rayna. Mereka kembali menatap sendu ke arah ruangan Raffa.
Satya dan Rayna juga melihat keadaan Raffa saat ini dengan jekas. Satya sedih melihat adik, sahabat atau majikannya tengah berbaring tak sadarkan diri.
Terlihat jelas di sudut mata Satya sudah tergenang air mata yang siap jatuh di saat dia mengedipkan matanya.
"Bro, lu harus kuat. Jangan menyerah, lihatlah Kayla. Sebentar lagi anak-anak lu akan lahir, apa lu tidak ingin melihat buah cinta lu dan Kayla lahir?" lirih Satya menahan sesak di dadanya.
Dia seolah memberi semangat pada Raffa, teman bermain dan seperjuangannya. Satya dan Raffa sangat dekat, mereka tumbuh bersama hingga saat ini.
Wajar, Satya juga merasa terpukul melihat Raffa yang kini terbaring lemah.
"Kak Rayna di mana, Ma?" tanya Rayna.
Rayna mengkhawatirkan keadaan sang kakak. Rayna yakin kakaknya saat ini pasti sangat terpukul dengan musibah yang menimpa Raffa.
"Pa, kita harus lihat Kayla," lirih Arumi.
Arumi teringat dengan kondisi menantunya yang sedang mengandung cucunya.
"Yuk," lirih Surya.
Irene diminta Hurry untuk menemani Alex menunggu Raffa, takut ada sesuatu yang akan dibutuhkan Alex nantinya.
Surya dan Arumi juga Satya dan Rayna sudah berada di ruangan Kayla.
Arumi langsung menghampiri Kayla lalu memeluk menantu kesayangannya itu.
"Mama," lirih Kayla.
Kayla yang tadinya mulai tenang, kini kembali menangis mengadukan sesak yang ada di hatinya pada mama mertua.
"Kamu kuat ya, Nak. Ingat anak-anakmu, kita hanya bisa berdo'a agar Raffa baik-baik saja," ujar Arumi menguatkan menantunya walau dia sendiri tidak kuat.
"Iya, Ma," lirih Kayla.
"Mama sudah melihat keadaan Bang Raffa?" tanya Kayla.
__ADS_1
Arumi mengangguk.
"Bagaimana keadaan Bang Raffa, Ma?" tanya Kayla lagi.
Kayla berharap sang suami baik-baik saja.
"Raffa masih kritis, Nak. Dia masih belum bisa ditemui," jawab Arumi dengan lirih berusaha agar dia tak lagi menangis.
Di saat seperti ini, mereka sebagai orang tua harus bisa terlihat lebih kuat agar Kayla tetap kuat dalam menghadapi cobaan ini.
Azan maghrib terdengar berkumandang, satu per satu mereka mulai menunaikan ibadah shalat maghrib.
Surya dan Arumi sengaja melaksanakan shalat maghrib di mushala yang tersedia di rumah sakit agar mereka lebih khusuk bermunajat pada Sang Pencipta memohon keselamatan atas putra semata wayang mereka.
Usai shalat maghrib Arumi melaksanakan shalat sunat hajat serta shalat sunat istighosah (Shalat sunat memohon pertolongan Allah SWT).
Arumi memohon pada sang Pemilik nyawa untuk memberikan keselamatan pada putranya.
Tidak hanya Arumi, Surya juga memohon pada Tuhan untuk keselamatan putra semata wayangnya. Hanya Raffa satu-satunya penerus yang akan diharapkannya untuk melanjutkan perjuangannya memajukan perusahaan yang saat ini dikelolanya.
Sedangkan di ruangannya, Kayla melaksanakan shalat maghrib dalam keadaan berbaring, karena saat ini kakinya terasa lemah untuk menumpu bobot tubuhnya yang semakin hari semakin berat.
Setelah shalat, Kayla berzikir dan bersholawat. Dia juga tak kalah berusaha memohon pada Allah untuk keselamatan sang suami.
Dalam dzikir dan do'a Kayla meneteskan air matanya yang tak sanggup ditahannya.
Dia terus berusaha untuk kuat dan berdo'a, dia memberi semangat untuk dirinya sendiri bahwa dia harus kuat dalam menghadapi cobaan ini demi ketiga anaknya yang kini ada di dalam kandungannya.
Hurry dan Hendra menjaga Kayla, begitu juga Satya dan Rayna mereka juga berada di ruang rawat Kayla.
Semalam suntuk, Alex dan Irene menunggui Raffa di depan ruangan ICU. Alex tidak bisa tidur, sementara itu, Alex menyuruh Irene tidur di bangku panjang tempat mereka duduk.
Sebenarnya Alex kasihan pada Irene, tapi harus bagaimana lagi. Alex sudah meminta Irene untuk pulang tapi Irene tidak tega meninggalkan Alex.
Keesokan harinya, dokter masuk ke ruangan Raffa untuk melihat perkembangan kondisi Raffa.
Tak berapa lama dia memeriksa kondisi Raffa, akhirnya dia dapat menganalisa tindakan selanjutnya.
Dokter keluar dari ruangan itu, lagi Alex menghadang dokter untuk menanyakan kondisi Raffa.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kakak ipar saya, Dok?" tanya Alex.
Bersambung...