Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 245


__ADS_3

“Kamu makan yang banyak, ya,” ujar Hurry sambil menyodorkan piring yang berisi makanan pada Irene.


Perlahan Irene berusaha duduk, dia mulai menyuapi makanan ke mulutnya, walaupun dia tidak berselera makan, dia mencoba memaksakan diri agar memiliki tenaga untuk menjaga sang suami.


Alita dan Bunda Hurry menatap sedih pada Irene, seolah mereka saat ini merasakan kesedihan yang dihadapi oleh Irene saat ini.


Setelah Irene selesai makan, Raymond dan Fitri datang.


“Assalamu’alaikum,” ucap mereka bersamaan.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Bunda Hurry dan Alita.


Irene terdiam melihat sosok wanita yang datang bersama Raymond. Irene teringat bahwa wanita yang bersama Raymond saat ini adalah wanita yang duduk berdua dengan Alex sebelum peristiwa naas itu terjadi.


Fitri melangkah menghampiri Bunda Hurry, dan menyalami wanita yang baih hati itu.


“Apa kabar, Bunda?” tanya Fitri dengan ramah pada ibu mertua Irene.


Irene merasa berkecil hati melihat kedekatan Fitri dengan Bunda Hurry, hatinya mulai bertanya-tanya dengan sosok Fitri yang sama sekali tidak dikenalinya.


Fitri memang pernah bertemu dengan bunda Hurry beberapa kali saat Hurry datang bertamu ke rumah Kayla saat Fitri masih tinggal di rumah Raffa dan Kayla.


Raymond melihat tatapan tak suka Irene pada Fitri, dia tersenyum.


“Ren, kenalkan ini Fitri. Dia salah satu orang kepercayaan Satya yang membantu kami mengurus kafe,” ujar Raymond memperkenalkan sosok wanita yang membuat Fitri pergi di kafe hari itu.


Fitri mengulurkan tangannya pada Irene hendak berkenalan dengan istri Alex, rekan kerja barunya di kafe.


Irene hanya menatap uluran tangan Fitri, dia ,masih mengingat jelas kedekatan wanita itu dengan sang suami.


“Seandainya siang itu Fitri tak bersama Alex mungkin kejadian naas itu tidak akan menimpa Alex,” gumam Irene di dalam hati.


Namun, Irene tak mau menyalahkan Fitri dalam peristiwa ini, karena yang paling pantas disalahkan adalah dirinya sendiri.


“Ren,” panggil bunda Hurry pelan saat melihat reaksi Irene yang tidak suka dengan Fitri.


“Eh, iya.” Irene pun mengulurkan tangannya pada Fitri dengan berat hati.


“Aku dan Alex hanya berteman, tidak lebih dari itu,” tutur Fitri jujur.


Walaupun di hati Fitri, dia mulai menyukai sosok Alex tapi dia tidak ingin merusak hubungan rumah tangga Alex dengan Irene.


“Kedatanganku ke sini hanya ingin menjenguk Alex, kebetulan Raymond juga mau ke sini,” ujar Fitri.

__ADS_1


Fitri sengaja berkata apa adanya agar Irene tidak salah paham pada dirinya.


“Makasih ya, Fitri, kamu sudah mau datang menjenguk Alex. Saat ini kita hanya bisa berdo’a agar Alex cepat sembuh,” ujar Bunda Hurry.


Bunda Hurry dapat memahami apa yang sedang dipikiran menantunya, setiap wanita akan cemburu jika ada wanita lain yang perhatian pada suaminya.


“Sama-sama, Bunda. Sebagai teman aku turut prihatin dengan musibah yang menimpa Alex. Semoga Alex cepat sembuh dan bisa kembali berkumpul dengan keluarganya,” ujar Fitri.


“Aamiin,” sahut Raymond, Alita dan Bunda Hurry bersamaan.


Sedangkan Irene hanya mengaminkan di dalam hati.


Mereka berbincang-bincang sejenak, setelah itu Raymond dan Alita pamit pada Bunda Hurry dan Irene, mereka hendak pergi ke rumah Kayla dan Raffa melihat 3R.


“Bun, Alita pulang dulu, ya,” ujar Alita pada sang Bunda.


“Aku juga mau pamit, Bunda,” ujar Fitri.


Fitri merasa canggung jika dirinya tinggal di sana bersama Hurry dan Irene.


“Ya udah, kalian hati-hati, ya,” ujar Hurry.


Raymond, Alita dan Fitri pun melangkah keluar dari ruang rawat Alex setelah Fitri dan Alita menyalami tangan Bunda Hurry.


Sebelum Raymond dan Alita menuju ke rumah Raffa, terlebih dahulu mereka mengantarkan Fitri ke kafe, kebetulan kafe yang akan dikunjungi Fitri tak terlalu jauh dari kediaman Raffa.


“Sama-sama,” ujar Raymond.


Setelah Fitri tinggallah Alita dan Raymond,hubungan Raymond dan Alita tidak seperti dulu lagi. Mereka sudah mulai membaik, hanya saja ALita masih belum mengungkapkan rasa yang ada di hatinya. Alita sudah mulai menyukai Raymond tapi dia masih gengsi jika Raymond tahu apa yang ada di hatinya.


“Kita mampir di supermarket dulu, ya. Beli oleh-oleh,” ujar Raymond lalu memarkirkan mobilnya di depan sebuah supermarket.


Raymond turun dari mobil diikuti oleh Alita. Raymond meraih tangan istrinya dan menggandeng istrinya masuk ke dalam super market.


“Kamu mau beli apa?” tanya Raymond pada istrinya.


“Mhm, terserah kamu aja,” jawab Alita.


“Ya udah,” lirih Raymond.


Mereka berjalan mengelilingi rak-rak yang terpajang di sana berbagai makanan ringan serta minuman kemasan.


Raymond mengambil cemilan yang disukainya lalu memasukkannya ke dalam troli belanja. Raymond hanya mengira-ngira cemilan yang biasa disukai oleh wanita.

__ADS_1


Alita hanya mengikuti langkah Raymond dari belakang. Tangannya masih digenggam oleh pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


“Kita sekalian beli perlengkapan di rumah, ya. Kayaknya sudah mulai habis,” ujar Raymond pada alita yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Alita.


Raymond mendorong troli dengan sebelah tangan. Melihat Raymond yan kesulitan, Alita berusaha melepas genggaman tangan suaminya.


Raymond menghentikan langkahnya.


“Kenapa? Kamu keberatan aku menggenggam tanganmu?” tanya Raymond tak suka.


“A-aku melihatmu kesulitan mendorong trolinya makanya aku ingin membantumu,” jawab Alita jujur.


“Benarkah?” tanya Raymond meragukan jawaban istrinya.


“Kalau kamu memang tidak percaya ya sudah,” jawab Alita ketus.


Selalu saja seperti itu, Raymond seolah tengah menguji rasa yang sudah tumbuh di hati Alita. Disaat Alita merasa ingin melakukan yang terbaik di mata suaminya, sang suami selalu berpikiran negatif terhadap dirinya.


Raymond melepas genggaman tangan Alita, dia ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh istrinya itu.


Alita langsung memegangi troli dan mendorong troli tersebut tepat di belakang Raymond.


Mereka masih saja berkeliling di dalam super market tersebut mencari beberapa kebutuhan sehari-hari yang diperlukan di rumah.


Troli belanja sudah mulai penuh, Raymond membeli berbagai keperluan untuk satu bulan lebih sehingga troli melimpah.


“Biar aku yang antri, kamu bisa menungguku di kursi itu!” ujar Alita sambil menunjuk ke sebuah kursi panjang.


“Kamu yakin?”tanya Raymond.


Kebetulan yang mengantri di sana kebanyakan kaum wanita sehingga Raymond merasa malas ikut dalam antrian para wanita.


Raymond mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan. Dia memberikan uang tersebut pada istrinya.


Alita menerima uang tersebut dan memasukkannya ke dalam tas, sedangkan Raymond melangkah keluar supermarket terlebih dahulu.


Dia menunggu istrinya sambil duduk di bangku panjang yang terdapat di depan supermarket.


Setelah Alita selesai membayar semua belanjaannya, dia kembali meletakkan belanjaan yang sudah di dalam kantong besar ke troli, lalu mendorongnya keluar dari supermarket.


Alita melihat Raymond sedang duduk dengan seorang wanita yang dia sendiri tak mengenalinya.


Terlihat suaminya tampak dekat dengan wanita tersebut. Alita melangkah menghampiri sang suami dengan hati terbakar oleh api cemburu.

__ADS_1


"Siapa kau?" bentuk Alita pada wanita tersebut.


bersambung...


__ADS_2