
Kayla langsung berdiri, dia melangkah cepat mendekati sang adik.
Rayna terjatuh tak sadarkan diri, bersyukur Satya yang berada di samping istrinya langsung menangkap tubuh sang istri dan menggendongnya.
Sesaat, para tamu risau melihat Rayna yang jatuh pingsan.
Namun, Satya langsung membawa istrinya ke sebuah ruangan yang telah tersedia untuk keluarga yang beristirahat. Suasana pesta pun kembali seperti biasa.
Kayla dan Raffa mengikuti langkah Satya dari belakang.
"Rayna?" Rita cemas melihat putrinya tengah tak sadarkan diri saat Satya masuk membawa istrinya ke ruangan khusus itu, kebetulan Rita tengah berada di dalam ruangan tersebut.
"Rayna kenapa, Satya?" tanya Rita panik.
"Aku juga enggak tahu, Bu," jawab Satya.
Satya langsung menghubungi temannya yang merupakan seorang dokter umum di rumah sakit M. Djamil.
Dia meminta temannya itu untuk datang ke tempat pesta saat ini.
Satya menggenggam tangan istrinya sambil menunggu dokter datang.
"Kenapa, Satya?" tanya Kayla yang ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
Kayla sangat mencemaskan adiknya, Kayla tahu beberapa hari terakhir Rayna memang terlihat kurang sehat, karena tidak enak hati dengan keluarga dia memaksakan diri untuk tetap mengikuti rentetan acara pernikahan mulai acara Agung dan Dian hingga resepsi pernikahan besar yang kini sedang berlangsung.
"Aku kurang tahu, tapi Rayna selalu memaksa untuk ikut, walaupun dia tahu dia kurang sehat," jawab Satya.
Satya mengoleskan freshcare yang selalu dibawa Rayna di dalam tasnya pada pangkal hidung Rayna dan lehernya.
"Mhm," gumam Rayna sambil mengernyitkan dahinya.
"Sayang," lirih Satya.
Rayna berusaha untuk duduk saat melihat keluarga yang terlihat mengkhawatirkan keadaannya.
"Sayang, kamu berbaring saja dulu," pinta Satya pada istrinya.
"Tapi, Mas," bantah Rayna.
"Selamat siang!" sapa seseorang masuk ke dalam ruangan itu.
"Bunga, kamu sudah datang?" tanya Satya saat melihat temannya yang seorang dokter itu sudah berada di ruangan itu.
"Istrimu kenapa, Sat?" tanya wanita yang bernama Bunga itu.
"Mungkin kecapekan, beberapa hari ini banyak kegiatan," jawab Satya.
"Ya udah, aku coba periksa dulu, ya," ujar Dokter Bunga.
Bunga adalah salah satu teman SMA Satya saat SMA, mereka memang dekat tapi hanya sebatas sahabat.
__ADS_1
Rayna menoleh ke arah suaminya.
"Sayang, aku baik-baik saja," lirih Rayna.
"Sayang, biarkan Bunga memeriksa kondisi kamu terlebih dahulu," ujar Satya.
Satya mengerti, istrinya enggan untuk diperiksa,l. Rayna tidak ingin banyak orang menganggap dirinya lemah.
Bunga mulai memeriksa kondisi Rayna, perlahan tapi pasti.
Bunga tersenyum membuat semua orang penasaran dengan apa yang terjadi pada Rayna.
"Kapan istrimu terakhir datang bulan?" tanya Bunga pada Satya.
Satya mengernyitkan dahinya bingung.
Satya menoleh pada Rayna, mereka pun saling melempar pandangan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Mhm, eh. Jangan-jangan,--"
"Iya, tapi kita harus memeriksanya terlebih dahulu, untuk memastikan dugaanku benar atau salah" ujar Bunga.
Rita bahagia mendengar ucapan Bunga, jika memang prediksi Bunga benar itu artinya sebentar lagi dia akan menjadi seorang nenek.
Kayla menggenggam tangan sang suami dengan erat, dia memandang bahagia ke arah sang suami.
Raffa tersenyum, dia juga ikut bahagia.
"Kita bisa mengeceknya dengan alat tes kehamilan," ujar Bunga sambil mengulurkan sebuah gelas kecil kepada Satya.
"Rayna harus menyimpan air seninya di sini." Bunga memberi petunjuk pada Satya.
Satya menoleh ke arah sang istri, Rayna dengan semangat hendak berdiri menuju kamar mandi.
"Sayang, tunggu dulu!" ujar Satya tegas.
Rayna mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?" tanya Rayna bingung.
Satya pun mulai mengangkat tubuh sang istri lalu menggendongnya menuju kamar mandi yang tersedia di ruangan itu.
Semua mata yang ada di sana menatap kagum dengan sikap Satya yang sangat pengertian pada sang istri.
Di kamar mandi Rayna pun menampung air seninya di gelas kecil yang sudah di oleh Dokter Bunga.
Setelah selesai, Rayna memberikannya pada Satya.
"Tunggu sebentar di sini." Satya pun melangkah mendekati Bunga lalu memberikan gelas tersebut pada Bunga.
Bunga memasukan tespeck ke dala gelas itu, sementara Satya kembali ke kamar mandi untuk menjemput Rayna dan kembali membawanya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Bunga mengajak mengobrol Satya dan Rayna sambil menunggu hasil dari test.
Bunga mengeluarkan alat tes itu dari gelas, dia melihat garis dua di sana.
"Selamat, Sat!" ucap Bunga sambil memberikan alat tes tersebut pada Satya dan Rayna.
"Alhamdulillah," lirih Kayla dan Raffa bersamaan.
"Alhamdulillah," gumam Rita di dalam hati.
Rayna mengelus lembut perutnya yang masih rata, dia tak pernah membayangkan akan hamil dan menjadi calon ibu.
"Kamu hadir dalam rahim mama, mama akan selalu menjaga mu, Sayang," gumam Kayla merasa terharu mendapatkan kabar gembira itu.
Satya menatap dalam ke arah sang istri, rasa bahagia kini mulai menyelinap di hatinya.
Rasa syukur terpancar jelas di wajah tampan miliknya.
"Istrimu harus banyak istirahat dan tidak boleh kelelahan," ujar Bunga.
"Untuk obatnya, kalian bisa datang ke dokter kandungan," jelas Bunga lagi.
"Baiklah, terima kasih, Bunga. Kamu sudah menyempatkan untuk datang," ujar Satya.
"Kamu adalah sahabatku, mana mungkin aku mengabaikan permintaan sahabat sendiri," ujar Bunga dengan senyuman manis dari wajahnya.
"Oh ya, Sat. Aku izin pergi dulu, ya," ujar Bunga pamit izin keluar dari ruangan itu.
"Baiklah, terima kasih, Bunga," ucap Satya pada sahabatnya.
Bunga tersenyum, lalu dia pun keluar dari ruangan itu meninggalkan keluarga yang kini tengah diselimuti perasaan bahagia.
Satya mengantarkan Bunga hingga pintu, Bunga pun pergi setelah mengucapkan salam perpisahan dengan sahabat lamanya itu.
Satya kembali mendekati istrinya
"Bro, sepertinya aku dan Rayna harus pulang terlebih dahulu," ujar Satya pada Raffa.
"Ya, Rayna harus istirahat. Jika di sini dia tidak akan bisa istirahat dengan nyaman," ujar Raffa dengan bijak.
"Sayang, kita pulang, ya," ajak Satya pada istrinya.
Mau tak mau Rayna harus mengangguk, walau hatinya merasa tidak enak pada keluarganya, tapi dia juga harus menjaga buah cintanya dengan Satya yang kini tumbuh di dalam rahimnya.
"Bu, aku izin untuk membawa Rayna pulang. Aku ingin Rayna bisa istirahat tanpa ada yang menggangu karena saat ini hanya itu yang dibutuhkan oleh Rayna," ujar Satya berpamitan pada ibu mertuanya.
"Iya, kamu hati-hati ya, Nak. Itu lebih baik buat Rayna saat ini," ujar Rita memberi izin Rayna untuk pulang.
Setelah berpamitan pada beberapa keluarga yang berada di ruangan itu, Satya pun mengangkat Rayna, dia membawa Rayna keluar dari gedung.
Dia pun membawa Rayna pulang ke rumah. Untuk saat ini, Satya hanya ingin istrinya dapat beristirahat tanpa adanya gangguan dari siapa pun.
__ADS_1
Bersambung...