Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 284


__ADS_3

Irene mengernyitkan dahinya melihat ekspresi sang Suami.


"Ada apa Sayang?" tanya Irene heran.


Irene pun mengikuti arah mata sang suami, dia juga melihat pria yang bersama seorang wanita itu.


"Itu bukannya, --"


"Udah, jangan dibahas," potong Alex.


Alex mengalihkan perhatiannya, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka.


"Kamu mau minum apa?" tanya Alex pada istrinya.


"Jus jeruk aja," jawab Irene.


Alex pun memesan makanan untuk mereka.


Tak berapa lama seorang pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan.


Si pelayan meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja.


"Silakan, Kak, Bang," ujar Si pelayan sebelum dia meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Terimakasih," ucap Alex dan Irene bersamaan.


"Sayang, kamu harus makan yang banyak," ujar Alex pada sang istri sebelum mereka benar. benar menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Kenapa?" tanya Irene bingung.


"Ya, iyalah, Sayang. Saat ini kamu makan bukan untuk dirimu seorang tapi sudah ada buah cinta kita." Alex tersenyum bahagia.


Irene tersenyum mendengar ucapan sang suami. Ada sesuatu yang membuat Irene bahagia mendengar ucapan sang suami.


"Iya, deh. Demi buah cinta kita, aku akan makan yang banyak," ujar Irene.


"Gitu dong, Sayang. Aku senang mendengarnya." Alex mengelus lembut kepala istrinya.


Sepasang suami istri itu pun menikmati makan siang dengan penuh kebahagiaan yang menyelimuti hati mereka.


****


Hurry masuk ke dalam kamar Akifa membawakan makan siang untuk gadis kecilnya.


"Sayang, kamu udah shalat?" tanya Hurry pada putri bungsunya.


"Sudah, Bun," jawab Akifa yang kini berbaring di atas tempat tidur.


"Ya udah, kalau gitu kamu makan dulu, ya," ujar Hurry sambil meletakkan nampan di atas nakas samping tempat tidur.


"Terima kasih, Bunda," lirih Akifa pada wanita yang sudah menggantikan peran umminya selama belasan tahun.


Bunda Hurry benar-benar menganggap dirinya dan kedua kakaknya seperti anak kandungnya.


"Sama-sama, Sayang," ujar Hurry sambil tersenyum.


Dia mulai memperhatikan Akita yang kini mulai menyantap makanan yang dibawakan oleh bunda Hurry.


"Sayang, kalau bunda boleh tahu sedekat apa hubungan kamu dengan pemuda itu?" tanya Hurry saat Akita sudah meletakkan piring kotor di atas nampan.


Sebagai seorang ibu, Hurry merasa wajib tahu siapa saja orang-orang yang bergaul dengan putrinya apalagi teman-teman lawan jenis.

__ADS_1


Akifa menatap sang bunda. Dia mencoba berpikir mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan yang dilontarkan oleh sang Bunda.


"Katakan sejujurnya pada bunda, jangan ada yang kamu sembunyikan," ujar Hurry.


Dia berharap putri kecilnya akan mencurahkan seluruh isi hatinya pada sang Bunda.


"Bun, Hans adalah pria yang baik,selain sikapnya yang ramah dan santun dia juga taat dalam beribadah." Akifa mulai menceritakan sosok Hansel pada Bunda Hurry.


Hurry tersenyum mendengar Akifa yang terus bercerita dengan riang. Terlihat dengan jelas pancaran mata gadis kecilnya sangat mengagumi pemuda yang baru saja menjenguknya.


"apakah kamu menyukainya?" tanya bunda Hurry pada gadis belianya.


"Mhm, aku mengaguminya, Bunda, " tutur Akifa jujur.


Bunda Hurry tersenyum mendengarkan penuturan sang putri.


"Bunda senang jika kamu senang, siapapun nanti yang menjadi pendamping hidupmu. Bunda ingin kamu hidup bahagia," ujar Bunda Hurry.


"Terimakasih, Bun," ucap Akifa.


Akifa senang mendapat dukungan dari bundanya.


Dia yakin bahwa Hansel adalah pria yang sudah menolongnya. Pria impiannya selama ini.


"Ya udah, kalau gitu kamu banyak istikharah dan mohon petunjuk pada Allah. Semoga Allah meridhoi pemuda tadi menjadi pilihanmu," nasehat Hurry.


"Iya, Bun." Akifa mengangguk.


Tak berapa lama, Hurry mengobrol dengan Akifa, ponsel bunda Hurry berdering pertanda panggilan masuk.


"Hallo," lirih Bunda Hurry setelah Panggilan tersambung.


"Iya, hati-hati, ya," ujar Bunda Hurry.


"Iya Bunda," lirih Alex.


"Sayang, apapun terjadi di rumah mertuamu. Usahakan kamu perbanyak sabar, jaga hati istrimu, karena wanita hamil itu perasaannya sangat sensitif. " Hurry menasehati putranya mengingat hubungan Alex dan mertuanya kurang baik.


"Iya, Bun. Semoga mereka tidak mencari gara-gara," ujar Alex penuh harap.


"Amiin," lirih Bunda Hurry.


Sambungan telpon pun terputus Alex dan Irene keluar dari pondok pecel ayam. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah kedua orang tua Irene.


30 menit perjalanan mereka sampai di kediaman keluarga Wisnu.


Alex turun dari mobil lalu dia bergegas melangkah menuju pintu tempat Irene berada, dia membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Perlakuan Alex pada Irene semakin romantis sebagai rasa syukur sudah diberikan Tuhan padanya.


"Makasih, Sayang." lirih Irene merasa tersanjung atas perlakuan sang suami.


Setelah itu mereka melangkah menuju pintu rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Irene dan Alex serentak.


"Wa'alaikumsalam," jawab Lina saat mendengar suara yang tak asing baginya.


"Irene," lirih Lina.


Dia langsung memeluk tubuh putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Ibu kangen," lirih Lina lagi.


Irene pun membalas pelukan sang Ibu. Irene menangis meluapkan rasa rindu yang ada di dalam hatinya.


"Aku juga merindukanmu," lirih Irene.


Alex tersenyum senang melihat Lina dan putrinya.


"Ayo masuk!" ajak Lina pada putri dan menantunya.


Lina menggiring mereka masuk ke dalam rumah dan mengajak mereka duduk di ruang keluarga.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Lina pada putri dan menantunya setelah mereka duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Alhamdulillah kami baik dan sehat, Bu," jawab Irene.


"Ibu, bagaimana kabarnya?" tanya Irene.


"Alhamdulillah, Ibu juga baik dan sehat," jawab Lina.


"Mhm, Ayah bagaimana kabarnya, Bu?" tanya Irene.


"Alhamdulillah, Ayah juga sehat. Ayah sedang di kantor,"ujar Lina.


"Oh, Alhamdulillah," lirih Irene.


Mereka pun mengobrol sejenak saling melepas kerinduan setelah beberapa tahun tak bertemu.


Alex hanya diam, dia asyik membuka ponselnya sambil sesekali mendengarkan obrolan sang istri dan ibu mertuanya.


Saat asyik mengobrol terdengar suara langkah masuk ke dalam rumah.


Irene melihat ayahnya datang dengan tantenya Rita. Irene menoleh pada sang suami memastikan sang suami masih nyaman berada di rumah kedua orangtuanya.


"Eh, ada tamu," ujar Rita saat melihat Irene dan Alex tengah duduk di sofa bersama Lina.


Irene hanya diam dia langsung menghampiri ayahnya lalu menyalami ayahnya.


Dia sengaja mengabaikan ucapan tantenya.


Lina heran melihat adiknya datang bersama suaminya.


"Ayah," lirih Irene.


"Iya, Nak," ujar Wisnu.


"Tante," sapa Irene pada tantenya sekadar basa-basi padahal dia merasa muak melihat tantenya yang tidak pernah menghargai suaminya.


"Kapan kamu datang?"tanya Rita.


"Kemarin, Tante," jawab Irene.


"Tumben kamu pulang?" tanya Rita.


"Mhm, enggak apa-apa, Tan. Kami cuma kangen pulang saja," jawab Irene.


"Tante kira kalian tidak akan pernah pulang lagi karena tidak mampu membeli tiket untuk pulang. Makanya, Ren. Kalau cari suami itu jangan yang kere, biar hidup kamu tidak sengsara," ujar Rita menatap remeh pada Alex.


"Aku bahagia bersama Alex, Tante. Jadi, tak ada gunanya tante berpendapat," ujar Irene kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2