
Alita semakin kesal terhadap Raymond karena pria itu hanya bersikap dengan santai di hadapannya.
"Aku harus masuk ke dalam," ujar Alita kesal.
Alita bersiap untuk berdiri, tapi Raymond langsung meraih tangan Alita, dia menggenggam erat tangan gadis itu.
Raymond menatap dalam ke arah Alita, dia pun ikut berdiri. Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa senti.
"Izinkan aku meraih hatimu," bisik Raymond.
Seketika jantung Alita berdegup dengan kencang. Dadanya terasa sesak menahan jantungnya yang tak bisa dikendalikan.
Alita pun melepaskan genggaman tangan Raymond, dia pun membalikkan tubuhnya lalu berlalu sambil memegangi dadanya yang tak terkendali.
"Apa yang terjadi padaku?" gumam Alita di dalam hati.
Alita terus melangkah masuk ke dalam rumah, dia melihat Kayla dan Raffa sedang duduk di sebuah sofa panjang sambil menikmati makanan di tangan Raffa.
Raffa menyuapi sang istri dengan mesranya, mereka menikmati makanan yang tersedia dengan cara sepiring berdua.
Raffa bersikap sangat romantis terhadap istrinya.
Terlihat jelas di mata Alita, bahwa pria yang dipujanya selama ini sangat bahagia bersama kakak kandungnya.
"Ciee romantis banget," ujar Gita dan Lisa yang baru saja datang menghampiri sepasang suami istri itu.
"Aduh, lagi-lagi jiwa jomblo aku meronta-ronta. Jadinya aku baper, deh," ujar Lisa merasa iri dengan kebahagiaan sahabatnya.
Raffa dan Kayla tersenyum melihat kedua sahabatnya utang selalu mengoceh sesuka hati mereka. Ocehan kedua sahabat Kayla ini membuat Raffa dan Kayla selalu terhibur.
Alita mendengus kesal, lalu dia pun pergi meninggalkan tempat itu agar dia tidak merasa kesal melihat kemesraan yang dipertontonkan oleh sepasang suami istri itu.
Sementara itu, Rayna merasa pusing. Wajahnya terlihat sangat pucat.
"Sayang, are you oke?" tanya Satya khawatir.
Rayna mengangguk, dia mencoba menguatkan diri agar tetap dapat bertahan berada di acara Abang dari kakaknya.
"Kalau kamu memang tak kuat, kita akan pulang terlebih dahulu," ujar Satya.
"Tidak, aku yakin kamu sedang tidak baik-baik saja," ujar Satya.
"Aku baik-baik saja, Mas," lirih Rayna.
"Tidak, Sayang. Kita harus pulang sekarang," ujar Satya.
Satya langsung berdiri lalu melangkah keluar dari pekarangan rumah keluarga Hidayat sambil menggiring Rayna masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Sayang, nanti Kak Kayla khawatir," ujar Rayna menolak untuk pulang terlebih dahulu.
"Aku lebih mengkhawatirkan istriku daripada yang lain," ujar Satya tegas.
Satya pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman keluarga Bramantyo.
Saat di perjalanan pulang, Satya menghubungi Raffa dan mengatakan mereka pulang lebih awal dengan alasan Rayna kurang enak badan.
Satya fokus mengemudikan mobilnya sambil sesekali memastikan sang istri baik-baik saja.
"Sayang," lirih Rayna sambil memukul lengan sang suami.
Rayna memegang mulutnya memberi isyarat pada sang suami bahwa dia ingin muntah.
Satya langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, bersyukur jalanan yang mereka lewati lumayan sepi.
Satya langsung keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Oek, oek." Rayna mengeluarkan makanan yang sempat masuk ke dalam perutnya.
Satya memijit pelan tengkuk sang istri, agar Rayna merasa lebih enakkan.
"Sayang, kita ke rumah sakit, ya," ajak Satya.
"Enggak usah, Mas. Aku cuma masuk angin aja," jawab Rayna menolak tawaran sang suami.
Satya menghela napasnya, dia akan menuruti apa yang dikatakan sang istri, selagi Rayna baik-baik saja. Jika nanti merasakan sakit, dia akan memutuskan untuk membawa Rayna ke rumah sakit meskipun sang istri menolaknya.
"Udah enakan, Sayang?" tanya Satya pada Rayna.
"Udah," jawab Rayna mengangguk.
Satya pun merangkul pundak Rayna dan membawanya kembali masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Satya langsung mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di sana.
Dia mengambil freshcare lalu mengolesinya di pangkal hidung Rayna, leher, dan dahinya.
"Kamu pegang aja dulu, nanti kalau kamu ngerasa pusing olesi lagi ya," ujar Satya pada sang istri.
Rayna mengambil freshcare yang diberikan oleh Satya padanya.
Satya pun merebahkan bangku tempat Rayna duduk sehingga Rayna bisa tertidur dengan nyaman.
Setelah itu, dia pun mulai kembali melajukan mobilnya dengan sedang. Dalam fokus menyetir dia selalu mantau keadaan sang istri.
Kini Rayna pun mulai tertidur dengan pulas, rasa mual dan pusingnya pun hilang.
__ADS_1
Sesampai di rumah Rayna masih tertidur, karena kasihan Satya memutuskan untuk menggendong sang istri masuk ke dalam rumah.
Bi Narti langsung membukakan pintu rumah saat mendengar mobil Satya masuk ke dalam pekarangan rumah kediaman Bramantyo.
"Nona Rayna kenapa, Tuan?" tanya wanita paruh baya itu.
"Enggak apa-apa, Bi. Dia cuma kurang sehat," jawab Satya.
Satya pun berlalu meninggalkan Bi Narti yang masih menatap punggung kekar Satya.
"Ya Allah, Alhamdulillah wa syukurillah. Tuan Satya benar-benar sangat menyayangi Nona Rayna, bersyukur pria itu hadir dalam kehidupan Nona Rayna setelah Almarhum Tuan Bram tiada," gumam Bi Narti penuh syukur.
Sesampai di dalam kamar, Satya membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur dengan pelan agar Rayna tak terbangun dari tidurnya.
****
Setelah prosesi akad nikah, Agung dan Dian menyambut tamu yang datang memberikan ucapan selamat.
Pukul 16.00 setelah ashar, Agung dan Dian langsung masuk ke dalam kamar yang telah disediakan khusu untuk pengantin di rumah itu.
Agung mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya. Sedangkan Dian dengan ragu melepas pernak-pernik yang menempel di kepalanya.
Agung melihat gelagat malu-malu sang istri. Dia pun melangkah mendekati wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Dengan malu-malu, Agung mulai melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik sang istri.
"Apakah kamu malu melepas hijabnya dihadapanku?" tanya Agung pada sang istri.
Dian menundukkan kepalanya, dia benar-benar malu mendapat perlakuan mesra dari sang suami.
Wajahnya mulai bersemu merah merona bagaikan tomat masak. Agung menyentuh dagu Dian, lalu mendongakkan kepala sang istri agar dapat melihat wajah sang suami dari pantulan cermin yang terdapat di hadapan mereka.
"Sayang," lirih Agung.
Kata-kata Agung berhasil membuat wajah Dian kembali merona.
"Lihatlah, saat ini kita sudah SAH sebagai suami istri, seluruh tubuhmu sudah halal bagiku melihat dan menyentuhnya. Tak ada lagi rasa malu yang harus kamu tutupi dariku," ujar Agung.
Lalu perlahan, Agung melepaskan pernak-pernik yang masih terpasang di kepala sang istri hingga akhirnya, Agung membuka hijab sang istri.
Dia terpukau dengan indahnya ciptaan Tuhan yang baginya begitu sempurna tanpa menggunakan hijab.
Agung juga melepaskan ikat rambut Dian yang membuat rambut indah panjang sepunggung sang istri.
"Sayang, kamu mang wanita yang sangat sempurna. Aku beruntung bisa dapat menikah denganmu," bisik Agung.
Bersambung...
__ADS_1