Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 233


__ADS_3

Alex menoleh ke arah sang istri, dia menautkan kedua alisnya heran mendengar perkataan istrinya yang terlihat menyudutkan kakak iparnya.


"Apa maksudmu berkata seperti itu, Ren?" nanya Alex tidak suka mendengar perkataan sang istri.


"Enggak ada cuma kesel aja, kenapa yang dipinjamin mobil Bang Agung padahal kan kita yang bawa motor ke sini," ujar Irene memberi alasan.


"Ya mungkin saja karena Agung besok mau ke sana lagi, kalau kita yang bawa mobil Raffa, aku harus mengantarkannya besok pagi, sementara itu besok pagi aku harus pergi ke kafe untuk melakukan pekerjaanku," ujar Alex memberi penjelasan pada istrinya agar tidak berkecil hati dengan sikap Raffa.


"Huhhft, bela aja terus. Mereka kan saudara kamu," gerutu Irene sambil memalingkan wajahnya.


Dia menatap ke luar jendela. Ada rasa kesal yang menyelimuti dirinya.


"Ya ampun, kenapa sekarang hidupku seperti ini, ya? Apa karena aku sudah menentang keinginan orang tuaku? Tapi, aku tidak mau menikah dengan pria beristri dua itu," gumam Irene di dalam hati.


Kini hatinya mulai bimbang dengan pernikahan yang sedang dijalaninya bersama pria yang selama ini mengisi relung hatinya.


Rasa cinta pada Alex selama ini mulai terkikis secara perlahan dikarenakan Alex belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya seperti yang diinginkannya.


Terlebih, jika dia mengingat kebahagiaan semua orang di sekelilingnya.


Rayna dan Satya bahagia dengan harta dan kekayaan yang dimiliki suaminya ditambah dengan harta warisan yang ditinggalkan Bramantyo.


Alita juga mendapatkan Raymond, yang mungkin sudah lebih mapan dari Alex sehingga dia sanggup membelikan istrinya perhiasan walaupun jelas-jelas Alita menolaknya.


Agung dan Dian juga tidak kalah beruntung dan bahagianya mereka yang hidup mewah dengan keberhasilan Agung menjalankan bisnisnya.


Kalau Kayla dan Raffa sudah tidak diragukan lagi, Raffa seorang pewaris tunggal Surya Atmaja, pebisnis handal dan terkenal di kota Padang apalagi Raffa memiliki usaha kafe ditambah dengan profesinya sebagai motivator yang sudah dapat dipastikan, Kayla sekarang hidup bergelimang harta.


Irene merutuki kebodohannya yang sudah mau diajak menikah oleh Alex di saat Alex belum siap materi.


Alex sesekali melihat istrinya yang kini melamun, pangannya jauh memikirkan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.


Alex merasa, kini Irene sudah mulai banyak berubah. Mereka seakan bagai dua orang asing yang saling tak mengenal lagi kepribadian masing-masing. Walaupun jauh sebelumnya cinta mereka telah tumbuh bersemi.


Sesampai di rumah, Irene langsung melangkah masuk ke dalam kamar mengabaikan Alex.

__ADS_1


"Huhhft." Alex hanya bisa menghela napas panjang.


Dia pun melangkah masuk dan juga langsung menuju kamar, di kamar Irene langsung mengganti pakaiannya dengan piyama.


Kini dia pun tengah asyik berselancar ria di sosial media di ponselnya mengabaikan keberadaan Alex yang sudah ada di sampingnya.


Sifat dan sikap Irene yang kini jauh berbeda dari sebelumnya membuat Alex sama sekali tidak bergairah untuk menyentuh istrinya itu.


"Ren," panggil Alex sebelum dia memejamkan mata.


"Mhm," gumam Irene tapi masih fokus dengan ponsel yang ada di tangannya.


"Ren, apa kamu bisa dengar aku?" tanya Alex mulai meninggikan suaranya.


Irene menghentikan kesibukannya, dia meletakkan ponselnya di atas pahanya.


"Ada apa?" tanya Irene cuek.


"Apa selama ini ada kesalahanku yang membuatmu berubah?" tanya Alex pada istrinya.


Irene menautkan kedua alisnya.


"Apa maksud dari pertanyaanmu?" tanya Irene balik.


Irene terlihat tidak suka dengan pertanyaan yang dilombakan oleh suaminya.


"Aku hanya ingin mencari tahu apa alasanmu berubah, saat ini aku benar-benar tak lagi mengenal sosok Irene yang sangat kucintai."Alex meluapkan sesak di dadanya.


"Tak ada yang berubah, dari dulu aku memang seperti ini. Mungkin kamu saja yang terlalu berlebihan," ujar Irene membela diri.


"Oke, saat ini aku ingin bertanya padamu. Selama kita berada di sini, apakah kamu menganggap aku sebagai suamimu?" tanya Alex.


Pertanyaan Alex menusuk hati Irene, dia terdiam. Entah mengapa sejak Alex tidak bisa memberikan apa yang diinginkannya, rasa cintanya seakan memudar.


Bagi Irene, seorang suami akan memenuhi semua kebutuhan sang istri baik lahir maupun bathin. Jika Alex saat ini tidak dapat memenuhi kebutuhan Irene dengan layak maka Irene enggan untuk menganggapnya sebagai seorang suami.

__ADS_1


Irene memilih untuk menganggap pernikahan mereka hanyalah sebuah ikatan yang membuat mereka halal bersentuhan yang selama mereka pacaran tak pernah dilakukan oleh Alex.


"Kenapa diam?" tanya Alex pada Irene.


"Apakah kamu tak pernah menganggap aku sebagai suamimu?" tanya Alex lagi.


Alex ingin memperjelas bagaimana perasaan istrinya saat ini terhadap dirinya. Alex merasa lelah untuk berjuang sementara itu istrinya tidak menganggap dirinya.


"Mhm, maaf, Lex. Selama ini aku merasa kamu tidak sanggup memenuhi kebutuhanku seperti kedua orang tuaku memenuhi segala keinginan dan kebutuhanku. Jadi, aku merasa,--" Irene sengaja menggantung ucapannya.


Dia tak ingin mengungkap apa yang saat ini dirasakannya karena Irene yakin Alex sudah mengerti apa yang dia maksud.


"Jadi, karena aku belum sanggup menghidupi kamu sesuai keinginanmu, kamu tak lagi menganggap aku sebagai suami?" tanya Alex menekankan ucapan Irene.


Irene hanya diam.


"Selama ini aku masih berjuang demi kebutuhan kamu, walaupun tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan saat ini. Tapi, aku tidak melepaskan tanggung jawabku sebagai suamimu," ujar Alex membela diri.


"Kamu lihat, aku pergi kuliah lalu bekerja, atau bekerja setelah itu kuliah setiap hari, itu hanya demi kamu istriku,"


"Mati-matian aku berjuang di luar sana tapi semakin hati kamu semakin tak menganggap diriku ada di dalam kehidupanmu,"


"Apakah kamu juga menganggapku sebagai laki-laki yang tidak mampu bertanggung jawab atas dirinya seperti apa yang dikatakan oleh tantemu itu? Hah?"


"Apa kamu lebih memilih untuk menerima lamaran pria beristri itu demi memenuhi kebutuhan dan keinginanmu itu?"


Alex mencecar Irene dengan kata-kata yang selama ini dipendamnya.


"Aku tidak menyangka kamu bisa berbuat seperti ini padaku, aku sudah memperjuangkan dirimu. Semua keluargaku sudah memperjuangkanmu, tidak itu saja, bahkan mertua Kayla juga ikut andil mempertahankan dirimu agar tidak menikah dengan pria beristri. Apakah ini balasan yang kamu berikan padaku? Hanya karena aku belum sanggup untuk memenuhi keinginanmu yang di luar batas?" ujar Alex.


Alex meluapkan semua rasa yang ada di hatinya, dia menumpahkan sesak yang membebani dirinya beberapa hari terakhir.


Irene masih diam, dia tak membalas sama sekali apa yang dilontarkan oleh sang suami.


"Renungkan semua yang aku katakan padamu, jika saat ini kamu belum siap menganggapku sebagai seorang suami, lebih baik kita tidak bersama dulu," lirih Alex sambil mengusap air matanya yang tadi sudah jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2