
"Ray, ayo kita pulang," ajak Satya lembut.
"Tidak! Aku tidak mau pulang!" bentak Rayna yang pikirannya masih kacau.
Perlahan tapi pasti, Satya mengunci pergerakan Rayna yang sedari tadi melawan dan menentang untuk di ajak pulang.
"Aku di sini. Aku akan selalu bersamamu," bisik Satya pelan sambil memeluk wanita yang belum muhrimnya.
Satya tidak bisa menjaga jarak di antara mereka, karena situasinya tidak memungkinkan.
Saat ini Rayna butuh perlindungan, dia harus melakukan hal itu untuk menenangkannya.
"Ray, ini aku Satya," lirih Satya pelan.
Hati Satya merasa hancur melihat kondisi Rayna sekarang, entah apa yang terjadi pada gadis yang kini sudah mulai mengisi hatinya. Dia hanya mendapatkan informasi Rayna keluar dari sekolah tanpa peduli orang yang memperhatikan dirinya.
Satya hanya bisa menyuruh seseorang menjaga Rayna dari luar sekolah, tapi tidak di dalam sekolah.
"Kita pulang, ya," lirih Satya.
Satya menggiring Rayna masuk ke dalam mobil. Satya pun langsung melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Bramantyo.
****
Raffa mulai sibuk menyelesaikan skripsinya, hari-harinya dihabiskannya di perpustakaan dan asrama.
Pagi ini dia buru-buru ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku yang dibutuhkannya untuk pendukung penyelesaian skripsinya.
"Raffa?" sapa seorang wanita yang juga tengah berada di perpustakaan.
Raffa menoleh ke arah suara wanita yang memanggil namanya.
"Zahra," lirih Raffa kaget saat melihat wanita yang sempat mengganggu pikirannya beberapa minggu yang lalu.
Raffa menautkan kedua alisnya heran melihat keberadaan Zahra di perpustakaan Universitas tempat dia menuntut ilmu.
"Ternyata kamu masih ingat sama aku, kirain udah lupa," ujar Zahra sok akrab.
"Eh, iya. Kamu ngapain di sini?" tanya Raffa.
"Aku? Mau ngapain lagi di perpustakaan, kalau enggak cari buku ya baca buku," jawab Zahra santai.
"Maksud aku, kenapa bisa di Universitas ini?" tanya Raffa memperjelas pertanyaannya.
"Trus aku harus ke perpustakaan Universitas lain?" Zahra menjawab pertanyaan Raffa dengan pertanyaan juga.
Raffa menggaruk dahinya yang tidak gatal, dia bingung harus bagaimana mempertanyakan keberadaan gadis itu di Universitasnya.
"Aku salah satu mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas ini," jelas Zahra.
"Apa? Kamu kuliah di sini juga?" tanya Raffa memastikan.
Zahra mengangguk.
"Kamu cari buku apa?" tanya Zahra berusaha mengajak Raffa mengobrol.
"Aku sedang mencari buku Filosofi Keuangan Syari'ah," jawab Raffa.
"Oh, sini coba aku bantuin." Zahra menawarkan diri.
Dia mulai sibuk melihat-lihat buku yang terpajang di rak buku.
__ADS_1
Raffa hanya diam, akhirnya dia melanjutkan pencariannya.
"Ini, aku menemukan 3 buku dengan pengarang yang berbeda," ujar Zahra menyodorkan 3 buah buku tebal ke tangan Raffa.
Raffa menerima buku itu, dia membuka-buka buku tersebut melihat daftar isi untuk memastikan materi yang sedang dicarinya ada di dalam buku tersebut.
"Oh iya, di sini ada materi yang aku cari. Terima kasih," ucap Raffa pada Zahra.
Raffa hendak meninggalkan Zahra.
"Raffa, tunggu!" panggil Zahra.
"Ya," lirih Raffa.
"Kamu mau ke mana?" tanya Zahra.
"Aku mau kembali ke asram untuk melanjutkan pengetikan skripsiku, besok ada bimbingan dengan dosen," jawab Raffa.
"Mhm, kalau begitu. Maukah kamu menemani aku ke kantin sebentar?" pinta Zahra tanpa ada rasa malu sedikitpun.
"Mhm," gumam Raffa ragu.
"Ayo! Bukunya biar aku yang daftarkan," ujar Zahra.
Dia kembali mengambil buku yang ada di tangan Raffa lalu membawanya ke bagian pendaftaran peminjaman.
Setelah menyelesaikan pendaftaran pinjaman, Zahra memberikan buku tersebut pada Raffa.
"Yuk!" ajak Zahra.
Dia melangkah di depan Raffa. Dengan berat hati Raffa mengikuti langkah gadis itu dari belakang.
"Kamu mau makan apa?" tanya Zahra.
"Mhm, aku masih kenyang," tolak Raffa.
"Ya udah, kalau gitu kamu pesan minum aja, ya," ujar Zahra.
"Kamu mau kopi, teh, capucino atau apa?" tanya Zahra.
"Teh panas saja," jawab Raffa.
Raffa merasa risih berada di satu meja dengan wanita yang bukan muhrim hanya berdua saja.
Zahra pun memanggil pelayan kantin untuk memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.
"Aku tidak menyangka ternyata kita satu kampus. Setahu aku di kampus ini juga banyak orang Padang, tapi aku banyak yang enggak kenal," racau Zahra.
Dia merasa sangat dekat dengan Raffa karena Raffa sudah mengantarkannya pulang waktu itu.
"Iya," lirih Raffa menanggapi ucapan Zahra.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, mata Zahra tertuju ke arah seorang mahasiswi yang duduk bersama wanita yang diperkirakan wanita itu ibunya.
Raffa ikut menoleh ke arah tatapan Zahra yang tiba-tiba berhenti berbicara.
"Ada apa?" tanya Raffa penasaran saat melihat wajah riang Zahra berubah menjadi sendu.
"Lihatlah mahasiswi itu!" tunjuk Zahra pada mahasiswi yang duduk di meja tidak jauh dari mereka.
"Betapa bahagianya gadis itu, dia masih dapat merasakan kasih sayang seorang ibu di usianya yang sudah dewasa. Sedangkan aku." Zahra mulai menangis.
__ADS_1
"Hei, ada apa?" tanya Raffa penasaran.
"Aku sudah tidak mempunyai ibu semenjak berumur 6 tahun, kedua orang tuaku meninggal dunia di saat aku dan adik-adikku masih membutuhkan kasih sayang orang tua," tutur Zahra.
Tanpa disadarinya, dia menceritakan kisah masa lalunya pada pria yang belum lama dikenalnya.
"Maksud kamu?" tanya Raffa mulai penasaran.
Hati Raffa berdetak kencang saat mengetahui Zahra sudah tidak memiliki orang tua semenjak dia berumur 6 tahun.
Kenangan saat Zahra kecil menangis dalam pelukan mamanya terlintas jelas dibenak Raffa.
"Aku sudah tidak mempunyai orang tua, walaupun pamanku merawat dan membesarkan kami, tapi kami haus kasih sayang orang tua." Zahra mulai terisak.
"Tenanglah, aku yakin di balik semua ini ada hikmahnya. Saat ini kamu harus mendo'akan agar kedua orang tuamu bahagia di alam sana," nasehat Raffa pada Zahra.
Hati Raffa mulai terenyuh, dia kembali mengingat Zahra cinta pertamanya.
"Ya Allah, apakah gadis yang di hadapanku saat ini Zahra kecil yang pernah mengisi hari-hariku di masa kecil?" gumam Raffa di dalam hati.
Zahra mulai tenang, dia mengusap air mata yang sempat membasahi pipinya.
"Maaf, aku malah jadi curhat sama kamu," ujar Zahra tidak enak hati pada Raffa.
"Oh, enggak apa-apa," jawab Raffa.
"Yang penting sekarang kamu harus mendo'akan yang terbaik buat kedua orang tuamu," nasehat Raffa.
Tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Zahra mulai menikmati nasi goreng yang tadi dipesannya. Begitu juga Raffa menikmati teh panas yang ada dihadapannya.
Mereka kembali mengobrol dengan santai, entah mengapa Raffa yang awalnya masih menjaga jarak dengan gadis itu mulai santai. Saat ini dia merasa yakin bahwa Zahra yang ada di hadapannya adalah gadis kecilnya.
Asyiknya mengobrol dengan Zahra membuat Raffa lupa waktu, dia terlihat sangat menikmati kebersamaannya bersama Zahra.
"Bang Raffa!" panggil Kayla yang tak sengaja melihat sang suami bersama wanita lain di tempat umum seperti itu.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1