
"Ayo, kita pulang. Bunda dan Akifa nungguin kamu di rumah," ajak Alex.
Alex membawa Alita pulang ke rumah kontrakannya.
Di sepanjang perjalanan, Alita hanya diam.
"Alita," seru Bunda khawatir pada putrinya yang semalaman tidak pulang ke kost-annya atau rumah kontrakan Alex.
Alita masuk ke dalam rumah, dia langsung masuk ke dalam kamar tempat dia biasa beristirahat di rumah itu.
Dia tidak menghiraukan Hurry yang sedang mencemaskan dirinya.
"Alita!" panggil Hurry.
Alex memegangi pundak sang Bunda.
"Bun, kasih waktu Alita buat berpikir. Dia memiliki alasan menolak kenyataan ini," ujar Alex menenangkan hati bundanya.
Sementara itu, Kayla enggan untuk berangkat kuliah. Semangat belajarnya hilang seketika.
Dia memilih untuk berdiam diri di rumah, Rayna dan Fitri sudah berangkat ke kampus di antar oleh Satya.
Melihat istrinya yang sedang murung, Raffa pun ikut bolos kuliah.
Dia menemani sang istri di rumah.
Kayla duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Dia menekan tombol remote TV mencari acara yang dapat menghibur suasana hatinya.
Raffa terus memperhatikan sikap Kayla yang sedari tadi hanya mengganti siaran TV tanpa ingin menyaksikan film apa pun di sana
Tatapan matanya kosong, dia masih terpukul mendengar bahwa kedua orang tua kandungnya sudah tiada. Dia berusaha mengingat kisah kehidupanya sewaktu kecil, tai tak satu pun ada memory yang melekat di benaknya.
Raffa kasihan melihat istrinya yang sejak tadi hanya murung, akhirnya Raffa mendekati sang istri dan duduk di sampingnya.
Raffa merangkul pundak sang istri. Dia merebahkan kepala istrinya di lengan kekarnya.
Walaupun Raffa tidak pernah merasakan kehilangan seperti Kayla, tapi dia dapat merasakan sedih yang kini dirasakan sang istri.
“Sayang, kamu jagan seperti ini terus dong. Aku sedih melihat kamu murung seperti ini,” tutur Raffa tak kuat melihat wanita yang dicintainya bersedih.
Kayla memeluk erat tubuh kekar sang suami, dia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
“Bang, kenapa Allah memberikanku ujian yang begitu berat? Setahun ini banyak hal yang tak pernah kubayangkan terjadi. Mulai dari kenyataan bahwa diriku bukanlah anak kandung Ayah Bram hingga kenyataan ternyata kedua orang tua kandungku sudah pergi terlebih dahulu di saat umurku masih 6 tahun.” Kayla mencurahkan isi hatinya pada sang suami.
“Sabar, Sayang. Inilah yang namanya takdir. Kita harus menerima semua ujian dan cobaan dengan lapang dada dan sabar,” nasehat Raffa pada istrinya yang sangat terpuruk.
“Ini terlalu berat untuk aku lalui, Bang. Aku tak sanggup menerima kenyataan ini,” isak Kayla.
__ADS_1
Wanita itu mulai menangis.
Raffa mengelus lembut punggung istrinya. Dia membiarkan sang istri menangis agar wanitanya dapat melepaskan berbagai sesak yang ada di dadanya.
“Sayang, walaupun Bunda Hurry bukan ibu kandungmu, tapi dia dan ayah Hendra sangat menyayangimu seperti mereka menyayangi Agung dan Alex. Seharusnya kamu bersyukur masih memiliki mereka di dunia ini,” nasehat Raffa pada istrinya.
Kayla terdiam, dia mulai menimbang perkataan Raffa. Dia mulai mengusap pipinya yang basah.
“Kamu benar, Bang,” lirih Kayla.
Kayla pun bangkit, dia menatap dalam sang suami. Dia bersyukur memiliki Raffa yang selalu ada di saat dia rapuh dan sedih.
“Bang, jumat depan kita ke Padang, ya. Aku mau ziarah ke makam Abi dan Ummi,” pinta Kayla pada suaminya.
Raffa mengangguk.
“Baiklah, kalau itu bisa membuat kamu kembali ceria. Apa pun aku lakukan untukmu dan buah hati kita,” ujar Raffa.
Raffa mengelus lembut perut Kayla yang semakin membesar.
“Kamu enggak boleh sering-sering bersedih, kasihan ketiga anak-anak kita, nanti mereka jadi anak yang cengeng dan suka murung,” ujar Raffa mencoba menghibur sang istri.
Kayla pun ikut mengelus perutnya yang semakin hari semakin besar.
“Maafkan bunda ya, Nak. Bunda akan berusaha lebih tegar lagi dalam menghadapi masalah ini,”lirih Kayla.
“Gini dong, ini baru istriku,” ujar Raffa sambil mencubit lembut hidung Kayla.
Raffa pun kembali memeluk tubuh sang istri yang mulai berisi. Dia mengecup puncak kepala sang istri.
****
Sesuai janji Raffa pada istrinya, hari jum’at sore mereka pun terbang ke Padang. Seperti biasa Raffa tidak memberi kabar kepada kedua orang tuanya. Dia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Raffa memilih untuk naik taksi online dari Bandara Internasional Minangkabau menuju kediaman keluarga Surya.
“Asslamu’alaikum,” ucap Raffa saat mereka sudah berada di depan rumah.
Arumi da Surya sedang duduk di ruang keluarga setelah selesai makan malam. Mereka saling melemparkan pandangan saat mendengar suara yang tidak asing terdengar oleh telinga mereka.
“Asyik benar nontonnya,” ujar Raffa menyapa kedua orang tuanya setelah di masuk ke dalam rumah.
“Raffa Kayla,” seru Arumi kaget.
Arumi menghampiri menantu kesayangannya lalu memberikan sebuah pelukan hangat pada sang menantu.
“Ma, aku kangen,” lirih Kayla mellow.
Arumi mengernyitkan dahinya heran melihat menantunya terlihat sedih.
__ADS_1
“Ada apa, Sayang?” tanya Arumi khawatir.
“Ma, Kayla lagi bersedih. Nanti aku ceritakan sama mama dan papa, ya. Sekarang aku mau bawa Kayla istirahat dulu,” ujar Raffa minta izin untuk membawa Kayla masuk ke dalam kamar.
Arumi terpaksa mengangguk. Raffa dan Kayla pun melangkah menuju kamar mereka yang sudah dipindahkan di lantai satu.
Arumi kembali duduk di samping suaminya. Dia mulai mengkhawatirkan apa yang terjadi pada menantunya.
Di kamar, Raffa langsung meminta Kayla untuk beristirahat agar janin yang ada di dalam kandungannya tumbuh sehat.
Setelah memastikan istrinya terlelap. Raffa keluar dari dalam kamar. Dia melangkah menuju ruang keluarga untuk berkumpul dengan mama dan papanya.
Kedua orang tua Raffa sudah tak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Arumi menutup mulutnya tak percaya.
“Makanya, hasil tes DNA Kayla dan Bunda Hurry tidak terdapat kecocokan,” ujar Raffa menutup ceritanya.
Arumi dan Surya mengangguk paham dengan kenyataan yang dihadapi oleh Kayla.
"Kasihan Kayla," lirih Arumi.
Keesokan harinya, Raffa membawa Kayla datang ke rumah Bunda Hurry.
Sebelumnya Raffa sudah menghubungi Bunda Hurry tentang permintaan istrinya.
Hurry dan Hendra telah bersiap untuk berangkat ke Solok.
Hendra sengaja tidak berangkat ke kantor demi mengantarkan Kayla ke makan kedua orang tua kandungnya.
"Kita berangkat sekarang?" ajak Hendra saat Kayla dan Raffa sudah sampai di kediaman keluarga Hendra.
"Iya, Yah." Raffa mengangguk.
Kedua orang tua Kayla sengaja dikuburkan di Solok, karena Abi Kayla berasal dari daerah itu.
Keluarga pihak Abi Kayla meminta mereka dimakamkan di sana agar mereka masih dapat bersilaturahmi dengan Kayla beserta adik-adiknya.
Namun, setelah nenek dan kakek Kayla sudah tiada. Mereka jarang bersilaturahmi dengan kerabat Abi Kayla.
Sehingga mereka datang ke Solok hanya untuk pergi Ziarah.
Mereka sampai di TPU kaum keluarga setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam.
Mereka turun dari mobil dan melangkah menuju makam kedua orang tua Kayla.
Mereka kaget saat berada di dekat makam kedua orang tua Kayla.
__ADS_1