
Kayla menoleh ke arah sang Bunda. Dia mulai penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Hurry.
"Apa itu, Bun?" tanya Kayla.
Hurry pun mulai mematikan TV agar Kayla bisa mendengarkan ucapannya dengan seksama.
"Bunda, kalian belum tidur?" tanya Hendra yang tiba-tiba datang.
Hendra yang baru saja dari dapur mengambil air minum, melihat lampu ruang keluarga masih menyala.
Dia melangkah menuju ruang keluarga untuk memastikan masih ada orang di sana atau tidak.
"Eh, ayah. Kamu belum tidur, Yah?" tanya Hurry balik.
Hurry mengabaikan pertanyaan suaminya.
"Belum. Bun, ini sudah mau larut, kasihan Kayla, dia harus istirahat. Apalagi saat ini Kayla sedang hamil," ujar Hendra mengingatkan istrinya bahwa putri mereka harus istirahat agar janin di dalam kandungannya tidak ikut kelelahan.
"Kayla, kamu tidur dulu ya, Nak. Besok lanjutkan ngobrol lagi sama Bunda," ujar Hendra merasa kasihan sama putrinya seharian belum ada istirahat.
Setahu Hendra seorang wanita yang tengah hamil harus banyak istirahat, apalagi saat ini putrinya tengah hamil kembar 3.
Hurry memandang putrinya.
"Ya udah, kamu istirahat dulu, ya. Besok kita lanjutkan bicaranya," ujar Hurry.
Kayla mengangguk.
Hurry mengantarkan Kayla ke kamar yang sudah disediakannya selama ini untuk Ara.
"Kamar ini adalah kamar yang sengaja Bunda siapkan buat kamu," ujar Hurry pada putrinya.
Kayla langsung memeluk Hurry, dia sangat beruntung memiliki Bunda kandung seperti Hurry.
"Makasih, Bunda," ujar Kayla.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu, ya," ujar Hurry.
"Met malam, Bun," lirih Kayla.
Kayla pun masuk ke dalam kamar yang di cat dengan warna pink, di sana sudah tersedia tempat tidur berukuran besar beralaskan sprei dengan nuansa feminim yang sangat cocok untuk seorang anak perempuan.
"Kamar ini tak jauh berbeda dengan kamarku di rumah Ayah Bram," lirih Kayla terharu dengan kasih sayang Bunda Hurry dan Ayah Hendra pada dirinya walaupun mereka tidak tahu di mana keberadaan putrinya yang hilang.
"Alhamdulillah ya, Allah. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Aku bersyukur atas takdir yang telah engkau berikan padaku," lirih Kayla.
Kayla pun membuka hijabnya, dia masuk ke dalam kamar mandi, sebelum tidur Kayla melaksanakan shalat isya yang belum sempat dilakukannya.
Setelah shalat isya, Kayla pun mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia pun terlelap.
Sesaat dia lupa dengan Raffa yang kini tengah berdiri di balkon kamarnya memikirkan apa yang tengah dilakukan oleh istrinya.
Raffa yang belum bisa tidur akhirnya memilih keluar dari kamarnya, dia melihat lampu taman belakang masih menyala, Raffa pun melangkah menuju taman belakang.
__ADS_1
Raffa melihat Arumi yang masih duduk termenung di kursi panjang sambil menatap bintang yang bertaburan indah di langit nan biru.
"Mama belum tidur?" tanya Raffa pada wanita yang sudah melahirkannya.
Arumi menoleh ke arah asal suara.
"Raffa, kamu di sini? Kenapa belum tidur?" Arumi malah menjawab pertanyaan putranya dnegan pertanyaan lagi.
Raffa duduk di samping sang mama, dia pun merebahkan kepalanya di pangkuan Arumi.
Arumi mengernyitkan dahinya saat melihat tingkah putranya yang manja.
Arumi membelai lembut kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
"Ada apa, Sayang?" tanya Arumi penasaran.
"Ma, aku memikirkan Kayla," tutur Raffa jujur pada wanita yang sudah melahirkannya.
"Belum berhari-hari di tinggal Kayla kamu udah uring-uringan seperti ini, bagaimana berminggu-minggu?" ledek Arumi.
"Ih, Mama. Aku merasa kesepian banget, Ma." Raffa mencurahkan isi hatinya pada mamanya.
"Itu artinya kamu sudah mencintai istrimu dengan sepenuh hati," ujar Arumi.
"Mama senang kamu sudah bisa melupakan Zahra," tambah Arumi.
Mendengar nama Zahra, Raffa teringat dengan apa yang terjadi tadi siang.
Raffa bangkit dari posisi berbaringnya.
Alita yang ingin meraih cinta Raffa dan merusak rumah tangga Raffa dan Kayla.
"Ya Allah, Nak," lirih Arumi khawatir.
"Terus bagaimana sikapmu pada wanita itu?" tanya Arumi.
"Awalnya pikiran Raffa terbagi pada wanita itu, Ma. Sehingga Raffa sempat menyakiti hati Kayla," ujar Raffa jujur.
Raffa pun kembali menceritakan pertengkaran yang sempat terjadi di antara dirinya dan Kayla karena wanita itu.
Semenjak Raffa mulai beranjak remaja, Arumi selalu menjadi tempat curhat terbaik bagi Raffa.
Raffa sudah merasa nyaman berbagi keluh kesah dengan wanita yang selalu mencurahkan kasih sayangnya pada dirinya.
Arumi mengelus lembut lengan kekar putranya yang kini sudah tumbuh dewasa.
"Sayang, mungkin apa yang sudah terjadi di antara kalian merupakan ujian kekuatan cinta kalian. Allah menginginkan ikatan cinta kalian semakin kuat walaupun sekencang apa pun badai yang melanda rumah tangga kalian. Kamu sebagai nahkoda bahtera rumah tanggamu harus bisa bersikap bijaksana dalam bertindak," ujar Arumi menasehati putranya panjang lebar.
"Iya, Ma. Raffa sangat menyayangi Kayla. Jika suatu saat nanti Raffa berjumpa dengan Zahra, Raffa akan bersikap sebagi seorang kakak untuknya, karena saat ini cinta Raffa sudah tercurah pada istri Raffa, Ma," ujar Raffa menanggapi nasehat sang Mama.
Arumi tersenyum.
"Oh iya, Mama heran sama Kayla, katanya kangen sama mama. eh kenapa dia menginap di rumah Hurry?" tanya Arumi yang sedih karena tidak bisa bercengkrama dengan menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, Ma. Besok pagi kita langsung ke rumah Agung ya, Ma. Raffa juga penasaran apa saja yang dilakukan Kayla di sana. Sepertinya Kayla merasa nyaman berada i dekat keluarga Agung," ujar Raffa menyampaikan pendapatnya.
"Mungkin saja di antara mereka memiliki hubungan yang kita tidak tahu, karena saat ini Kayla masih belum menemukan jati dirinya," ujar Arumi.
Raffa mengangguk menyetujui pendapat sang mama.
****
Keesokan harinya setelah sarapan Raffa dan Arumi mengajak Surya untuk ikut ke rumah Bunda Hurry untuk bersilaturrahmi, sekaligus menjemput menantu kesayangan mereka.
"Kalian saja yang pergi," ujar Surya malas untuk ikut dengan istri dan putranya.
"Ayo dong, Pa," bujuk Arumi dengan memasang wajahnya yang mulai merajuk.
Arumi selalu melakukan aksinya jika Surya hendak menolak permintaannya sehingga mau tak mau Surya pun harus mengikuti keinginan istrinya.
"Ya udah, papa ikut," ujar Surya akhirnya mengalah.
"Gitu dong, Pa," seru Arumi kembali memasang wajah cerianya.
Arumi yakin sang suami tidak akan bisa menolak permintaan dengan jurus ampuhnya.
AKhirnya mereka pun berangkat menuju kediaman keluarga Hendra.
"Assalamu'alaikum," ujar Raffa saat telah berada di teras rumah kediaman Hendra.
"Wa'alaikumsalam," jawab Alex dari dalam rumah.
Wajah Raffa berubah merah padam menahan amarah saat melihat Alex berada di rumah bunda Hurry.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ