Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 244


__ADS_3

"Irene!" pekik Hurry saat dia baru saja masuk ke dalam ruang rawat Alex.


Hurry panik saat melihat sang menantu sudah tergeletak di atas lantai.


Dia berlari mendekati mendekati Irene. Dia mencoba memeriksa keadaan sang menantu.


Saat memastikan bahwa Irene hanya pingsan, Hurry langsung keluar dari ruangan tersebut, dia memanggil perawat untuk membantunya memeriksa keadaan Irene.


Dua orang perawat datang menghampiri Hurry.


"Ada apa, Bu?" tanya salah satu perawat tersebut.


“Tolong bantuin saya, menantu saya pingsan di sana!” ujar Bunda Hurry panik sambil menunjuk ke arah Irene yang masih tergeletak di lantai.


Dua perawat itu langsung melangkah masuk ke dalam ruang rawat Alex. Mereka menghampiri Irene, lalu membawa Irene ke atas sofa yang terdapat di ruangan itu.


Mereka membaringkan Irene di atas sofa, lalu memeriksa keadaan Irene.


“Sebentar ya, Bu. Kami panggil dokter dulu,” ujar salah satu seorang perawat.


Perawat tidak berani menangani Irene begitu saja, karena Dokter lah yang berhak memeriksa pasien.


“Iya,” lirih Bunda Hurry cemas.


Hurry sangat panik, untung saja salah satu perawat yang lainnya menemani Hurry dan berusaha membangunkan Irene dengan cara memijat-mijat telapak tangan Irene.


Tak berapa lama Dokter masuk ke dalam ruangan itu, Irene sudah sadar, tapi dia masih sangat lemah.


“Nona Irene kenapa, Bu?” tanya dokter pada Bunda Hurry saat dia sudah berdiri di samping sofa tempat Irene terbaring.


“Saya juga tidak tahu, sewaktu saya masuk ke ruangan ini, saya lihat Irene sudah jatuh di lantai,” jawab Bunda Hurry.


“Tunggu sebentar, ya. Saya coba periksa dulu,” ujar Dokter.


Dokter pun melakukan apa yang harus dilakukannya.


“Mhm, tadi pagi apakah Nona Irene sudah makan?” tanya Dokter pada Irene.


Irene menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan sang Dokter.


“Mhm, wajar saja Nona Irene pingsan, dia dalam masa pemulihan, setelah itu belum sarapan dari pagi. Tubuhnya lemah karena tidak ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya,” jelas Dokter.


“Kamu belum makan. Ren?” tanya Hurry memastikan.

__ADS_1


Hurry merasa bersalah karena tidak memperhatikan makan menantunya yang baru saja sembuh, Hurry merasa sudah lalai terhadap menantunya.


“Maaf, Bunda. Aku jadi merepotkan Bunda,” lirih Irene merasa bersalah pada ibu mertuanya.


“Tidak, Sayang, tunggu sebentar, ya. Bunda cari makanan dulu untuk kamu,” ujar Bunda Hurry.


“Biar saya saja yang bantu beli makanan untuk Nona Irene, Bu. Kebetulan saya juga mau ke kantin," tawar salah satu perawat yang ada di sana.


“Apa tidak merepotkan?” tanya Hurry merasa tidak enak hati.


“tidak, Bu. Lebih baik ibu di sini menjaga mereka,” ujar sang perawat tersebut.


“Ya sudah, tolong Bunda ya, Nak,” ujar Hurry ramah pada wanita yang berumuran hampir sama dengan Kayla.


“Iya, Bu,” ujar si perawat.


Bunda Hurry mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan menyodorkannya pada sang perawat yang baik hati itu.


“Sebelumnya terima kasih, ya,” ujar Bunda Hurry pada sang perawat,


“Sama-sama, Bu,” ujar Sang perawat.


Dokter dan kedua perawat itu pun keluar dari ruang rawat Alex. Hurry duduk di sofa di samping Irene berbaring.


Hurry tahu, Irene sampai lupa makan karena dia masih memikirkan keadaan Alex saat ini, bayangan kehilangan suami pada diri sang istri menjadikan istri bagaikan mayat hidup yang tidak memiliki masa depan. Bayang-bayang menjadi janda sudah pasti terlintas dalam benaknya.


Istri tak akan pernah tenang melihat sang suami yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur rumah sakit, apalagi Irene berada dalam situasi yang diselimuti dalam perasaan bersalah. Dia belum sempat meminta maaf pada sang suami atas kesalahan yang sudah dilakukannya.


Irene yakin, Alex sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukannya selama ini. Saat ini Irene hanya bisa memohon pada Allah agar Alex masih diberikan umur panjang dan cepat bangun dari tidur panjangnya.


Sekian menit tak ada lagi pembicaraan yang terjadi di antara menantu dan ibu mertua, mereka saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Assalamu’alaikum,” ucap Alita saat dia baru saja masuk ke dalam ruang rawat.


Wa’alaikumalam,” jawab Hurry.


Hurry senang melihat putri keduanya datang menjenguk abangnya. Alita melangkah masuk lalu menyalami Bunda Hurry.


“Maafin Alita baru bisa datang, Bun. Soalnya Raymond sibuk dengan pekerjaannya,” ujar Alita pada Bundanya.


“Enggak apa-apa, Sayang. Bunda mengerti, kok. Karena Alex sedang kritis otomatis semua pekerjaannya di kafe butuh bantuan dari Raymond” ujar Hurry penuh pengertian.


Alita datang ke rumah sakit di antar oleh Raymond. dia hanya mengantar Alita hingga gerbang masuk rumah sakit, pekerjaan yang harus dilakukan oleh Raymond sehingga waktunya tersita banyak mengurusi cafe.

__ADS_1


Setelah itu Alita melangkah menghampiri tempat tidur tempat Alex berbaring.


Alita duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Alex, Alita meraih telapak tangan Raffa.


Alita menggenggam erat tangan Abang sepupunya yang sangat perhatian padanya.


"Bang Alex, bangun dong. Aku di sini," lirih Alita mulai berkata-kata di samping Alex.


Alita menatap dalam pria yang selalu menjaga dirinya, pria yang selalu datang menasehati dirinya di saat dia melakukan sesuatu yang tidak baik.


"Bang, bangun," lirih Alita lagi sambil mengenang masa-masa indah yang mereka lewati sebagai kakak dan adik.


"Bang, bangun, hiks," tangis Alita pecah dia memeluk lengan Alex.


Alita mulai menangis sedih, sekelabat kenangan melintas di benaknya.


Melihat Alita yang sudah terisak. d dia langsung berdiri dari posisi duduknya dan melangkah menghampiri Alita.


Hurry membelai lembut puncak kepala Alita memberikan kekuatan agar Alita tak lagi menangis.


Alita langsung memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu, Alita meluapkan rasa sedihnya, dia ikut terpukul melihat keadaan Alex.


Tak berapa lama, seorang perawat pun masuk ke dalam ruangan.


"Assalamu'alaikum, Maaf terlambat, Bun. Di kantin lagi pada banyak pengunjung lainnya," ujar sang perawat sambil menyodorkan makanan pada bunda Hurry.


"Wa'alaikummussalam, eh iya, Enggak apa-apa. Terima kasih, ya," ucap Bunda Hurry pada sang perawat tersebut.


Dia mengambil makanan itu dari tangan sang perawat.


"Saya permisi dulu ya, Bu," ujar sang perawat sebelum meninggalkan ruang rawat Alex


Bunda Hurry mengambil piring lalu menyakinkan makanan yang baru saja dibeli oleh si perawat.


Dia mulai menyendokkan makanan itu ke mulut sang menantu.


"Bun, aku coba makan sendiri aja. Aku sudah terlalu banyak merepotkan Bunda," ujar Irene menolak dengan halus niat baik Bunda Hurry.


"Kamu yakin,?" tanya Hurry memastikan.


Irene mengangguk.


"Iya, Bun."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2