Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 108


__ADS_3

Raffa langsung berdiri mendengar suara istrinya yang memanggil bunda.


"Sayang," lirih Raffa.


"Bu-bunda." Lagi-lagi Kayla memanggil Bunda.


"Bunda?" gumam Raffa berpikir.


Raffa menoleh ke belakang, ia melihat Hurry tengah berada di luar ruangan rawat Kayla.


"Apakah keberadaan Bunda Hurry di sini membuat Kayla,--" Raffa tidak menuntaskan ucapannya.


Dia langsung melangkah keluar, dan membuka pintu.


"Bunda, Kayla memanggil Bunda," ujar Raffa memberitahu Hurry.


Deg.


Jantung Hurry berdetak dengan kencang.


"Bunda boleh masuk?" tanya Hurry.


Raffa mengangguk lalu meminta Bunda Hurry mengenakan pakaian steril sebelum masuk ke ruang rawat Kayla.


Bergegas Hurry melangkah menghampiri Kayla.


"Bu-bunda ja-jangan ti-tinggal-kan a-aku la-lagi," lirih Kayla dengan mata masih terpejam.


Hurry dapat mendengar ucapan Kayla dengan jelas. Air mata Hurry tak dapat dibendung lagi.


Dia menggenggam tangan wanita yang diyakininya adalah putrinya yang hilang.


"Sayang, ini bunda," bisik Hurry di telinga Kayla.


"Bunda tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Nak. Bunda akan selalu bersamamu," bisik Hurry dengan penuh kasih sayang.


Tak berapa lama Kayla membuka matanya perlahan, dia mengerjapkan matanya sambil memandangi sekelilingnya.


Kayla berusaha mencerna di mana dia saat ini.


"Bun-da," lirih Kayla saat melihat wanita paruh baya itu berada di sampingnya.


"Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Hurry.


"Raffa, panggil dokter! Kayla sudah sadar," teriak Hurry memberitahu Raffa.


Raffa bergegas memanggil dokter memberitahukan bahwa istrinya sudah sadar.


Tak berapa lama, dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam ruangan Kayla.


"Maaf, Nyonya. Kami coba memeriksa pasien terlebih dahulu. Nyonya bisa tunggu di luar," pinta seorang perawat pada Hurry.


Hurry mengangguk dan melangkah keluar, setelah itu Dokter pun mulai memeriksa kondisi Kayla.


"Bun," lirih Raffa menatap dalam pada Hurry.


"Iya, Fa," lirih Raffa.


"Ada hubungan apa Bunda dengan Kayla?" tanya Raffa pada Hurry.


Raffa yakin Hurry dan Kayla memiliki hubungan yang erat sehingga Kayla memiliki kontak bathin saat Hurry baru saja tiba di rumah sakit.

__ADS_1


"Mhm, entahlah. Bunda hanya yakin Kayla adalah putri Bunda yang hilang," lirih Hurry.


"Tapi,"


"Ikatan bathin seorang anak dan ibunya tidak dapat dipungkiri," ujar Hurry memotong ucapan Raffa.


Agung hanya diam mendengar ucapan sang Bunda. Dia juga yakin bahwa Kayla adalah Ara, adik perempuannya tapi Agung tidak mau mengungkapkan pendapatnya karena saat ini mereka tidak memiliki bukti yang kuat.


Bram juga mulai yakin bahwa Hurry adalah Ibu Kayla, karena melihat reaksi Kayla yang terbangun saat wanita itu berada di samping putrinya.


Arumi juga heran dengan apa yang baru saja terjadi, seingatnya hasil tes DNA yang mereka lakukan tidak ada kecocokan sama sekali antar Hurry dan Kayla.


"Alhamdulillah, pasien sudah sadar. Kondisi pasien semakin membaik. Saat ini pasien masih butuh istirahat, untuk itu kami meminta pasien tetap dirawat di sini hingga pasien benar-benar pulih," ujar Dokter.


Dokter langsung memberitahukan keadaan Kayla pada seluruh keluarga yang menunggu di luar ruangan.


"Alhamdulillah," lirih semua orang yang berada di sana.


Semua anggota keluarga menghela napas lega.


"Pasien akan kita pindahkan ke ruang rawat biasa," ujar Dokter lagi.


"Terima kasih, Dok," ujar Raffa sebelum dokter meninggalkan tempat itu.


Tak berapa lama, dua orang perawat mendorong brangkar yang ditempati Kayla menuju sebuah ruangan VVIP.


Raffa dan seluruh anggota keluarga ikut melangkah mengiringi brangkar Kayla menuju ruang rawat.


"Pasien masih butuh istirahat, kami minta pada anggota keluarga untuk tidak mengajak pasien mengobrol terlebih dahulu," ujar salah satu perawat yang mengantar Kayla.


"Terima kasih, Suster," ucap Raffa.


Setelah itu, Raffa menghampiri sang istri. Sementara itu, anggota keluarga yang lainnya duduk di sofa yang tersedia di ruang rawat Kayla sambil mengobrol memberikan ruang untuk Raffa berbicara dengan istrinya.


Kayla menatap Raffa sayu, dia masih mengingat tuduhan Raffa pada dirinya yang telah meragukan kesetiaannya.


"Bang, selama ini cinta pertama dalam hidupku adalah ayah Bram, beliau telah memberikan kasih sayangnya padaku sejak aku kecil hingga aku tumbuh dewasa." Kayla berbicara sambil menatap pria bijaksana yang tengah duduk di samping Rayna.


"Selam ini aku tidak pernah jatuh cinta dengan siapa pun hingga akhirnya Allah mempertemukanku denganmu," tutur Kayla jujur.


"Bagiku Alex adalah teman yang selalu ada di saat aku dalam kesusahan, tak lebih dari itu," tambah Kayla.


Raffa diam, dia merenungi setiap kata yang diucapkan oleh istrinya.


Raffa merutuki kebodohannya yang sempat meragukan cinta sang istri hanya karena dia mengetahui Alex adalah kekasih Zahra dari Rio.


"Maafkan aku, aku menyesal," lirih Raffa menundukkan kepalanya.


Kayla menatap sendu ke arah sang suami.


Dia tersenyum.


"Tak ada istri yang tidak bisa memaafkan kesalahan suaminya, karena kesalahan dan masalah dalam rumah tangga adalah perekat untuk memperkuat cinta kita," tutur Kayla dengan bijak.


Raffa tersenyum mendengar ucapan Kayla.


"Ya Allah, nikmat mana lagi yang kau dustakan," gumam Raffa penuh rasa syukur.


"Terima kasih, Sayang," ujar Raffa lagi.


Raffa berdiri lalu mengecup puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Istirahatlah, aku akan menunggumu di sini," ujar Raffa.


Kayla mengangguk, lalu dia mulai memejamkan matanya.


Raffa melangkah ikut bergabung dengan keluarga yang lain.


Dia memilih duduk di samping Arumi, tak banyak yang dibicarakan oleh anggota keluarga yang datang.


****


Semua anggota keluarga Raffa dan Kayla bersyukur. Kecelakaan yang dialami oleh pasangan suami istri tersebut tidak membahayakan janin yang berada di dalam kandungan Kayla.


Mereka juga bersyukur dengan berita bahagia kehadiran 3 calon bayi yang kini tumbuh di dalam rahim Kayla.


Kayla pun dibolehkan pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama 4 hari di rumah sakit.


Bram memutuskan untuk kembali ke Bandung setelah memastikan keadaan Kayla baik-baik saja.


Setelah selesai makan malam, Kayla duduk di taman belakang bersama Bram.


"Kayla, ayah bersyukur kamu selamat dari kecelakaan yang menimpamu," ujar Bram memulai membuka percakapan di antara mereka.


"Iya, Yah. Kayla juga bersyukur, janin di dalam kandungan Kayla baik-baik saja. Aku tidak sanggup kehilangan untuk kedua kalinya," tutur Kayla.


Bram tersenyum, ia menatap dalam pada putri yang dibesarkannya sejak berumur 6 tahun. Kehadiran Kayla menjadikan hidupnya penuh berwarna.


"Nak, ayah ingin bertanya sesuatu padamu," ujar Bram pada putrinya.


"Apa, Yah?" tanya Kayla mengernyitkan dahinya penasaran.


"Apa yang kamu rasakan di saat kamu berada di dekat wanita yang bernama Hurry?" tanya Bram.


Deg.


Kayla memegangi dadanya.


Bersambung


.


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote

__ADS_1


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2