
"Ayah ingat, gak? Teman Agung yang namanya Raffa?" tanya Hurry pada suaminya.
"Raffa yang dulu pernah satu sekolah sama aku Agung?" tanya Hendra.
"Iya, Yah. Raffa teman SMA Agung," jawab Hurry.
"Sekitar 6 bulan yang lalu Raffa datang bawa gadis itu ke butik, kebetulan Raffa anak teman Bunda, Arumi. tadi siang Bunda sama teman-teman ngumpul di mall, Arumi bawa menantunya, Kayla." Hurry menceritakan kejadian tadi siang.
"Firasat Bunda menyatakan kalau gadis yang bernama Kayla itu adalah Ara," ujar Hurry mengungkap apa yang dirasakannya pada sang suami.
"Tapi, Bun. Kita tidak punya bukti bahwa gadis itu, Ara. Mungkin sebaiknya mulai sekarang kita mencoba selidiki asal-usul anak itu," usul Hendra pada istrinya.
"Iya, Yah." Hurry mengangguk.
****
"Ray, kamu kenapa?" tanya Rita heran melihat putri kesayangannya beberapa hari ini sering melamun.
"Ah, enggak apa-apa, Ma," jawab Rayna cuek.
"Kalau gitu, cepat habiskan makananmu!" perintah Rita kesal melihat tingkah putrinya.
Raina bergegas menghabiskan makanannya setelah itu dia pun berdiri melangkah meninggalkan ruang makan.
Dia langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dia kamar Kayla membaringkan tubuhnya sambil membayangkan wajah tampan Satya yang telah menolongnya dari bahaya waktu itu.
Semenjak kejadian itu wajah tampan pria yang telah menolongnya terus menari-nari dalam benaknya.
Rasa kagum yang ada di hatinya mulai berubah dengan rasa cinta.
Rayna mencoba memikirkan cara untuk bisa berjumpa lagi dengan Satya.
Terlintas ide dibenaknya untuk menyusul sang kakak ke Padang.
Bergegas Rayna mengambil ponselnya untuk menghubungi sang kakak.
π Hai, Kak. Apa kabar?
Rayna mengirimkan pesan teks yang baru saja ditulisnya pada sang kakak.
Selang beberapa menit, ponsel Rayna berdering menandakan sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
π Hei, Dek. Aku baik, tumben kamu chat aku?
Rayna memonyongkan bibirnya saat membaca pesan dari sang kakak, lalu dia pun kembali menulis pesan.
π Idih, nggak boleh ya aku chat, Kakak?
π Boleh, aku cuma heran aja. Ada apa, Dek?
π Kak, Aku bosan, liburan sendirian.
π Terus gimana, dong?
π Aku boleh nyusul kakak ke Padang?
π Kamu udah minta izin sama Ayah?
π Kakak bolehin, enggak? Ntar aku minta izin sama ayah, tapi kakaknya merasa terganggu dengan kehadiran aku di sana.
π Kakak tanya bang Raffa dulu, ya.
__ADS_1
π Ya udah, nanti gimananya kabari aku lagi. Cepat.
π Iya.
Kayla tersenyum melihat chat dari sang adik.
"Ada apa?" tanya Raffa penasaran melihat sang istri tersenyum sendiri dengan ponselnya.
Raffa yang masih sibuk dengan laptopnya tetap memperhatikan kegiatan sang istri yang duduk di sebelahnya.
"Ini, Bang. Rayna mau nyusul aku ke sini," jawab Kayla.
"Terus?" tanya Raffa masih fokus dengan laptop di hadapannya.
"Kira-kira kedatangannya ke sini mengganggu, enggak?" tanya Kayla hati-hati.
"Dia merasa kesepian, karena selama ini, aku yang menjadi temannya sepanjang liburan." Kayla berusaha membujuk suaminya.
Raffa menghentikan kegiatannya sejenak, dia tampak berpikir untuk mengizinkan Raina datang ke Padang.
"Mhm, lagian kita mau pergi. Nanti dia di sini juga gak bisa bareng kamu," ujar Raffa mempertimbangkan.
"Kita kan bisa ajak Rayna, lagian Satya juga ikut bareng kita," usul Kayla.
Raffa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. dia bingung harus mengabulkan permintaan sang istri atau menolaknya, karena perjalanan yang akan direncanakannya hanya ingin berdua saja dengan sang istri.
"Kamu yakin Raina tidak akan mengganggu perjalanan kita nantinya?" tanya Raffa tampak ragu untuk mengizinkan Raina datang ke Padang.
"Mhm," gumam Kayla.
Melihat wajah istrinya yang sendu akhirnya Kayla memutuskan untuk mengizinkan Raina datang menyusul mereka.
"Ya sudah katakan padanya, aku mengizinkan," ujar Raffa.
"Makasih, Bang," ucap Raffa.
"Aku tidur duluan ya, Bang." Kayla langsung membaringkan tubuhnya di samping Raffa yang masih membuka laptopnya.
Raffa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Kayla, dia tahu saat ini Kayla belum siap untuk melakukan kewajibannya terhadap sang suami.
Raffa akan mencari cara, agar sang istri siap melayani dirinya dengan jiwa dan raganya.
Raffa tersenyum smirk, lalu kembali fokus pada laptopnya.
Sementara itu, Rayna tengah membujuk Ayahnya agar memberi izin kepadanya untuk menyusul Kayla ke Padang.
"Tidak, Rayna. Nanti kamu di sana akan menyusahkan kakakmu," ujar Bram tidak mengizinkan Rayna untuk pergi ke Padang.
"Yah, Rayna kesepian di sini, lagian kalau aku mengganggu kak Kayla, aku bisa kok nginap di rumah Bibi Lina," rengek Kayla di hadapan Sang Ayah.
Bram menghela napas, dia mulai memikirkan permintaan sang Putri.
"Baiklah ayah mengizinkanmu tapi kamu harus janji, tidak akan mengganggu Kakakmu dan suaminya." Akhirnya belum mengizinkan Rayna untuk menyusul Kayla ke Padang.
****
Keesokan harinya Rayna sudah berada di Bandara Internasional Minangkabau.
Satya sudah menunggu 5 menit sebelum pesawat Rayna mendarat.
Rayna celingak-celinguk mencari keberadaan Satya yang menurut informasi yang diberikan Kayla, Satya akan menjemputnya.
Rayna sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan pria yang dirindukannya. Hatinya sangat bahagia saat mengetahui, Satya yang akan menjemputnya di Bandara.
__ADS_1
"Siang, Nona," ujar Satya dengan suara yang terdengar sangat tegas.
Rayna membalikkan tubuhnya, saat mendengar suara tegas dari belakangnya.
"Eh, ka-kamu," lirih Rayna gugup.
"Saya sudah menunggu nona sedari tadi," ujarnya tanpa menatap Rayna.
"Ayo!" ajak Satya.
Satya mulai melangkah di depan Rayna.
"Eh, tunggu!" teriak Rayna saat tersadar dari lamunannya tangan masih terpesona dengan pria berpenampilan rapi dengan kacamata hitam melekat di matanya.
Satya tidak menghiraukan Rayna yang terus meminta Satya untuk menunggunya. Dengan susah payah, akhirnya Rayna bisa mengiringi langkah besar Satya.
Saat mereka telah berada di dekat mobil, Satya membukakan pintu mobil untuknya di bangku penumpang.
"Aku enggak mau duduk di belakang, aku mau duduk di sampingmu," ujar Rayna.
Rayna melengos lalu membuka pintu mobil bagian depan.
Satya tak menghiraukan, dia pun melangkah mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil melalui pintu kemudi.
"Pakai sabuk pengamanmu," perintah Satya pada Rayna saat melihat gadis itu belum mengenakan sabuk pengaman.
Gadis berhijab pendek dengan pakaian yang sedikit sopan itu mengambil tali sabuk pengaman dari sisi kirinya, lalu memasangkan sabuk pengaman sendiri.
Setelah memastikan gadis itu duduk dengan aman, Satya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman keluarga Surya.
Di sepanjang jalan Satya hanya diam, dia tak sedikitpun mengeluarkan suara.
"Terima kasih," ucap Rayna memulai pembicaraan di antara mereka.
Satya melirik sekilas pada gadis yang duduk di sampingnya. Dia menautkan kedua alisnya.
"Terima kasih waktu itu, kamu sudah menyelamatkan nyawaku," ujar Rayna menatap dalam pada pria yang sudah mulai masuk ke dalam hatinya.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
Terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1