UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kekhawatiran Tiara.


__ADS_3

Tiara menatap Dimas yang tertidur lelap di sampingnya. Ia menyingkirkan tangan Dimas yang memeluknya dengan hati-hati. Ia kemudian turun dari tempat tidurnya mengambil baju tidurnya yang tercecer di lantai untuk menutupi tubuh polosnya.


Tiara membuka pintu kamarnya yang terhubung dengan balkon. Ia memilih menikmati pemandangan malam dari balkon kamarnya untuk menghilangkan rasa kekhawatirannya.


Pikirannya saat ini di penuhi dengan kekhawatiran, bagaimana jika mertuanya mengetahui ia pernah bekerja sebagai wanita malam sebelumnya. Sekalipun Dimas adalah pria satu-satunya yang pernah menyentuhnya, tapi mungkinkah mertuanya akan percaya padanya.


Bagaimana jika nanti Nyonya Anggi mengatakan hal yang bukan-bukan pada Papa Teo. Apa yang akan terjadi dengan pernikahan nya dan Dimas. Sanggupkah ia berpisah dari Dimas jika Papa Teo tidak menginginkannya. Mengingat semua itu Tiara meneteskan air matanya.


"Apa yang harus aku lakukan jika Papa Teo membenciku? Aku bahkan sampai saat ini belum mengetahui dimana orang tua kandungku. Aku bingung kemana harus mencari mereka" gumam Tiara lirih. Ia lalu menghembuskan nafas kasarnya.


"Ayah aku sungguh merindukanmu."


"Sayang apa yang kau lakukan" Dimas memeluk Tiara dari belakang ia membelitkan selimut yang menutupi tubuhnya ke tubuh Tiara juga.


"Aku hanya tiba-tiba terbangun dan susah tidur kembali. jadi aku memutuskan untuk melihat pemandangan malam hari dari sini. Masku kenapa bangun?"


"Bagaimana Mas bisa tidur jika guling kesayangan Mas kabur."


"Ayo mas kita masuk, Mas harus cukup tidur. Bukankah besok pagi Mas ada rapat di kantor."


"Bagaimana kamu bisa tau."


"Aku tidak sengaja tadi sore mendengar pembicaraan Mas dengan Erick."


"Ya sudah, ayo masuk" Dimas menggendong Tiara masuk kembali ke dalam kamar. Mengabaikan Tiara yang protes karena perbuatannya. Dimas meletakkan tubuh Tiara diatas tempat tidur dengan hati-hati. Ia kemudian ikut berbaring di sebelah Tiara.


"Tidurlah" Dimas memeluk Tiara erat.


"Mas, lepasin. Tiara nggak bisa nafas."


Dimas melonggarkan pelukannya. Tiara membalikkan tubuhnya membelakangi Dimas.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya Tiara. Mas lihat semenjak makan malam kemarin kau kelihatan resah."


"Tidak ada apa-apa Mas."


"Benarkah. Lalu kenapa membelakangiku. Ayo berbalik dan tatap mataku" Dimas membalikkan tubuh Tiara.


"Aku ingin kamu membagi keresahanmu denganku. Aku adalah suamimu, apa kau tidak percaya padaku" Dimas mengangkat dagu Tiara agar mata Tiara memandangnya.


"Mas seandainya Papa Teo tidak menyukaiku, apakah kau akan menceraikanku."


"Kau ini bicara apa? Kalau Papa tidak menyukaimu lalu buat apa ia jauh-jauh membawamu kemari dan menikahkanku denganmu. Hemmm..." Dimas mengecup kening Tiara lembut.


"Tapi bagaimana jika Papa Teo tahu aku pernah kerja di night club mas dan pernah berprofesi sebagai wanita penghibur. Bagaimana jika ia mengetahui kenyataan itu, kemudian tidak menyukaiku dan memaksamu menceraikanku."


"Ssuuttt apa yang kau katakan, Siapa yang wanita penghibur. Aku adalah pria satu-satunya yang menyentuhmu dan merenggut kesucianmu."


"Tapi Mas..."


"Sudah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Kau bisa meragukanku tapi tidak Papa. Papa tidak pernah menilai orang dari masa lalunya. Ia adalah pria yang lembut hatinya. Bahkan Ibuku yang berkali-kali mengkhianatinya selalu ia maafkan. Seandainya bukan Kakek yang memaksa Papa bercerai dan mengusir Ibuku. Mungkin sampai saat ini ia akan terus bertahan di samping Ibuku."


"Kau mengejekku, Hemm..." Dimas mengelitiki pinggang Tiara.


"Ampun Mas Tiara bercanda."


"Mungkin sifatku menurun dari Kakek. Sedangkan Papa sifatnya menurun dari Ibunya. Nenekku itu adalah wanita yang lembut. Hanya dia yang bisa menjinakkan Kakek. Tapi sayang dia sudah meninggal dunia seminggu sebelum Kakek mengusir Ibuku. Jika Nenek masih ada pasti Kakek tidak akan bisa mengusir Ibuku. Apalagi Kakek mengusirnya disaat ia hamil besar."


"Kasihan Ibumu Mas. Kenapa Kakek tega mengusir wanita hamil."


"Yang patut dikasihani disini sebenarnya bukan Ibuku tapi Ayahku. Kakek mengusir Ibuku juga karena anak yang ada di kandungannya bukan milik Ayahku. Lagipula sekalipun Kakek mengusir Ibu, Ibu juga tidak akan hidup susah. Karena Papa memberikan 60% kekayaannya untuk Ibuku."


"Yang paling aku sesali adalah aku tidak bisa melihat Adikku dilahirkan. Sekalipun kami berbeda Ayah, tapi ia tetap adikku yang sangat aku nantikan kehadirannya. Sebagai anak tunggal aku selalu merasa kesepian, aku selalu merengek meminta seorang Adik pada orangtuaku. Tapi begitu ia hadir dalam perut Ibuku tiba-tiba Kakek mengusirnya."

__ADS_1


"Aku sempat marah pada Kakek dan tidak menegurnya berbulan-bulan. Hingga tiba-tiba Kakek datang membawa Aryo ke rumah ini. Itu adalah saat dimana aku kembali tersenyum untuk Kakek."


"Dan untuk Ibu dan Adikku, Seperti apa kehidupan mereka sekarang aku tidak mengetahuinya, Aku hanya tau dari informanku kalau Adikku seorang laki-laki."


"Aku sudah berusaha mencari jejak mereka. Tapi setiap kali aku menemukan jejak keberadaan mereka. Tiba-tiba mereka menghilang begitu saja. Entah mereka yang menghindar dariku atau memang ada orang yang tak menginginkan aku bertemu mereka."


"Sabar dan tetaplah berusaha Mas insyaallah Mas pasti bisa bertemu mereka kembali" Tiara menangkupkan wajah Dimas dengan kedua tangannya.


Seperti aku yang juga akan menemukan orangtua kandungku, batin Tiara dalam hati.


"Apa menurutmu aku adalah pria yang Dingin?" tanya Dimas menatap Tiara. Tiara menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kamu harus menghangatkanku sayang."


"Mas..." Tiara terkejut karena Dimas yang tiba-tiba menindihnya dan membuka kembali bajunya.


"Satu ronde lagi sayang."


Tiara menyerah mengikuti kemauan Dimas. Karena percuma saja menolak kemauan pria satu ini, ia tidak akan pernah mendengarkan protes Tiara jika berhubungan dengan nafsunya.


*********


Bagas saat ini kebingungan dengan rencana apa yang akan ia buat. Apalagi Anggi saat ini tidak mendukungnya, belum lagi ancaman Anggi yang tinggal 2 bulan lagi. Otaknya seakan ingin pecah memikirkan semua ini.


"Haruskah aku menyewa orang untuk membunuh Tiara. Paling tidak dengan menyingkirkan Tiara rahasiaku akan aman."


Bagas benar-benar bingung. Sekalipun ia seorang bajingan tapi ia belum pernah melenyapkan nyawa seseorang. Haruskah Tiara menjadi yang pertama.


Bagas mengacak-acak rambutnya kesal. Ia benar-benar bingung saat ini. Haruskah ia menuruti permintaan Anggi dengan mengatakan kebenaran kepada Pak Aziz dan berakhir di penjara. Ataukah ia harus menyingkirkan Tiara.


Karena Kesal tak juga mendapatkan jalan keluar. Akhirnya Bagas berniat menyewa seseorang. Ia akan mengamati pergerakan Tiara saat ini. Agar ia bisa waspada jika sewaktu-waktu rahasianya terbongkar.

__ADS_1


Bagas merogoh handphone yang ada di laci meja kerjanya. Ia menghubungi sahabat dekatnya yang berprofesi sebagai mata-mata. Ia akan menyewa pria tersebut untuk mengawasi Tiara. Lebih bagus lagi jika pria itu bisa masuk ke kediaman Dimas dengan menyamar sebagai pelayan atau sopir disana.


TBC.


__ADS_2