
Di sebuah gedung perkantoran terlihat Erick yang di sibukkan dengan tumpukan berkas. Pekerjaannya semakin hari semakin bertambah saja. Padahal hampir setiap hari ia begadang untuk menyelesaikan semua. Bahkan lingkaran bola matanya terlihat mulai menghitam.
Sikap Dimas yang akhir-akhir ini selalu di sibukkan dengan percintaannya dengan istrinya berimbas besar pada bertambahnya pekerjaan untuknya.
Tok tok tok
"Masuk."
"Maaf Pak, Bos Dimas memanggil anda ke ruangannya" ujar salah satu pegawai yang memasuki ruangannya.
Erick menutup berkas yang ada di tangannya dan dengan segera meninggalkan ruangannya menuju ke ruangan Dimas.
"Bagaimana hasil penyelidikan anak buahmu tentang pergerakan Anton?" tanya Dimas.
"Anton mulai gencar mendekati pemilik saham Bos. Dari 10% saham yang harus kita perebutkan dia sudah mendapatkan 3,5% saham. Dan kabarnya dia besok akan pergi ke Singapura untuk mencari pemilik 5% saham sekaligus menemui pemilik 1,5% saham yang kebetulan juga berada di Singapura."
"Apa dia sudah mengetahui siapa pemilik 5% saham perusahaan kita."
"Belum Bos, tapi mereka mengetahui keberadaan orang itu yang katanya menetap di Singapura. Anda terlihat tenang sekali Bos, apa anda mengetahui siapa pemilik 5% saham yang misterius itu?"
"Tentu aku mengetahuinya, karena aku yang membantunya mendapatkan saham itu dan juga merahasiakan identitasnya. Kau siapkan saja jet untukku ke Singapura besok. Dan untuk semua pekerjaan disini selama 3 hari aku serahkan padamu."
Huuuffftt, Erick tanpa sadar menghela nafas kasarnya.
"Kenapa, kau keberatan?"
"Ti-tidak Bos, bukan maksudku seperti itu. Tapi bisakah anda memberiku seorang asisten atau sekretaris yang bisa membantuku bos?"
"Baiklah aku akan memberikan seorang asisten untukmu. Besok pagi aku pastikan dia sudah bisa datang membantumu."
"Terimakasih Bos."
"Pergilah, suruh supirku menjemput istriku kemari."
"Maaf Bos, supir anda belum kembali dia masih berada di kantor cabang mengantar sekretaris anda."
"Oh ya bukankah aku sendiri yang menyuruhnya tadi. Ya sudah, kau saja yang pergi jemput istriku sekarang."
__ADS_1
"Saya Bos?" Erick menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa apa kau keberatan?" Dimas menatap tajam ke arah Erick.
"Ti-tidak Bos. Saya pergi sekarang juga."
"Ah, baru setengah hari aku sudah merindukannya." Dimas merentangkan kedua tangannya, merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.
Setelah satu jam berlalu akhirnya Tiara sampai di kantor Dimas. Tanpa mengetuk pintu Tiara diam-diam memasuki ruangan suaminya. Dengan langkah perlahan ia mendekati meja kerja suaminya yang terlihat serius menatap Laptop di depannya.
Tiara sudah berada di depan meja Dimas dan bersiap untuk mengejutkan Dimas.
"Kau bawa apa sayang?" tanya Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya."
"Yah, baru aja mau ngagetin Mas. Ternyata mas dah tau duluan" ujar Tiara kecewa.
"Aroma masakan yang kau bawa tercium sampai sini sayang" Dimas menutup laptop miliknya dan tersenyum menatap istrinya.
"Kemarilah" Dimas menepuk pahanya meminta Tiara untuk duduk di pangkuannya.
"Nggak Tiara duduk sini saja" tolak Tiara. Ia berjalan mendekati sofa dan duduk disana. Tiara membuka tas yang di bawanya dan mengeluarkan berbagai menu makanan yang sudah ia masukkan ke dalam kotak makan.
"Tiara bawain makan siang buat Mas. Kata Erick, Mas sibuk dan belum sempat makan siang. Ayo sini Mas makan dulu" ajak Tiara.
"Nggak mas disini saja" jawab Dimas acuh.
"Duh suamiku sayang, ngambek ya." Tiara menatap Dimas yang terlihat cuek padanya. Tiara yang menyadari suaminya Edang dalam mode manja akhirnya mengalah. Ia berdiri dan mendekati Dimas. Tapi Dimas terlihat cuek. Ia mengambil berkas di hadapannya dan berpura-pura membacanya.
Tiara mengambil berkas yang ada di tangan Dimas lalu menutupnya.
"Ayo makan dulu" Tiara menarik tangan suaminya agar bangkit dari duduknya. Tapi malah Dimas yang menarik Tiara hingga jatuh di pangkuan Dimas. Tiara yang ingin bangun dari duduknya tidak bisa karena Dimas terlebih dahulu memeluknya.
"Hemm aku suka aroma tubuhmu sayang" Dimas mencium ceruk leher Tiara.
"Mas lepasin, ayo makan dulu Ini sudah lewat jam makan siang. Memang Mas nggak laper apa?" protes Tiara sambil berusaha lepas dari pelukan Dimas.
"Mas laper sayang, laper banget malah."
__ADS_1
"Ya sudah, ayo mas makan dulu."
"Tapi mas mau makan kamu dulu" tanpa aba-aba Dimas tiba-tiba membopong Tiara ke kamar tempat istirahatnya. Kamar itu berada di dalam kantornya. Sengaja ia rancang agar bisa menjadi tempat istirahat untuknya.
Erick yang sudah menyelesaikan beberapa berkas membutuhkan tanda tangan Dimas. Agar bisa segera memprosesnya.
Erick berkali-kali mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari dalam. Ia bertanya pada sekretaris Dimas dimana keberadaan bosnya itu. Tapi sekretaris itu mengatakan Dimas berada di dalam. Karena sedari tadi ia tidak melihat bosnya keluar ruangan.
Karena rasa penasaran di tambah lagi Erick yang memang membutuhkan tanda tangan Dimas akhirnya ia nekat memasuki ruangan Dimas.
Matanya menatap sekeliling dan tidak melihat keberadaan Dimas dan juga Tiara istrinya. Tapi telinganya mendengar samar-samar suara aneh. Ia berjalan menyusuri asal suara hingga terdengarlah suara ******* Tiara dan Dimas yang terdengar sexy dari balik pintu yang tertutup rapat.
Wajah Erick memerah setelah mendengar jelas semua itu. Akhirnya ia mendapatkan jawaban, mengapa sedari tadi tidak ada jawaban ketika mengetuk pintu Dimas. Ternyata si empunya sedang melakukan olahraga rutin.
"Sial. Dasar Bos Bucin nggak tau tempat" Erick mengumpat kesal dan keluar dari ruangan itu dengan wajah memerah. Otaknya sempat ternodai dengan pikiran kotor.
"Sebaiknya aku juga harus mencari seorang istri" gumam Erick lirih sambil berjalan keluar ruangan.
"Sudah bertemu Bos, Pak?" tanya sekretaris Dimas, yang merasa heran karena melihat Erick yang keluar dari ruangan bosnya dengan terburu-buru.
"Apa kau sudah menikah?" Erick tidak menjawab pertanyaan sekretaris Dimas. Ia malah balik bertanya.
"Sudah Pak, kenapa?" tanyanya heran.
"Tidak, lupakan" Erick berlalu pergi dari sana dengan perasaan sedikit kecewa.
*******************
Sementara di lain tempat terlihat Manda yang sibuk berbelanja tas dan perlengkapan wanita lainnya di sebuah butik terkenal.
"Kau hebat Manda, sempat-sempatnya morotin duit Dimas di tengah akting sakitmu" ujar Bela.
"Tentu, kau harus pandai-pandai memanfaatkan situasi. Dan Seminggu dari sekarang aku akan mulai memasuki kantor Dimas sebagai pegawainya. Tentu saja aku harus membeli banyak barang untuk menyempurnakan penampilanku. Trik menaklukkan pria adalah kau harus bisa memanjakan matanya sebelum memanjakan bagian bawah perutnya" ujar Manda dengan bangganya.
"Baiklah aku akan mendukungmu merebut Dimas kembali, asalkan jangan lupa sering-sering membelanjakanku barang-barang branded seperti sekarang ini" ujar Bela sambil tertawa.
Sementara itu tak jauh dari mereka tampak seorang pria berpura-pura memilih barang dan merekam pembicaraan mereka. Setelah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan ia pergi dari situ dengan senyum misterius.
__ADS_1
TBC.