
"Mereka tidak akan mempercayakan tugas kantor pada orang baru. Biasanya pegawai baru disini hanya mengerjakan hal-hal yang remeh. Seperti membuat minuman, memesan makanan dan fotokopi" ujar Irwan lagi.
Dasar hama pengganggu, lihat saja bagaimana aku akan memberi kalian pelajaran, gumam Aryo dalam hati.
"Oh ya, letak pantry dari sini kamu lurus terus belok kiri ya. Letaknya paling ujung. saya mau ke mesin fotokopi dulu" jelas Irwan lalu pergi ke arah yang berlawanan dengan Aryo.
Aryo melangkahkan kakinya menuju Pantry. Sesampainya disana ia mengambil gelas sebanyak 8 lalu meletakkannya di atas nampan. Ia mengambil toples berisi kopi lalu memberikan ke masing-masing gelas. Ketika ingin memasukkan gula Tangannya berhenti. Matanya melirik ke arah garam yang juga tersedia di atas meja.
Setelah selesai, Aryo melangkahkan kakinya kembali ke ruangannya. Ia meletakkan satu gelas kopi di masing-masing meja. Termasuk meja miliknya.
Tak lama setelahnya Hari si Pria yang tadi memerintahkan untuk membuat kopi. Dengan segera meraih gelas itu, ia meniup-niup kopi sebelum meminumnya.
"Puuuufft..., minuman apa ini" ucap Hari menyemburkan minumannya.
"Kamu ingin meracuni kita ya!!" teriak pria itu.
Karyawan yang berada di ruangan itu ikut penasaran dengan rasa kopi buatan Aryo pun ikut mencicipi kopi buatan Aryo.
"Puuuufft...," mereka menyemburkan minuman itu secara bersamaan.
"Tejo, kamu mau mengerjai kita ya" Teriak Rina salah satu karyawan wanita yang ada disana.
"Anak baru udah berani macem-macem aja lu" ucap yang lainnya lagi.
"Memangnya kenapa dengan kopinya" Ucap Aryo pura-pura tidak tahu. Aryo pun meraih gelas kopi yang ada di mejanya dan mencicipinya. Sama seperti mereka Aryo menyemburkan kopinya.
"Maaf-maaf..., sepertinya saya melamun jadi saya keliru memasukkan garam" ucap Tejo alias Aryo membela diri.
Mereka memandangi Aryo kesal dan kembali fokus pada kerjaan mereka.
Sedangkan Irwan yang baru datang dengan tumpukan kertas di tangannya menatap heran ke arah Sutejo alias Aryo.
"Ada apa?" tanyanya lirih pada Aryo setelah ia menyerahkan berkas itu pada Hari.
"Entahlah" Aryo menaikkan bahunya.
Irwan yang meras kehausan meraih kopi yang ada di mejanya, kemudian meminumnya. Aryo yang melihat itu hanya pura-pura tidak tahu. Dan mengalihkan pandangannya.
"Puuuufft...," Irwan menyemburkan kopinya.
"Astaga Sutejo!!!"
__ADS_1
**********
Sementara itu di lain tempat terlihat Tuan Bayu, berada di bandara menunggu seseorang.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya muncullah pria yang di tunggu-tunggu.
Ia melambaikan tangannya pada pria itu. Sosok pria tampan bertubuh atletis, berkulit putih dengan wajah yang terlihat sempurna. Bahkan ketampanan tuan Dimas masih kalah dengannya.
Tuan Bayu melambaikan tangannya pada pria itu, kemudian ia pun menghampirinya.
"Apa kabar Tuan Muda" Ucap Bayu lalu mengambil alih koper pria itu.
"Baik Paman, Dimana Ayah?" tanya pria itu.
"Tuan besar masih ada rapat di kantor Tuan, mungkin 10 menit lagi rapatnya srlesai" Bayu melihat jam yang ada di tangannya.
"Kita susul ke kantor Paman" ucap pria itu.
"Apa tidak sebaiknya Anda pulang dulu beristirahat Tuan muda"
"Tidak, aku sudah tidak sabar untuk memastikan kalung itu Paman. Aku sudah sangat merindukan adikku. Ia sudah terlalu lama bermain di luar sana. Sudah saatnya ia untuk pulang."ujar pria itu bersemangat.
Sesampainya di perusahaan Bayu dan pria itu memasuki lift khusus. Dan semua mata memandang penasaran ke arah pria tampan itu.
Ini adalah yang pertama kalinya pria itu melangkahkan kakinya ke kantor ini. Karena ia mengurusi perusahaan keluarganya yang ada di luar negeri. Sedangkan perusahaan yang ia datangi saat ini dipercayakan pada Bayu.
Bahkan Tuan Besar pun jarang datang kemari, Ia biasanya kemari hanya pada saat ada rapat pemegang saham seperti saat ini.
"Apa Tuan besar sudah selesai rapat" tanya Pak Bayu pada sekretarisnya.
"Sudah Pak, Beliau saat ini menunggu Bapak di ruangan Bapak." Ucap Sekretaris itu dan tak lupa ia juga melirik pria yang ada di sebelah Bayu.
Astaga Tampannya, pingin gue karungin. batin sekretaris itu menatap pria tampan dihadapannya.
Bayu yang menyadari ke arah mana pandangan sekretarisnya itu hanya menggelengkan kepalanya.
Bayu dan pria itu melangkahkan kakinya menuju ruangan Bayu. Dimana tuan besar sudah menunggunya.
"Assalamualaikum Ayah..." ucap pria itu meraih tangan pria paruh baya di hadapannya.
"wa'alaikumsalam, sepertinya kau sudah tak sabar ya" ucap pria paruh baya itu terkekeh.
__ADS_1
"Bay, keluarkan barang itu dan tunjukkan padanya" perintah Tuan Besar.
Dengan segera tuan Bayu menuju ke brankas yang ada diruangan itu. Ia memencet kode brankas hingga brankas itu terbuka. Ia kemudian meraih kotak perhiasan dan menyerahkannya.
"Ini Tuan Muda" Bayu menyerahkan kotak perhiasan itu.
"Paman sedari tadi kau terus memanggilku Tuan Muda, tolong cukup panggil namaku saja Paman" Protes pria itu
"Baik Tuan Farih" ucap Bayu.
"Farih saja Paman, jangan tambahkan kata Tuan di depannya" ujar Farih lalu membuka kotak perhiasan itu.
Bayu hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Farih.
Sedangkan Tuan besar hanya tersenyum mendengar perdebatan anaknya.
Farih tersenyum melihat kalung yang berada di dalam kotak perhiasan itu.
"Bagaimana?" tanya Tuan besar memastikan pendapat putranya.
"Sepertinya benar Yah, tapi kita perlu memastikannya agar tidak melakukan kesalahan lagi" ucap Farih kemudian meraih kopernya. Ia membuka koper miliknya dan mengeluarkan kotak perhiasan yang ada di dalam koper itu.
Farih membuka kotak itu, kemudian ia mengeluarkan kalung yang terdapat liontin berbentuk kunci yang sangat kecil. Farih kemudian mengambil kalung yang merupakan milik Tiara. Pada bandul kalung Tiara terdapat bolongan pada bagian bawahnya. Farih kemudian memasukkan kunci kecil itu pada bandul berbentuk matahari milik Tiara.
Begitu Farih memutar kunci kecil itu, seketika bandul itu terbuka. Dan terdapat Red Diamond pada bagian tengah bandul itu. Red Diamond merupakan permata termahal di dunia dengan harga kisaran 1 juta Dollar AS atau sekitar 14,3 Miliar per karat. Hanya ada kurang 30 buah di seluruh dunia. Dan kebanyakan dari mereka hanya memiliki berat kurang dari setengah karat saja.
"Ayah..., ini asli. Ini benar-benar milik adikku Safa Ayah" ucap Farih dengan mata berbinar berkaca-kaca.
Sedangkan Tuan Besar menatap permata itu tak percaya, tanpa permisi air matanya menetes begitu saja.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukanmu" ucap pria paruh baya itu dengan suara terisak.
TBC
Marhaban Yaa Ramadhan
Selamat menunaikan ibadah puasa 1442 H
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf 🙏
Terimakasih sudah membaca jangan lupa like vote dan komentarnya terimakasih 😘.
__ADS_1