UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kebersamaan


__ADS_3

Dimas dan Tiara menuruni anak tangga, mereka menuju meja makan.


"Apa Papa belum makan," Tanya Dimas pada pelayan.


"Belum Tuan. Tuan besar meminta anda untuk makan duluan. Saat ini Tuan besar ada di ruang kerjanya."


"Sayang, kamu tunggu dulu sebentar ya. Aku panggil Papa dulu kemari. Biar kita bisa makan bersama."


"Bolehkah aku yang memanggil Papa, Mas"


"Boleh Sayang. Ruang kerja Papa ada di sebrang kamarmu dulu."


Sesampainya di depan ruang kerja Papa Teo, Tiara mengetuk pintunya.


"Masuk"


"Pa, sudah waktunya makan malam."


" Tunggu Sebentar lagi Tiara, Papa tinggal mengirim data-data ini. Kau bisa makan duluan bersama suamimu."


"Ini adalah hari pertama Tiara sebagai menantu dirumah ini. Tiara dan juga Mas Dimas menginginkan kita bisa makan bersama."


"Baiklah tunggu lima menit lagi, ya."


"Boleh Tiara tunggu Papa disini."


"Boleh, duduklah."


Tiara mengedarkan pandangannya. Banyak terdapat foto Papa Teo sewaktu muda bersama dengan keluarga dan sahabatnya. Pandangan Tiara tertuju pada salah satu foto yang ada di ruangan itu. Itu adalah Foto Dimas bersama kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Ternyata dari dulu ia terlihat tampan dan Ibunya juga sangat cantik," Ucap Tiara lirih tapi masih terdengar Papa Teo.


"Itu adalah foto Dimas kecil dulu. Dia sangat tampan bukan. Dan untuk Ibu kandungnya Dimas. Kami sudah bercerai, Saya juga tidak tau dimana keberadaannya saat ini."


Tiara terdiam mendengarkan perkataan Papa Teo. Ia tidak tau harus berkata apa.


"Tiara bisa kau ambilkan berkas Ayah di Map biru yang ada di laci meja sebelahmu itu."


Tiara membuka laci meja itu mencari Map biru, Setelah menemukannya Tiara menarik Map itu keluar. Tapi ada selembar foto yang ikut terjatuh. Tiara mengambil foto itu, dan secara tidak sengaja ia memperhatikan gambar di dalamnya.


Di dalam gambar itu terdapat Foto 3 orang wanita bersama dua orang pria. Tiara menajamkan penglihatannya, seolah ia tak percaya. Tapi semakin dilihat gambar itu semakin mirip. Tapi itu adalah gambar versi mudanya.


"Tiara, Kenapa? Apa ada yang kau kenal di gambar itu?" Papa Teo bertanya setelah melihat Tiara yang begitu serius memperhatikan gambar di foto itu.


"Ini..., ini apa benar Nyonya Anggi dan Bi Ana tanya Tiara ragu" Di dalam foto itu terdapat gambar Nyonya Anggi, Bi Ana, Ibu Dimas, Papa Teo dan gambar satu pria yang Tiara tidak kenal.


"Kau mengenalnya. Iya dia adalah Anggi dan Ana , mereka adalah sahabat baik Ibunya Dimas. Kami satu kampus, Mereka bertiga adalah junior Papa di kampus. Sedangkan yang pria adalah sahabat Papa. Tapi Papa tidak tau keberadaan mereka sama seperti Papa tidak mengetahui keberadaan mantan istri Papa sekarang. Kalau kamu tau keberadaan salah satu dari mereka, tolong beritahu Papa. Terutama yang bernama Anggi, Papa berhutang maaf padanya."


"Tiara punya nomor telpon Bi Ana, Papa mau?" Akhirnya Tiara memutuskan untuk memberi nomor telepon Bi Ana karena ia yakin, Bi Ana tidak mungkin menjelekkan dirinya.


"Kenapa kamu jadi ikutan sibuk Tiara. Bukannya kamu kemari karena ingin memanggil Papa makan malam bersama kita" tanya Dimas begitu melihat Tiara membawa Map Biru ditangannya.


Dimas memutuskan untuk menyusul Tiara setelah mereka berdua tidak juga muncul di Meja makan.


"Kau taruh saja berkasnya di meja ini Tiara. Ayo kita makan bersama. Jangan sampai kau membuat suamimu kelaparan.


Papa Teo berdiri dari duduknya, ia kemudian mengajak Tiara dan Dimas keluar dari ruang kerja itu menuju meja makan.


Papa Teo tersenyum diam-diam. Akhirnya setelah sekian lama kebahagiaan di rumahnya muncul kembali karena kehadiran Tiara. Biasanya jangankan untuk makan malam bersama, untuk bertemu putranya saja ia kesulitan.

__ADS_1


******************


Sementara di rumah sakit Roy selalu setia menunggu kesadaran Tuannya. Untuk menghilangkan rasa bosannya ia selalu membawa bertumpuk jenis buku untuk ia baca. Biasanya ia membaca dengan suar keras agar Bosnya bisa ikut mendengarkan. Ia sudah seperti guru TK yang sedang mendongeng untuk muridnya.


Roy sesekali Tertawa membaca buku genre komedi yang ia baca. Tapi sesekali ia menangis jika melihat kondisi Tuannya yang tak juga sadarkan diri. Sudah lima bulan tapi masih belum ada perubahan. Segala upaya sudah ia lakukan, termasuk mendatangkan Dokter ahli dari Luar Negeri.


"Tuan Michael, bangunlah. Sampai kapan tuan akan terus seperti ini. Bukankah Tuan ingin bertemu dengan Kakak Tuan. Sadarlah Tuan."


( buat yang lupa sama Roy dan Michael, mereka sebelumnya ada di episode 7 & 8 sedangkan Bi Ana di episode 5 & 6)


Sambil membersihkan wajah Michael dengan handuk basah hangat ia terus berbicara pada Tuannya.


"Tuan, jika tuan tidak sadar-sadar maka saya akan mendatangi Kakak Tuan. Dan mengatakan semua kebenarannya. Saya tidak perduli dengan janjiku terhadap Tuan."


"Jangan berani-berani kau mengganggu cucuku. Atau memberitahukan keberadaannya pada Dimas." ucap Kakek Dimas yang tiba-tiba masuk dan menyela perkataan Roy.


"Buat apa Anda kemari Tuan, Apa belum cukup Anda menyakiti Bos saya?"


"Saya kemari tidak untuk menyakitinya, Saya membawakan Dokter terbaik untuknya. Lagipula itu adalah kecelakaan. Anak buah saya tidak sengaja menyakitinya karena bosmu juga ingin membunuhnya."


"Saya tidak perduli apa alasan anda tapi yang jelas Tuan saya celaka, akibat anak buah Anda. Dan Bosku tidak membutuhkan bantuan Anda. Saya juga bisa mendatangkan Dokter terbaik untuknya. Jadi sebaiknya anda semua keluar dari sini.'


Roy mengusir Kakek Dimas, Dokter dan suster yang masuk bersamanya. Ia kemudian menutup pintu itu dengan keras dan menguncinya. Suster dan juga Dokter itu mengetuk pintunya. Mereka mencoba meyakinkan Roy, bahwa kedatangan mereka adalah untuk menyembuhkan Tuan Michael.


"Biarkan saja, Kalian cari waktu bagaimana agar bisa memeriksanya."


Kakek Dimas dan rombongannya pergi dari sana dengan perasaan kecewa. Sebenarnya ia ingin minta maaf karena keteledoran anak buahnya mengakibatkan Michael celaka. Tapi ia gengsi, ia sudah lama tidak pernah mengatakan maaf semenjak meninggalnya mendiang istrinya. Karena hanya mendiang istrinya yang bisa membuatnya mengucapkan kata-kata itu.


Kakek Dimas juga takut jika Dimas sampai tau dia mencelakai adiknya, maka Dimas akan memusuhinya. Bukan hanya itu saja tapi Kakek juga tidak ingin Dimas perhatian atau perduli terhadap Michael. Untuknya Michael hanyalah orang lain, bukan cucu aslinya. Karena Dimas dan Michael memiliki ayah yang berbeda sekalipun lahir dari Ibu yang sama. Ia tidak ingin Michael masuk ke dalam keluarganya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2