UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Nasehat Farih


__ADS_3

Dimas saat ini telah sampai di markas, tempat dimana mereka menyembunyikan Amanda. Anak buah Dimas segera membuka gerbang begitu melihat kedatangan Dimas.


Dimas melihat keributan dimana Manda duduk di pembatas balkon dan mengancam untuk lompat ke bawah. Dimas yang melihat semua itu segera bergerak ke atas dengan cepat.


"Manda, hentikan kegilaanmu" ucap Dimas begitu sampai di tempat Manda.


Manda yang melihat Dimas langsung tersenyum. Ia turun dari tempat itu dan memeluk Dimas.


"Kenapa baru datang, kau tahu aku dan anakmu sangat merindukanmu" ucap wanita itu berlagak sok imut. Sementara Dimas mengangkat kedua tangannya ke atas, ia tak ingin menyentuh tubuh wanita itu.


"Manda, lepaskan pelukanmu. Atau aku tidak segan bersikap kasar padamu."


"Apakah kau sebegitu bencinya padaku" Manda menatapnya sedih masih memeluk Dimas. Dimas mengalihkan pandangannya.


"Kau singkirkan dia dariku" ujar Dimas pada anak buahnya yang tak jauh darinya.


"Hentikan!! jika kau berani menyentuhku, aku tidak akan segan-segan lompat dari sini" ancam Manda ketika melihat dua orang anak buah Dimas ingin mendekat padanya.


"Jika kau tidak ingin mereka menyakitimu, menjauhlah dariku" ujar Dimas kesal. Manda mengabaikan ucapan Dimas, ia meraih tangan Dimas dan meletakkannya di perutnya.


"Kau bisa merasakannya, lihat dia bergerak dengan aktif. Dia sangat merindukan papanya, kau bahkan belum pernah menyentuhnya. Kau bisa merasakannya, ia menendangmu" Manda terus berbicara betapa aktifnya anak mereka.


Dimas mungkin berhati keras, tapi ia penyayang terhadap keluarga dan anak kecil. Mungkin ini karena dia didik sebagai anak tunggal yang sering kesepian.


Dimas menurunkan tangannya yang satunya lagi, saat ini kedua tangannya berada di perut Manda. Menyentuh dan merasakan kehadiran si kecil.


"Apa dia selalu bergerak seperti ini" tanya Dimas ketika merasakan pergerakan aktif di perut Manda.

__ADS_1


"Ya, dan kau sebagai ayahnya begitu jahat. Kau tahu anak ini juga ingin disentuh Ayahnya. Kau boleh membenciku karena menjebakmu, tapi anak ini adalah darah dagingmu. Apakah kau ingin tahu apa jenis kelaminnya?" tanya Manda.


"Apa kau sudah tahu?" tanya Dimas penasaran.


"Ya, dia seorang putra. Ia pasti tampan sepertimu" ucap Manda lembut.


"Dua hari lagi adalah jadwalku kontrol, maukah kau menemaniku untuk memeriksakan kandunganku? Aku juga ingin merasakan seperti wanita yang lainnya, periksa kehamilan ditemani oleh suaminya" ujar Manda berharap.


"Aku bukan suamimu Manda" Dimas melepaskan tangannya dari perut wanita itu dan melangkah menjauh.


"Aku mohon Dim, sekali ini saja. Putra kita pasti senang jika ayahnya peduli padanya. Kau pasti tidak inginkan anak ini nanti merasa tidak di inginkan dan di abaikan oleh Ayahnya."


"Jangan menjadikan anak itu sebagai senjata untuk dekat denganku. Lagipula kau bukan istriku, untuk apa aku harus mengantarmu periksa kandunganmu itu" ujar Dimas cuek. Saat ini seolah ada perang batin dalam dirinya, ia menginginkan anak itu tapi tidak ibunya.


"Dim, aku mohon sekali ini saja, anggap saja ini adalah permintaan anak ini. Aku mohon Dim, kabulkan keinginanku. Setidaknya anggaplah aku sahabatmu yang memerlukan bantuanmu. Selama kau peduli dengan anak ini aku janji, tidak akan memintamu untuk menikahiku" ucap Manda dengan wajah sedihnya. Membuat Dimas memikirkan apa permintaan Manda.


"Aku mengerti dan tau posisiku kau jangan khawatir" Manda menahan kekesalan dalam hatinya. Tapi ia sedikit senang, paling tidak Dimas tidak mengabaikan keinginannya.


"Dim, boleh aku meminta sesuatu darimu. Jangan khawatir ini bukan sesuatu yang berlebihan kok, hanya saja aku saat ini ingin makan sesuatu yang kau belikan dari tanganmu. Mau ya Dim, kau tahu kan jika orang hamil ngidam harus di turuti jika tidak..."


"Kau ingin makan apa?" ucap Dimas kembali melunak.


"Aku ingin kau membelikanku salad buah, di restoran yang biasa kita dulu datangi sewaktu SMA, Kau masih mengingatnya bukan?"


"Baiklah, aku akan membelikannya sekarang juga" ucap Dimas lalu melangkah pergi.


"Jangan lupa jus mangganya Dim" ucap Manda sedikit berteriak. Ia senang akhirnya Dimas mau memperhatikannya, sekalipun Dimas melakukannya demi anak yang ada di kandungannya setidaknya ini adalah langkah baik untuk dekat dengan Dimas.

__ADS_1


********


Sementara itu di apartemen Dimas, Farih sedang memberi pengertian Adiknya. Ia tidak ingin rumah tangga adiknya hancur karena kecerobohan yang dilakukan Tiara yang ingin pergi begitu saja dari kehidupan Dimas.


"Kakak bukannya tidak ingin membawamu pergi, tapi tolong beri kesempatan pada suamimu untuk menjelaskan semuanya. Dia adalah suamimu, Imammu, dia yang paling berhak atasmu. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin."


"Tapi Kak, dia terus mengkhianatiku. Tiara sakit Kak, kalau terus di perlakukan seperti ini" ucap Tiara tak terima.


"Kakak mengerti tapi, Kakak juga bisa melihat betapa suamimu sangat mencintaimu. Kakak tidak ingin kau menyesal nantinya karena telah bertindak gegabah. Begini saja cobalah bertahan dan Kakak juga akan mengirim orang untuk mengawasi suamimu. Jika ia memang selingkuh seperti dugaanmu dan kau tak bisa lagi bertahan disisinya, maka Kakak akan menyetujui untuk membawamu pergi dari hidupnya."


"Bener ya Kak."


"Iya bener, Kakak menginginkan yang terbaik untukmu dan juga anak yang ada di kandunganmu. Kakak tidak ingin anakmu besar tanpa kehadiran seorang Ayah. Jadilah istri dan ibu yang baik untuk suami dan anakmu kelak. Jangan menyerah begitu saja menghadapi kesulitan hidup. Jika suamimu tersesat itu adalah kewajibanmu untuk membawanya kembali ke jalan yang benar."


"Terimakasih Kak, Tiara mengerti sekarang. Tiara akan berusaha untuk memperbaiki rumah tangga Tiara. Tapi Tiara juga mohon sama Kakak, seandainya Tiara sudah nggak kuat menghadapi semua ini, Kakak jangan menolak Tiara untuk membawa Tiara pergi" pinta Tiara.


"Baiklah, Kakak akan menuruti permintaanmu. Tapi ingat jangan menyerah sebelum berjuang. Laki-laki itu seringkali bertindak menggunakan logika bukan perasaan jadi mereka suka nggak sadar jika perbuatannya menyakiti para wanitanya. Bicarakan semua baik-baik, dengarkan juga pendapat dan kemauannya."


"Terimakasih Kak sudah mau mendengarkan keluhan Tiara. Tiara akan ikuti saran Kakak."


"Anak pintar, Kakak pamit dulu ya. Kakak masih ada pertemuan di rumah sakit. Telpon Kakak kapanpun kamu membutuhkan teman bicara. Kakak masih berada di kota ini sampai tiga hari ke depan,"


Farih pamit pada Tiara, dan berjanji untuk mampir lagi besok.


Empat jam sudah terlewati semenjak kepergian Dimas. Terlihat Tiara sedang gelisah mondar-mandir di ruang tamu menanti kehadiran suaminya. Ia tidak bisa menghubungi Dimas karena handphone Dimas tertinggal.


"Katanya cuma dua jam, kenapa sampai sekarang belum balik juga" gumam Tiara terlihat kesal.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2