UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Maafkan Aku.


__ADS_3

Anita benar-benar syok saat ini, Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar. Papa Teo menghentikan Tuan Aziz yang berniat mencambuk Farih kembali.


Papa Teo merampas ikat pinggang dari tangan Tuan Aziz. Sementara Mama Ica memeluk Farih. Tiara diam terpaku karena terkejut, Ada rasa sakit di dadanya melihat Farih menerima hukuman dari Ayahnya. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


"Hentikan, Apa kau ingin membunuh Putramu" ujar Papa Teo.


"Katakan, hukuman seperti apa yang harus aku berikan. Pada anak yang tidak tau diri ini. Dia putra yang selalu aku banggakan. Yang selama ini selalu menjaga martabat keluargaku bahkan berhasil membesarkan perusahaan. Tapi lihat apa yang ia lakukan pada anakmu benar-benar membuatku malu. Maafkan aku, karena gagal mendidik putraku."


Tuan Aziz menangis ia kemudian duduk bersimpuh di hadapan Papa Teo. Papa Teo mengangkat Tuan Aziz memintanya berdiri. Tapi Tuan Aziz menolak. Akhirnya Papa Teo ikut bersimpuh di depan sahabatnya itu. Tiara yang bingung dengan yang terjadi ikut bersimpuh di belakang Papa Teo.


"Papa apa yang kau lakukan, Kumohon berdiri Pa. Ini kesalahan Farih. Biar Farih yang bersimpuh memohon maaf. Paman juga kumohon kalian berdua bangunlah."


Farih bersimpuh menangis memohon maaf. Di ikuti Mama Ica. Sedangkan Anita menangis terduduk di tempat sebelumnya. Tangisannya bukanlah tangisan penyesalan. Tapi tangis karena takut rahasianya terbongkar.


"Kau tau dulu 12 tahun yang lalu disaat Ibumu depresi karena kehilangan Adikmu dan saham perusahaan kita jatuh terpuruk. Tidak ada satu orang pun sahabat ataupun kolega kerja Ayah yang bersedia membantu perusahaan kita. Bahkan keluarga besar kita pun tidak bisa membantu kita.


"Hanya Dokter ini yang datang membantu mengulurkan tangan. Tidak hanya membantu membangkitkan perusahaan, tapi dia juga membantu kesembuhan ibumu. Mendatangkan Dokter terbaik untuk menyembuhkan Ibumu. Tapi lihat apa yang kau lakukan pada putranya. Apa yang kau lakukan Nak. Aku benar-benar malu..., Apa begini balasanmu atas semua kebaikannya pada keluarga kita."


Tuan Aziz memukul-mukul lengan anaknya yang kebetulan tepat di sebelahnya. Ruangan itu saat ini dipenuhi oleh suara tangisan. Tuan Bayu yang berjaga di depan pintu menarik nafasnya berat. Sekalipun pintu ruangan itu tertutup, tapi samar-samar Tuan Bayu bisa mendengar semuanya. Ia cukup terkejut, tidak menyangka Farih bisa melakukan hal seperti itu.


"Maaf kan aku Ayah, maafkan aku Paman. Rasa sayangku pada adikku membuat mata hatiku menjadi buta. Tolong maafkan aku, dan silahkan Paman menghukumku dengan cara apapun aku menerimanya Paman" Dengan suara bergetar dan linagan air mata penyesalan Farih terus meminta maaf.


"Sudahlah aku sudah memaafkan Farih. Dan paman harap ini akan menjadi pelajaran berharga buatmu Farih. Jangan pernah lagi memanfaatkan kesulitan orang lain untuk kepentingan pribadi. Tolonglah orang lain dengan tulus hati. Jadilah contoh yang baik untuk adikmu, dan anak yang membanggakan orangtuamu."


"Terimakasih sahabatku, karena mau memaafkan kesalahan putraku. Dan Anita, maafin Papa nak pernikahanmu Papa batalkan. Lebih baik kita menanggung malu hari ini, daripada pernikahan ini hanya akan membawa penderitaan buat kamu dan juga Dimas nantinya"


Tuan Aziz mendekati Anita. Ia mengusap lembut rambut Anita, dan mengecup keningnya. Sedangkan Anita hanya mengangguk setuju. Ia tidak mau bertindak konyol dengan tetap memaksakan kehendaknya. Apalagi kalau sampai Papa Teo tau kebohongannya. Bisa-bisa ia akan berakhir di jeruji besi.

__ADS_1


Kakek Dimas maupun Aryo tidak mengungkap fakta tentang identitas Tiara. Ia hanya meminta putranya untuk menyelamatkan cucunya dari pernikahan terpaksa.


"Teo Saya permisi dulu, saya ingin mengumumkan pembatalan pernikahan putriku sejaligus membubarkan acara pernikahan ini. Sepertinya sudah banyak dari pihak keluarga dan sahabat kami yang berdatangan. Apalagi satu jam lagi jadwal acaranya."


Mama Ica menangis menatap suami dan anak-anaknya. Ia bahkan menutup mulutnya menahan suara tangisnya. Ia tidak menyangka, keluarganya akan mengalami hal ini. Tiara hanya diam dengan air mata yang terus mengalir. Ia bahkan merasa kesulitan menghentikan air matanya. Ada perasaan sakit melihat keluarga Tuan Aziz dalam kondisi seperti ini.


"Tunggu. Bisakah aku meminta bantuanmu sekali lagi."


"Tentu sahabatku. Katakan saja apa yang bisa kami lakukan untukmu."


"Begini Ziz, kau tak perlu mengumumkan pembatalan pernikahan."


"Tapi Teo bukankah putramu tidak mencintai putriku."


"Begini maksudku Ziz, Kita cukup ganti mempelai wanitanya saja dengan Tiara. dia adalah wanita yang dicintai Dimas. Dengan begitu kau tak perlu mengumumkan pembatalan pernikahan dan menanggung malu. Angkat Tiara sebagai putri angkatmu, dengan begitu keluargamu tidak perlu menanggung cibiran dari orang-orang. Tiara dia anak yang baik, dia pasti tidak keberatan menganggap kalian sebagai orang tuanya. Dan saya harap kalian juga menerimanya sebagai putri kalian."


"Aku menerimanya, dari awal aku melihatnya sudah menyukainya" Mama Ica menghampiri Tiara dan memeluknya. Bahagia menyelimuti hati Tiara, mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Mama Ica.


"Panggil Mama mulai saat ini. Dan ini Papamu, Kakak laki-lakimu, dan saudara perempuanmu. Kelihatannya kalian sebaya" Mama Ica menunjuk satu persatu keluarganya.


Setelah disepakati Tiara menggantikan posisi Anita. Akhirnya Mama Ica memanggil MUA kembali untuk merias Tiara. Dan baju yang seharusnya Anita pakai akhirnya dikenakan Tiara. Untungnya postur tubuh mereka berdua sama, Jadi mereka tak perlu pusing untuk mencari baju lagi. MUA juga merias Andini dan Mama Ica yang akan mendampingi Tiara untuk menemui calon mempelainya nanti.


Tuan Aziz dan Papa Teo segera turun ke bawah ditemani dengan Bayu. Mereka menyambut tamu yang datang.


Sementara Anita menolak untuk menghadiri acara pernikahan itu, ia memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Di temani dengan Susi si Ibu angkat palsunya.


Flashback off

__ADS_1


"Saya siap Pak, bisa kita mulai?" tanya Dimas antusias. sedangkan Tiara menunduk malu, ia tidak menyangka jika pria di sebelahnya ini akan begitu blak-blakan berbicara seperti itu.


"Wah rupanya pengantinnya sudah tidak sabaran sepertinya. Baiklah kita segera mulai saja ijab kabulnya."


Akhirnya Ijab kabul di laksanakan dengan Khidmat dan lancar. Tiara dan Dimas sah menjadi suami istri, terdapat pancaran kebahagiaan dari wajah keduanya.


"Terimakasih Pa" Dimas memeluk Ayahnya. Ia tau semua kebahagiaan yang ia dapatkan hari ini, ada hubungannya dengan Ayahnya.


"Sama-sama Nak, Papa harap setelah kamu menikah, Kamu bisa menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Jaga keluargamu baik-baik, jadilah Imam yang baik untuk Istri dan anakmu kelak."


Setelah acara pernikahan selesai. Tiara, Dimas beserta rombongannya, dan Papa Teo mohon undur diri.


Mama Ica dan Tuan Aziz memeluk Tiara bergantian. Mulai hari ini Tiara adalah anak angkat keluarga mereka. Ada rasa haru melihat Tiara bersanding bahagia bersama Dimas.


"Jaga Tiara baik-baik ya Nak, walau bagaimanapun Tiara adalah putri angkat kami saat ini. Jadi sempatkanlah main ke rumah kami kalau kalian senggang" ujar Tuan Aziz pada Dimas.


"Dan untukmu Tiara. Mulai saat ini rumah kami adalah rumahmu juga. Jadi jika ada kesulitan apapun jangan sungkan untuk meminta bantuan kami, karena kau putri kami sekarang."


"Terimakasih Pa" Tiara kembali memeluk Tuan Aziz. Ada perasaan damai ketika memeluk pria itu.


Mobil Dimas melaju menuju ke hotel milik keluarganya. Papa Teo sudah menyiapkan kamar tidur pengantin untuk mereka berdua di hotel tersebut.


Sesampainya di hotel, Papa Teo mempersilahkan Tiara untuk ke kamar pengantin terlebih dahulu. Sedangkan ia mengajak Dimas ke ruangan lain karena ada hal yang perlu ia bicarakan berdua Dimas.


"Ada apa Pa?" tanya Dimas tanpa basa-basi begitu duduk di sofa kamar inap Papanya.


"Ini titipan dari Kakekmu" Papa Teo memberikan beberapa lembar Surat perjanjian untuk Dimas. Yang telah di rancang oleh Kakeknya.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini?" Dimas membaca isi perjanjian tersebut.


TBC


__ADS_2