
Part ini untuk 21+ atau mereka yang sudah memiliki pasangan resmi ya. Untuk dibawah umur tolong lewati aja episode kali ini.
Yesi menatap heran kamarnya. Tempat tidur beserta kasur kecil yang semula ada di ujung kamar, telah berganti dengan kasur yang cukup besar. Tapi sayang karena tidak ada ranjang jadi kasur itu diletakkan begitu saja diatas lantai di hiasi dengan kelopak bunga mawar merah.
"Kemana Kasurku?" Yesi mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Melihat tidak ada yang berubah kecuali tempat tidurnya. Tiba-tiba Ia mulai merasakan ada yang aneh pada dirinya. Ia merasa gerah lalu meraba tubuhnya sendiri. Ia juga merasakan ada sensasi aneh dalam dirinya.
Key tidak memperdulikan ucapan Yesi ataupun perubahan yang terjadi dikamar itu. Ia sedari tadi berusaha menahan diri. Ia merasakan gerah diseluruh tubuhnya, juga sesuatu yang berada di bawah sana tiba-tiba bangkit dan tak tertahankan lagi. Hingga tak sengaja pandangan mereka bertemu
Menatap satu sama lain penuh gairah, mereka saling menghampiri satu sama lain.
Tidak Key jangan lakukan ini, Kau tidak mencintainya, batin Key dalam hati. Tapi. hasrat seksualnya yang meningkat mengalahkan Akal sehat mereka. Walaupun belum saling mencintai, tapi mereka halal untuk melakukannya.
Key melepaskan bajunya dan juga kebaya yang masih melekat ditubuh Yesi. Karena ia merasa kesulitan dengan kancing kebaya itu, akhirnya ia memilih untuk merobeknya. Sementara Yesi terus membelai tubuh Key. Menggesekkan bagian bawahnya yang terasa gatal ke tubuh Key.
Kedua orang itu sudah mulai hilang ****** karena ramuan yang mereka minum. Saling mencium, menjilat dan mengger*yangi tubuh lawan mainnya. Key mencium b*bir istrinya dan m*lumatnya, Ia mulai turun kebagian bawah. Mer*mas dan meng*sap gundukan yang terasa kenyal dan padat. Ia cukup lama bermain disana, sepertinya itu akan menjadi bagian favoritnya.
Suara ******* dari kedua belah pihak mulai terdengar. Belaian lembut yang istrinya berikan menambah gairah Key. Ia tidak bisa berhenti menikmati tubuh yang telah sah menjadi miliknya. Key melesat ke bagian bawah memainkan lidahnya disana. Membuat istrinya mendesah gila. Ia menarik rambut Key dan menahannya disana
Yesi tidak pernah menolak setiap sentuhan yang Key berikan. Justru sebaliknya ia membalasnya dengan sedikit liar. Ikut memanjakan milik Key hingga membuat pria itu terus mendesah. Pengaruh ramuan itu sungguh luar biasa mereka seolah tidak pernah puas satu sama lain. Saling bergerak liar mencari bagian-bagian yang bisa memuaskan mereka.
"Aku akan memasukimu, kau boleh mencakar tubuhku jika terasa sakit. Tapi kau tidak boleh menghentikanku." Key menatap istrinya penuh gairah dan kembali ******* bibirnya.
Key memposisikan dirinya untuk bisa menuju ke intinya. Berusaha beberapa kali hingga akhirnya ia berhasil menancapkannya ke dalam.
"Aah, saa-kiit" Terdengar suara rintihan dari istrinya, ia juga menancapkan kukunya di punggung Key.
Key tersenyum puas karena ia adalah orang pertama yang melakukannya dengan istrinya. Terus memompa dengan lembut, ia ingin istrinya terbiasa dengan miliknya yang berada di dalam.
"Apa masih sakit" bisik Key tanpa menghentikan kegiatannya dan sambil mencium ceruk leher istrinya.
"Sudah tidak begitu sakit" jawab istrinya tersenyum malu-malu.
Key tersenyum melihat wajah memerah istrinya. Istrinya terlihat makin imut dengan wajah memerah, membuatnya makin gemas. Ia menggigit dan menyesap kembali pucuk bukit yang terlihat begitu menggoda. Lalu Menambah tempo kecepatannya di bawah sana.
Malam ini adalah malam yang teramat panjang untuk mereka. Mereka melakukan berkali-kali dengan berbagai gaya, seakan tak pernah puas. Melihat wajah istrinya yang mulai terlihat lelah Key segera menuntaskannya. Ia menciumi seluruh bagian wajah istrinya mengakhiri permainannya. Menyelimuti tubuh mereka berdua dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Terimakasih karena menjadikanku yang pertama, kau harus berjanji akan menjaga dirimu hanya untukku." Key berbisik di telinga istrinya.
Istrinya yang terlihat lelah menganggukkan kepalanya. Dan membiarkan key melakukan apa saja terhadap tubuhnya. Karena rasa kantuk dan juga lelah akhirnya ia memejamkan matanya dan mulai larut dalam mimpi indahnya.
Hari sudah menjelang pagi, tapi kedua pengantin baru masih terlelap dalam tidurnya. Terlihat beberapa nelayan yang melewati rumah itu tersenyum. Saling dorong dan berbisik satu sama lainnya.
"Pengantin baru, belum bangun."
__ADS_1
"Ramuan ajaib, sepertinya benar-benar manjur."
"Sudah jangan ribut disini, Ayo kita ke rumah sakit. Kita jenguk dan beri semangat, biar Pak Kupit cepat sembuh."
"Kita tidak melaut?"
"Tidak usah, toh uang dari Tuan Key masih ada. Besok saja melautnya."
"Ayo berangkat."
*******************
Wajah Tiara sudah tampak segar dan di ijinkan untuk pulang ke rumah. Dimas terlihat makin protektif terhadap Tiara. Apalagi setelah mengetahui penculik istrinya adalah supir pribadi Tiara.
"Apa Supir itu menyakitimu?"
"Sepertinya tidak."
"Kenapa kau terlihat ragu dalam menjawabnya. Dan bagaimana dia bisa menculikmu?"
"Maaf, waktu Papa mengatakan Bik Ana sakit. Aku jadi ingin menjenguknya. Jadi...."
"Kenapa tidak mengatakannya padaku?"
"Dasar ceroboh, katakan bagaimana aku harus menghukummu. Agar kau menurut padaku."
"Kenapa harus menghukumku? ini bukan salahku. Ini salah supir itu, lagipula supir itu orang pilihan Mas. Jadi seharusnya Mas yang dihukum bukannya Tiara."
"Semenjak menikah kau jadi makin pandai ya dalam berbicara. Pikirkan baik-baik, berapa kali kau celaka karena tidak menuruti perkataanku. Aku hanya memintamu ijin padaku jika ingin keluar rumah. Agar aku bisa mengirim orang menjagamu, bukan bermaksud memenjarakanmu di dalam rumah. Apa itu terlalu sulit untukmu?"
"Maaf..." Tiara menundukkan wajahnya dan terlihat matanya yang berkaca-kaca. Dimas mengelus kepala Tiara dan melembutkan ucapannya.
"Kau tau kenapa aku tidak mengumumkan pernikahan kita?"
Tiara menggelengkan kepalanya.
"Masih banyak musuh tersembunyi yang ingin menjatuhkanku dan mencari-cari kelemahan ku. Aku tidak ingin mereka mencelakaimu. Itu sebabnya aku tidak pernah membawamu ke tempat umum atau mengumumkan pernikahan kita. Tunggu sebentar lagi, Aku akan menjatuhkan mereka dan menjadi lebih kuat. Maka pada saat itu, aku akan dengan senang hati mengumumkan pada dunia tentang hubungan kita."
Dimas memeluk Tiara.
"Dan ingat jangan suka meminum pemberian orang sembarangan. Mulai sekarang aku akan menempatkan beberapa bodyguard disisimu. Dan kalau ingin keluar rumah kau harus ijin padaku."
"Tapi..."
__ADS_1
"Tiaraa!!"
"iya-iya aku setuju."
"Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu. ini tentang identitasmu."
"Identitasku? Apa Papa Teo menceritakan sesuatu pada Mas."
"Ya Papa yang memberitahuku. Kenapa kau tidak menceritakan masalahmu padaku? Apa aku tidak berarti bagimu?"
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin menambah bebanmu."
"Dengar sayang, kau bukanlah beban untukku. Tapi kebahagiaanku. Sekarang bagaimana bisa aku bahagia jika kau menyimpan masalahmu sendiri. Jadi tolong terbuka padaku katakan semua masalahmu dan kita selesaikan bersama. Jangan ada rahasia diantara kita lagi, oke"
"Oke aku akan membagi masalahku denganmu. Masku maukah masku membantuku mencari orang tua kandungku?" tanya Tiara dengan mata berbinar.
"Tidak," jawab Dimas cuek sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Bukankah kau tadi bilang akan membantuku menyelesaikan masalahku. Dasar pembohong" Tiara terlihat kecewa, ia bahkan meneteskan air matanya.
Dimas ingin menarik Tiara ke dalam pelukannya, tapi Tiara menolak dan menepis tangan Dimas.
"Kenapa?" tanya Dimas.
"Mas pembohong, jangan peluk-peluk Tiara.
"Siapa yang bohong? Mas nggak bohong sayang."
"Tadi baru aja bilang mau bantu Tiara. Eh giliran dimintain bantuan malah nolak" Tiara menjauh dan membuang wajahnya kearah lain. Ia tidak ingin melihat wajah Dimas yang selalu bisa membuatnya luluh."
"Mas nggak bohong sayang. Bukannya Mas nggak mau mencari orang tuamu. Tapi Mas sudah tau siapa orangtuamu. Jadi buat apa dicari lagi."
"Benarkah, Mas nggak lagi mempermainkan Tiara Kan? Mas beneran tau siapa orangtua kandungku?" Tiara kembali mendekat dan memeluk Dimas erat.
"Mas nggak lagi mempermainkanmu, Mas benar-benar tau siapa orang tua kandungmu. Pekerjaannya, Nama lengkap dan bahkan alamat tempat tinggalnya Mas tau semuanya.
Wajah Tiara memancarkan kebahagiaannya. Dengan segera ia turun dari tempat tidurnya, memasukkan barang pribadinya ke dalam tas. Dimas menatapnya dengan bingung, dan tiba-tiba Tiara mendekat padanya lalu menarik tangannya.
"Kemana?" tanya Dimas
"Ayo kita temui orang tuaku."
TBC
__ADS_1