UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Berikan Aku Seorang Anak.


__ADS_3

Tuan Bagas yang berada di posisi depan menghampiri mereka dan menyalaminya satu persatu.


"Perkenalkan ini Nita gadis yang memiliki kalung itu. Dan ini adalah Nyonya Susi, Ibu dari Nita."


"Perkenalkan Saya Aziz Mirza Atwijaya ini anak saya Farih Maulana Atwijaya dan asisten saya Bayu Efendi" ucap Tuan Aziz lalu menatap Nita tersenyum.


Nita dan Susi menganggukkan kepalanya, terlihat sekali ada kecanggungan di antara mereka.


Entah mengapa aku tidak merasakan apa-apa, melihat wanita ini. Bahkan kerinduan yang kurasakan karena kehilangan adikku, seolah tak mampu terobati dengan melihatnya. Gumam Farih.


"Maaf sebelumnya, apakah Pak Bagas sudah menjelaskan, mengapa Anda diminta kemari" Tanya Bayu memecahkan keheningan.


"Sudah Tuan, dan memang benar Nita memang bukan lahir dari rahim saya. Tapi walau bagaimanapun saya tidak ingin dipisahkan darinya. Saya sangat menyayanginya Tuan" Ucap Susi sedih dengan mata memerah.


"Mama" Nita memeluk Susi terisak.


"Jangan Khawatir jika semua memang terbukti benar, saya tidak akan memintamu menjauh darinya" ucap Tuan Aziz melihat keakraban kedua wanita itu.


"Sebaiknya kita segera melakukan tes sekarang, agar kita bisa segera memastikan" ucap Bayu.


"Oh ya Tuan ini adalah sampel rambut dari Nita, anda bisa mengecek DNA nya" ucap Bagas sedikit bersemangat.


"Baiklah, saya akan meminta dokter untuk memeriksanya" ucap Bayu.


"Tunggu" Farih menghentikan langkah Bayu yang ingin menemui dokter. Dan memberikan sampel rambut itu.


"Maaf Tuan Bagas, karena Nona Nita sudah ada disini. Alangkah baiknya jika pemeriksaan dilakukan, dengan mengambil darah Nona Nita langsung" Ucap Farih lagi.


Entah mengapa hati kecil Farih seolah menolak jika yang ada di hadapannya ini bukanlah adiknya.


"Tapi Tuan....,"


"Saya bersedia" ucap Nita menyela ucapan Bagas.


Tak lama muncullah seorang Dokter, Dokter itu mengajak Nita masuk ke dalam salah satu ruangan. Sedangkan yang lainnya menunggu di luar.


**************


Sementara itu Dimas sedang melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, untungnya saat jalan yang dilalui Dimas tidak begitu padat. Sehingga kelakuannya tidak begitu merugikan pengendara lainnya.


Saat ini pikiran Dimas benar-benar kacau. Semua amarahnya yang di tahan selama bertahun-tahun seolah-olah ingin meledak secara bersamaan di kepalanya.


"Aaaaaa....!!!!" Dimas berteriak melepaskan rasa kesalnya. tangannya ikut mencengkeram erat setir mobil.

__ADS_1


Tak lama kemudian ia sampai di depan gedung apartemen, dengan segera ia memarkirkan kendaraannya di basemen. Ia lalu bergegas melangkahkan kakinya menuju lift untuk sampai di apartemennya.


Dengan tergesa-gesa Dimas masuk ke dalam Apartemennya. Penglihatannya memindai ke seluruh penjuru ruangan. Setelah tak menemukan apa yang ia cari, dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar.


Dengan sedikit kasar ia membuka pintu kamarnya. Dilihatnya wanita cantik dengan sebuah buku di tangannya sedang menatapnya.


"Anda sudah pulang Tuan, Tunggu sebentar saya siapkan Air hangat untuk anda mandi"


"Ikut aku ke ruang kerja?" ucap Dimas tak menanggapi ucapan Tiara.


Tiara pun mengikuti langkah Dimas menuju ruang kerja. Dimas duduk di sofa dan menyuruh Tiara duduk di sampingnya.


Tapi entah mengapa, Tiara yang merasakan atmosfer dingin di sekitar Dimas. hingga membuatnya enggan duduk di sebelah Dimas. Ia memilih duduk di seberang Dimas dengan sebuah meja sebagai penghalangnya.


Dimas menatap Tiara kesal karena tidak menuruti permintaannya. tapi Dimas juga tidak menegur kelakuan Tiara.


Huff..., Dimas menghela nafasnya kasar.


Setelah diam sejenak mencoba untuk meredakan emosinya akhirnya Dimas membuka pembicaraan.


"Apa kamu ingat diawal pertemuan kita, aku pernah menawarkan kebebasanmu dari tempat itu dengan sebuah perjanjian." Dimas menatap Tiara dingin, tatapan yang berbeda. Seolah-olah Tiara merasa yang ada di hadapannya kini bukanlah Dimas yang selama ini ia kenal.


Tiara mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan Dimas, dan tanpa ia sadari air matanya mengalir begitu saja.


Dimas menceritakan kepada Tiara bagaimana kelicikan dan sepak terjang Nyonya Anggi di lingkaran dunia malam.


Tiara masih terus terisak dengan Air mata yang terus mengalir.


Dimas mengangkat tangan kanannya menyentuh pipi Tiara dan menghapus air mata Tiara dengan lembut.


"Aku bisa membebaskanmu dari jeratan Nyonya Anggi" ujar Dimas masih menghapus air mata di pipi Tiara.


Tiara sedikit tersenyum lega mendengar ucapan Dimas yang mau menolongnya, seolah-olah beban berat yang menindih dadanya terangkat perlahan.


"Tapi..., untuk itu kau harus menyetujui persyaratanku" ujar Dimas menatap Tiara tajam.


Seketika senyum Tiara menghilang dan dadanya kembali sesak, mendengar ucapan Dimas.


"Tidak bisakah kau menolong orang yang kesusahan sepertiku tanpa syarat" ucap Tiara terisak sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku bukan panti sosial Nona" ucap Dimas menyeringai.


Tiara tertunduk menahan air matanya yang akan kembali mengalir, tangannya mengepal erat.

__ADS_1


Dia bingung dengan semua yang terjadi padanya dan apa yang harus ia lakukan.


"Bagaimana?" ucap Dimas membuyarkan lamunannya.


"Katakan dengan apa saya harus membayar kebebasan saya."


"Jadilah wanitaku dan berikan aku seorang anak" Ucap Dimas to the points.


"Anak, Maksud anda apa Tuan?" Tiara terkejut mendengar permintaan Dimas.


"Aku menginginkan anak darimu dan akan kuberi kau kebebasan dari tempat ini."


"Maaf, Jika anda menginginkan seorang anak dariku. Apakah anda akan menikahi saya Tuan?"


Dimas terkekeh mendengar pertanyaan Tiara yang terdengar polos.


"Jangan salah paham, saya menginginkan seorang anak. Bukan seorang istri. Setelah kau melahirkan anak untukku kau bebas dari perjanjian. Dan kau boleh pergi kemanapun yang kau suka." Dimas terdiam sejenak.


"Tapi jika kau ingin terus di sisiku merawat anak kita, aku juga tidak masalah. Tapi kau harus ingat satu hal, jangan pernah berharap aku akan menikahimu. Dan jangan khawatir aku akan memberimu sejumlah uang yang tidak sedikit dan juga sebuah rumah mewah setelah kau melahirkan anak untukku." ucap Dimas lagi.


"Apa kau tau Tuan, apa yang kau katakan itu. Aku merasa tidak hanya menjual tubuhku pada anda tapi juga menjual anakku." ucap Tiara dengan air mata yang mengalir deras


"Pilihan ada di tanganmu, tetap disini berarti kau setiap malam harus melayani pria hidung belang. Dan Nyonya Anggi bukanlah orang yang mudah. Ia akan menjadikanmu piala bergilir setiap malamnya. Apa kamu sanggup hidup seperti itu seumur hidupmu?"


Tiara benar-benar bingung dengan apa yang dia hadapi, ia hanya diam dengan air mata yang lagi-lagi mengalir di pipinya tanpa permisi.


Dimas yang melihat Tiara diam saja, akhirnya ia memberi waktu 2 minggu untuk Tiara mengambil keputusan.


"Jadi pikirkan baik-baik apa keputusanmu"


Flashback off


Huff....


Tiara menghembuskan nafasnya kasar mengingat pembicaraannya dengan Dimas.


"Aku mengingatnya Tuan, tapi bisakah..."


"Karena aku sudah menebusmu, jadi sekarang kau tidak dalam posisi bisa memilih atau tawar menawar denganku. Aku ingin kau melakukan tugasmu mulai malam ini."


Tiara terkejut dengan ucapan Dimas, seketika tubuhnya bergetar. Tangannya meremas pucuk rok yang ia kenakan.


TBC.

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir dan membaca. Jangan lupa like vote dan komentarnya terimakasih 🙏😘


__ADS_2