UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Proses Pemakaman


__ADS_3

Dua buah tubuh tergeletak bersimbah darah akibat pertempuran itu, Dimas yang terkejut terduduk lemas hingga teriakan Nara menyadarkannya dan kembali ia bangun untuk menghampiri Mike.


"Papa..!!!" teriak Nara, memeluk tubuh Ayahnya yang tak lagi bergerak. Peluru Dimas yang menembak tepat di kepala pria tua itu membuatnya kehilangan nyawanya seketika.


"Papa jangan tinggali Nara Pa, bangun Pa, bangun!!" teriak Nara pilu, sejahat apapun Katsuro ia tetaplah Ayahnya dan merupakan keluarga satu-satunya.


Sementara itu korban yang satunya yang bersimbah darah bukanlah Mike, melainkan Roy yang menjadikan tubuh belakangnya sebagai Tameng. Peluru yang melesat mengenai Roy juga terletak di sebelah kiri dadanya.


"Roy...!! Roy...!!" teriak Mike memeluk tubuh Asistennya itu, ia cukup syok ketika membuka matanya dan Roy sudah berada di depannya tersenyum menghadang peluru untuknya.


"Mike, lepaskan dia!" perintah Dimas mengambil Roy dari pelukan Mike. Dimas memeriksa denyut nadi dan jantung Roy.


"Kak tolong selamatkan dia, tolong selamatkan dia Kak" tangis Mike seperti anak kecil. Roy tidak hanya asisten untuknya tapi ia sudah seperti keluarganya. Roy mendampingi Mike bahkan sebelum Mike mengenal dunia bisnis. Mereka berteman sejak Mike menduduki bangku SMP. Roy merupakan anak mendiang pembantu Ibunya sebelumya.


Mereka berjuang bersama melewati kerasnya hidup hingga akhirnya Mike bisa sukses merambah dunia bisnis.


"Roy, bangun Roy, bangun!!" tangis Mike. Dimas menggelengkan kepalanya ketika tak merasakan denyut kehidupan baik di nadi maupun jantung Roy.


"Peluru tepat mengenai jantungnya, ia sudah tak bernyawa Mike" ucap Dimas penuh sesal.


"Tidak Kak, tidak. tolong bangunkan dia. Dia pasti hanya berpura-pura tertidur. Tolong Kak bangunkan dia!!" tangis Roy pecah, ia terus memohon pada Dimas. Tingkahnya saat ini layaknya anak kecil yang menangis sambil terus memohon.


"Roy bangun Roy, aku janji tidak akan marahimu lagi. Dan aku juga akan membantumu mencari istri yang cantik sesuai keinginanmu" ucap Mike masih berusaha membangunkan Roy.


Kondisi Nara tak jauh beda dari Mike, ia juga syok menghadapi situasi saat ini. Ia masih saja menangis memeluk tubuh Ayahnya. Ia seperti orang linglung, entah kehidupan seperti apa yang akan ia jalani kedepannya nanti

__ADS_1


Anak buah Dimas menyusuri pabrik tua itu, ternya terdapat gudang bawah tanah yang dipergunakan untuk menyembunyikan senjata. Bukan hanya itu mereka juga menampilkan Aiko yang di penjara di bawah tanah dalam kondisi mengenaskan.


Tak lama terdengar suara polisi dan juga mobil ambulan mendekati pabrik tua itu. Dimas meminta Nara dan juga Mike untuk melepaskan Roy dan Katsuro yang masih saja mereka peluk.


Rasa sakit di kedua kaki Mike akibat dua butir peluru yang bersarang di kakinya tak ia rasakan lagi. Ia lebih merasakan sakit di hatinya melihat kondisi asisten sekaligus sahabatnya itu.


Mike mencoba berdiri mengikuti tandu yang membawa Roy ke dalam mobil ambulans. Tim paramedis yang mencoba membantu Mike di tepisnya hingga akhirnya ia tersungkur dilantai. Kakinya yang terluka tak sanggup memopong berat badan tubuhnya.


"Mike diamlah kau juga membutuhkan perawatan!" Dimas memarahi Mike yang terus menepis tangan Perawat yang mencoba merawat lukanya.


Dimas membantu perawat membawa Mike ke dalam mobil ambulans untuk menerima perawatan. Sementara Nara mengikuti mobil ambulans yang membawa ayahnya.


Dimas meninggalkan mobilnya dan ikut masuk ke dalam mobil ambulans yang membawa Mike.


Di dalam perjalanan Mike tiba-tiba tak sadarkan diri. Ia banyak kehilangan darah karena terlalu banyak bergerak. Dimas Yaang mendampingi Mike di dalam mobil ambulans terlihat khawatir.


"Jangan khawatir Tuan, kondisi adik anda masih stabil. Ia akan segera pulih begitu dokter mengeluarkan peluru dari kedua kakinya." Perawat yang terus memantau kondisi Mike menjelaskan.


"Pak tolong tambah kecepatan mobilnya" perintah Dimas pada supir ambulans,.ia benar-benar takut dengan kondisi Mike, sekalipun perawat sudah mencoba menjelaskan kondisi adiknya.


Sampai dirumah sakit Dokter langsung memeriksa Mike dan memutuskan untuk melakukan tindakan operasi guna mengeluarkan peluru dari kedua kaki Mike.


Dimas menadatangani persetujuan untuk operasi Mike. Dimas memperhatikan bankar pasien yang lewat di depannya. itu adalah bankar pasien yang berisi Aiko, kondisinya sungguh mengenaskan. wajahnya yang banyak lebam nyaris membuat Dimas tak mengenalnya. Mungkin ini adalah buah akibat perbuatannya yang diterimanya karena terlalu banyak menyakiti orang lain.


Dimas menoleh sesaat kemudian ia kembali acuh. Keselamatan Aiko bukanlah urusannya, polisi juga sudah mengambil alih kasus ini.

__ADS_1


Dimas menelpon anak buahnya untuk mengurus pemakaman Katsuro mengingat tak ada lagi yang perduli pada pria tua itu setelah ia kehilangan kekuasaannya. Dimas melakukan semua ini semata-mata kasihan pada Nara, gadis polos itu begitu malang karena memiliki Ayah seperti Katsuro.


Sementara untuk jenasah Roy sesuai dengan permintaan Mike sebelum pingsan, ia ingin Roy di kuburkan di sebelah kuburan Ibunya. Baik Ibu Mike maupun Ibu Roy dimakamkan di satu lokasi, Mike ingin Roy juga dimakamkan di lokasi yang sama.


Dimas menyuruh anak buahnya untuk mengurus keberangkatan jenasah Roy sampai ia dikuburkan. Sementara itu ia harus terus mendampingi adiknya melewati proses operasi sampai pemulihan. Walaupun pikiran Dimas sebenarnya juga selama beberapa hari ini tak tenang. Pikirannya selalu terpecah karena masalah Katsuro juga Tiara yang saat ini sangat ia rindukan.


Bersabarlah sayang, sebentar lagi kita pasti bertemu, gumam Dimas terus memikirkan Tiara.


Dimas membayangkan Tiara yang menangis menunggu kepulangannya.


Lampu di depan ruang Operasi mati, pertanda opersi telah selesai. Dimas berdiri dan menantikan dokter di depan pintu.


"Bagaimana Dokter?" tanya Dimas tak sabar begitu melihat dokter keluar dari ruangan operasi.


"Kondisi pasien baik-baik saja, peluru berhasil kita keluarkan, hanya saja kemungkinan pasien akan mengalami lumpuh selama beberapa bulan. Tapi jangan khawatir kelumpuhan pasien tidaklah permanen. Pasien bisa mengikuti terapi agar bisa membuat kakinya normal dan bisa berjalan seperti semula."


"Terimakasih Dokter" jawab Dimas.


Sementara itu di tempat pemakaman Katsuro hanya ada Nara dan juga anak buah Dimas. Tak ada satupun sahabat Ayahnya yang menghadiri pemakaman itu. Nara menangis pilu diatas gundukan tanah yang masih basah. Anak buah Dimas hanya memperhatikan wanita itu dari kejauhan.


"Papa, apa yang harus Nara lakukan sekarang Pa. Nara harus pergi kemana Pa?" tangis Nara pilu masih memeluk gundukan tanah. Rasa letih dipikiran dan tubuh gadis mungil itu sudah tak bisa ia tahan lagi, ia terus menangis sesenggukan bahkan nyaris tak terdengar.


Derasnya hujan datang menghampiri tanah kuburan itu, anak buah Dimas yang tadinya hanya melihat dari jauh akhirnya datang menghampiri Nara yang ternyata terkulai lemas ketika mereka mencoba untuk membangunkannya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2