
Hari sudah hampir menjelang malam ketika Mike dan tim relawan yang berjalan kaki sampai di lokasi.
Papa Teo tersadar dari pingsannya, ia terlihat lebih segar setelah dapat beristirahat. Dimas dan Mike membawa Papa Teo ke tenda peristirahatan.
"Pa, perkenalkan ini Mike, anak Mama" ucap Dimas memperkenalkan Mike. Mike mengulurkan tangannya dengan canggung, ia tahu pasti kehadirannya di dalam kandungan Ibunya menjadi retaknya rumah tangga mereka.
"Hallo om saya Mike" ucap Mike sedikit ragu.
"Kau bisa memanggilku Papa seperti Dimas, tidak perlu canggung seperti itu. Aku sudah memaafkan Mamamu, semoga ia beristirahat dengan tenang disana" ucap Papa Teo.
"Terimakasih om eh Pa" Mike masih canggung dengan sebutan itu.
"Bagaimana kabar Tiara dan cucuku?" tanya Papa Teo terhadap Dimas.
"Alhamdulillah cucu Papa lahir dengan selamat dan ia seorang putri yang cantik seperti Mommy nya" jelas Dimas.
"Akhirnya setelah 3 generasi keluarga kita punya anak perempuan juga" Papa Teo terlihat senang. Semua anak dan cucu keluarga besar Nugraha berjenis kelamin laki-laki. Baru anak Tiara yang berjenis kelamin perempuan.
"Oh ya Pa, Dimas ketemu Anton waktu memeriksakan kehamilan Tiara dan anaknya laki-laki."
"Apa maksudmu Anak Anton dan Manda?" tanya Papa Teo. Dimas sebelumnya pernah menceritakan tentang hubungan terlarang Manda dan Anton.
"Iya, anak Anton lebih tua 3 bulan dari Aqilla" jelas Dimas lagi.
"Jadi kau menamai cucuku Aqilla, nama yang bagus. Ingat sekarang kau sudah memiliki anak dan istri jadi jangan suka bertindak yang akan engkau sesali dan merugikan anak istrimu" ucap Papa Teo menasehati Dimas.
"Tenang saja Pa aku sangat mencintai keluargaku jadi aku tidak akan membuat mereka kecewa. Mulai sekarang aku akan bekerja keras agar anak istriku bahagia" ucap Dimas terlihat bersemangat.
__ADS_1
"Jangan sampai karena ingin membahagiakan keluargamu dengan materi melimpah. Lalu kau sibuk bekerja dan mengabaikan keluargamu. Mereka juga butuh perhatian dan kasih sayangmu, anggap saja kegagalan Papa sebagai pelajaran buatmu. Jangan kau ulangi apa yang pernah Papa dan Mamamu lakukan" jelas Papa Teo membuat wajah Mike terlihat tidak enak.
"Aku tidak bermaksud menyinggungmu anak muda, aku juga mengharapkan kau bahagia sama seperti Dimas" jelas Papa Teo menepuk pundak Mike dan membuat Mike tersenyum menatapnya.
"Kita adalah keluarga sekarang, yang terpenting adalah kebahagiaan keluarga kita. Jadi tidak perlu memikirkan masa lalu yang berantakan. Hidup terus berjalan seiring bertambahnya usia jadi jangan sia-siakan waktumu hanya untuk merenung. Gapailah yang ingin kalian gapai tanpa khawatir gagal, karena gagal adalah bibit dari kesuksesan" Papa Teo menasehati mereka berdua.
"Jadi kapan kita bisa Pulang, aku merindukan putriku. Disini handphoneku bahkan tidak berguna sama sekali karena tidak ada sinyal" keluh Dimas memukul-mukul handphone miliknya ke telapak tangannya.
"Tunggulah beberapa hari lagi, kita akan pulang nanti setelah kondisi Desa ini mulai membaik" ucap Papa Teo meminta Dimas bersabar, karena penduduk desa saat ini lebih membutuhkan dirinya sebagai seorang dokter. Ini juga akan menjadi pengalaman tak terlupakan untuk Mike dan Dimas.
Setelah seminggu Dimas dan Mike berada di Desa tertinggal itu, kondisi desa mulai membaik. Keluarga Dimas juga berencana membantu pemerintahan Desa untuk membangun sekolah dan rumah sakit. Menggantikan gedung sekolah dan puskesmas yang rusak. Kebetulan desa ini memang tidak memiliki rumah sakit, mereka hanya memiliki puskesmas saja.
"Terimakasih banyak atas bantuan Tuan Dokter dan juga Tuan-tuan lainnya. Berkat kalian kita bisa menyembuhkan korban luka dan mengurangi korban jiwa. Ini adalah kerajinan dari desa kami mohon diterima" Kepala Desa memberikan hasil tenun kain songket khas daerah itu pada Papa Teo.
"Terimakasih banyak, berkat dukungan dan kerja keras kalian semua juga akhirnya kita bisa mengatasi bencana ini. Sampai jumpa di lain waktu, jika saya dan tim lainnya membuat kesalahan, kami mohon untuk di maafkan" ujar Papa Teo menutup pembicaraan.
Dimas, Mike, dan Papa Teo dan beberapa tim dokter berpamitan, sementara beberapa tim relawan masih tinggal karena mereka akan mbantu warga desa membangun rumah-rumah yang rusak. Dan akan ada beberapa Dokter KKN baru yang akan menggantikan mereka besok datang ke desa itu.
Total 9 hari Mike dan Dimas pergi meninggalkan Tiara dan Nara, rasa rindu terasa semakin besar. Ingin rasanya Dimas cepat sampai dan bisa merengkuh Tiara dalam pelukannya dan tidur dengan damai. Tidak seperti di pengungsian selain melawan hawa dingin mereka juga harus berperang melawan nyamuk-nyamuk nakal.
Taksi yang mereka kendarai sampai di depan gerbang bangunan mewah milik Kakek. Satpam penjaga gerbang segera membukakan pintu untuk mereka.
Dimas segera turun begitu juga Mike dan Papa Teo. Dengan tergesa-gesa Dimas masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Papa Teo dan Mike yang masih sibuk dengan barangnya. Dimas terburu-buru masuk berharap bisa segera berjumpa dengan orang terkasih.
"Tiara!!!! Aqilla..." teriak Dimas dari lantai satu. Sekuat apapun ia berteriak tak ada terdengar Suara Tiara maupun yang lainnya. Hingga seorang pelayan wanita menghampirinya.
"Kenapa sepi, Kemana Tiara, Nara dan Kakek" tanya Dimas.
__ADS_1
Padahal ia sudah berteriak-teriak memanggil nama Tiara dan berharap Tiara terkejut akan kehadirannya.
"Maaf Tuan, Non Tiara, Non Nara, dan Tuan Besar di undang untuk menghadiri acara ulang tahun Tuan Muda Rendra, sekaligus acara syukuran Pindah Rumah. Dan mereka berpesan akan menginap Tuan dan akan pulang besok sore" jelas Pelayan wanita paruh baya.
"Astaga" ucap Dimas, hilang sudah semangatnya ia lemas terduduk di kursi berharap dapat memberi kejutan istrinya. Eh malah ia sekarang yang terkejut. Dimas menyesal tidak menghubungi mereka sebelumnya.
"Ada apa denganmu tadi semangat berlari masuk ke dalam sekarang malah lemas begini" tanya Papa Teo. Ia baru saja memasuki rumah bersama dengan Mike, karena mereka sebelumnya memilih membantu supir taksi mengeluarkan barang-barang bawaan mereka dari bagasi mobil.
Papa Teo dan Mike akhirnya ikut duduk di sebelah Dimas, menempuh perjalanan jauh lumayan menguras tenaga mereka.
"Tiara dan yang lainnya tidak ada dirumah Pa, mereka dirumah Reno" jelas Dimas tak bertenaga.
"Kan kamu bisa telpon mereka, dan minta mereka untuk pulang" jawab Papa.
"Astaga, kenapa aku nggak kepikiran" Dimas menepok jidatnya dan ingin mengambil handphone miliknya di dalam sebuah tas kecil.
"Biar aku aja yang telpon Nara" Mike sudah menghubungi Nara beberapa kali tapi tak juga di jawab.
"Telpon Tiara atau Kakek" ucap Dimas lagi
"Nggak dijawab juga" ucap Mike ketika menghubungi mereka.
"Ya sudah kalian mandi aja dulu, istirahat sebentar lalu kalian susul mereka" ujar Papa Teo.
"Tapi Reno pindah ke rumah baru Pa, jadi aku nggak tau alamatnya" ucap Dimas.
"Ya salam" Papa Teo menepok jidatnya.
__ADS_1
"Gunakan koneksimu untuk mencari alamatnya" ujar Papa Teo lagi. Akhirnya Dimas mengambil handphone miliknya dan menghubungi asistennya Erick.
TBC.