UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kesepakatan.


__ADS_3

Kondisi Mike sedikit demi sedikit sudah mulai membaik, walaupun ia belum bisa berjalan karena luka di kakinya belum sembuh total tapi setidaknya ia bisa menggunakan tongkat.


Sementara Nara kondisi fisiknya baik-baik saja, dokter yang menawarkan untuk melakukan terapi psikologi di tolak oleh Nara. Ia tidak ingin semakin membebani Mike. Ia menyimpan rapat-rapat rasa bersalah dan trauma yang ada dalam dirinya. Semoga saja itu tidak akan menjadi bom waktu yang akan meledak suatu saat nanti.


Nara mendorong kursi roda Mike menuju taman belakang rumah sakit, hari ini adalah hari terakhir mereka dirumah sakit. Besok pagi mereka sudah bisa kembali ke hotel tempat Mike menginap.


"Kita sementara akan tinggal di hotel, setelah itu kita akan pergi ke negara x untuk mengunjungi makam ibuku dan juga Roy."


"Apa Kakak akan mengajakku?" tanya Nara.


"Memangnya kalau aku tak mengajakmu kau mau tinggal disini sendiri. Lagipula setelah mengunjungi Roy aku akan kembali ke Indonesia, kita akan menetap disana. Aku akan mulai mengajarkanmu bahasa Indonesia mulai dari sekarang agar kau bisa menyesuaikan diri saat di sana nanti" ucap Mike.


"Terimakasih Kak, maaf merepotkanmu" ucap Nara merasa tidak enak. Mulai saat ini Mike terpaksa mengambil tanggung jawab untuk masa depan Nara.


"Nara!!" panggil Mike dengan lirih.


"Ya Kak."


"Apa kau tidak ingin mengunjungi makam ayahmu sebelum kita pergi meninggalkan negara ini. Aku tidak tau kapan kau akan bisa kembali kesini. Tiga hari lagi kita akan meninggalkan negara ini. Jika kau ingin mengunjungi makam ayahmu, kau bisa meminta salah satu pengawal untuk mengantarmu" ucap Mike, di angguki oleh Nara.


Suasana mendadak hening seketika, Nara kembali merasa bersalah. Bukan hanya karena kondisi Mike yang saat ini berada di atas kursi roda tapi juga kematian Roy, orang yang paling dekat dengan Mike.


"Ayo kita kembali ke kamar" pinta Mike memutar kursi roda menggunakan tombol otomatis yang ada di pegangan kursinya."


Nara mengikuti Mike dari belakang, entah sampai kapan rasa bersalah itu akan terus menghantuinya.


*********

__ADS_1


Acara pelelangan saham salah satu perusahaan terbesar di negara itu sudah di mulai. undangan yang awalnya sudah tersebar untuk lebih dari 50 pengusaha besar berakhir dengan datangnya segelintir orang. Tidak lebih dari 10 pengusaha yang datang. Kabar jatuhnya harga saham membuat mereka tidak ingin mengambil resiko besar.


Padahal awalnya perusahaan itu sangat di gandrungi oleh banyak pengusaha. Perusahaan yang membawahi banyak bidang mulai dari rumah sakit, hotel, properti hingga pabrik pengolahan makanan. Ada banyak anak perusahaan yang berada di bawah naungan King Company.


Tawar-menawar belum juga dimulai tapi Dimas yang menghadiri acara itu meminta untuk bisa menemui Pangeran Osvaldo sang pimpinan.


Anak buah Pangeran Osvaldo menolak, karena pengeran itu berpesan tidak ingin menemui siapapun sebelum acara pelelangan selesai. Dimas menyodorkan sebuah berkas untuk di berikan pada Pangeran Osvaldo.


"Tolong sampaikan berkas penting ini pada pangeran, aku akan menunggu disini jika pangeran berubah pikiran dan ingin menemuiku" suara Dimas terdengar yakin jika pengeran akan menemuinya.


"Baiklah Nona, anda bisa tunggu disini sebentar " ucap pengawal itu membawa berkas milik Dimas.


Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, Pangeran Osvaldo sendiri yang mendatangi Dimas ia membawa Dimas ke sebuah ruangan tertutup.


"Anda cukup berani Nona, berada di ruangan ini hanya berdua denganku. Apa kau tidak takut jika aku akan mencelakaimu?" tanya Pangeran Osvaldo dengan senyum smirk.


"Anda memang wanita yang cerdas, Nona..."


"Ana Carolina" Dimas memperkenalkan diri dengan nama samaran. Entah sudah berapa banyak nama samaran wanita yang ia gunakan selama ini.


"Baik Nona Ana, Untuk penawaran yang anda ajukan saya setuju, tapi tidak dengan syarat-syaratnya" ucap Pangeran Osvaldo sembari membuka berkas yang ada di tangannya. Ia tersenyum melihat jumlah angka nominal yang di tawarkan Dimas.


"Jika anda tidak menyetujui syarat yang saya ajukan, maka penawaran saya batalkan. Saya yakin anda tidak akan mendapatkan nilai nominal sebesar ini di dalam lelang, mengingat pergerakan saham anda yang terus terkoreksi jatuh setiap menitnya."


"Saya juga bisa membantu menyuntikkan dana di perusahaan sampai kondisi keuangan perusahaan stabil. Solusi ini tentunya juga akan bisa mengatasi krisis dan meningkatkan pergerakan saham. Ini akan berdampak positif untuk reputasi Anda" jelas Dimas meyakinkan.


"Bagaimana jika anda ajukan syarat yang lain saja" Pangeran Osvaldo terlihat keberatan dengan syarat yang diajukan, tapi ia juga tidak rela kehilangan penawaran harga yang di ajukan Dimas.

__ADS_1


"Tidak, saya hanya menginginkan anda menyetujui syarat yang saya ajukan pangeran." Dimas terlihat tegas dalam menyampaikan keinginannya. Tak ada tawar-menawar yang bisa merubah pikirannya.


"Baiklah, jika dalam lelang ini tak ada yang mengajukan angka lebih besar dari nilai anda maka saya akan menerima syarat-syarat yang anda ajukan" Pangeran Osvaldo memilih mengalah mengingat ia tidak memiliki banyak waktu. Ia tidak ingin jika perusahaan yang selama ini berada di bawah tangannya jatuh kembali ke kekuasaan raja.


Akhirnya lelang selesai dengan singkat karena tidak ada satupun yang berani menandingi tawaran Dimas. Bahkan orang-orang yang dikirim Pangeran Alex untuk mengikuti lelang pun di buat tak berkutik dengan tawaran Dimas.


"Selamat Nona Ana" Pangeran Osvaldo menjabat tangan Dimas.


"Terimakasih Pangeran, dan mohon kerjasamanya untuk kedepannya nanti" ucap Dimas membalas jabatan tangan pangeran.


Sementara itu di kediaman Alex, Alex terlihat marah besar karena tidak bisa mendapatkan saham yang ia inginkan. Semua yang terjadi berada di luar perkiraannya, bukankah saat ini saham perusahaan sedang jatuh lalu siapa orang yang begitu berani memborong saham dengan nilai yang tak masuk akal. Ada permainan apa di balik ini semua.


Semakin keras ia berfikir semakin membuat kepalanya sakit karena ia tidak bisa menemukan motif di balik kejadian ini semua.


"Selidiki asal-usul wanita itu dan darimana sumber dana yang ia dapatkan. Selidiki semua tentangnya jangan sampai ada yang terlewatkan." Alex memerintahkan David untuk menyelidiki samua. Ia juga sudah tahu jika pengusaha yang mengalahkannya adalah seorang wanita.


Tiara yang sudah memahami kelicikan Alex mempunyai hobi baru, yaitu menguping pembicaraan Alex dan David. Tiara yang sudah biasa mondar-mandir keluar masuk ruangan tidak lagi di curigai. Apalagi mengingat status Tiara sekarang, ini lebih memudahkan Tiara untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Rasa penasaran semakin menggelitik pikiran Tiara, ia semakin mendekatkan telinganya di pintu ruang kerja hingga menempelkan bagian samping sisi wajahnya. Suara pintu yang terbuka lebar tiba-tiba terdengar, membuat tubuh Tiara terhuyung ke depan. Alex yang sigap menangkap tubuh ibu hamil itu.


Degup jantung Alex tiba-tiba berdetak kencang ketika tubuh Tiara merapat padanya. Tonjolan dua buah benda kenyal yang merapat padanya menimbulkan gelenyar aneh pada tubuhnya.


Alex menyadarkan perasaannya dengan menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin terlarut dalam suatu hubungan yang hanya akan mencelakainya pada akhirnya. Walaupun tidak dapat di pungkiri saat ini ia sedang bermain api dengan memanfaatkan Tiara.


"Apa yang kau lakukan di depan pintu!" Alex melepaskan pelukannya dan menatap tajam Tiara.


TBC

__ADS_1


__ADS_2