UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Calon Istri.


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, saat Tiara berpamitan. Tadinya Mona ingin meminta Tiara dan Rendra untuk menginap. Tapi ternyata Dimas mendapatkan telpon dari Kakek untuk segera datang ke rumahnya.


"Ke rumah Kakek besok pagi aja kenapa sih" protes Dimas. Sejak Tiara tahu Kakek menghubungi Dimas, Tiara langsung meminta Dimas meluncur ke rumah Kakek.


"Kakek kan minta kita kerumahnya hari ini Mas, lagipula Tiara juga udah kangen sama Kakek" ucap Tiara terlihat bersemangat. Tiara melihat ke luar jendela, dimana tampak keramaian Ibu kota menjelang malam hari. Banyak pedagang jajanan memenuhi pinggiran jalan. Kerasnya kehidupan di perkotaan membuat mereka berlomba-lomba mencari rejeki.


Empat puluh menit perjalanan akhirnya Dimas dan Tiara sampai juga. Dimas memarkirkan kendaraannya di depan pintu utama. Salah seorang pengawal membawa mobil Dimas untuk di parkiran di garasi.


"Bibik, Kakek mana Ya?" tanya Tiara sembari melihat ke penjuru rumah.


"Kakek ada di kamarnya Non, sebentar saya panggilkan" ucap wanita paruh baya itu.


"Biar saya kesana saja bik" ucap Tiara bersiap menaiki tangga.


"Biarkan pelayan yang memanggil Kakek, kamu tunggu sini saja. Apa kamu tak lelah dari rumah sakit, tempat Mona, lalu kemari. Ayo sini, biar aku pijat kakimu lagi" ucap Dimas menuntun Tiara ke ruang keluarga.


"Hallo putri Daddy apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Dimas mengecup perut Tiara.


Tiara diam saja tak menanggapi ucapan Dimas, ia lebih tertarik dengan kue kering yang tersedia di dalam toples yang tersedia di meja depannya.


"Sayang, apa kau tak menginginkan sesuatu, seperti ibu-ibu hamil yang lain" Dimas mengulangi pertanyaannya. Ia merasa istrinya ini tak seperti ibu hamil biasanya yang menginginkan ini dan itu.


"Tidak, saat ini aku lebih menginginkan bertemu dengan Mama dan Papa. Aku merindukan mereka" ucap Tiara sambil mengunyah kue kering yang baru saja ia comot dari dalam toples.


"Kak Dimas, Tiara" panggil Mike ketika pintu lift yang tak jauh dari mereka terbuka lebar.


Tiara memiringkan kepalanya, menatap gadis cantik berwajah Asia yang sedang mendorong kursi roda Mike.


"Siapa Gadis ABG di belakangmu itu Mike" tanya Tiara terlihat penasaran, ini adalah pertama kalinya ia melihat Mike bersama seorang wanita selain dirinya.


"Dia adik angkatku" ucap Mike asal, ia bingung menjelaskan identitas Nara. Apalagi ia tahu dari Dimas jika Ibu tiri Nara yang bernama Aiko pernah mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada Tiara.


Nara dan Mike menghampiri Dimas dan Tiara. Nara duduk di sofa di depan Tiara sementara Nara menarik kursi roda Mike di dekatnya.

__ADS_1


"Kalau dia adik angkatmu, berarti dia adikku juga. Perkenalkan Tiara Kakak ipar Mike, kau bisa memanggilku Kak Tiara" ucap Tiara tersenyum ramah.


"Nara" dengan sedikit canggung menyambut uluran tangan Tiara. Mendengar nama Nara mengingatkan Tiara pada Pangeran Alex yang selalu memanggilnya Naura. Entah bagaimana kabar pangeran itu, karena Dimas tak pernah mau menyinggung nama pangeran itu.


"Nama yang indah, kau terlihat cantik dan imut, aku pikir ia kekasihmu" Tiara menatap Mike penuh selidik.


"Jangan sembarangan bicara, dia gadis kecil berusia 17 tahun. Ia masih harus sekolah dan masa depannya juga masih panjang" ucap Mike sedikit Kikuk, ia masih malu untuk mengakui jika ia tertarik pada Nara.


"Baiklah kalau kau tak tertarik pada Nara, mungkin aku bisa mengenalkannya pada Erick" Ucap Tiara sedikit menggoda. Tiara bisa melihat jika Mike tertarik pada Nara dari cara Mike memandang gadis itu.


"Bujang lapuk itu tak cocok buat Nara" Mike terlihat tak suka dengan apa yang Tiara ucapkan, Tiara tertawa kecil dengan reaksi Mike.


"Oh ya Nara, Perkenalkan pria berwajah dingin ini adalah suamiku Dimas" ucap Tiara memperkenalkan Dimas, sebab semenjak tadi suaminya ini lebih fokus memijat kaki dan bahunya di bandingkan ikut mengobrol bersama. Tiara tidak mengetahui jika Dimas dan Nara sudah saling kenal.


"Kenapa kau terlihat pendiam sekali sekarang. Biasanya kau selalu mengejekku dan banyak bicara, ada apa denganmu?" tanya Dimas akhirnya bersuara juga.


"Aku hanya tidak enak badan, om" Nara menundukkan pandangannya. Ia merasa tidak nyaman dengan pandangan Dimas yang terlihat menyelidik.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Tiara bingung.


"Tiara cucu Kakek, bagaimana kabarmu Nak" Tiba-tiba terdengar suara dari samping mereka tanpa mereka sadari. Keasikan mengobrol membuat mereka tak menyadari kedatangan Kakek.


"Alhamdulillah baik Kakek" Tiara menghampiri pria tua itu dan memeluknya.


"Syukurlah, lalu cicit Kakek apa kabar? Apa dia sehat? Kau sudah memeriksakan jenis kelaminnya" Kakek menyentuh perut Tiara lalu mengajak Tiara untuk kembali duduk di samping Dimas.


"Alhamdulillah cicit Kakek sehat dan cicit Kakek seorang tuan putri yang cantik" sahut Tiara terlihat senang sembari mengusap perutnya.


"Syukurlah lah akhirnya, ada juga anak perempuan di keluarga kita" ucap Kakek ikut senang. Mulai dari anak dan cucu Kakek semuanya adalah laki-laki. Akhirnya setelah generasi ketiga ia mendapatkan cicit seorang perempuan.


"Kau memang hebat Dim" Kakek memberi jempol buat Dimas.


"Tentu, Cucu Kakek ini adalah yang terhebat baik di dunia bisnis maupun dalam hal membuat anak" ucap Dimas asal, membuat Tiara menyerang perut suaminya dengan sebuah cubitan kecil.

__ADS_1


"Sakit Sayang!" protes Dimas, lalu menangkap tangan Tiara dan mengecup punggung tangannya itu. gerakan Dimas yang tiba-tiba membuat Tiara tersipu malu.


"Kak Dimas, kau membuat kami para jomblo menderita" protes Mike melihat kemesraan Dimas dan Tiara.


"Cepat carilah seorang istri, agar ada yang mengurusmu" sahut Kakek Dimas pada Mike.


"Iya Kek" seketika Mike nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Buat apa jauh-jauh mencari kalau di sebelah Mike sudah ada" sahut Tiara sambil menatap Nara. Sementara Nara yang tak nyaman karena semua mata tertuju padanya, semakin menurunkan pandangannya.


"Suruh ayahmu kembali ke kota ini, mau sampai kapan ia mengabdikan dirinya di pelosok desa. Apa ia tak ingin melihat cucunya lahir" Kakek mengalihkan pembicaraan pada Dimas.


Ya Ayah Dimas yang berprofesi sebagai dokter lebih memilih untuk melayani warga desa. Membantu pembangunan rumah sakit maupun klinik di wilayah terpencil. Hal yang sama yang juga dilakukan oleh Farih kakak Tiara.


"Katanya sih, Ayah akan kembali sekitar satu bulan lagi Kek" sahut Dimas.


"Oh ya Nara, apa kau sudah berkenalan dengan kedua cucu Kakek ini" Kakek menunjuk Dimas dan Tiara, Nara menganggukkan kepalanya. Kakek selalu memperhatikan gadis remaja itu yang tak begitu ceria seperti gadis remaja seusianya.


Kakek mengetahui siapa orang tua Nara dan apa yang terjadi padanya maupun keluarga Nara. Sama halnya seperti Mike, Kakek berharap Nara bisa melupakan kesedihannya dan kembali ceria.


"Apa Kakek tau cicit Kakek sudah bertambah lagi. Anaknya Anton laki-laki, ia sedang dirawat dirumah sakit sekarang. Kasihan bayi sekecil itu sudah bersentuhan dengan jarum infus" ucap Dimas, mengingat penderitaan bayi kecil itu membuat mood Dimas jelek seketika.


"Ia mengulangi kesalahan yang sama dengan memilih istri yang salah lagi" ucap Kakek. Ya Manda adalah istri kedua Anton. Anton sebelumnya pernah menikah lalu akhirnya bercerai.


"Tapi aku salut dengan Anton, ia terlihat menyayangi putranya. Mudah-mudahan anak itu membawa kebahagiaan dan kebaikan untuk kehidupan Anton selanjutnya" ucap Dimas, walaupun mereka pernah berkonflik tapi mereka tetaplah keluarga.


"Dan kau Mike, hati-hatilah mencari istri jangan sampai kau terjerat hanya dengan kecantikan luar saja sehingga kau melupakan nilai Moral dan juga kecantikan hatinya" ucap Kakek mengingatkan.


"Ya Kek, terimakasih sudah mengingatkan Mike."


"Seperti kata Tiara sebelumnya, mungkin kau bisa mempertimbangkan Nara sebagai calon istrimu" ucap Kakek membuat Nara yang dari tadi menyimak percakapan mereka menjadi terkejut.


"Aku..." kali ini Mike bingung ingin menjawab apa, tapi ada senyuman tipis di balik wajahnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2