UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Perjalanan Ke Lokasi Bencana.


__ADS_3

Nara terdiam tak menyangka akan mendapatkan ciuman dari Mike, hingga akhirnya ia tersadar.


"A-apa yang Kakak lakukan?" tanya Nara tergagap.


"Memangnya apa yang kakak lakukan?" Mike ikut bertanya pada Nara.


"Tadi-tadi Kakak itu....,"


"Itu, apa?" Mike berpura-pura tidak mengerti.


"Kakak tadi menciummu" cicit Nara dengan suara lirih.


Mencium, seperti apa? mungkin kau bisa mencotohkannya padaku agar aku teringat kembali apa maksudmu?" Mike masih saja berpura-pura bodoh membuat Nara mengerucutkan bibirnya.


Cup" Aku menyukaimu" Mike mencium kembali bibir Nara singkat, dan berkata dengan pelan.


"A-apa ?" tanya Nara terlihat bodoh. Mike makin gemas dengan ekspresi wajah Nara.


"Memangnya apa yang kau dengar? Memang susah kalau berurusan dengan anak kecil" Mike mengacak rambut Nara sayang.


"Nara sudah dewasa ya Kak, enak aja anak kecil?" protes Nara.


"Iya-iya Dewasa! makan aja masih belepotan, heran anak gadis kok nggak ada anggun-anggunya" protes Mike diabaikan Nara, ia kembali menikmati camilannya. Untung saja ia tadi hanya makan malam sedikit, jadi perutnya masih longgar untuk ia isi dengan jajanan yang saat ini ada di hadapannya.


"Perut Nara sudah penuh Kak" Nara menyudahi makannya.


"Ini masih satu kotak nggak di habiskan sekalian?" tanya Mike di jawab gelengan kepala oleh Nara.


"Perutnya sudah penuh, sudah nggak ada lowongan lagi. Sisanya Nara bungkus aja lagi bawa pulang, siapa tau nanti mau tidur Nara lapar lagi" ucap Nara menutup kembali satu kotak jajanan yang masih penuh dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.

__ADS_1


"Terserah kau saja" Mike mengambil alih kantong plastik yang berada di tangan Nara.


"Mau pulang, atau masih mau lanjut" Mike menatap jam tangan yang menunjukkan pukul 09.20 malam. Ternyata tak terasa sudah 2 jam ia berada di sekitaran pasar malam dan taman.


"Pulang aja deh kak" ucap Nara sambil bangun dari duduknya.


"Kita nonton Film bioskop aja yuk, ada film keren yang baru tayang" Mike menggenggam kembali telapak tangan Nara dan menariknya.


Mike tak rela jika kebersamaannya malam ini harus di akhiri begitu saja, apalagi besok ia harus ke luar kota dan berjauhan dengan Nara selama beberapa hari kebelakang.


Nara mengikuti langkah kaki Mike tanpa protes, ia menatap tangannya yang di genggam erat oleh Mike.


Ya Tuhan bolehkah aku egois dan berharap memilikinya untukku saja, batin Nara.


Nara mengingat bagaimana Dewi memperingatinya untuk tidak dekat dengan Mike ataupun merebut perhatian Mike darinya.


Biarlah waktu yang akan menjawab masa depan seperti apa yang nanti akan aku hadapi bersamanya. Jika ia memang ia ditakdirkan untukku maka aku akan menerimanya jika tidak, aku harus bersiap untuk menjauh darinya, batin Nara berspekulasi sendiri.


Setelah menonton Film Nara dan Mike, memutuskan untuk pulang ke rumah, di dalam mobil suasana kembali canggung. Pasalnya saat nonton film bioskop tadi Mike memilih film bergenre romantis. Bahkan Mike kembali mencium Nara saat di layar besar yang mereka tonton menampilkan pemandangan yang sama. Lagi-lagi perbuatan Mike membuat Nara hampir terkena serangan jantung.


"Nara, jaga dirimu baik-baik ya selama Kakak tidak ada di sampingmu, dan ingat jangan dekat-dekat pria lain selama aku pergi kecuali Kakek" ucap Mike memperingatkan.


Nara mengiyakan permintaan Mike sekalipun ia bingung apa maksud Mike sebenarnya. Usianya yang masih terbilang muda membuatnya berpikir polos, berbeda dengan Mike yang penuh dengan modus.


***********


Hari sudah menjelang pagi, Tiara membantu suaminya bersiap, untung saja putrinya masih tertidur jadi ia bisa membantu suaminya dengan bebas.


"Mas terlihat masih ngantuk, Nanti sebaiknya mas tidur aja di pesawat" saran Tiara. Putrinya semalaman rewel dan hanya akan diam jika Dimas menggendongnya. Sepertinya putrinya tahu jika ingin ditinggal keluar kota oleh Daddy nya.

__ADS_1


"Iya sayang kau tak perlu mencemaskanku" butuh waktu sekitar 45 menit penerbangan menuju kota terdekat. Baru dilanjutkan perjalanan darat selama 4 jam. Sepertinya Dimas bisa tidur beristirahat di perjanan nanti.


Sama halnya dengan Tiara yang membantu Dimas, Nara juga ikut membantu Mike bersiap sekalipun tidak spesifik seperti apa yang Tiara lakukan karena mereka memiliki status yang berbeda.


Sebuah kecupan mendarat di kening Tiara, dan juga putrinya yang baru saja terbangun. Saat ini mereka sekeluarga berada di depan halaman rumah menyaksikan kepergian Dimas dan juga Mike. Dimas melarang Tiara untuk mengantarkannya ke bandara mengingat Tiara yang baru saja melahirkan.


Mike juga berpamitan pada Nara, sebuah kecupan Nara berikan untuk Mike tapi bukan di pipi atau di bibir melainkan di punggung tangan Mike, membuat pria itu tersenyum kecil.


"Kami pergi dulu ya kek, doakan kami berhasil menemukan Papa dan kembali dengan selamat. Titip istri dan putriku" Dimas mencium pipi keriput pria tua itu dan mencium punggung tangannya. Mike melakukan hal yang sama.


"Tolong jaga Nara Kek, jewer saja telinganya jika ia nakal" ucap Mike membuat Nara kesal. Mike tertawa kecil memperhatikan Nara yang mengerucutkan bibirnya. Seandainya tidak ada orang mungkin Mike sudah mencium gemas bibir Nara.


"Hati-hatilah utamakan keselamatan kalian. Ingat ada keluarga kalian yang menunggu kepulangan kalian dengan selamat" Nasehat Kakek buat Mike dan Dimas.


Akhirnya mobil melaju menuju bandara, Dimas benar-benar tertidur saat berada di pesawat. Kali ini ia memilih melakukan penerbangan dengan pesawat komersial.


Turun dari pesawat mereka disambut oleh sebuah mobil yang sudah di siapkan oleh anak buah Kakek. Mobil melesat menuju ke wilayah desa terdekat dari sana nanti baru mereka bisa melanjutkan menggunakan helikopter menginginkan jembatan penghubung jalan yang terputus belum bisa di perbaiki karena arus aliran sungai yang masih deras.


Dimas tadinya berpikir bisa tidur selama perjalanan darat, ternyata salah, jalanan berbatu dan berlubang rusak karena arus banjir menghantam maklum saja kwalitas aspal di desa tak sebaik di kota.


Perjalanan yang dilewati penuh siksaan selama separuh perjalanan atau kurang lebih dua jam. Sepertinya Dimas dan Mike harus mencari dukun pijat untuk menghilangkan rasa sakit akibat goncangan terus menerus.


Di landasan helikopter Dimas memilih mengemudikan helikopternya sendiri, Mike berada tepat di sampingnya saat ini sedangkan bagian belakang ia isi dengan keperluan medis berupa obat-obatan dan juga Makanan, susu dan kebutuhan lainnya untuk masyarakat dari bayi hingga lansia. sayangnya tempat terbatas jadi Dimas tidak bisa membawa banyak.


Dari atas Dimas bisa melihat beberapa wilayah yang masih tergenang banjir dan juga beberapa wilayah yang rusak karena tertimbun longsor. Wilayah Desa itu terlihat hancur sebagian tapi hujan tetap terus datang menyapa, belum lagi longsor susulan yang bisa datang tiba-tiba. Sungguh pemandangan yang sangat mengenaskan.


Dimas mendaratkan helikopternya, begitu helikopter mendarat ia sudah di serbu oleh para warga. Mereka membutuhkan bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan. Kedatangan Dimas merupakan surga tersendiri buat mereka. Setidaknya ada yang mereka makan untuk hari ini.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2