
Tubuh Tiara merinding seketika membayangkan hal apa nantinya yang akan di lakukan Dimas padanya.
Dengan langkah sedikit ragu Tiara melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.
Tiara menatap Dimas yang sedang duduk diatas kasur, dengan posisi bersender di kepala ranjang tersenyum menatapnya.
"Kenapa kau diam saja disitu, ayo cepat kemari" ujar Dimas.
"Tidak Tuan, aku disini saja" jawab Tiara.
"Dimana rasa terimakasihmu, bukankah aku sudah membantumu."
"Saya bisa melakukan hal lain Tuan, jadi asisten rumah tangga juga boleh" jawab Tiara mantap.
"Aku bilang kemari." Dimas menepuk kasur disampingnya, meminta Tiara untuk duduk disebelahnya.
"Tapi Tuan...,"
"Sepertinya membantah memang sudah jadi hobimu ya. Jangan khawatir, aku tidak akan melewati batas."
Dengan sedikit ragu akhirnya Tiara menuruti permintaan Dimas. Dengan menundukkan kepalanya, Tiara melangkahkan kakinya mendekat ke arah Dimas.
"Cepatlah, jalanmu seperti siput kelaparan saja."
Dengan memanyunkan bibirnya Tiara mempercepat langkahnya.
Setelah Tiara duduk di sampingnya, dengan segera Dimas melepas bajunya.
"Tu-tuan apa yang anda lakukan" Tiara terkejut melihat Dimas yang membuka bajunya, di depannya begitu saja. Refleks Tiara menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
"Aaauw...," Dimas menyentil kening Tiara.
"Apa yang ada di otakmu sekarang, Aku hanya memintamu memijat punggungku" ucap Dimas.
"Oleskan ini juga" Dimas meletakkan minyak hangat aroma terapi di tangan Tiara.
Tiara sempat terbengong melihat pemandangan roti sobek di depannya.
"Aaauw, Dimas kembali menyentil kening Tiara.
"Tutup mulutmu itu, apa kamu menginginkan tugas lainnya dariku" ucap Dimas.
"Ti-tidak Tuan, saya oleskan sekarang."
***********
Sementara itu di bandara terlihat Eric yang sudah kembali ke negaranya. Ia melangkahkan kakinya menuju keluar, Tiba-tiba ada dua orang Pria bertubuh tegap menghampirinya.
"Maaf Tuan Eric, Tuan Adi meminta anda untuk menemuinya sekarang juga.
__ADS_1
Eric menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah kedua pria itu menuju ke mobil.
Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan akhirnya sampailah ia di depan gerbang besar.
Tak lama Kemudian gerbang tersebut terbuka secara otomatis dan terpampanglah rumah yang terlihat begitu megah.
Mobil itu segera meluncur dan berhenti di depan rumah utama.
Eric segera melangkahkan kakinya masuk, dan seorang kepala pelayan menyambutnya dengan ramah. Eric mengikuti langkah pelayan itu menuju keruang tengah.
Terlihat pria tua yang masih terlihat bugar, sedang menikmati secangkir kopi panas.
Eric segera menghampiri pria tua itu dan mencium punggung tangannya.
"Bagaimana perkembangan cucuku, aku dengar ia dekat dengan wanita yang tak jelas asal usulnya" ucap pria tua itu datar.
" Maaf Opa, selama dua minggu ini saya di luar negeri jadi saya tidak tau Tuan muda dekat dengan siapa" ucap Eric dengan sedikit ragu.
"Eric, aku mengirimmu ke sisi cucuku selain untuk membantunya. Tugas utamamu adalah melaporkan setiap aktivitasnya padaku.
Sepertinya kau sudah mulai melupakan peranmu."
"Maaf Opa, karena Tuan Muda menempatkan saya di Jepang. Jadi saya tidak tau pergerakan Tuan Muda. Dan saya berada di posisi yang tidak bisa menolak permintaan Tuan Muda."
"Sepertinya cucuku sengaja menjauhkanmu. Dengar aku ingin kau datang ke apartemen cucuku. Aku mendapatkan informasi kalau ia hidup bersama wanita tanpa status disana.
Aku ingin kau membawa wanita itu kemari secara diam-diam" Ucap pria tua itu dingin.
"Jadi nama gadis itu Tiara, kau bahkan sudah mulai berada di pihak cucuku. Sepertinya wanita itu penting untuknya" ucap pria itu terkekeh.
"Maaf Opa" ucap Eric tertunduk merasa bersalah.
"Pergilah dan pikirkan bagaimanapun caranya kau harus membawa wanita itu padaku." Ucap Opa Dimas meninggalkan Eric yang bingung harus bagaimana.
*******
Sementara itu di lain tempat, terlihat Sutejo alias Aryo di sibukkan dengan tumpukan berkas yang harus ia fotokopi.
Ia mengamati berkas itu satu persatu, mengamati setiap tulisan yang tercetak disana.
"Hai Tejo, apa yang kau lakukan. Aku menyuruhmu untuk segera memfotokopi, jangan membuang waktumu dengan melihat-lihat berkas itu. Seperti kau mengerti isinya saja. Aku heran bagaimana bisa pria yang hanya lulusan SMK sepertimu bisa diterima disini. Berapa duit yang Lu keluarin biar diterima di perusahaan ini" ledek Hari.
Bukan merupakan rahasia lagi di antara karyawan. Jika perusahaan yang ditempati Aryo penuh dengan kebobrokan, mereka menerima pegawai bukan berdasarkan kualitas. Tapi seberapa besar uang yang akan mereka terima.
Bahkan Aryo juga mengeluarkan uang untuk diterima. Aryo melamar menggunakan ijazah SMK palsu.
"Anda benar Pak, saya memang tidak mengerti. Jadi apakah bapak mau membimbing saya pak, biar tugas saya ada kemajuan, tidak jadi tukang fotokopi terus pak" Ucap Tejo alias Aryo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau terima saja tugasmu itu jangan banyak tingkah, cepat fotokopi sana."
__ADS_1
Tejo yang mendengar perintah teman kerjanya dengan segera melangkahkan kakinya keluar untuk segera memfotokopi berkas tadi.
Tejo memfotokopi juga untuk dirinya sendiri secara diam-diam, karena ia merasa ada yang janggal dengan berkas itu.
**********
Tak terasa hari sudah berganti, dan tampak Eric saat ini berada di depan apartemen Dimas sedang memencet bel.
Tak lama muncullah wanita cantik membukakan pintu.
"Selamat siang Nona Tiara" Sapa Eric begitu melihat wanita cantik di depannya.
"Siapa Anda, mengapa Anda tau nama saya" Tanya Tiara heran.
"Saya Eric Nona, asisten tuan Dimas. Boleh saya masuk" ucap Eric tersenyum.
"Tapi Tuan Dimas sedang tidak ada"
"Saya kemari atas perintah Tuan Dimas Nona."
Dengan sedikit ragu Tiara menggeser tubuhnya yang menghalangi jalan masuk. Eric pun dengan segera melangkahkan kakinya masuk.
"Ada perlu apa Tuan" ucap Tiara tak sabaran begitu ia dan Eric duduk di sofa ruang tamu.
"Tuan Dimas menyuruh saya untuk manjemput anda nona"
"Menjemput, memang tuan ingin membawa saya kemana"
"Saat ini Tuan Dimas menunggu anda di rumah utama Nona."
Rumah utama, bukannya tadi tuan Dimas mengatakan Ia ada rapat jam 1 siang dan kemungkinan baru berakhir 1 jam kemudian, batin Tiara heran. Karena jam saat ini baru menunjukkan pukul 13.10 menit.
"Baiklah, tapi saya mau mandi dan ganti baju dulu" Tiara berusaha mengukur waktu. Ia ingin menghubungi Dimas untuk memastikan kebenarannya.
"Tidak perlu Nona, karena Tuan meminta untuk segera" Eric menolak permintaan Tiara, ia khawatir jika ia terlalu lama nanti keburu Dimas mengetahui aksinya.
Sebenarnya Eric tak masalah jika Dimas mengetahui aksinya. Yang paling penting saat ini adalah membawa Tiara ke Opa Dimas sebelum Dimas selesai dari rapatnya. Karena Eric yakin Dimas tidak akan menerima telepon pada saat rapat. Jika nantinya mata-mata Dimas ataupun Tiara menghubunginya.
"Saya tidak akan mengikuti anda jika anda tidak mengijinkan saya untuk mandi dan ganti baju"
"Baiklah, tapi anda hanya punya waktu 20 menit saja"
"30 menit, atau saya tidak mau mengikuti anda" tolak Tiara.
"Baiklah Nona, waktu anda terhitung mulai sekarang" Eric menatap jam di pergelangan tangannya.
Dengan segera Tiara masuk ke kamar dan menghubungi Dimas. Sudah lebih 10 kali Tiara menghubungi Dimas. Tapi tak juga ada jawaban, akhirnya Tiara mengirim pesan ke HP Dimas.
TBC.
__ADS_1
terimakasih sudah mampir dan membaca. jangan lupa like vote dan komentarnya.