UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Penggerebekan


__ADS_3

Michael seperti kehabisan kata-kata, ia tak menyangka gadis di sebelahnya ini telah mengubah dapur bersihnya layaknya tempat sampah.


Tarik napas, keluarkan, tarik napas, keluarkan. Michael berusaha meredam amarahnya, karena percuma saja marah-marah dengan gadis di sebelahnya ini. Nara akan memiliki seribu alasan untuk membela diri.


"Apa kau tau cara memotong sayuran?" tanya Mike.


"Tau, ini buktinya aku menyelesaikan tugas memotong sayuran darimu" ucap Nara penuh percaya diri.


"Apa menurutmu sayuran yang hancur ini bisa dimasak?" tanya Mike sekali lagi.


"Tentu saja, bukankah tujuan Kakak kemari untuk memasak" ucap Nara belum juga menyadari kesalahannya.


"Nara, jangankan manusia kambing pun enggan makan sayur hasil potonganmu ini. Bagaimana caraku mengolah sayuran ini kalau wortel, kentang dan juga tomat kau hancurkan. Belum lagi sayuran hijaunya yang bentuknya tak karuan begini. Kamu yakin mau makan sayuran hasil potonganmu ini!"


Nara memperhatikan lebih dalam sayurannya, rasa bangganya yang tadi karena merasa berhasil menyelesaikan tugas dari Mike mendadak menghilang berganti dengan rasa bersalahnya.


"Maaf, aku tidak pernah memasak apapun sebelumnya. Ini adalah yang pertamakali aku memotong sayuran. Jadi aku berpikir semua yang sudah aku lakukan adalah benar" Nara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kalau tidak bisa melakukan sesuatu kau harus bertanya bagaimana cara melakukannya. Bukannya berasumsi sendiri, malah mengacaukan seperti ini. Kan sayang sayurannya jadi mubajir. Sekarang kamu bersihkan dapurnya, Aku mau pesan makanan aja. Kamu mau pesan makanan apa?" tanya Michael mengeluarkan handphone miliknya.


"Terserah Kakak" jawab Nara tak enak hati.


"Jangan terserah, Aku nggak tau makanan kesukaanmu. Kan sayang nanti kalau sampai kebuang karena kamu nggak suka makanannya."


"Samakan saja sama pesanan Kakak, pasti aku makan kok. Aku nggak cerewet kok, yang penting enak pasti aku makan."


"Baiklah, aku pesankan. Ingat harus dimakan jangan sampai kebuang."


"Iya!"


Michael pernah merasakan bagaimana hidup susah sebelumnya, ia bukannya pelit hanya saja masih banyak orang kekurangan yang membutuhkan. Dari pada menghamburkan uang untuk hal yang mubajir lebih baik diberikan pada orang yang membutuhkan.


Makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga. Michael dan Nara menikmati makanannya. Sepertinya Nara suka dengan makanannya. Ia makan dengan lahap, sepertinya ia kelaparan setelah membersihkan dapur tadi.


"Kau istirahat dulu sebentar, dan ingat jangan coba-coba kabur. Kita akan bicara lagi nanti.


Michael menuju ke balkon kamarnya, ia mengeluarkan seputung rokok dan menghisapnya.


Michael mengambil handphone miliknya, ia mencoba untuk menghubungi Roy asistennya.


"Bagaimana perkembangan penyelidikanmu?"


"Sampai saat ini kami belum berhasil menemukan keberadaan mereka tuan. Semua rekening mereka dan harta Katsuro sudah di sita negara. Tapi mereka belum juga menampakkan batang hidungnya."


"Katsuro bukan orang bodoh, ia pasti masih memiliki harta dan tabungan tersembunyi yang bisa mencukupi kebutuhan mereka. Terus selidiki orang-orang terdekat mereka dan orang-orang yang pernah menjadi kepercayaannya. Aku juga akan mencoba untuk bertanya pada Nara."


"Nara! Siapa dia?" tanya Roy bingung, pasalnya Mike maupun Dimas tak pernah menyebut nama gadis itu di depannya.

__ADS_1


Mike tak menghiraukan pertanyaan Roy, ia menutup telpon itu begitu saja.


Setelah menenangkan pikirannya, Mike menuju ke ruang tengah ia harus berbicara dengan Nara.


"Astaga dia tertidur!" Mike terkejut mendapati Nara yang tertidur di sofa panjang.


"Hai bangun! Apakah kau b*bi habis makan langsung molor" Mike mentoel pipi Nara


"Hai! ayo bangun!" Mike menepuk-nepuk Pipi gadis itu.


"Pipinya lembut dan kenyal sekali, seperti bakpao" Mike menusuk-nusuk pipi Nara.


"Kalau kau tidak bangun aku akan menciummu" bisik Mike ketika menyadari Nara pura-pura tertidur. Ia tak sengaja memperhatikan mata Nara yang berkedip.


"Ya ada apa Kak!" Gadis itu bangun dan duduk seketika.


"Dasar gadis nakal, kau ingin menghindariku dengan pura-pura tidur."


"Ti-tidak kok, aku benar-benar ngantuk tadi. Baru saja aku memejamkan mataku, tiba-tiba datang nyamuk pengganggu!" cibir Nara dengan suara yang semakin lirih.


"Kau pikir aku tak dengar ejekanmu itu!" Mike yang kesal mencubit Pipi Nara.


"Ampun-ampun Kak sakit!" teriak Nara ketika Mike mencubit pipinya gemas.


"Sekarang kasih tahu dimana tempat persembunyian orang tuamu!"


"Nara!!!"


"Kalau Ayahku tertangkap, aku akan tinggal dengan siapa? Aku tidak ingin tinggal di panti asuhan" Mata Nara memerah menahan tangisannya, Mike menghela nafasnya.


"Ayahmu bersalah karena telah banyak merugikan negara maupun orang lain. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." ucap Mike.


"La-lalu bagaiman denganku" ucap Nara, ia Sudak tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia menangis sesenggukan sembari menutup mulutnya, ia berusaha menahan suara Isak tangisnya.


"Kemarilah!" Mike merentangkan kedua tangannya, Nara menyambut pelukan Mike. Mike mengusap lembut punggung Nara.


"Kesalahan yang dibuat ayahmu harus ia dipertanggungjawabkan. Aku yang akan menjagamu dan memenuhi semua kebutuhanmu sampai kamu dewasa dan bisa mandiri."


"Benarkah?"


"Benar."


"Janji!"


"Janji."


"Janji Kakak aku akan menikahimu Nara dan menjaga Nara seumur hidupku." ucap Nara asal.

__ADS_1


"Janji. Eeh apa kamu bilang tadi!" Mike menarik hidung Nara.


"Ampun-ampun Kak" mencoba melepaskan tangan Mike yang menarik hidung Nara.


"Gadis Nakal, masih saja bercanda di saat serius."


"Nara nggak bercanda Kak, kali aja Kakak mau beneran nikah sama Nara. Kan Nara nggak perlu susah-susah lagi hidup sebatang kara di dunia ini."


"Kamu pikir orang nikah itu gampang. Asal kenal langsung ngajak nikah gitu" Mike kembali mencubit pipi Nara gemas.


"Kakak ini kenapa sih! Kalau nggak hidung Nara pasti pipi Nara yang dicubit, sakit tau Kak!"


Berdasarkan informasi dari Nara, akhirnya Mike, Roy dan beberapa anggota polisi menuju ke tempat persembunyian Katsuro dan juga Aiko. Sementara itu Dimas yang masih ada rapat di rumah sakit terkait pemulihan nama baik rumah sakit milik keluarganya. Dimas janji akan segera menyusul Mike setelah menyelesaikan urusannya.


Ternyata tempat persembunyian Katsuro jauh dari pemukiman penduduk. Sebuah bangunan yang terlihat dari luar seperti bekas pabrik yang telah lama kosong tapi begitu anda memasuki kawasan itu terdapat bangunan mewah tepat di belakang pabrik.


Polisi memilih waktu malam sebagai penggerebekan untuk menghindari kecurigaan sang pemilik rumah. Mereka bahkan memarkirkan kendaraannya jauh dilokasi. Mereka memilih jalan kaki dengan cara sembunyi-sembunyi.


Mike dan kawan-kawannya merasa beruntung karena pagar tidak dalam kondisi tergembok. Mereka masuk dengan leluasa. Segera mereka berpencar menjatuhkan para penjaga satu-persatu. Sampai dirumah utama, ia tak mendapati Aiko maupun Katsuro. Polisi segera bergerak dalam rumah mewah itu untuk meneliti ruangan satu-persatu.


"Lapor Rumah ini kosong komandan, tidak ada satupun orang di dalamnya." lapor seorang polisi pada komandannya.


"Introgasi semua penjaga yang ada di luar, buat mereka buka suara, dimana keberadaan Katsuro." perintah komandan polisi.


"Laksanakan Komandan."


"Kamu tahu kira-kira kemana Ayahmu pergi?" tanya Mike pada Nara, Nara menggelengkan kepalanya.


Polisi menggiring semua penjaga yang tertangkap ke dalam truk kepolisian. Michael yang ingin pergi dari situ tiba-tiba handphone miliknya berbunyi.


"Jangan banyak bicara cukup dengarkan saja. Kalau kau ingin berjumpa denganku, tunggu aku di pabrik terbengkalai di depan setelah polisi itu pergi. Jangan beritahu informasi ini pada siapapun jika kau masih ingin berjumpa denganku. Satu lagi ajak anak kesayanganku bersamamu!" perintah si penelpon yang tidak lain adalah Katsuro. Mike hapal betul suara parau pria tua itu.


Mike terpaksa tidak ikut rombongan kepolisian, ia bahkan memaksa Roy untuk pergi hingga tersisa dirinya dan Nara di tempat itu. Roy yang bingung dan curiga ada sesuatu


Dengan bantuan sinar HP Mike dan Nara menuju pabrik kosong yang ada di depan bangunan mewah itu.


"Kak aku takut! kita mau kamana sih?" tanya Nara sembari merangkul lengan Mike.


"Tenanglah, kita akan menemui Ayahmu" ujar Mike menenangkan sembari masuk ke bagian tengah pabrik sesuai dengan perintah Katsuro dalam pesan singkat yang Mike terima.


Tak, tak, tak, tak!! tiba-tiba lampu yang mati di sekitar mereka hidup, menerangi ruangan itu. Nara dan Mike yang meras silau karena terkejut dengan sorotan lampu langsung memejamkan matanya.


Nara dan Mike membuka mata perlahan bersamaan mengurangi efek silau cahaya lampu yang begitu terangnya malam ini.


"Apa kabar Tuan Michael?" ucap Katsuro, bersamaan dengan banyaknya senjata yang mengarah pada mereka.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2