
Farih terdiam sesaat mendengar permintaan dari ketua RT. Ia lalu melirik gadis kecil itu, yang sedang menangis meratapi kematian neneknya yang merupakan keluarga satu-satunya.
"Apa dia masih sekolah? tanya Farih sedikit ragu.
"Ya, dia kelas 3 SMK saat ini, sekalipun dia tidak termasuk anak yang cerdas tapi ia cukup mandiri."
"Apa Bapak yakin ia mau menikah dengan saya , saya lebih tua darinya Pak. Saat ini saja saya sudah berusia 29 tahun" Farih sedikit ragu mengingat usia Lia yang begitu muda.
"Saya akan bicara dengannya setelah pemakaman Neneknya nanti."
"Oh ya Pak, ini ada sedikit uang untuk pemakaman dan selamatan neneknya gadis itu mohon diterima" Farih mengeluarkan semua uang kas yang ada di dompetnya dan tidak meninggalkannya sepeserpun.
"Terimakasih Dokter."
"Maaf siapa nama gadis itu?" tanya Farih dengan sedikit kikuk. Pak RT tersenyum mendengar pertanyaan Farih.
"Namanya Amalia, tapi kami biasa memanggilnya Lia. Bapak jamin nak Farih tidak akan menyesal menikah dengannya, anaknya juga sangat cantik" Pak RT tertawa melihat reaksi Farih yang terlihat kikuk campur malu. Farih hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menampilkan senyumannya.
Seminggu setelah kematian neneknya Amalia akhirnya mereka menikah secara sederhana. Mengingat Lia masih dalam kondisi berduka.
Amalia mengajukan syarat pada Farih secara pribadi sebelum pernikahannya. Ia ingin di ijinkan untuk melanjutkan pendidikannya sampai selesai."
Malam setelah akad nikah dan para tamu undangan telah pulang kerumah masing-masing. Saat ini Farih dan Amalia sedang berada di kamar pengantin mereka. Sebelum masuk ke kamar pengantinnya Farih sudah ganti baju dan mandi di ruang kerjanya.
"Gantilah bajumu terlebih dahulu, kau tidak mungkin tidur mengenakan baju itu?"
"Tapi..., saya tidak membawa baju ganti Kak. Tadinya saya berpikir bisa pulang ke rumah setelah kita menikah. Jadi Lia tidak membawa baju ganti" jawab Lia polos. Saat ini mereka tinggal di rumah Farih karena acara akad nikah juga di laksanakan di sana.
"Kau bisa memakai bajuku yang ada di lemari itu, pilihlah yang menurutmu pantas."
"Terimakasih Kak" Setelah mengambil baju Farih, Lia langsung masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya sebelum berganti baju.
Dengan malu-malu, Lia keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan kemeja atasan Farih yang kebesaran. Bahkan panjang kemeja itu sampai menutupi paha nya.
Farih menatap Kaki jenjang putih mulus yang keluar dari kamar mandi, Di tangan Lia ada handuk yang ia gunakan untuk mengusap-usap rambutnya.
"Kenapa malam-malam begini keramas, kau akan masuk angin nanti" Farih menghampiri Amalia, dan menuntunnya. Lia menstap bengong suaminya itu.
"Duduklah, aku akan mengeringkan rambutmu."
Lia menuruti perintah Farih, ia duduk di kursi rias. Dan Farih mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. Lia terlihat kikuk di perlakukan seperti itu. Ini adalah pertama kalinya ia berada satu ruangan dengan seorang pria. Sedangkan Farih hanya menampilkan ekspresi datar pada wajahnya. Tapi hal yang sesungguhnya terjadi adalah hatinya yang mulai terpana dengan wajah cantik istrinya itu.
__ADS_1
"Kak Lia ngantuk."
"Tidurlah, ini juga sudah selesai" Farih merapikan rambut Lia yang baru ia keringkan.
"Apa Kakak juga tidur di kamar ini?"
"Tentu saja, bukankah kita sudah menikah?"
"Bisakah Lia pulang ke rumah saja, Lia mau tidur di rumah Lia saja." ucap Lia sedikit takut.
"Lia, kita sudah menikah dan kau jadi tanggung jawabku mulai sekarang. Jadi kau akan tinggal dan tidur dimanapun aku berada kau mengerti maksudku bukan."
"Tapi...,"
"Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu untuk melaksanakan kewajibanmu. Cukup turuti saja permintaanku, janji"
"Janji, bagus, ayo tidur," Farih menuntun Lia untuk tidur di atas tempat tidur.
Lia terlihat malu dan kikuk karena harus tidur seranjang dengan pria yang baru ia kenal, dan saat ini telah menjadi suaminya."
"Kemarilah, Farih merentangkan tangannya"
"Tapi.." Lia terlihat takut ketika Farih mendekat.
"Mulai saat ini kau harus belajar menerimaku dan mencintaiku, aku juga akan melakukan hal yang sama padamu" ujar Farih. Lia mengangguk dengan wajah bersemu merah.
Lia mendongakkan kepalanya menatap wajah teduh suaminya yang tersenyum. Rasa takutnya hilang, berganti dengan rasa nyaman yang diberikan oleh suaminya.
Cup, Farih mengecup kening Lia.
"Besok, aku akan kembali ke kotaku"
"Kakak akan meninggalkanku"
"Tidak, aku akan membawamu dan mengenalkanmu pada orang tuaku. Bukankah aku sudah mengatakan padamu kau akan tinggal dimana pun aku berada.Tidurlah, mulai saat ini kau harus membiasakan dirimu untuk tidur dalam pelukanku."
Flashback off
"Bantu Kakak ya meyakinkan orangtua kita, please..." ucap Farih memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Ada hadiah untukku?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Kau ini, seharusnya Kakak yang mendapatkan hadiah pernikahan darimu. Kenapa jadi Kakak yang harus memberimu hadiah."
"Nggak ada yang gratis di dunia ini Kak, dan untuk hadiah pernikahan Kakak tenang aja Tiara akan siapkan nanti."
"Baiklah, Kakak akan penuhi satu permintaanmu sebagai hadiah jika kamu berhasil meyakinkan Mama dan Papa."
Baru saja Farih selesai bicara tiba-tiba handphone miliknya berbunyi. Farih segera menerima panggilan setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Kakak, kenapa lama sekali. Lia takut di kamar sendirian. Lia juga lapar dan belum mandi" ucap gadis itu merengek manja.
"Siapa Kak, istri kakak ya, speaker Kak. Tiara mau denger suaranya" ucap Tiara kepo. Farih mendorong jidat Tiara dengan jari telunjuknya ketika berusaha mencuri dengar.
"Kakak kok diam aja sih, kak kok ada suara perempuan sih, Kakak sama siapa? Kakak nggak lagi selingkuhkan. Kakak cepat kesini. Cepetan Kak..., Kakak..."
"Iya Lia sebentar lagi Kakak kesana. Kamu kalau lapar pesan aja dulu nggak usah nunggu Kakak."
"Lia nggak tau gimana cara pesan makanan disini, terus Lia mau mandi nggak ada embernya, kerannya juga nggak bisa di putar. Pokoknya Lia pusing juga laper, kakak cepetan sini."
"Kamu bisa minta bantuan pelayan hotel buat pesan makanan Lia, dan Itu kerannya di pencet atau ditekan ke bawah Lia bukan di puter, kamu bisa gunakan bathtub buat berendam disitu, tapi isi airnya dulu."
"Lia nggak mau tau, pokoknya Kakak kesini sekarang juga, Lia pusing, laper, takut huaa... Kakak jahat tinggalin Lia disini. Kakak pembohong, katanya Lia bakalan tinggal dimana aja ada Kakak. Ternyata kakak bohong, Lia ditinggalin disini sendirian huaaaa..." Tangis Lia semakin kencang, sementara Farih terlihat kebingungan.
"Iya-iya Kakak kesana sekarang. cup-cup sayang jangan nangis Kakak jadi bingung ini. Diam ya kakak kesana sekarang."
Tiara menikmati drama suami istri itu, ia tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi kakaknya.
"Kamu ini Kakaknya kebingungan malah diketawain bukannya di bantuin. Ayo ikut Kakak ke hotel nemui istri kakak" tanpa menunggu jawaban dari Tiara, Farih langsung menarik tangan adiknya itu.
Dimas dan orang tua mereka bertanya-tanya melihat Farih yang menggandeng Tiara turun dari tangga dengan tergesa-gesa.
"Kalian ini kenapa dan mau kemana?" tanya papa dan mama bersamaan. sementara Dimas menatap horor Farih yang menarik istrinya menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
"Hati-hati Yang, nanti jatuh" teriak Dimas.
"Tiara sama Kak Farih mau nemui ist..." Farih membungkam mulut ember Tiara.
"Farih mau keluar sebentar Ma, Pa, penting. Dim istrimu, gue pinjem dulu ya." Farih berlari cepat masih menggandeng tangan Tiara.
"Hai, tunggu jangan bawa..." teriakan Dimas diabaikan Farih. Belum juga ia selesai berbicara Farih dan Tiara sudah menghilang dari pandangannya.
"astaga gue di tinggal" ucap Dimas lemas.
__ADS_1
TBC.