
Dimas mulai mencari cara bagaimana agar ia bisa berhubungan dengan kerajaan. Jika ia tidak bisa mendekati secara pribadi maka Dimas akan menyelidiki perusahaan yang berada di bawah naungan kerajaan. Dimas mengingat jika Tedi memiliki konflik dengan saudara tirinya. Mungkin bergabung dengan musuh untuk menjatuhkan musuhmu adalah jalan yang terbaik.
Dimas mulai mengumpulkan informasi tentang Osvaldo. Ia membeli majalah maupun koran lokal yang berkaitan dengan kerajaan. Ia juga meminta ank buahnya untuk menyelidiki perusahaan milik kerajaan dan juga orang-orang kepercayaan Osvaldo.
Pucuk dicinta ulampun tiba, Gonjang-ganjing perekonomian Osvaldo yang menyebabkan terhentinya proyek berimbas pada menurunnya harga saham perusahaan. Bahkan kabar jika pangeran yang akan melepas 20% sahamnya sampai ke telinga Dimas. Pelelangan saham akan dilakukan dua hari lagi dengan ketentuan dan syarat-syarat tertentu.
Pelelangan terbuka bagi para pengusaha baik luar maupun dalam negeri asal mereka mau mengikuti ketentuan dan syarat berlaku. Dimas menyambut antusias penjualan saham ini. Ini adalah titik awal Dimas untuk memperjuangkan istrinya.
"Pastikan jam dan waktu kapan dimulainya pelelangan itu?" ucap Dimas, ia tidak ingin kehilangan momen penting ini.
"Jangan khawatir Tuan, Kami sudah mendapatkan bocoran mengenai kapan pelaksanaannya" Anak buah Dimas menyerahkan undangan masuk ke pelelangan itu.
"Hebat kamu, Bagaimana kamu bisa mendapatkan undangan ini?" tanya Dimas.
"Saya berkata pada mereka jika bos saya tertarik untuk membeli saham. Setelah mereka mengajukan banyak pertanyaan akhirnya mereka menyerahkan undangan ini untuk diberikan padamu Bos."
"Apa mereka terlihat curiga pada kita?" tanya Dimas lagi.
"Tidak Tuan, bahkan mereka lebih perduli dengan apakah nantinya kita berada di kubu pangeran atau putra mahkota. Mereka hanya menginginkan pembeli saham mereka adalah orang yang juga bersedia mendukungnya nanti di belakang hari."
"Baguslah kalau begitu, jangan membuat pergerakkan yang akan membuat mereka mencurigai kita.
"Tapi Tuan, apa anda benar-benar yakin ingin mendukung pangeran Osvaldo?" tanya pengawal Dimas dengan wajah yang sedikit khawatir.
"Ada apa memangnya?" tanya Dimas tanpa menjawab pertanyaan anak buahnya.
"Pangeran Osvaldo terkenal sebagai pangeran yang sadis dan otoriter. Negara ini akan hancur ditangannya. Saya hanya tidak ingin banyak rakyat menderita sekalipun negara ini bukan negara saya. Rasanya ini tidak adil buat mereka Tuan."
"Kau jangan khawatir, sekalipun aku ingin menghancurkan Putra Mahkota tapi aku tidak mungkin membuat rakyatnya menderita. Aku hanya ingin memberi pelajaran yang tidak akan dilupakan Putra Mahkota itu untuk seumur hidupnya. Kesalahan terbesarnya adalah berani mengkhianatiku dan mengambil milikku. Saya akan menyiapkan berkas-berkas yang perlu kita bawa untuk pelelangan besok. Kau teruslah selidiki kelemahan pangeran itu." ucap Dimas yang tak ingin kehilangan kesempatan.
"Jika Pangeran Osvaldo menginginkan dukungan maka saya juga menginginkan sesuatu sebagai kesepakatan. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang akan kita dapatkan nanti." ucap Dimas.
******
Seperti halnya Dimas yang mengincar saham itu, begitu juga Alex. Ia ingin menyelundupkan orang lain di pelelangan itu. Ia berharap orang yang ia bayarnya nanti bisa mendapatkan saham yang ia inginkan, persetan dengan ketentuan dan syarat berlaku. Selama saham sudah ada di tangan maka artinya bertambahnya kekuasaan.
__ADS_1
Alex saat ini sedang duduk santai ditaman, ditemani dengan secangkir teh dan juga beberapa piring camilan. Ia sudah berpesan pada penjaga agar tak ada yang mengganggunya hari ini. Ia menempatkan beberapa penjaga tak jauh darinya agar tak ada satupun yang mendekatinya.
Mengingat rencana besarnya Alex mengambil handphone miliknya untuk menghubungi David orang kepercayaannya.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya Alex pada David.
"Pengusaha yang mendaftarkan diri di acara pelelangan itu cukup banyak tuan. Tapi syarat yang mereka ajukan cukup ketat. Sepertinya persaingan akan semakin ketat."
"Kenapa kita tidak melakukan sesuatu agar pengusaha itu mundur secara sendirinya dengan begitu pesaing yang kita hadapi akan semakin sedikit" Alex sudah memikirkan rencana licik di kepalanya.
Baru saja Alex ingin mengutarakan rencananya kehebohan terjadi tak jauh dari tempatnya.
"Biarkan aku masuk! Kau tak mendengar perintahku!" Terdengar teriakan Tiara yang tak terima pengawal melarangnya menemui Tedi.
"Putri tolonglah mengerti Pangeran sedang tak ingin diganggu" Pengawal mencoba memberi pengertian pada Tiara. Tak mungkin bagi mereka bertindak kasar pada wanita hamil. Apalagi wanita itu berstatus junjungannya.
"Sekarang kau pergi tanyakan pada Pangeran kesayanganmu itu. Apakah ia masih tidak ingin menemuiku?" kekesalan Tiara sudah terasa hingga ubun-ubun wanita hamil itu ingin menagih janji pada Alex yang terus ia ingkari.
Salah seorang pengawal menghampiri Alex sedangkan yang lainnya masih menghadang Tiara yang ingin memasuki taman.
"Biarkan ia masuk. Dan kalian tetap jaga tempat ini jangan biarkan orang lain menggangguku dan juga istriku" perintah Alex yang langsung di laksanakan oleh pengawal pribadinya itu.
Pengawal menganggukkan kepalanya pada temannya. Memberi kode jika Tiara di ijinkan untuk masuk. Tiara mendengus kesal pada mereka berdua.
"Awas aja kalian akan aku adukan pada pangeran" kesal Tiara meninggalkan pengawal-pengawal itu dengan wajah cemberut.
"Ada apa? Mengapa kau membuat keributan dan mengganggu ketenanganku."
"Apa kau sudah melupakan janjimu? Bukankah kau seharusnya Kemarin sore mengajakku jalan-jalan. Haruskah aku berteriak padamu agar kau ingat dengan janjimu" ucap Tiara terlihat kesal. Ia sudah mulai jenuh di kurung di dalam istana, ia mulai berani melakukan pemberontakan pada Alex.
"Maaf aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga melupakan janjiku. Apa kau masih ingin pergi sekarang" tanya Alex.
"Tentu saja." ucap Tiara mantap.
"Bersiaplah, aku tunggu kau dimobil" ujar Alex.
__ADS_1
"Untuk apa bersiap, Begini juga sudah cukup" sahut Tiara sembari memperhatikan baju yang ia kenakan. Dress kaos berwarna biru bergambar hello Kitty dengan panjang selutut.
"Naura, statusmu saat ini adalah istri putra mahkota. Kau harus menjaga penampilan, sopan santun dan cara bicara di depan umum. Cepat ganti bajumu, aku tunggu di mobil" perintah Alex.
"Siapa juga yang mau jadi istrimu" Tiara menggerutu lirih sembari meninggalkan Alex. Alex hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tiara yang makin berani padanya.
Tiara dan Alex saat ini sudah berada di salah satu tempat wisata. Kehadiran mereka berdua cukup menyita publik hingga menimbulkan kemacetan. Dimas adalah salah seorang yang terkena dampak macet itu.
"Ada apa ya Pak?" tanya Dimas pada supir taksi yang ia tumpangi.
"Saya juga kurang tahu Nona, saya akan coba lihat sebentar" akhirnya supir itu turun dari taksi karena mobil tak kunjung bisa jalan sedari tadi. Hanya butuh lima menit akhirnya sopir itu kembali.
"Ada Putra Mahkota dan istrinya sedang berkunjung ketempat wisata di depan" ucap supir itu kembali dari duduknya.
"Apa Pak, Putra Mahkota dan istrinya ? Bapak yakin?" tanya Dimas lagi.
"Iya Nona" ucap supir itu yakin.
"Kalau gitu saya turun sini aja Pak. Ini uangnya" Dimas menyodorkan uangnya pada Pak supir.
"Anda mau kemana Nona, tujuan Anda masih jauh" ucap sopir itu lagi.
"Saya mau lihat Putra Mahkota Pak" jawab Dimas sambil berlalu.
"Tapi jarak tempat wisatanya masih jauh Non, masih sekitar 250 meter" ucap supir itu.
"Tidak apa-apa Pak" Dimas berlari dan melepas sepatu hak tinggi miliknya. Ia menaikkan rok span yang menghalangi pergerakannya. Untungnya Dimas menggunakan stoking kulit elastis, Ia menggunakan merek Super Fleksibel Magical Stoking ala-ala Nona Korea hingga bisa menutupi bulu-bulu di kakinya secara sempurna.
Dimas tidak perduli dengan tatapan aneh orang-orang yang sedang terjebak Macet. Ia tetap berlari menuju tujuannya. Ia mengabaikan butiran keringat yang membanjiri tubuh dan juga wajahnya.
Sampai di tempat wisata ia akhirnya berhenti dan mengatur nafasnya. Di depannya saat ini banyak petugas yang dikerahkan agar tak mengganggu Putra Mahkota dan juga Tiara yang saat ini berperan sebagai istrinya.
Dimas mencoba menerobos barisan pengawal itu, tapi tenaganya yang hanya satu orang dikalahkan oleh banyaknya pengawal. Ia hanya bisa menatap sosok yang ia yakini Tiara dari belakang, yang jaraknya 20 langkah kaki orang dewasa dari tempatnya berdiri saat ini.
"Sayang menolehlah kebelakang, tolong menolehlah kebelakang" gumam Dimas dalam hati.
__ADS_1
TBC.