
Tampak seorang Pria terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya menatap sekeliling kamar yang ia tempati kini. Sebuah kamar kecil sederhana dengan ukuran kurang lebih 2,5m x 2m. Kamar yang sangat kecil menurutnya karena kamarnya sendiri hampir 3x lipat ruangan yang ia tempati kini. Tapi kamar itu tampak bersih dan rapi.
"Teruslah tertidur, Biar aku yang menyelesaikan semua untukmu" gumam pria itu dengan ekspresi dinginnya.
Pria itu menampilkan ekspresi wajah yang penuh kebencian. Mengingat peristiwa yang ia alami. Sampai tiba-tiba konsentrasi nya buyar karena tidak sengaja menatap bingkai foto yang menempel di tembok tepat di hadapannya.
Ia mengernyitkan keningnya, menatap beberapa foto seorang wanita yang sepertinya ia kenal.
"Nak, kau sudah sadar" Sapa pria setengah baya membuyarkan lamunan Key. Ia baru saja memasuki ruangan itu dan melihat Key yang sudah terbangun.
"Maaf Pak, Saya ada dimana ya" Key merubah ekspresi wajah dinginnya dan mulai menampilkan ekspresi wajah yang lembut.
"Ini rumah bapak nak, letaknya kurang lebih 500 meter dari tempat kamu pingsan tadi."
"Terimakasih Pak, karena menolong saya."
"Tidak apa Nak..."
"Panggil saja Key Pak. Kalau boleh tau siapa nama Bapak?"
"Nak Key bisa panggil Bapak, Pak Kupit. Maaf tadi Bapak membawa Nak Key ke rumah. Tapi jangan khawatir, Nak Key tadi sudah diperiksa Dokter puskesmas keliling yang biasa lewat di kampung ini. Nak Key diminta banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran."
"Terimakasih Pak, Bapak sudah mau menolong saya. Padahal Bapak sama sekali tidak mengenal saya."
"Menolong orang tidak perlu harus saling mengenal Nak. Selama kita masih bisa bernafas dan di beri kesehatan, jangan sungkan untuk menolong orang lain."
"Dia putri bapak" Key menunjuk foto yang ada di dinding kamar yang ia tempati.
"Iya, dia putri bapak satu-satunya. Dia kerja dan tinggal dikota tapi seminggu sekali ia pulang kemari."
"Dia beruntung mempunyai orang tua seperti Bapak" Tanpa sadar Key kembali ke ekspresi dinginnya.
"Bapak yang beruntung Nak karena mempunyai Putri seperti dia. Semenjak kecil dia selalu mendapatkan beasiswa. dan sekarang pun dia yang menanggung semua keperluan dirumah ini. Maklum hasil bapak sebagai nelayan tidak banyak. Jadi anak bapak kuliah sambil bekerja, di salah satu perusahaan besar dikota. Bapak benar-benar beruntung memilikinya."
Key tersenyum dan kembali menampilkan tatapan lembut ke pria itu. Ia senang mendengar penuturan pria paruh baya di hadapannya. Seandainya saja ia juga memiliki orangtua seperti pria dihadapannya ini.
"Mau kemana Nak, sebaiknya kamu istirahat dulu" Pak Kupit mencegah Key yang ingin beristirahat.
"Saya bosan berbaring di ranjang Pak. Saya ingin keluar jalan-jalan sebantar."
"Mari saya bantu."
"Tidak usah Pak, saya bisa sendiri."
"Jangan menolak pertolongan orang lain. Kita manusia memang harus hidup saling tolong menolong. Sekarang Bapak yang menolong Nak Key, bisa jadi besok bapak yang membutuhkan pertolonganmu."
"Dengan senang hati, Key pasti akan membantu bapak. Tapi untuk sekarang saya bisa sendiri, Saya tidak cacat Pak dan bisa jalan sendiri."
"Iya-iya Nak Key memang terlihat sempurna. Kalau ada putri bapak disini, mungkin dia juga akan menyukai nak Key."
Key tersenyum mendengar ucapan pria itu. Ia mengingat bagaimana wanita itu memarahinya pada saat ia memaksa masuk ke dalam ruangan bosnya. Walaupun itu berakhir dengan wanita itu yang menjadi takut padanya. Bahkan sampai sekarang wanita itu selalu takut bertemu dan berusaha menghindarinya. Ia tak menyangka ternyata wanita itu adalah anak kesayangan dari pria di hadapannya. Mungkin jika ia bertemu dengan wanita itu lagi ia akan mencoba untuk menggodanya.
"Tempatnya enak ya Pak, tenang dan nyaman. Saya jadi pingin punya tempat tinggal di lingkungan seperti ini" Key duduk di kursi halaman depan rumah. menikmati pemandangan yang terlihat asri di depannya.
"Kalau Nak Key mau tinggal disini saja dulu. Bapak disini tinggal sendiri."
__ADS_1
"Istri bapak kemana?"
"Dia sudah meninggal dunia 4 tahun yang lalu."
"Maaf Pak."
"Tidak apa-apa Nak. Gimana apa mau tinggal disini temani Bapak, paling tidak Nak Key bisa istirahat beberapa hari disini, sampai kondisi Nak Key benar-benar sehat. Tapi maaf Nak rumahnya kecil."
"Biar kecil tapi nyaman Pak. Mungkin saya akan tinggal disini beberapa hari kedepan."
**************
Sementara Dimas dan Tiara saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah utama. Rumah yang dulunya di tempati orangtua Dimas. Ia akan ia tinggal disana menemani Ayahnya sesuai dengan permintaan Papa Teo.
Rumah ini juga yang ditempati Tiara pada saat keluar rumah sakit dulu.
"Kamar kita dilantai 2 yang. Kalau lantai satu itu tempatnya Papa."
"Tapi bukannya kemarin Tiara tinggal dilantai satu ya mas."
"Kemarin karena kamu sakit, jadi mas membiarkanmu tinggal diruang tamu lantai satu. Sekarang kita tinggal dilantai dua, lantai ini khusus buat kita dan anak-anak kita besok. Mas harap kamu betah disini ya Yang. Kasihan Papa sendirian kalau kita pindah ke rumah lain."
"Iya Mas Tiara ngerti kok, lagian Tiara juga senang tinggal sama Papa. Papa orangnya ramah, baik hati dan tidak sombong."
"Jangan memuji pria lain di depanku."
"Dia itukan Papamu mas bukan orang lain. Udahan ah ayo naik. Aku mau lihat kamar kita mas."
Tiara menarik tangan Dimas. Ia dan Dimas menaiki anak tangga bergandengan menuju kamar mereka, diikuti oleh seorang pelayan yang membawa koper mereka.
"Tiara suka kok mas, kamarnya bagus. Nggak usah dirubah lagi."
"Syukurlah kalau kamu suka."
"Kopernya taruh disana saja pak, biar saya saja nanti yang merapikan."
"Baik Non. Oh ya Tuan, tadi Bik Sina pesan setengah jam lagi makan malam siap."
"Baiklah, setengah jam lagi kami turun. Sekarang kamu bisa tinggalkan saya berdua istri saya."
"Baik Tuan" Pelayan itu keluar dari kamar mereka dan menutup pintunya.
Dimas menghampiri Tiara yang sedang membuka kopernya.Tiara ingin merapikan bajunya. Baju itu yang ia bawa pada saat berlibur bersama Rendra. Walaupun agenda liburan itu gagal dan berakhir dengan pernikahannya. Tiara tidak pernah menyesal, setidaknya saat ini ia sudah sah menjadi pasangan suami istri. Ia tidak perlu lagi khawatir jika harus sekamar dengan Dimas.
"Sayang" Dimas memeluk Tiara yang sedang memasukkan bajunya ke dalam lemari. Ia menyingkirkan ribut Tiara kesamping lalu mengecup lembut leher Tiara.
"Mas, jangan ganggu. Tiara mau ngerapiin ini dulu."
"Biar, dirapikan sama pelayan aja yang. Ayo sini ikut aku" Dimas menarik tangan Tiara mengajaknya ke atas tempat tidur."
"Mas mau ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain sayang. udah duduk dekat dulu sini." Dimas menepuk kasur disebelahnya.
"Benarkan ya mas, nggak ngapa-ngapain."
__ADS_1
"Sudah cepat dekat sini. Mas punya sesuatu buat kamu." Setelah Tiara duduk disebelahnya, Dimas membuka laci yang berada di samping tempat tidurnya. Ia mengeluarkan kotak perhiasan dari laci itu.
"Sebenarnya, ini Mas siapkan buat pernikahan kita. Tapi karena mas pikir bakalan nikah sama Anita jadi mas simpan disini, cepetan buka"
Dimas Menyodorkan kotak itu ke Tiara. Tiara membuka kotak yang berada di telapak tangan Dimas.
"Wah cantiknya cincinnya Mas."
"Ini Mas desain sendiri buat kita berdua. Kemarikan tanganmu biar mas pakaikan" Dimas memasangkan cincin itu ke jari Tiara.
"Sekarang yang ini, tolong kamu kenakan ke jari Mas." Tiara menuruti permintaan Dimas.
"Sudah selesai. Cantik ya Mas modelnya Tiara suka."
"Kalau suka jangan pernah dilepas ya Yang."
Tiara menganggukkan kepalanya.
"Sekarang hadiah buat Mas mana?"
"Hadiah? apa hari ini ulang tahun Mas ya."
"Hadiah pernikahan kita dong sayang. Mas sudah kasih kamu cincin buat hadiah pernikahan kita. Jadi mana hadiah Mas?"
"Tiara belum nyiapin apa-apa Mas. Hadiah buat Mas, besok aja ya Tiara belikan."
"Nggak Mas maunya sekarang juga."
"Tapi Tiara nggak punya apa-apa Mas."
"Kamu punya, bahkan ada tiga hadiah yang bisa kamu berikan ke Mas. kamu mau kan kasih semua itu ke mas."
"Tiga hadiah? tapi Tiara benaran nggak punya hadiah buat Mas sekarang. Maafin Tiara mas. tolong kasih Tiara waktu buat beli hadiah Mas." Ucap Tiara memelas.
"Nggak perlu beli Yang, kamu cukup bilang Mas boleh ambil hadiahnya sekarang."
"Iya boleh deh apapun hadiah yang Mas minta sekarang Tiara kasih" Ucap Tiara pasrah.
Dimas langsung mendekat ke arah Tiara, ia menahan tengkuk Tiara dan ******* bibirnya.
Tiara memukul-mukul dada Dimas, meminta untuk dilepaskan. Setelah puas dengan c*umannya ia melepaskan Tiara. Tiara yang hampir kehabisan oksigen, menghirup udara dalam-dalam.
"Masih kurang dua lagi yang."
"Mas tadikan minta tiga hadiah. Yang satu udah Mas dapatkan jadi kurang dua."
"Memangnya tiga hadiah itu apa aja Mas."
"Ini, ini, ini" Dimas menunjuk bibir Tiara, Dada, dan bagian Intim Tiara."
"Astaga Mas..."
TBC.
Untuk sementara sosok Aryo tergantikan dengan sosok Key, bagian kepribadian yang lain. Kepribadian Aryo tertidur semenjak peristiwa yang menyakitkan mengguncang jiwanya.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan, like, vote dan komentarnya. 🙏😘