
Dimas mengambil handphone nya yang tergeletak di meja kamar untuk memesan makanan. Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar begitu Tiara memasuki kamar mandi.
Selesai mandi Tiara melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sudah ada Dimas disana menunggunya dengan berbagai menu makanan, yang sudah tertata di atas meja. Dengan langkah gontai Tiara mendekati meja itu, Ia berjalan dengan menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tak berani menatap Dimas. Ia masih takut jika Dimas akan memperlakukannya dengan buruk.
"Duduklah" ucap Dimas lembut begitu Tiara mendekati meja makan. ucapan Dimas kali ini sedikit menurunkan kadar ketakutan Tiara. Tapi walau begitu Tiara masih enggan untuk beranjak dari tempatnya.
Dimas menghela nafas kasarnya, menatap Tiara yang tidak mengikuti perintah Dimas. Melihat Dimas menghela nafasnya, akhirnya Tiara berjalan menuju ke sisi meja, ia mengambil piring Dimas dan mengisinya dengan nasi dan berbagai lauk disana. Setelah mengisi piring Dimas ia baru duduk di kursinya.
Huuff, Dimas kembali menghela nafasnya.
"Makanlah, setelah itu kita bicara" Dimas menyodorkan piringnya ke Tiara. Ia menatap Tiara yang duduk diam menundukkan kepalanya, Tanpa mengisi piringnya.
"Tuan saja yang makan, saya belum lapar" Tiara menyodorkan piringnya kembali.
"Jangan dibiasakan membantah perintah saya, kamu tidak tau sampai dimana batas kesabaran saya"
"Maaf" Tiara mengambil piringnya sendiri dan mengisinya Dangan berbagai menu. Sedangkan piring yang tadi disodorkan Dimas, ia menaruhnya kembali di depan Dimas.
"Tuan makanlah juga, saya tidak ingin makan sendirian" ucap Tiara lirih tapi masih terdengar oleh Dimas.
Tiara dan Dimas mulai memakan makanannya, tidak terdengar suara atau candaan mereka. Yang terdengar hanyalah suara sendok dan piring yang beradu. Mereka makan dengan perlahan, seperti orang yang tidak memiliki ***** makan.
__ADS_1
"Aku tunggu dikamar" Dimas berdiri dari duduknya dan meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya.
Tiara menatap piring Dimas yang masih tersisa banyak makanan. Ia kemudian menaruh sendok yang ia pegang ke piring dan menjauhkan piring itu dari jangkauannya, padahal makanan yang ia makan bahkan belum berkurang separuhnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan terdengar isakkan tangis disana.
"hiks hik hik ...., Apa yang harus aku lakukan dan kenapa hidupku jadi kacau seperti ini" ucap Tiara lirih di sela-sela Tangisannya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menahan tangisnya. Tapi tetap saja air mata itu lolos begitu saja.
Sudah satu jam dari Dimas meninggalkan meja makan tapi Tiara belum beranjak dari tempat itu. Ia masih berada disana berusaha untuk mencoba menenangkan dirinya, tapi air matanya tak juga berhenti menetes.
Dimas duduk di ranjang ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Ia memikirkan apa yang selama ini ia telah lakukan pada Tiara.
Dimas kembali menghela nafasnya. Entah sudah berapa banyak hari ini ia selalu menghela nafas.
"Apa yang dilakukan wanita itu, Kenapa lama sekali? Apa dia kabur?" dengan sedikit panik, Dimas segera turun dari ranjangnya. Ia melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Pandangan Dimas saat ini menatap Tiara yang membelakanginya. Dimas memelankan langkah kakinya. Jarak dengannya dan Tiara tinggal selangkah lagi, ia mendengar lirih suara isakan tangis Tiara.
"Ayo ikutlah denganku" Dimas menggeser kursi Tiara, ia meraih tangan Tiara dan mengajaknya ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Dimas duduk di sofa, Ia mendudukkan Tiara di pangkuannya. Ia mengalungkan tangan Tiara ke lehernya, memeluk pinggangnya dan menyandarkan kepalanya di dada Tiara.
"Maafkan aku karena menyakitimu, apa kau mau mendengarkan ceritaku" ucap Dimas mendongakkan kepalanya menatap Tiara.
"Ayah dan ibuku menikah bukan karena cinta, mereka menikah karena terpaksa. Ibuku menjebak Ayahku hingga muncul diriku, dan mau tidak mau Ayahku harus menikah dengan Ibuku. Padahal tiga hari lagi Ayahku akan menikah dengan orang yang ia cintai yang tak lain adalah sahabat ibuku sendiri."
__ADS_1
"Pernikahan mereka tidak berjalan dengan baik, setiap hari mereka bertengkar. Pada saat aku berumur 9 tahun, aku mengajak teman-temanku bermain ke rumah. Pada saat kami bermain PS di kamarku, kami mendengar suara teriakan Ibuku dan juga mendengar suara barang-barang yang di banting. Aku dan sahabatku Refleks berlari kearah keributan itu."
"Pada saat itu Ayah mengatai Ibuku wanita murahan karena menjebaknya hingga hamil diriku. Ayahku juga mengatakan Ibuku pelacur murahan karena sekalipun ia sudah menikah, ia masih suka pergi ke club' bergonta-ganti pasangan. Ibuku yang tak terima dengan ucapan Ayahku, membanting semua barang-barang yang ada di dekatnya."
"Semenjak peristiwa itu, tidak ada satupun temanku yang mau berteman denganku mereka semua menjauhiku. Aku mengalami Depresi selama berhari-hari. Orangtuaku bahkan tidak mengetahui keadaanku, karena sejak pertengkaran itu mereka pergi dari rumah dan belum kembali."
"Aku yang tidak tahan dengan keadaan di sekitarku memutuskan untuk bunuh diri. Aku menceburkan diriku di sebuah danau, pada sat itu aku melihat ada seorang gadis kecil. Ia berteriak minta tolong, ia kemudian ikut menceburkan dirinya ke danau berusaha menolongku. Tapi tubuhnya yang lebih kecil dariku membuatnya kesulitan menolongku. Hingga ada bapak-bapak yang ikut menceburkan dirinya ke danau dan menolong kami berdua."
"Aku dan gadis kecil itu sempat dirawat di rumah sakit, semenjak itu aku berteman dengannya. Hingga kami dewasa dan aku jatuh cinta padanya. Ia selalu menyemangatiku untuk menjadi sukses, dan membuktikan pada orang-orang yang dulunya meremehkanku bahwa aku lebih baik dari mereka."
"Kami saling mencintai dan berjanji akan menikah, setelah aku menyelesaikan pendidikanku di luar negeri."
"Tiba-tiba saja 6 bulan sebelum kelulusanku aku kehilangan kontak dengannya. Menurut orang-orang yang aku sewa untuk mencari keberadaannya, hilangnya kekasihku berhubungan dengan Kakek ku."
"Kakekku memang tidak pernah menyetujui hubunganku. Aku sudah berusaha membujuk kakekku untuk memberitahu dimana keberadaan kekasihku tapi ia tidak mau mengatakannya. bahkan orang-orang yang aku sewapun tidak sanggup menemukannya."
"Kakek ku terus merecokiku dengan perjodohan yang ia atur, tapi aku selalu berhasil menghindar. Dan terakhir kali aku bertemu dengannya, ia meminta seorang cicit dariku. Sehingga akhirnya aku memilihmu menjadi Ibu dari anakku."
"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena hatiku sudah menjadi miliknya. Dan maaf aku tidak bisa menikahimu, karena posisi itu hanya untuknya. Dan maaf juga karena aku egois menginginkan seorang anak darimu tapi aku tidak bisa menikah denganmu"
"Entah mengapa, aku merasa jika aku memberikan Kakek seorang cicit maka ia akan mengembalikan kekasihku padaku."
__ADS_1
"Maaf karena aku egois tapi aku benar-benar membutuhkanmu untuk membawanya kembali padaku, maukah kau menjadi ibu dari anakku?"
TBC.