UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Menemukannya.


__ADS_3

Hari sudah menjelang pagi. Tiara menggeliatkan tubuhnya. Tapi ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, merasakan bagian perut dan kakinya tertindih sesuatu.


Tiara mengerjapkan matanya, menatap pria di sebelahnya yang tidur memeluk tubuhnya dan juga membelit Kakinya. Tiara menatap tubuh polosnya terkejut. Ia tidak mengingat apa yang terjadi hingga ia bisa tertidur dalam keadaan polos.


"Masku bangun..., Mas" Tiara mencoba membangunkan Dimas dengan memukul pelan pipi pria disebelahnya. Melihat Dimas yang tak juga terbangun. Tiara mencoba melepaskan belitan dan pelukan Dimas. Tapi tubuh kecilnya tak bisa menyaingi tubuh tinggi besar pria di sebelahnya.


"Mas bangun dong Tiara sesak" Tiara menggeliatkan tubuhnya mencoba lepas dari pelukan Dimas.


"Jangan gerak-gerak Yang. Entar aku jadi pingin lagi nih" Dengan mata yang masih terpejam Dimas semakin mengeratkan pelukannya.


"Iiih Mas, udah siang nih cepat bangun. Malu sama Papa, kalau kita nggak bangun-bangun."


Jarak kamar Dimas dan Papa Teo hanya dipisahkan dua ruangan yang berada di tengah-tengah mereka.


"Jam berapa sih yang, daritadi ribut banget. Lagian Papa juga ngerti kok" Dimas membuka matanya memperhatikan wajah Tiara yang tampak kesal.


"Tuh lihat, udah jam 09.15 Masku. Ayo bangun, kita mandi dan bersiap temui Papa."


"Tuh yang jadi bangun kan, kamu gerak-gerak terus sih dari tadi."


"Ini memang udah waktunya bangun Mas, cepetan lepasin Tiara. Tiara mau mandi, udah siang nih mas" Tiara terus memberontak menggerak-gerakkan tubuhnya."


"Ya ampun Yang, kamu ini bandel banget dibilangin jangan gerak-gerak. Tuh kan jadi makin tegang" Dimas mengarahkan tangan Tiara pada kepemilikannya.


"Aaaa... Mas mesum" Tiara terkejut menarik tangannya.


"Puasin dulu yang baru kita mandi" Tanpa menunggu jawaban Tiara Dimas kembali ******* bibir Tiara. Ia menindih tubuh Tiara dan mengungkungya. Dan kejadian tadi malam pun terulang kembali.


Selesai dengan permainannya Dimas menggendong Tiara ke kamar mandi. Tidak memperdulikan Tiara yang berontak minta diturunkan.


"Mas, biarain Tiara mandi sendiri dong. Tiara pingin berendem. Badan Tiara sakit semua nih"


"Berendem bareng aja Yang, udah siang ini. Kasihan Papa nunggu kita dari tadi."

__ADS_1


"Mandi sama mas yang ada bukannya cepet malah makin lama." gerutu Tiara kesal memanyunkan bibirnya. Dimas yang gemas mengecup bibir Tiara gemas.


"Cepat kok, mas janji cuma mandi doang. nggak macem-macem. Macem-macemnya nanti malem kita lanjut lagi ya Yang" Dimas menaik turunkan alisnya, Tiara membuang wajahnya mengabaikan Dimas. Ia kesal karena perbuatan Dimas badannya jadi terasa pegal semua.


Apa yang di katakan Dimas memang benar. Dikamar mandi mereka hanya mandi saja. Tanpa melakukan hal yang bukan-bukan.


Selesai berdandan dan berpakaian, Dimas memesan makanan untuk mereka berdua. Dimas memesan makanan kesukaan Tiara.


"Mas banyak banget sih pesannya."


"Kenapa, nggak suka? Kalau nggak suka mas pesenin lagi."


"Suka mas suka banget malah, ini semua makanan kesukaan Tiara. Tapi ini tuh banyak banget Mas, kan sayang kalau sampai nggak habis mas."


"Kamu tuh perlu makan yang banyak Yang, buat gantiin energi kamu yang terbuang tadi. Sekaligus cadangan buat nanti malam" Dimas tersenyum menatap Tiara.


"Mas, semenjak kita nikah. Mesumnya tambah parah deh" Dimas tertawa mendengar ucapan Tiara. Ia lalu mengambil makanan untuk mereka berdua. Dimas menggunakan satu piring untuk berdua, mengabaikan protes Tiara.


***********


"Apa yang kau lakukan padanya Kek, sampai Kondisinya seperti itu?"


"Dia sama sepertimu, padahal anak buahku hanya ingin membawanya saja. Tapi ia melawan, bahkan hampir membuat anak buahku terbunuh. Jadi anak buahku tidak sengaja memukul kepalanya. Bagaimana kondisinya."


"Ia masih koma sudah sekitar 4 bulan lebih semenjak kejadian itu. Apa Kakek tidak bisa mengajaknya bicara baik-baik. Kenapa harus mencelakainya seperti itu."


"Sudah aku katakan, aku tidak bermaksud mencelakainya. Dia saja yang bodoh melawan perintah anak buahku."


"Astaga Kek, dimana-mana orang kalau dibawa paksa pasti ngelawan. Kakek jangan mau menang sendiri deh, sudah tua juga kelakuannya nggak berubah."


"Hai Aryo, makin kurang ajar kamu ya sama Kakek. Jangan menjadi seperti Key yang selalu membuatku kesal."


"Aku tidak bermaksud melawanmu Kek. Tapi kalau Dimas sampai tau Kakek memperlakukannya seperti itu, dia pasti akan marah besar padamu. Kakek tau bukan Dimas selalu mencari keberadaannya sejak dulu. Tapi begitu orangnya muncul Kakek malah membuatnya koma."

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin dia menemui Dimas terlebih dahulu. Aku harus menyelidiki maksud kedatangan anak itu."


"Dia datang jauh-jauh kemari tidak mungkin bermaksud buruk Kek. Saya juga sudah menyelidiki sepak terjangnya di dunia bisnis, tempat tinggalnya. Ia merupakan pengusaha yang sukses, bahkan pencapaiannya melebihi Dimas karena ia memulai bisnisnya dari nol tanpa bantuan keluarganya. Ia memiliki aset yang sama besarnya dengan Dimas saat ini. Jadi aku tidak berpikir ia akan memanfaatkan Dimas."


"Lalu, Bagaimana dengan wanita itu?"


"Dia sudah meninggal dunia 8 bulan yang lalu. Sebelumnya ia mengalami kecelakaan, pada saat ia menuju bandara. Ia sempat dirawat selama 5 tahun karena koma. Dan tujuan perjalanannya pada saat kecelakaan adalah ke negara ini. Saya harap kecelakaan itu benar-benar kecelakaan, bukan sabotase seseorang" Aryo berbicara dengan nada menyindir.


"Aku tidak melakukannya, sekalipun aku membenci wanita itu. Tapi aku tidak mungkin membunuh wanita yang begitu penting buat Dimas. Aku akan membantu anak itu agar cepat sadar. Datangkan Dokter terbaik untuknya. Tapi kau harus mengawasi anak itu, jika sewaktu-waktu ia sadar. Jangan sampai ia menemui Dimas terlebih dahulu."


"Aku akan menuruti Kakek, untuk mencarikan Dokter terbaik untuknya. Tapi aku tidak akan menghalanginya jika ia ingin menemui Dimas. Walau bagaimanapun Dimas juga sudah sangat lama ingin bertemu dengannya."


"Kau ini semakin lama semakin menyebalkan saja."


"Baiklah Kek, tugas saya sudah selesai. Saya ingin cuti seminggu untuk menemui Ibuku."


"Kau tidak perlu menyusulnya ke luar negeri, ia berada di negara ini. Sebaiknya kau cepat temui dia sekarang. Karena menurut informanku ibumu akan kembali ke negara tempat tinggalnya besok."


"Benarkah Kek, terimakasih Kek" Mata Aryo berbinar senang, ia lalu mencium punggung tangan Kakek.


"Sudah pergi sana temui Ibumu, ini alamatnya" Kakek menyodorkan kertas kecil yang ia ambil dari dompetnya.


Aryo melangkah senang dengan terburu-buru keluar ruangan. Setelah bertahun-tahun ia kehilangan jejak ibunya akhirnya ia menemukannya kembali. Hal yang paling ingin ia ketahui adalah kemana ibunya membawa adik kesayangannya.


Mudah-mudahan kau kuat menghadapi Ibumu yang tak pernah menginginkan keberadaanmu, batin Kakek.


Sebenarnya Kakeknya Dimas sudah lama mengetahui keberadaan Ibu dari Aryo. Hanya saja ia tidak ingin mengatakannya karena takut menyakiti perasaan Aryo. Ibunya Aryo bukannya menghilang dari Aryo secara tidak di sengaja. Tapi ia benar-benar meninggalkan Aryo. Aryo melupakan fakta ini berpikir Ibunya menghilang setelah kejadian malam berdarah karena campur tangan orang lain. Hanya Key yang mengetahui fakta sebenarnya apa yang terjadi pada malam berdarah itu.


Ibunya Aryo meninggalkan negaranya, merubah identitasnya dan juga putrinya, untuk menghindari pencarian Aryo. Kakek yang secara tidak sengaja bertemu Ibunya Aryo pada saat ia mengunjungi sahabatnya di luar negeri berbicara pada Ibunya Aryo.


Setelah banyak berbicara, Kakek sadar Ibunya Aryo tak pernah menginginkan keberadaan Aryo. Kakek yang menyayangi Aryo dan sudah menganggapnya seperti Cucunya sendiri merahasiakan semua dari Aryo.


Berbeda dengan Ibunya Dimas, sekalipun ia selingkuh dari suaminya dan sering sibuk dan mengabaikan Dimas dulu tapi ia menyayangi Dimas. Bahkan ketika Kakek mengusirnya dalam keadaan hamil, ia masih secara diam-diam memperhatikan Dimas. Hanya saja ia tidak bisa menemui Dimas secara langsung karena takut dengan ancaman Kakek.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2