UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Sadar.


__ADS_3

Dimas menancapkan gas mobilnya menuju ke apartemen Erick. Apartemen yang di tempati Erick selama di Jepang adalah milik Dimas.


Tapi Dimas tidak suka tinggal di apartemen itu, ia memilih menginap di hotel


Sesampainya di sana ia terus memencet Bel apartemen, hingga membuat Erick yang baru saja ingin merebahkan dirinya di kasur menjadi terbangun.Sebenarnya Dimas tahu password apartemen itu, hanya saja ia malas memencet tombol angka itu.


"Siapa sih malam-malam begini bertamu, astaga emang dasar ya tamu nggak ada akhlak" Erick berjalan menuju pintu apartemennya. Dengan mata setengah mengantuk ia membuka pintu.


"Siapa sih ganggu o..." seketika Erick terdiam menatap wajah horor di depannya. Ia menelan saliva nya.


Dimas langsung menyerobot masuk apartemen, mengabaikan Erick yang terbengong di depan pintu. Bahkan ia sengaja menabrak bahu Erick.


"Aaaww..."


Astaga emang dasar tamu nggak ada akhlak. Mentang-mentang nih apartemen punya lo untung lo bos gue. Batin Erick kesal.


Dimas langsung mendudukkan tubuhnya di sofa di ikuti oleh Erick yang duduk di hadapannya.


"Jelasin" Dimas melempar amplop coklat ke atas meja.


"Itu adalah hasil penyelidikan anak buah kita bos. Tiara keluar bermain di taman bersama Tuan Reno, Rendra dan satu pelayannya. Lagian juga mereka nggak ngapa-ngapain. Tuan Reno memang sempat memegang tangan Tiara. Tapi Tiara juga menarik tangannya. jadi kesimpulan saya tidak ada apa-apa diantara mereka. Tenang saja bos. Everything it's oke."


"Apa matamu buta, disitu juga ada gambar Tiara memeluk Reno. Bahkan Reno membalas pelukannya."


"Hah.., masa sih" Erick mengecek isi amplop itu. lalu membuka amplop putih yang ada di dalamnya. Dia cukup terkejut melihat gambar foto itu.


"Foto ini sebelumnya tidak ada disini tuan, ini siapa yang menaruhnya."


"Berarti foto itu bukan kiriman anak buah kita."


"Bukan Tuan."


"Berarti anak buah yang kamu kirim itu kurang kompeten, buktinya orang lain bisa mengirim gambar itu. Bagaimana sebenarnya anak buah bodohmu itu mengawasi Tiara" Dimas meninggikan suaranya. Ia benar-benar kesal.


"Bu-bukan begitu Tuan, bisa saja foto ini baru diambil. Dan anak buah saya belum sempat melaporkan."


"Sekarang hubungi anak buahmu itu"


"Tapi Tuan Handphone saya ada pada Kakek anda. Dan saya tidak mencatat maupun menyimpannya di lain tempat."


"Kau benar-benar tidak becus, andai saja aku mempercayakan Aryo untuk masalah ini. Pasti tidak akan seperti ini, cih..."

__ADS_1


"Ini Handphone sementaramu, handphone milikmu maupun milikku disita sama Kakek selama satu Minggu. Coba kau lihat disitu siapa tau ada nomer anak buahmu. Soalnya Anak buah Kakek, memindahkan beberapa nomer kesitu"


"Handphone milik Tuan juga disita, Wah Kakek benar-benar kejam"


"Tidak usah kau campuri urusanku, cepat kau periksa handphone milikmu itu"


"Baik Tuan" Erick memeriksa handphone miliknya.


"Tidak ada Tuan, bahkan nomer Nona Tiara juga tidak ada. Apa tuan mempunyai nomer Nona Tiara selain di handphone Tuan." Erick bertanya dengan wajah polosnya.


Dimas menggelengkan kepalanya sambil menghela nafasnya.


"Wah ternyata kita sama Tuan, Oh ya Aryo kan punya nomer Tiara. Kenapa tidak minta tolong Aryo saja. Saya hapal nomer Aryo Tuan."


"Percuma, saya sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa. Kakek sepertinya sudah bergerak duluan. mungkin nasib Aryo sama seperti kita sekarang. Dan handphone yang ia berikan pada kita saat ini saya yakin telah disadap. Jadi gunakan handphone ini untuk bisnis saja. Kita harus menahan diri selama seminggu ini, jangan bertindak berlebihan. Kau mengerti maksudku bukan."


"Huwaa...,Kakek Anda benar-benar hebat Tuan. Andai saja saya mewarisi separuh saja otak Kakek. Pasti yang jadi bos saat ini adalah saya" gumam Erick lirih tapi masih terdengar oleh Dimas.


"Bicara apa kamu?"


"Ti-tidak Tuan saya tidak berbicara apapun" Erick memukul-mukul mulutnya.


"Tuan darimana anda mendapatkan foto yang ada di amplop putih ini."


"Saya tidak pernah meng upgrade foto ini."


"Kalau begitu mungkin Kakek yang melakukannya"


"Anda terlihat tenang sekali Tuan, anda tidak takut kalau Kakek melakukan sesuatu pada Tiara."


"Jangan khawatir selama aku mengikuti kemauannya, Tiara akan aman. Sekarang aku ingin kau atur jadwalku secepatnya untuk menemui investor. Aku ingin ini semua selesai paling lama 3 hari. Aku ingin segera kembali sebelum ulang tahun Tiara."


"Baik, Tuan."


Dimas pun meninggalkan apartemen tempat Erick menginap. Ia memilih kembali ke hotel. Ia ingin mempersiapkan beberapa berkas untuk pertemuannya dengan investor besok.


*************


Tak terasa hari hampir menjelang pagi, Tiara bangun dari tidurnya. Semalam Tiara dan mama Rina tidur satu kasur. Kebetulan di ruangan itu ada 2 tempat tidur. Sedangkan Reno memilih tidur di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Sekalipun kakinya lebih panjang dari sofa itu.


Mona menatap Rendra yang belum juga tersadar, lalu pandangan matanya tak sengaja menatap Reno yang tertidur lelap dengan tubuh melingkar. Reno sepertinya kedinginan.

__ADS_1


Mona meraih selimut yang ia pakai tadi, dan menyelimuti tubuh Reno. Setelah itu ia duduk di samping tempat tidur Rendra. Ia meraih tangan Rendra lalu mengecup punggung tangan mungil itu.


"Cepat sembuh sayang, Kakak menyayangimu."


tak terasa air mata Tiara kembali menetes. Kali ini Tiara benar-benar tidak bisa menahan air matanya. bahkan tubuhnya sampai berguncang hebat karena menahan tangisnya. Ia bahkan membekap mulutnya agar tak ada suara tangis yang keluar dari bibirnya. Tanpa ia sadari air matanya menetes deras, Dan air mata itu jatuh menetes mengenai pipi Rendra.


Tak lama Tiara merasakan ada pergerakan kecil dari jari mungil yang ia genggam. Refleks ia memperhatikan pergerakan jari itu. Setelah yakin kalau pergerakan itu ada, akhirnya Tiara memencet Bel untuk menghubungi suster. Ia meminta untuk mengirim dokter ke kamar Rendra.


Reno dan Ibunya terbangun ketika Tiara menghubungi suster melalui Bel pasien. mereka kemudian menghampiri Tiara. Bahkan Reno yang terlihat panik pun membuang selimutnya ke lantai begitu saja.


"Ada apa Tiara?"


"Ini Tuan tadi ada beberapa kali pergerakan dari jari Rendra."


"Benarkah?" Reno terlihat senang. Ia mencoba mendekati anaknya ia mengelus sayang wajah putranya itu, sambil memanggil-manggil nama putranya.


"Rendra sayang apa kamu sudah sadar, Kamu bisa mendengar suara Daddy sayang. kalau bisa tolong gerakkan jarimu." Jari Rendra bergerak kembali, terdapat senyuman dari ketiga orang itu.


"Dengar sayang kalau kau belum bisa menggerakkan tubuhmu jangan dipaksa ya. Istirahatlah dulu dokter sebentar lagi datang."


"Hemm..." Rendra mengeluarkan suaranya sesaat. Hanya saja ia belum mampu membuka matanya, sepertinya masih ada pengaruh obat bius di tubuhnya, hingga ia tertidur kembali. Bersamaan dengan itu ada dokter dan beberapa suster yang masuk ke dalam ruangan itu.


Reno, Tiara dan Mama Rina menyingkir memberi ruang bagi dokter untuk memeriksa Rendra.


"Jangan khawatir Tuan, sejauh ini perkembangan putra anda bagus. Saya juga sudah menyuntikkan obat agar ia tidak merasakan sakit pada saat pasien benar-benar sadar nanti. Biarkan untuk saat ini pasien istirahat dulu untuk memudahkan tenaganya. Kemungkinan 3-4 jam pasien akan sadar kembali.


Setelah ngobrol panjang kali lebar dengan Reno akhirnya Dokter meninggalkan ruangan itu.


Waktu terus bergulir tak terasa 4 jam sudah. Rendra mulai melakukan pergerakan, walaupun berat ia berusaha bersuara dan juga membuka matanya.


Tiara yang sejak tadi berada di samping Rendra tersenyum melihat Rendra perlahan membuka matanya. Di sebelah Rendra juga ada Mona, ia sudah datang sejak 2 jam yang lalu.


Mereka yang melihat Rendra mulai membuka matanya, mengitari Rendra. Tapi dengan jarak yang agak jauh. Mereka memberi celah agar Rendra bisa bernafas.


"Sa a kiit ...," Rendra mengeluarkan suaranya lemah. Seketika mereka yang ada di ruangan itu memperhatikan Rendra.


"Syukurlah akhirnya cucu kesayangan oma sadar juga."


Saat ini Rendra sudah bisa membuka matanya, ia mengamati orang di sekitarnya satu persatu.


"Si-siapa kalian?" tanya bocah kecil itu menatap heran sekelilingnya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2