UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Benci.


__ADS_3

Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah ventilasi udara menyorot masuk, mengganggu tidur cantik seorang wanita yang tertidur di atas tempat tidur.


Mengerjapkan matanya perlahan sembari menggerakkan tubuhnya. Entah karena terlalu lelah atau terlalu nyaman dengan tempat tidurnya hingga membuatnya enggan untuk membuka matanya.


Mengintip melalui celah-celah penglihatannya, tiba-tiba wanita itu terbangun dan cukup terkejut dengan keberadaannya.


"Dimana ini?" tanyanya sembari mengedarkan penglihatannya ke penjuru ruangan. Tiba-tiba pandangannya fokus tertuju ke sebuah figura yang berisi foto orang yang sangat ia kenal.


"Kak Mike, ini kamar Kak Mike, tapi bagaimana mungkin" masih setengah tersadar ia kembali mengerjapkan matanya, Ia bahkan memukul pelan kepalanya.


"Apa aku mimpi?" gumamnya lirih, ia mengingat terakhir kali tidur di kamar yang sempit tak ber-AC, tapi kenapa ia sekarang bisa berada di sebuah kamar yang luasnya hampir tiga kali lipat dari kamar yang ia tempati sebelumnya.


"Selamat pagi sayang, Kau sudah bangun?" terdengar suara pintu kamar terbuka lalu Mike menyapanya.


"Kakak, Kenapa aku ada di kamar ini? Apa Kakak yang membawaku kemari?" tanya Nara terlihat bingung.


"Iya, aku yang membawamu kemari. Siapa yang menyuruhmu tidur di ruangan kecil itu, kamar itu bahkan tidak ada jendela atau ventilasi udara, itu tidak baik untuk kesehatanmu." ucap Mike sambil menyentil kening Nara pelan.


"Aaaaw Kak Mike, saaakkiiiiitttt. Kakak ini kebiasaan, kalau nggak nyentil kening Nara, narik hidung Nara." kesal Nara.


"Habis kamunya bandel sih."


"Astaga sudah hampir jam delapan, Kakak kenapa nggak bangunin Nara!" protes Nara sembari melihat jam dinding yang ada di kamar Mike.


"Sudahlah yang penting kau sudah bangun, sekarang cepat mandi, setelah sarapan aku akan mengajakmu dan Dewi mengunjungi sekolah kalian." perintah Mike pada Nara. Nara segera turun dari tempat tidurnya dan ingin menuju ke kamar mandi.


"Oh ya, satu lagi. Aku akan meminta pelayan untuk memindahkan barang-barangmu ke kamarku" ucap Mike membuat Nara terkejut. Ia segera menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.


"Pindah ke kamar ini, Kakak jangan gila ya!" Nara terlihat tidak suka.


"Lalu bagaimana? Apa kamu masih mau bertahan tinggal di kamar sempit tanpa AC. Bagaimana kalau sampai kakek dan Tiara kemari dan melihatmu tinggal disana. Mereka pasti akan berpikir aku menyiksamu disini. Pokoknya tidak ada tawar-menawar Kamu Pindah ke kamarku" ucap Mike tak terbantahkan.


"Tapi Kak kita kan nggak mungkin tinggal sekamar, dan apa kata orang nanti. Tidak, aku tidak ingin pindah ke kamar Kakak, jadi jangan paksa Nara buat sekamar sam Kak Mike" protes Nara terlihat tak suka.

__ADS_1


"Kenapa kau tak mau pindah ke kamarku hemmm?" Mike mendekat pada Nara dan terus memajukan langkahnya. Nara yang merasa terdesak mencoba untuk melangkah mundur hingga ia terdesak ke dinding.


"Coba kasih aku satu alasan kenapa kamu tidak mau pindah ke kamarku? hemmm" Mike mendesak Nara Kedinding dan mangungkungnya di tembok tempat ia bersandar.


"Ka-karena Kita belum menikah" cicit Nara sembari membuang wajahnya ke samping. Jarak wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti saja mbuat Nara gugup


Bahkan Nara bisa merasakan hembusan nafas Mike di telinganya.


"Dasar kamu ini, siapa juga yang mau tidur sekamar denganmu. Aku memintamu tinggal di kamar ini dan aku akan pindah ke kamar lain. Masih ada satu kar kosong lagi disini hanya saja belum di bersihkan. Aku akan pindah kesana dan kau dikamar ini" jelas Mike menatap Nara yang tak berani memandangnya.


"Ti-tidak Kak, biar Nara dikamar Nara yang sekarang aja. Nggak perlu pindah kemana-mana" ucap Nara, ia tidak ingin membuat konflik baru dengan Dewi.


"Apa kau begitu bertekad untuk mempermalukanku di depan keluargaku dengan tetap tinggal disitu!" kesal Mike, sembari melepaskan kukungannya, ia membalikkan badannya dan melangkah menjauh dari Nara. Ia sudah mencoba bersabar agar Nara mau mengikuti perkataanya, tapi apa mau dikata Nara terlalu keras kepala.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu" ucap Nara, ia berlari kecil menghampiri Mike dan memeluknya dari belakang.


"Semua terserah padamu, kau yang memutuskan" Mike terlihat begitu kecewa, ia akhirnya menyerah dan bermaksud meninggalkan Nara. Ia tahu semakin ia mengekang Nara maka Nara akan semakin keras kepala. Mike mencoba melepaskan tangan Nara yang membelit tubuhnya.


"Tunggu, aku akan mengikuti kemauanmu pindah dari kamar itu" ucap Nara mengalah. Ia tahu perkataan Mike benar adanya. Bagaimana jika sampai Keluarga Mike mengetahui Nara tinggal di kamar sempit yang tak layak huni. Sementara masih banyak kamar kosong yang layak untuk di tempati


"Benar, tapi tidak di kamar ini" ucap Nara kembali membuat wajah Mike berubah kesal.


"Kau mempermainkanku."


"Tidak, aku akan pindah ke kamar lain yang ingin kau tempati, kasihan pelayan jika harus bolak-balik memindahkan barang Kak Mike dan Nara" ucap Nara tersenyum. Mike yang senang langsung meraup bibir Nara yang ia pandangi sedari tadi.


Ia tidak hanya mengecupnya, ia ********** dan menjelajahi ke dalam.


"Kak" Nara mendorong tubuh Mike dan mengakhiri cium*n mereka.


"Kenapa kau tidak menyukainya?" tanya Mike.


" Bukan begitu, tapi Nara belum sikat gigi" ucapnya pelan dengan malu-malu.

__ADS_1


"Nggak apa aku suka, tetap manis kok" ucap Mike tersenyum.


"Udah ah Nara mau mandi" ucap Nara berlalu ke kamar mandi.


***************


Sementara itu Dewi yang bangun dari tidurnya segera mandi dan bersiap. Dewi duduk di depan cermin, menghias tipis wajah putih mulusnya. Ia tersenyum mengingat perkataan Mike yang memanggilnya sayang. Walaupun ia sedikit kesal dengan Mike karena begitu perduli dengan Nara. Tapi kata-kata Mike seolah berputar di kepalanya dan terngiang indah di telinganya.


Dewi memilih keluar kamar, mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah tapi masih juga tak menemukan sosok Nara maupun Mike.


"Kemana Nara, tidak mungkinkan jam segini belum bangun?" Dewi menuju kamar Nara dan membuka pintu itu. Tidak ada siapa-siapa di dalamnya, bahkan tempat tidurnya terlihat sedikit berantakan.


"Bibik Nara mana?" tanya Dewi menghampiri wanita paruh baya yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.


"Maaf, Non bibik nggak tahu. Dari bibi bangun sampai sekarang bibi belum ada lihat" ucap wanita itu, sembari meletakkan ayam goreng diatas meja.


"Kalau Kak Mike sudah bangun belum?" tanya Dewi lagi.


"Sudah Non, tadi setelah sholat subuh bibik berpapasan dengan Tuan muda di ruang tengah" jelasnya lagi.


"Baiklah kalau begitu aku mau menemui Kak Mike dulu" ucap Dewi ingin melangkah menuju tangga.


"Maaaf Non, tapi Tuan Mike pesan, jangan ada yang naik ke atas sebelum ia turun sendiri" ucap pelayan wanita itu menghentikan langkah Dewi.


"Kenapa begitu?" tanya Dewi tak mengerti.


"Saya tidak tahu Non, saya hanya melaksanakan perintah Tuan" ucap pelayan itu sedikit ragu.


Dewi berdiri terdiam mencerna kata-kata wanita paruh baya itu.


Apa yang Kak Mike sembunyikan, Sampai ia melarang semua orang naik ke lantai atas, batin Dewi penasaran.


Baru saja ia berusaha untuk mencari jawabannya, tiba-tiba alasan di balik larangan itu muncul hadapannya. Ia memandang benci ke arah wanita yang tepat berada di sebelah Mike. Bahkan Mike terlihat menggandeng tangan wanita itu sembari tertawa kecil, entah apa yang mereka berdua bicarakan hingga terpancar rona merah di wajah keduanya.

__ADS_1


Dasar j*lang kau sama sekali tidak mendengarkan peringatanku, kau benar-benar ingin bermain-main denganku. Baiklah aku anggap ini tantanganmu, lihat apa yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan senyuman di wajahmu itu. Batin Dewi, sembari mengepalkan tangannya, bahkan buku-buku jarinya memutih dan telapak tangannya terluka sangking kuatnya kepalan itu.


TBC.


__ADS_2