
Setelah mengirim pesan ke Dimas, Tiara bergegas mandi. Sementara Eric yang berada di ruang tamu, selalu memperhatikan jam di pergelangan tangannya.
"Astaga, wanita kalau mandi lamanya minta ampun" keluh Eric.
"Tak lama kemudian Tiara keluar dari kamar menemui Eric. Ia terlihat cantik menggunakan dress selutut berwarna merah maron dengan tas selempang dan sepatu plat. Tiara memoleskan make up tipis di wajahnya. Penampilan natural tapi terlihat begitu sempurna.
Eric sempat terpesona melihat penampilan Tiara. kulitnya yang putih bersih terlihat begitu sempurna dengan dress dan make up yang ia kenakan.
"Cantiknya" gumam Eric.
"Pantas saja bos begitu menginginkannya" gumam Eric lagi.
"Tuan..., Tuan...., jadi berangkat nggak? Tiara terlihat kesal melihat Eric yang menatapnya tak berkedip.
Tuan..., teriak Tiara lagi membuyarkan lamunan Eric.
"Eh iya, ayo berangkat sekarang" Eric melangkahkan kakinya menuju keluar apartemen. Tiara mengikuti langkah Eric dengan gelisah, menatap layar ponselnya yg belum jg mendapatkan balasan dari Dimas.
Tuan Dimas cepatlah datang, batin Tiara. Sebenarnya Tiara merasa tak nyaman mengikuti Eric kali ini. Tapi ia merasa tidak ada pilihan lain.
Sesampainya di parkiran Eric menghampiri mobilnya dan mempersilahkan Tiara masuk.
Tiara memilih duduk di belakang sedangkan Eric duduk di depan karena Eric sendiri yang mengendarai mobilnya.
Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan tiba-tiba ada mobil mewah yang melaju di sebelahnya menyalip mobil Eric dan berhenti tiba-tiba di depannya.
Chiiiiit, suara mobil Eric yang mengerem mendadak.
"Aduuuh!!!" teriak Tiara karena kepalanya terhantuk kursi di depannya.
"Pelan-pelan dong Tuan!!" kesal Tiara.
"Kamu nggak lihat tuh, ada mobil berhenti mendadak" Ucap Eric tak kalah kesal dari Tiara.
"Astaga mobil mewah itu" wajah Eric pucat seketika menyadari siapa pemilik mobil itu.
Tak lama kemudian keluarlah Dimas dengan wajah marah menghampiri mobil Eric.
Eric yang merasakan kemarahan Dimas tubuhnya merinding seketika, ia menelan saliva nya.
"Mati aku" ucap Eric menatap Dimas.
__ADS_1
"Buka" Dimas menghampiri mobil Eric, ia menggedor kaca mobilnya.
"Tu-tuan Maaf sa-saya hanya menuruti kemauan Opa anda Tuan" seketika tubuh Eric bergetar melihat tatapan Dimas yang seolah-olah ingin membunuhnya.
Astaga..., seandainya tatapan bisa membunuh orang mungkin aku sudah mati berkali-kali" batin Eric ketakutan.
Dimas tak menghiraukan ucapan Eric, ia kemudian menatap ke belakang kursi kemudi. Ia melihat Tiara mengusap keningnya yang terlihat sedikit memar.
Ia kemudian bergegas menghampiri Tiara. Dimas membuka pintu mobil, meminta Tiara untuk turun.
"Ayo" ucap Dimas memapah Tiara menuju mobilnya. Eric yang melihat Tiara keluar dari mobilnya segera menghampiri Dimas.
"Tu-tuan, saya mohon tolong biarkan nona Tiara bertemu dengan Opa anda. Jika aku tak membawa Nona Tiara sekarang, Opa pasti akan menghukumku dengan kejam" Pinta Eric.
Dimas menghiraukan ucapan Eric, ia tetap menyuruh Tiara masuk ke dalam mobilnya.
"Istirahatlah di rumah, dan ingat jangan kemana-mana tanpa seijinku. Supir akan mengantarmu" Dimas mengecup kening Tiara
"Apa anda tidak ikut bersamaku Tuan" tanya Tiara melihat Dimas yang tak kunjung duduk di mobil.
"Tidak, masih ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu, kau pulanglah. Dan jangan lupa cepat obati lukamu sesampainya di apartemen" Dimas mengusap pelan memar di kening Tiara. Ia kemudian menutup pintu mobil dan menyuruh supir untuk segera jalan.
"Tu-tuan...," ucap Eric ragu.
"Tuan..., tunggu!!!!" teriak Eric berusaha mengejar mobilnya. Namun Dimas mengabaikan teriakan Eric dan tetap melaju.
"Kenapa harus gue lagi yang jadi korban, tega bener Tuan. Mana handphone ama dompet ada di dashboard mobil lagi, Nasib-nasib" keluh Eric.
Sementara Dimas yang telah sampai di depan rumah Opa dengan segera melangkahkan kakinya masuk.
"Dimana Opa?" tanya Dimas kepada salah satu pelayan yang ia temui.
"Tuan Besar ada di ruang baca Tuan Muda" jawab pelayan itu.
Dimas bergegas masuk ke ruang baca, ia membuka pintu dengan sedikit kasar. Kelakuannya ini mengalihkan konsentrasi Opa yang sedang asyik membaca.
"Opa!! teriak Dimas.
"Wah, ada hal apa yang membuat cucuku satu-satunya melupakan etikanya."
"Apa maksud Opa, menyuruh Eric mengusik wanitaku" tanya Dimas to the points.
__ADS_1
"Apa wanita itu lebih berarti bagimu?" tanya Opa.
"Aku hanya berusaha melindungi apa yang menjadi milikku"
"Ha ha ha..., Milikmu, kau yakin. Lalu bagaimana dengan dia" tanya Opa.
Mendengar pertanyaan Opa, Dimas pun terdiam sesaat.
"Dimana dia? jadi benar Opa yang menyembunyikannya" tanya Dimas.
"Tidak penting dimana keberadaannya, Aku hanya ingin kau menyetujui permintaanku. Menikahlah dengan salah satu anak kolegaku. Maka aku takkan mengusik kesenanganmu lagi."
"Apa menghancurkan hidup Ayah belum cukup bagimu? Dan sekarang kau masih ingin mengusikku. Kau memisahkanku dari ibuku dan wanita yang kucintai. Apa itu belum cukup bagimu? " Dimas mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
"Rupanya kau masih dendam padaku, karena mengusir Ibumu 22 tahun yang lalu. Dengar Son aku melakukannya untuk kebaikan kalian. Baik Ibumu atau wanita itu keduanya tidak pantas berada disisi kalian."
"Kebaikan..., mengusir Ibuku dalam kondisi hamil besar Kau bilang itu kebaikan?" tanya Dimas dengan nada tinggi.
"Aku tidak perduli seperti apa kau berpikir tentangku. Tapi kau harus ingat, kau adalah keturunanku. Dan kewajibanmu untuk menurutiku. Menikahlah dengan salah satu dari mereka, dan berikan aku keturananmu. maka aku tak akan mengusikmu." Opa melemparkan Foto wanita di depan meja, dekat Dimas berdiri saat ini.
"Jangan harap aku akan menikahi mereka, Opa hanya ingin cicit bukan, baiklah aku akan mengabulkannya. Tapi jangan berharap aku akan menikah. Jika Opa ingin melihatku menikah maka kembalikan Ia padaku. Karena aku hanya akan menikah dengannya."
"Wanita itu dan Ibumu mereka sama, keduanya adalah sampah. Rasa sayangmu pada mereka menutupi penglihatanmu."
"Hentikan Opa, hentikan...,"
"Kenapa..., apa kau takut jika apa yang aku katakan adalah kebenaran? Dengar Son aku melakukan semua untuk kebahagiaan kalian. Suatu saat kau pasti akan datang padaku dan berterimakasih karena sudah menjauhkan mereka darimu. Semakin hari umurku semakin bertambah, aku hanya ingin melihat cicitku sebelum ajal menjemputku."
"Opa jangan khawatir, aku akan memberikan cicit untukmu. Tapi siapa wanitanya itu adalah pilihanku. Dan Ia hanya akan menjadi ibu dari anak-anakku. Aku tidak akan menikahinya. Jika Opa ingin melihatku menikah maka kembalikan Ia padaku" Dimas meninggalkan Opa yang terdiam mendengar pernyataan Dimas.
"Dasar cucu brengsek" kesal Opa.
**********
Di sebuah rumah sakit besar tampak Tuan Bayu, Farih dan juga Ayahnya sedang menunggu kedatangan seseorang.
Tak lama setelahnya muncullah Tuan Bagas, diikuti seorang wanita muda yang cukup cantik dan seorang wanita paruh baya.
Tuan Bayu, Farih dan juga Ayahnya mengamati wajah wanita cantik itu. Tampak tersirat kerinduan yang begitu besar di wajah mereka, menatap intens wajah wanita cantik itu.
TBC.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca dan jangan lupa like vote dan komentarnya. Terimakasih banyak atas dukungannya. 🙏😘