
Tiara cukup terkejut mendengar ucapan pria di hadapannya. Untuk sesaat ia merasa ini akan menjadi bantuan yang sangat ia butuhkan.
Ya Tuhan, bolehkah aku egois kali ini. Salahkah aku jika meminta orang ini membantuku melunasi hutangku pada tuan Dimas, batin Tiara.
"Kakak cantik, apa masih sakit" tanya Reindra tiba-tiba menghampiri Tiara.
"Tidak sayang, kakak tidak sakit hanya kelelahan saja."
"Tapi kata om Dokter kakak sakit, jadi kakak harus banyak istirahat"
"Reindra, main sama Bik Iyem dulu ya. Papa ada urusan penting sama Kaka cantik"
"Baik Pa" ucap Reindra tak rela dan dengan langkah gontai ia pun meninggalkan ruangan itu.
Tiara menatap bocah kecil itu tersenyum, melihat wajah bocah kecil itu yang memberengut kesal. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan menurut Tiara.
"Nona..., Bagaimana dengan tawaran saya. Apa ada yang anda inginkan atau jika anda membutuhkan bantuan saya, jangan sungkan-sungkan untuk mengatakannya. Dan maaf boleh saya tau nama anda" ucap pria itu membuyarkan lamunan Tiara.
"Saya Tiara, Tuan..."
"Panggil saja Reno"
"Iya, Tuan Reno"
"Cukup Reno saja"
"Maaf saya tidak berani Tuan" Tiara menundukkan kepalanya.
"Baiklah selama tiga hari ini kau boleh memanggilku dengan Tuan. Tapi ingat setelah itu cukup namaku saja. Oh ya jangan lupakan tawaranku untukmu tadi masih berlaku. Bagaimana apa ada yang kau inginkan?"
Tidak Tiara kau tidak boleh egois. Ingat Tiara pesan Ayah jangan pernah memanfaatkan kebaikan orang lain. Tapi kalau minta pekerjaan sepertinya tidak masalah bukan, Batin Tiara.
"Begini Tuan..., saya sebenarnya membutuhkan pekerjaan" ucap Tiara ragu-ragu.
"Kamu masih begitu muda, Apa pendidikan terakhirmu"
__ADS_1
"SMA, tuan"
"Bagaimana kalau kamu kuliah saja, Saya bisa membiayaimu kuliah sampai tamat. Dan saya juga akan memberikanmu uang saku" ujar Reno.
"Terimakasih Tuan, tapi saya lebih membutuhkan pekerjaan saat ini. Mungkin nanti tahun depan saya baru mulai kuliah Tuan"
"Saya bingung mau memberikan pekerjaan apa sama kamu, masalahnya di perusahaan saya pendidikan terakhir karyawan minimal D3. Dan untuk lulusan SMA, ditempatkan di bagian Cleaning service. Untuk itulah kenapa aku memintamu kuliah terlebih dahulu. Agar aku bisa menempatkanmu di tempat yang lebih baik."
"Tidak masalah Tuan, saya bisa bekerja sebagai cleaning service. Kalau Tuan mengijinkan, saya benar-benar membutuhkan pekerjaan Tuan" pinta Tiara.
"Tidak, saya tidak mungkin menempatkanmu disitu. Begini saja berapa uang yang kau butuhkan dalam sebulan, termasuk uang jajanmu aku akan memberikan padamu. Tapi kau tetap harus kuliah."
"Tidak Tuan Terimakasih tawarannya" Tiara merasa tidak nyaman dengan tawaran pria yang ada di hadapannya. Ia hanya takut jika ia kembali tertipu.
"Maaf jika saya mengganggu waktu Tuan dan juga mungkin kurang sopan. Tapi saya permisi pamit dulu tuan" ucap Tiara lagi.
"Kau mau kemana, dan bagaimana dengan tawaran saya."
"Saya mau lanjut mencari pekerjaan Tuan, dan untuk tawaran tuan Terimakasih banyak. Tapi sepertinya kita baru saja kenal, rasanya tidak pantas buat saya menerima banyak kebaikan dari Tuan. Dan tolong jangan anggap pertolongan saya sebagai hutang Tuan."
"Tunggu, kamu ingin pekerjaan bukan. Baiklah, maukah kamu menjadi pengasuh untuk anak saya?" Tanya Reno.
Tiara yang mendengar tawaran Reno pun tersenyum senang dengan segera ia menjawab pertanyaan Reno.
"Mau Tuan, mulai kapan saya bisa bekerja Tuan."
"Kalau tidak lelah kau bisa bekerja mulai hari ini. Dan kamar ini menjadi milikmu jika kau ingin beristirahat kau bisa menggunakannya."
"Terimakasih banyak Tuan tapi boleh saya tau jam kerja saya Tuan. Biar besok saya tidak terlambat."
" Jam kerjamu mulai jam 07.30 pagi sampai jam 5 sore. Tapi kau bisa tinggal disini kalau kau mau, kamar ini milikmu sekarang." Reno menawarkan Tiara untuk tinggal di rumahnya, agar ia bisa mengenalinya lebih jauh lagi.
"Terimakasih tuan, tapi saya akan pulang ke rumah saja. Oh ya Tuan bolehkah jam kerja saya dikurangi setengah jam saja. Saya sudah harus berada di rumah jam 5 sore" pinta Tiara.
"Boleh, semua terserah kamu saja"
__ADS_1
"Terimakasih banyak Tuan. Oh ya Tuan dimana ruangan Tuan muda."
" Kau bisa memanggilnya Narendra. untuk ruangan Narendra kau bisa meminta pelayan mengantarkanmu kesana."
"Terimakasih tuan" Tiara tersenyum cerah kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.
Hanya memberikannya pekerjaan saja, senangnya sudah luar biasa. benar-benar gadis aneh, batin Reno.
************
Setelah dua jam empat puluh lima menit berlalu, akhirnya rapat yang Dimas pimpin selesai. Rapat yang benar-benar menguras emosi Dimas, dengan perdebatan panjang yang cukup alot. Dimas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rapat itu, tujuannya saat ini ialah ingin segera pulang ke Apartemennya untuk menemui gadis kecilnya.
"Tuan tunggu, saat ini anda ada jadwal makan siang di restauran A dengan investor Jepang. Sekalian membahas kelanjutan proyek perluasan pembangunan Rumah sakit" ujar Yessi sekretaris Dimas.
Sial hampir saja saya melupakannya, proyek ini begitu penting. Sebaiknya aku tunda dulu menemui gadis kecil itu, batin Dimas.
"Apa kau sudah memboking tempatnya?" tanya Dimas.
"Sudah Tuan" jawab Yessi.
"Baiklah aku akan kesana sekarang. Tolong kau minta kunci mobilku dengan Eric. Aku akan menunggumu di lobi" Dimas melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan dengan segera Ia berlalu pergi.
"Baik Tuan" ucap Yessi.
Sesampainya di lobi Dimas mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi. Ia kemudian mengambil Handphone miliknya yang ada di saku celananya.
Para karyawan wanita yang berada di lantai bawah tak bisa melepaskan pandangannya terhadap Dimas. Ini adalah peristiwa yang cukup langka, permasalahannya selama ini Dimas tak pernah sekalipun duduk di lobi. Biasanya mereka hanya bisa memperhatikan pria tampan itu berlalu pergi begitu saja.
"Astaga, tampannya bos idamanku" Kasak-kusuk terdengar dari karyawan wanita yang ada di lantai bawah. Dimas mengabaikan keributan yang dibuat para karyawati itu
Dimas menatap handphonenya kemudian memencet nomor telpon apartemennya, walaupun ia berusaha berkali-kali menghubungi apartemen maupun handphone Tiara. Tapi tetap saja tak ada jawaban dari sana. Hal ini menambah kekesalan Dimas.
"Lihat saja, bagaimana aku akan menghukummu nanti" Kesal Dimas.
Sementara itu Tiara yang saat ini bermain dengan Narendra merasakan tubuhnya merinding seketika. Ada apa ya, kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak. Batin Tiara.
__ADS_1
TBC.