UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Menelusuri Jejak


__ADS_3

Dimas terkejut mendengar penjelasan ayahnya tentang identitas Tiara. Ia tidak menyangka jika Tiara adalah putri dari Tuan Aziz yang asli. Dia beruntung karena Ayahnya menggagalkan pernikahannya sebelumnya.


"Pantas saja Tiara memiliki golongan darah yang sama dengan Farih. Dan anda Nyonya Anggi sebaiknya anda bertobat dan membantu kami menemukan Tiara. Jika terjadi sesuatu dengan Tiara saya akan menghancurkan seluruh keluargamu dan menjadikanmu pengemis."


"Ampun Tuan, Saya bersumpah akan membantu menemukan Tiara. Asal Tuan tidak menuntutku dan putriku pasti saya akan berusaha sekuat tenaga."


"Untuk masalah putrimu yang berbohong itu bukan urusanku. Biar tuan Aziz dan istriku yang menghukum kalian."


"Sebaiknya kita bergegas, Papa takut jika Bagas menyakiti Tiara. Dim kau pergilah hubungi orang yang bisa membantu kita. Papa akan bersama Anggi mencari keberadaan Bagas. Siapapun dari kita yang menemukan terlebih dahulu harus memberitahu."


"Bagaimana dengan keluarga Pak Aziz pa, haruskah kita menghubungi mereka."


"Biar Papa yang menghubungi Pak Aziz secara pribadi nanti. Papa takut jika ini terdengar istri Aziz akan membuat ia kembali depresi."


**************


Key mengantarkan beberapa nelayan kembali ke rumah mereka, setelah mereka mendapatkan perawatan. Sementara juragan ikan tetap berada di rumah sakit untuk menjaga Pak Kupit.


Di dalam mobil tidak ada satu percakapan pun hanya keheningan saja. Mereka takut jika salah berbicara terhadap pemuda yang mengantar mereka. Mengingat betapa brutalnya pemuda itu. Suasana terasa dingin dan canggung untuk para nelayan. Key memang menghajar mereka karena emosinya yang tak terkendali tapi Key juga megobati mereka.


"Ambil" Key menyodorkan amplop kemasing-masing nelayan. Mereka menerimanya dengan tatapan bingung.


"A-apa ini Nak" tanya salah satu dari mereka memberanikan diri.


"Ini buat kalian, kondisi kalian masih perlu perawatan jadi sebaiknya kalian jangan melaut dulu. Itu bisa kalian gunakan untuk keperluan dirumah."


"Terimakasih Nak, tapi ini banyak sekali" mereka terkejut melihat jumlah nominal uang merah yang mereka dapatkan. Mungkin butuh waktu 3 bulan melaut untuk dapat uang sebanyak itu.


"Kita ambil 3 lembar saja dan sisanya kita kembalikan" ucap mereka berbisik.


"Segini cukup nak, kemungkinan 2 hari lagi kami juga sudah bisa melaut" mereka menyodorkan amplop itu setelah mereka mengambil 3 lembar uang merah."


Key mengabaikan mereka semua ia langsung kembali masuk kedalam mobilnya dan berlalu pergi.


"Nak, nak..." Nelayan itu memanggil Key yang telah berlalu pergi.


"Pemuda itu biar terlihat dingin tapi ia baik hati. Ya sudah anggap aja ini rejeki buat kita."

__ADS_1


"Ini namanya Bonyok membawa berkah" mereka tertawa-tawa bersama dan pergi ke rumah masing-masing dengan wajah ceria.


Sementara itu di rumah sakit handphone juragan ikan berbunyi. Itu adalah telpon dari putri Pak Kupit.


"Assalamualaikum Pak, saya sudah sampai terminal ini. Bagaimana kondisi Ayah saya saat ini."


"Kondisi Ayahmu baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu hasil lab saja. Sebaiknya kau cepat kemari Ayahmu sudah merindukanmu" Ucap juragan ikan berbohong.


"Boleh saya bicara dengan Ayah sebentar."


"Ayahmu sedang tidur, cepatlah kemari. Bapak tutup dulu ya telponnya, ini dokternya sudah datang."


Juragan ikan mengakhiri panggilannya dengan cepat. ia takut kelepasan dan salah bicara. Biarlah sesampainya disini ia baru memberitahukan kenyataan yang sebenarnya.


Key sampai di rumah sakit berbarengan dengan Putri dari Pak Kupit.


"Bapak ada disini, Pak Dimas beberapa hari ini selalu mencari-cari keberadaan bapak. Itu Tiara..."


"Tidak usah banyak bicara, sebaiknya kau cepat temui Ayahmu di ruang ICU lantai 2. Kondisinya kritis saat ini."


Yessi yang tadinya ingin memberitahu perihal hilangnya Tiara jadi menghentikan ucapannya. dengan segera ia berlari menuju lift untuk ke lantai dua.


Ya Yessi adalah sekretaris Dimas dan juga merupakan putri kandung dari Pak Kupit. Sebelum ia ijin untuk pulang ke kampungnya, Dimas meminta bantuannya untuk menghubungi beberapa bodyguard mencari keberadaan Tiara.


*************


Dimas dan sahabatnya memeriksa setiap CCTV jalan. Melalui CCTV Dimas melihat mobil Tiara mendekati pertigaan. Tapi sayangnya CCTV yang berada di pertigaan mati hingga jarak beberapa kilometer. Sehingga menyulitkan mereka kemana arah mobil itu menghilang selanjutnya.


"Cari tau mobil mewah yang ada di belakangnya ini milik siapa. Mobil ini pasti dilengkapi CCTV, Kita bisa mengecek kemana arah mobil Tiara pergi melalui CCTV mobil ini.


"Baik Tuan."


"Saya pergi dulu mencari tau keberadaan istriku. Saya tidak akan tenang jika duduk diam disini. Tolong kalian cek kembali siapa tau ada yang terlewat." Dimas kemudian berlalu pergi menghubungi bodyguard yang ia suruh mencari keberadaan Tiara.


Sementara itu Anggi dan Teo mendatangi satu persatu, tempat yang biasa di pakai Bagas untuk kumpul-kumpul dengan sahabatnya.


"Kita sudah mendatangi banyak tempat. Tapi kita belum juga menemukannya. Coba kau ingat-ingat lagi mungkin ada tempat yang terlewat" ujar Teo.

__ADS_1


"Entahlah otakku benar-benar sulit konsentrasi karena terlalu panik."


Teo menatap wajah Anggi yang terlihat lelah dan pucat. Ia lalu mengambil kresek yang ada di kursi tengah


"Ini minuman dan juga Roti. Kau makan dan minumlah ini dan tenangkan pikiranmu."


"Oh ya ada satu tempat, itu rumah masa kecilnya dulu. Rumah itu jauh dari kota dan sudah lama kosong. Ayo kita bergegas kesana" Anggi mengabaikan perintah Papa Teo.


"Habiskan dulu roti dan minumanmu."


Anggi kali ini menuruti perintah Teo. Ia juga memberikan Roti dan minuman kepada Teo. Karena jumlah roti dan minuman di kresek itu lumayan banyak.


Setelah mengganjal perut mereka. Papa Teo segera bergegas ke alamat yang diminta Anggi. dengan panduan dari Anggi.


Teo memarkirkan mobilnya di dekat semak-semak, ia menyembunyikan keberadaan mobil agar tak terlihat. Anggi dan Teo sampai di sebuah rumah yang terlihat jauh dari rumah lainnya. Di sebelah rumah itu terdapat gudang tua yang sebagian terlihat bekas terbakar. Halaman rumah itu ditumbuhi rumput lebat pertanda jika rumah itu lama terbengkalai dan tidak berpenghuni.


Anggi dan Teo masuk kedalam rumah itu, tapi tak mendapati ada orang disana. Hanya saja ada beberapa bekas botol anggur kosong dan kulit kacang berserakan di lantai ruang tamu.


"Apa ada yang tinggal disini sebelumnya?" tanya Teo.


"Tidak rumah ini sudah lama kosong. ini adalah rumah peninggalan orang tua Bagas. Dan dia hanya memiliki satu adik perempuan. Adiknya itu tidak pernah mau kemari karena takut dan trauma. Ia hampir mati terbakar di gudang sebelah rumah ini. Jadi rasanya tidak mungkin ada yang kemari selain bagas."


"Tapi kalau melihat bekas botol dan kulit kacang ini terlihat baru. Coba kita periksa gudang sebelah." ujar Papa Teo.


Dengan hati-hati mereka melangkah masuk. Teo membimbing Anggi karena sebagian dari tempat itu sudah lapuk dimakan usia.


Ketika mereka ingin naik kelantai dua. Teo mendengar suara orang berbicara. Ia memberi kode pada Anggi untuk tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.


"Daripada kita membunuh wanita ini sia-sia dan tidak mendapatkan apa-apa, bukankah lebih baik kita peras dulu harta suaminya" ujar Adi.


Ya penculik Tiara adalah Pak Adi supir pribadi Tiara. Ia melamar kerja disana dengan maksud mema-matai Tiara atas perintah Bagas. Pernyataan Tiara kepada Papa Teo beberapa hari lalu tentang masa lalu Tiara terdengar oleh Pak Adi yang bersembunyi di balik tiang.


Hal ini yang membuat Bagas dan supir itu bergerak cepat menyingkirkan Tiara.


"Tidak, sebaiknya kita cepat bunuh saja sebelum keluarganya tau kalau dia telah menghilang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2