
Tak terasa hampir dua minggu sudah Dimas menyamar sebagai seorang wanita. Dimas yang suka mencuri-curi kesempatan pada Tiara selalu saja gagal karena Roy yang selalu ingin menempel padanya, hal ini benar-benar membuat pria itu darah tinggi.
Sementara itu kesehatan Michael semakin membaik, ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat lagi. Walaupun belum bisa berlari tapi setidaknya ia bisa berjalan dengan hati-hati.
"Kek, aku ingin bertemu Kakakku" Pinta Michael, saat ini ia sedang ada di kamarnya bersama dengan Kakek Dimas.
"Maaf, sepertinya kau harus menahan keinginanmu dulu untuk saat ini."
"Tapi kenapa Kek, bukankah Anda berjanji akan mempertemukanku dengannya jika aku sudah bisa berjalan normal."
"Masalahnya adalah Kakakmu saat ini ada tugas penting yang membuatnya tidak bisa di ganggu oleh siapapun?"
"Kenapa?"
"Aku sulit menjelaskannya, tapi aku akan coba bicara nanti padanya tentang keberadaanmu. Sebenarnya ia sudah lama mencarimu, tapi karena tak kunjung menemukanmu dengan ibumu jadi ia menyerah karena berfikir kalian mungkin tidak ingin bertemu dengannya."
"Apa Kakak belum tau kalau Mama sudah meninggal dunia?"
"Sepertinya belum, Aku tidak sanggup untuk mengatakannya. Ia pasti akan membenciku karena aku lah yang memisahkan kalian, Maaf" ucap Kakek terlihat menyesal. Walaupun ini semua sesungguhnya bukanlah kesalahan Kakek, karena perilaku Ibu mereka yang di luar batas menjadi alasan Kakek mengusirnya.
"Tolong Kek, pertemukan aku secepatnya dengan Kakakku. Karena itu adalah tujuan utamaku datang ke negara ini. Aku juga harus menyampaikan amanat dari mama kami untuknya."
"Baiklah aku akan bicara padanya nanti."
Kakek memilih merahasiakan keberadaan Dimas yang sebenarnya selalu bertemu Michael setiap harinya.
"Kek boleh aku bertanya? Maaf bukan bermaksud ikut campur, Tapi mengapa Kak Dimas tidak pernah datang mencari Istrinya. Apalagi istrinya saat ini sedang mengandung anaknya."
"Kau pikir ia akan diam saja di tinggal istrinya. Setiap hari, setiap waktu ia selalu menerorku karena menanyakan kabar istrinya. Bahkan ia membawa kabur laptopku yang terhubung dengan CCTV gedung ini."
"Kalau begitu bukankah ia tahu keberadaanku."
"Ia tahu istrinya dekat denganmu dan selalu cemburu dan marah setiap kali melihat istrinya kau dekati. Tapi ia sama sekali tidak tahu jika kau adiknya."
__ADS_1
"Kalau ia memiliki akses CCTV gedung ini berarti ia tahu dong Kek pembicaraan kita."
"Jangan khawatir akses yang ia miliki hanya bisa merekam objek gambar tapi tidak suara. Aku sengaja membuatnya seperti itu agar ia mati penasaran" Kakek tertawa karena berhasil membodohi Dimas.
Sementara Michael hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia tak menyangka bisa berinteraksi dengan akrab bersama Kakek. Karena sebelumnya ia berfikir Kakek adalah orang yang tidak bisa ia sentuh, bahkan Ibu kandungnya sendiri juga memintanya untuk menjauhi Kakek. Gambaran yang diberikan Ibunya tentang Kakek adalah pria yang egois dan kejam. Yang bahkan tidak akan segan-segan untuk mencelakai orang yang menghalangi jalannya.
**************
Saat ini seperti biasa, Tiara sedang menikmati matahari pagi bersama susuter Dina dan jangan lupakan Roy juga berada disana.
"Kau ini mengapa tidak menjaga tuanmu, bukankah kau di bayar untuk menjaganya" Dimas terlihat kesal dengan pria yang seperti parasit, mengikutinya dan Tiara kemanapun mereka pergi.
"Tenang saja suster cantik, Bosku baik hati. Semenjak ia bisa berjalan ia membebaskanku melakukan apa saja di gedung. Suster tidak perlu khawatir, sekalipun bosku memecatku, aku masih sanggup kok membelikan suster rumah mewah dan membiayai suster dan anak-anak kita nanti" ujar Roy dengan pedenya
"Hah..., ueekkk" Dimas berlari ke kamar mandi, ia merasa mual mendengar kata-katanya Roy.
"Pepet terus Bang" ujar Tiara pada Roy, bahkan mereka berdua melakukan tos.
"Mbak nggak apa-apa kan."
"Mbak nggak hamilkan?" tebak Tiara asal. Sementara mata Roy melotot mendengarkan interaksi mereka berdua.
"Ya mana mungkinlah, saya kan la..." Dimas membungkam mulutnya, ia hampir saja keceplosan.
"Kenapa mbak?"
"Nggak apa, pokoknya intinya saya nggak hamil, titik."
Roy tersenyum lega mendengar jawaban suster yang tiap hari terlihat makin cantik di matanya.
"Habis katanya mbak selalu mual-mual di pagi hari. Itukan gejala orang hamil mbak."
"Memangnya Nona tiap pagi juga mengalami mual ya" tanya Dimas penasaran, ada rasa bersalah saat menanyakan pertanyaan itu pada Tiara.
__ADS_1
"Eh iya, sudah dua Minggu ini saya nggak pernah mual sama sekali" Tiara baru mengingat jika ternyata ia tidak pernah lagi mual-mual dan itu semenjak ada suster yang mendampinginya.
"Syukurlah. Nona apa kau tidak merindukan suamimu? Kalau anda ingin bertemu dengannya saya bisa mengatur pertemuan kalian.
"Tidak, aku tidak merindukannya. Untuk apa merindukan orang yang bahkan tak pernah mengunjungi ku sekalipun" kesal Tiara.
"Bukan begitu Nona, Suami anda pernah kemari tapi dia di usir oleh penjaga gerbang katanya Nona tidak ingin menemuinya."
"Seharusnya kalau ia mencintaiku datang dong tiap hari. Bukannya datang sekali di tolak langsung pergi, benar-benar menyebalkan. Aku ngantuk dan ingin tidur jangan ikuti aku"
Tiara segera pergi dari sana karena tak bisa membendung air matanya. Ia benar-benar merindukan suaminya, apalagi ia sedang mengandung saat ini, tentunya sebagai wanita hamil ia membutuhkan perhatian dan sentuhan hangat suaminya.
Dimas yang memperhatikan ekspresi istrinya merasa bersalah. Sepertinya ia harus mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan istrinya sebagai sosok Dimas yang sebenarnya dan menyelesaikan masalah mereka.
Dimas ingin melangkah pergi menyusul Tiara, tapi lagi-lagi Roy menghalanginya.
"Sebaiknya biarkan Non Tiara sendiri, ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Suster disini saja dulu, ads yang ingin saya bicarakan dengan suster penting" ujar Roy.
"Ada apa?"
"Bagini, saya..., saya cin..." belum juga Roy menyelesaikan ucapannya handphone Dimas berbunyi.
"Maaf saya pergi dulu, kita bicara lain kali saja ya" Dimas tidak jadi menyusul Tiara. Ia pergi ke tempat aman untuk mengangkat telpon Kakek.
"Hallo Kek, ada apa?"
"Kakek sudah menemukan keberadaan adikmu."
"Benarkah? Dimana dia" sangking senangnya Dimas sampai lupa. ia menggunakan suara aslinya untuk berbicara. Dan tak jauh darinya ada seseorang yang mendengar percakapannya itu.
"Kau sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi maaf Kakek baru memberitahumu saat ini."
"Katakan saja, dimana dia Kek? Saya ingin bertemu dengannya? Apa dia baik-baik saja? Dan Mama, apa ia bersamanya?"
__ADS_1
"Siapa Kau sebenarnya?" Tiba-tiba sesosok pria dengan wajah yang terlihat marah datang menghampirinya. Dimas terkejut hingga ia menjatuhkan handphone miliknya, bahkan ia belum sempat mendengar jawaban dari Kakek untuk pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.