UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Menemukan Nara.


__ADS_3

Alex tidak bisa berkelit lagi. Akhirnya ia menerima syarat itu. Tapi untuk berakhir dengan perjodohan ia akan berfikir lagi nanti.


Tiara cukup tegang menjadi pusat perhatian orang. Berada di tengah-tengah orang penting membuatnya semakin nervous. Alex selalu mendukung Tiara. Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan Tiara, dia lebih mengutamakan kenyamanan Tiara di banding berbaur dengan pejabat-pejabat dan mencari dukungan.


Alex memperhatikan sekelilingnya, saudara tirinya itu belum terlihat sampai dengan sekarang. Saudara tiri yang sudah menjebaknya hingga ia terdampar di pulau orang dan menjadi buronan. Beruntung ia akhirnya bisa menghubungi pamannya hingga akhirnya ia bisa kembali Ke negaranya.


"Pangeran, boleh aku mengajak istrimu ini untuk berbaur dengan Ibu-ibu pejabat yang lain. Mereka sangat penasaran dan ingin berkenalan lebih dengan istri pilihanmu ini." Ibu tiri pangeran menghampiri Alex dan Tiara mencoba untuk mengajak Tiara bergaul dengan kaum sosialita nya


"Mungkin lain kali, istriku agak kurang nyaman berada di kumpulan orang banyak" Tolak Alex, ia meraih tangan Tiara ke dalam genggamannya.


"Kau tidak bisa terus menyembunyikan dia di belakangmu tiap kali berhadapan dengan orang banyak. Sebagai istri pangeran ia harus pandai bersosialisasi dengan berbagai kalangan. Momen ini bisa pangeran jadikan pelajaran berharga untuk membuat dia mengenal orang dengan berbagai karakter. Ini bagus untuk menguatkan mentalnya."


"Tidak perlu anda yang mengajarkannya. Ada saatnya nanti saya sendiri yang akan membimbingnya" tolak Alex, ia khawatir ibu tirinya ini memiliki niat lain yang bisa mencelakai atau membuat malu Tiara.


"Bagaimana kalau kita mendengar pendapat istrimu tercinta. Naura, maukah kau ikut bergabung denganku. Aku akan mengenalkanmu dengan orang-orang penting di istana ini. Bergaul dengan mereka akan memudahkan jalan suamimu nanti untuk menuju kesuksesannya" Dengan suara lembut wanita paruh baya itu mencoba meyakinkan Tiara. Tapi Tiara merasa terintimidasi dengan tatapan tajam mertuanya itu sekalipun suara yang di keluarkan begitu halus dan lembut.


"Jika kau tidak menginginkannya, tidak apa. Kau bisa terus disini bersamaku. Jangan khawatir aku tidak akan terganggu olehmu." Alex berusaha meyakinkan Tiara jika bersamanya lebih baik.


"Aku letih, bisakah aku kembali ke kamarku?" tanya Tiara di angguki oleh Alex.


"Bunda Ratu, maaf saya tidak bisa ikut. Mungkin lain kali Bunda, kehamilan saya membuat saya gampang letih akhir-akhir ini." ucap Tiara lembut. Sebenarnya ia tidak enak mengajak permintaan ibu mertua tiri itu tapi kesehatan mentalnya lebih penting mengingat ia sedang mengandung saat ini.


"Jangan panggil Bunda Ratu, karena gelar Ratu hanya di berikan pada Ibuku. Panggil saja Bunda" Alex menjelaskan pada Tiara. Terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya itu menahan marahnya. Tangannya mengepal erat. Ingin sekali ia menampar mulut anak tirinya itu.


"Ya, Raja memang tidak memberi gelar itu padaku. Tapi aku tidak keberatan jika Naura memanggilku dengan gelar itu. Siapa tahu raja mendengarnya lalu memberikan gelar itu padaku" ucap wanita itu menahan kesal.


"Jangan mimipi" ucap Alex. Ia lalu membawa pergi Tiara dari sana. Alex meminta ijin pada raja untuk membawa Tiara istirahat ke kamarnya, mengingat Tiara sedang mengandung dan gampang lelah.

__ADS_1


***********


Dimas terus mencaritahu keberadaan Aiko dan juga Katsuro walaupun belum menemukan hasil ia tak pernah menyerah. Ia yakin mereka masih berada di kota yang sama mengingat penjagaan perbatasan di perketat. Ditambah status mereka yang buron membuat organisasi yang menaungi di bawah mereka lepas tangan.


Sementara Michael saat ini berada di sekolah Nara. Ia berusaha mencaritahu keberadaan gadis itu. Sayang gadis itu sudah tak pernah masuk sekolah jauh sebelum peristiwa penggerebekan itu.


Michael memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang sekolahnya. Di dalam mobil ia masih terus berfikir dimana kira-kira gadis itu berada?


Dari pihak sekolah ia juga akhirnya mengetahui gadis itu suka membolos dan terkenal keluar masuk ruang konseling, karena selalu terlibat perkelahian dengan siswi lainnya. Di mata guru dan siswi lainnya gadis itu adalah seorang trouble maker.


Bahkan Nara tak memiliki satu orangpun sahabat di sekolah mengingat status Ayahnya yang merupakan seorang anggota mafia membuat teman-temannya tak mau berurusan dengannya. Jika dipikir-pikir Kasihan juga nasib gadis itu, di usianya yang masih belia ia sudah di kucilkan karena kesalahan Ayahnya.


Setelah mendapatkan informasi yang cukup tentang gadis itu Michael akhirnya menjalankan mobilnya. Tujuannya saat ini adalah Mall dimana ia menurunkan Nara. Ia mencoba mencari peruntungan dengan berjalan-jalan dalam Mall besar itu.


Setelah beberapa jam ia berkeliling Mall dan tak menemukan hasil akhirnya Michael memilih untuk keluar dari Mall tersebut. Michael berjalan menuju parkiran sembari mengangkat telpon dari Dimas.


"Bisa kau jemput Kakek di bandara dua jam lagi. Aku saat ini masih ada urusan di luar."


"Baik Kak, aku akan menjemput Kakek."


"Satu lagi, jika Kakek bertanya macam-macam tentang Tiara bilang saja kau tidak tahu apa-apa dan sudah lama tak berjumpa atau berhubungan dengan Tiara. Jika ia masih mendesakmu sarankan ia untuk bertanya langsung padaku"


"Baik Kak." Tak lama terdengar sambungan telpon yang diputuskan oleh Dimas.


Ketika Michael ingin menaruh handphone miliknya kedalam saku celananya tiba-tiba tangannya di senggol seseorang hingga handphone miliknya terjatuh di lantai.


Brakkk!!!

__ADS_1


"Haiii!!!" teriak Michael terkejut karena handphone ditangannya terlepas.


"Maaf" ucap penyenggol itu dan buru-buru kabur dari sana.


Michael terpaku seperti merasa kenal dengan suara itu tapi siapa ya? Michael bertanya-tanya dalam hati sambil memperhatikan postur tubuh orang itu.


Postur tubuhnya seperti seorang wanita sekalipun ia menggunakan celana panjang dan menggunakan sweater Hoodie yang menutupi bagian kepalanya.


"Astaga itu dia!" ucap Michael begitu menyadari siapa gadis yang menabraknya.


Ya, gadis itu adalah Nara. Sang trouble maker sekaligus penghianat bagi Michael. Begitu menyadari siapa gadis itu Michael langsung berlari mengejar Nara. Gadis itu sudah melewati eskalator menuju lantai atas.


Michael berlari menuju kesana, menghiraukan orang-orang yang menatapnya heran. Ia sama sekali tak perduli dengan tatapan orang. Yang terpenting baginya adalah mendapatkan Nara, gadis itu tak boleh lepas darinya karena Nara adalah kunci untuk menemukan Katsuro dan juga Aiko.


Berada dilantai atas dimana Nara berada, Michael menatap sekitar. Matanya memindai setiap lokasi disana jangan sampai ada lokasi yang terlewatkan hingga ia kehilangan jejak gadis itu.


"Ketemu kau" gumam Michael saat melihat gadis itu berdiri diantara Ibu-ibu yang sedang berebut pakaian diskon. Ia sengaja membaurkan dirinya di tempat keramaian agar Michael tak menemukannya. Tapi Nara salah, Michael yang begitu jeli menemukan keberadaannya.


Dengan posisi menunduk Nara berpura-pura memilih baju yang di diskon di dalam box. Ia terkejut ketika sebuah tangan menariknya dari belakang.


"Ikut denganku, atau aku akan membuatmu menyesal" Michael berbisik di telinganya penuh dengan tekanan.


Seolah tak bisa berkutik Nara tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Michael.


Habislah aku, batin Nara sembari mengikuti langkah Michael yang tak juga melepaskan genggaman tangannya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2