
Alex masuk kedalam kamar dengan langkah lesu, ia harus segera bersiap karena raja akan mengirimnya ke tempat yang jauh. Hidup sebagai orang biasa di tempat yang baru tanpa uang sepeserpun pastilah sangat berat apalagi raja juga tidak mengijinkan mereka membawa asistennya.
"Tiaraa" panggil Alex ketika sampai di dalam kamarnya. Selama ini, sekalipun Tiara dan Alex satu kamar berdua tapi Alex selalu memilih tidur di ruang kerjanya.
"Kau memanggilku?" tanya Tiara heran, pasalnya Alex selalu memanggil namanya Naura. Tapi kali ini mengapa ia memanggilnya Tiara. Tidakkah ia takut jika ada orang yang mendengarnya nanti.
"Ya, kemarilah" Alex menepuk sofa kosong di sebelahnya.
"Ayah sudah tahu semuanya, malam ini Ayah akan membawamu kembali pada suamimu. Apa kau senang?" tanya Alex.
"Tentu saja pangeran, aku senang sekalipun aku sempat sebal karena kau membawaku kemari tanpa seijin suamiku" ucap Tiara.
"Darimana kau tahu semua itu?"
"He he he.., sebenarnya aku sudah bertemu dengan suamiku sebelumnya. Wanita yang bernyanyi pada saat peresmian Mall, yang membuatku menangis haru tapi juga bahagia, dia adalah suamiku. Ia menceritakan kalau kau telah menipunya. Tapi ia berjanji padaku akan membawaku kembali ke negara kami secepatnya. Aku tidak menyangka secepat ini ia berhasil menjalankan rencananya." Tiara terlihat kagum dengan keberanian dan kecerdasan suaminya.
"Jadi waktu kau ijin ke toilet itu kau menemui suamimu?" tanya Alex lagi di angguki oleh Tiara.
"Sekarang pergilah temui Ayah, aku juga harus pergi ke suatu tempat. Dan mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Bawalah perhiasan yang aku belikan untukmu bersamamu. Kau bisa memberikannya pada putrimu jika kau tak menyukainya" Alex mengingat penolakan Tiara sebelumnya. Ia mengambil perhiasan itu dari lemari dan menyerahkannya pada Tiara.
"Terimakasih Pangeran" ucap Tiara.
"Jaga dirimu baik-baik, jika takdir mengijinkan kita akan bertemu lagi" ucap Alex sok puitis.
Tiara lagi-lagi menganggukkan kepalanya, tapi kali ini ia memberikan senyuman menyejukkan untuk Alex
"Pangeran hati-hati ya."
"Boleh aku memelukmu sebagai tanda perpisahan" tanya Alex. Tiara langsung menghampiri Alex dan menyambut rentangan tangannya.
"Pergilah, kalau tidak aku tidak akan mengijinkanmu untuk pergi dariku" ucap Alex, jujur saja ia sudah mulai terbiasa dan nyaman dengan kehadiran Tiara.
__ADS_1
***********
Dewi berada di depan kamar Mike, sudah dua hari ini Mike tidak menyapanya membuat Dewi makin membenci Nara.
Tok tok tok
"Kakkk!!" panggil Dewi dengan suara keras karena tak ada jawaban dari dalam.
"Masuklah" sahut Mike dari dalam. Dewi masuk dan berdiri tak jauh dari Mike, Mike saat ini sedang berada di depan kaca. Ia ingin masang dasinya.
"Biar Dewi pasangkan" meraih dasi itu dari tangan Dewi lalu mengenakannya pada Mike.
"Kak, maaf karena bertindak berlebihan" ucap Dewi tiba-tiba.
"Aku selalu memaafkanmu, aku hanya tidak menyukai sifatmu yang kasar pada Nara. Tidak ada satupun anak yang bisa memilih lahir dari orangtua yang mana. Jadi jangan lampiaskan kebencianmu karena kesalahan yang tidak ia lakukan" ucap Mike menasehati Dewi.
"Iya Kak, maaf. Aku sedih dua hari ini Kakak tidak menyapaku" ucap Dewi dengan wajah cemberut.
"Lalu bagaimana denganku Kak? Aku juga ingin ikut Kakak, aku tidak ingin sendiri" ucap Dewi.
"Kau disini dulu sampai 100 hari kakakmu, setelah itu aku akan mengirim orang lain untuk menjemputmu" ujar Mike lembut menatap Nara.
"Lalu bagaimana dengan Nara, apa kakak akan membawanya juga?" tanya Dewi dengan nada sedikit sebal.
"Dia adalah tanggung jawabku sekarang, begitu juga dirimu. Hanya saja Kakak harus mempersiapkan banyak hal disana. Kakak juga ingin kau menghilangkan kesedihan dan kebencianmu sebelum kau tinggal bersamaku dan juga Nara" jelas Mike.
"Datanglah setelah 100 hari Kakakmu, oke" ucap Mike di angguki oleh Dewi.
"Sekarang panggillah Nara, kita sarapan bersama. Kakak harus ke perusahaan satu jam lagi" perintah Mike, Dewi mengetuk pintu Nara dan mengajaknya makan bersama.
Perubahan Dewi yang tiba-tiba ramah cukup membuat Nara heran, ia tersenyum canggung menanggapi candaan Dewi.
__ADS_1
***************
Dimas mondar-mandir di depan kaca, bahkan bajunya terlihat berantakan di atas tempat tidurnya.
Ia seperti remaja yang ingin menemui pasangan kencannya. Ia bingung ingin memakai baju warna apa dan model yang bagaimana. Entah sudah berapa kali ia gonta-ganti baju karena merasa kurang cocok atau kurang keren.
"Hah sudahlah, pakai ini saja" Dimas memilih kemeja di padukan dengan jas semi formal, crop pants dan sepatu loafer.
"Sempurna" ucap Dimas mengagumi dirinya sendiri.
Dimas sampai di tempat yang raja janjikan terlebih dahulu, ia mondar-mandir karena merasa tak sabar. berpisah lama dengan istrinya membuatnya tidak akan lagi membiarkan Tiara pergi kemanapun sendirian.
Ia tersenyum membayangkan kebersamaan mereka di masa depan nanti.
Sebuah mobil dengan logo kerajaan tiba. Dimas mendekati mobil itu ternyata tak ada Tiara di dalamnya. Dimas tampak kecewa, baru saja ia ingin protes tiba-tiba Raja menghampirinya.
"Maaf aku tidak bisa membawa Tiara kemari, tempat ini terlalu terbuka. orang-orang sudah terlanjur mengenal istrimu sebagai istri putra mahkota. Aku tidak bisa begitu saja membawanya kemari" jelas Raja, membuat Dimas marah.
"Lalu apa mau anda sebenarnya, haruskah kita berperang agar kau mengembalikan istriku" Dimas terlihat tidak bisa mengontrol emosinya.
"Jangan khawatir, aku tetap akan mengembalikan istrimu. Aku hanya butuh kerjasama istrimu dan juga dirimu. Aku akan membuat skenario kematian istrimu yang saat ini berstatus istri putra mahkota dengan begini maka tidak akan ada yang menuding citra buruk anakku. Maaf, walau bagaimanapun ia adalah penerus Tahta. Aku harus menjaga nama baiknya."
"Pergilah ke pelabuhan dan naiklah kapal Big White, istrimu akan datang padamu setelah menyelesaikan tugasnya."
"Apa yang kau lakukan pada istriku, Tugas apa yang kau berikan padanya. Jika sampai sesuatu terjadi padanya aku tak akan memaafkanmu" Dimas kesal meraih kerah raja dan mencengkramnya kuat. Pengawal raja yang sigap langsung menjauhkan Dimas dari Raja.
"Jangan khawatir istrimu di dampingi oleh penyelam profesional. Aku meminta istrimu menaiki sebuah kapal, Lalu sebelum kapal di ledakkan istrimu dan dua orang penyelam yang mendampinginya akan pergi dari kapal melalui dek bawah kapal yang sudah kami buatkan jalan rahasia. Aku menjamin keselamatan istrimu dengan nyawa dan tahtaku" ucap Raja yakin.
"Kau memang raja yang gila, untuk reputasi anakmu yang brengsek itu kau mengorbankan istriku. Jika terjadi sesuatu padanya akan aku porak-poranda kan negerimu ini" ucap Dimas tak bisa menahan amarahnya.
"Temukan aku dengan istriku sekarang juga, kalau kau ingin menyamarkan kematian istriku, maka biarkan aku yang mendampinginya. Tapi ingatlah untuk perlakuanmu hari ini terhadap istriku, aku akan menyiapkan hadiah terbaik untukmu" Dimas merasa marah dan tidak dihargai. Padahal ia sudah mengambil jalan damai dan berinisiatif baik tapi rupanya Raja yang egois itu masih saja meminta istrinya untuk berkorban.
__ADS_1
TBC