
Anton yang ingin menghentikan langkahnya tiba-tiba di tarik oleh Dewi.
"Ayo, Mas" Dewi menggandeng tangan Anton dan mempercepat langkahnya. Ia ingin secepatnya pulang agar bisa membersihkan diri lalu pergi mencari informasi tentang anak sambungnya Angga.
Anton duduk di balkon kamarnya, ia masih teringat kejadian di taman tadi, syukurlah ia datang dengan cepat. Kalau tidak istrinya ia pasti sudah kehilangan istrinya.
Tiba-tiba pikiran Anton terusik oleh petugas kebersihan yang selalu memperhatikan mereka. Ia segera mengambil handphone miliknya dan menghubungi Dimas.
"Halo" terdengar suara Dimas dari telpon.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Anton.
"Aku mendapat kabar, kalau Manda kembali ke kota ini. Aku meminta anak buahku untuk standby di perbatasan, berjaga-jaga jangan sampai ia keluar dari kota ini. Jangan khawatir, selama ia di kota ini kita pasti akan menangkapnya secepatnya" ucap Dimas yakin.
"oh ya Dim, tolong kau cek CCTV taman yang letaknya 1 kilo dari rumahku. Cek kejadian satu jam yang lalu" pinta Anton.
" Baiklah" ucap Dimas, ia tidak menanyakan kenapa? tapi ia langsung melaksanakan permintaan Anton.
Dimas mengakhiri panggilan telpon setelah tidak ada yang perlu di bahas lagi, mereka berpacu oleh waktu agar secepatnya menemukan Angga.
*******
"Dasar, brengsek" Manda terlihat marah hingga menghancurkan barangnya yang ada di dalam kamarnya.
Ia dapat kabar dari anak buahnya bahwa mereka tidak bisa keluar dari kota ini karena setiap perbatasan dijaga ketat.
"Sialan, aku harus mempercepat rencana ku kali ini" gumam Manda.
Ia lalu menghampiri kamar sebelahnya, terdapat baby sitter dan Angga yang tertidur di tempat tidur bayi.
Angga terlihat tidur nyenyak, karena Manda memberikan Angga obat tidur agar bocah kecil itu tidak terus menangis karena mencari Dewi.
"Sudah berapa lama dia tidur?" tanya Manda pada Baby sitter.
"Sudah 4 jam Bu" jawab Baby sitter itu.
Manda menganggukkan kepalanya, ia terlihat tidak khawatir sama sekali. Ia mengambil handphone miliknya, merekam anaknya yang tertidur dan mengirimnya pada Anton.
Anton yang menerima video dari Manda langsung menelpon nomor tersebut.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" tanya Anton tanpa basa-basi.
"Tinggalkan wanita itu, aku ingin kita mulai dari awal lagi."
"Ha... ha....ha..." Anton tertawa miris. Manda yang ngotot minta cerai, sekarang malah dia yang meminta untuk balikan.
"Jangan mimpi!! Katakan saja kau ingin berapa?" tebak Anton, ia tahu jika semua ini ujung-ujungnya adalah duit.
"Aku ingin 50% dari semua kepemilikanmu" ucap Manda tidak tahu malu.
"Apa kau pantas?" ucap Anton, ia berusaha berbicara panjang lebar sementara anak buahnya sedang berusaha melacak keberadaan Manda dari sambungan telepon.
"Kau membohongiku dengan berpura-pura miskin dan menjadi pengangguran. Semua yang terjadi ini salahmu, dan untuk 50% dari semua hartamu itu adalah hakku."
"Aku tidak pernah mengatakan aku miskin dan tidak punya kerjaan, itu adalah asumsimu sendiri. Bahkan selama pernikahan kita, kau tak pernah bertanya apa yang aku lakukan, yang kau perduli kan hanya uang dan uang. Jadi bukan salahku jika kau bahkan tidak tau berapa jumlah aset suamimu dulu."
"Ya kau benar yang kuperdulikan hanya uang, jadi berikan bagianku dan aku akan serahkan anakmu" ucap Manda.
"Datanglah ke kantorku sore ini, aku akan siapkan pengacara untuk memberikan apa yang kau mau" ujar Anton.
"Tidak, kau yang harus datang padaku. Aku akan kirim alamatku, ingat kau sendiri jangan bawa siapapun. Kalau tidak, selamanya kau tidak akan bisa melihat putramu. Dan untuk pengacara, aku yang akan siapkan" Manda memperingatkan Anton.
"Bagaimana dengan putraku?" tanya Anton.
"Aku memberimu waktu Satu jam untuk sampai disini sekarang, kalau tidak maka kau tidak akan pernah menemukan kamu selamanya."
Merasa sudah cukup Manda mengakhiri percakapannya.
Tak lama Manda mengirimkan Alamat ke Anton, Anak buah Anton yang berhasil melacak keberadaan Manda menyocokkan Alamat tersebut. Ternyata itu adalah Alamat yang berbeda.
Akhirnya Anton membagi orangnya menjadi dua tim. Dimas dan anak buahnya pergi ke alamat yang anak buah Anton lacak, dan Anton pergi ke alamat yang Manda kirimkan.
Dimas meminta Anton membawa anak buah untuk berjaga-jaga, untuk menghindari kecurigaan anak buah Anton pergi dengan kendaraan yang berbeda.
Tanpa membuang waktunya Anton melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara itu untuk istrinya Dewi, ia menitipkannya pada Tiara dan Mike, ia meyakinkan Dewi akan membawa putranya dengan selamat tanpa kurang satu apapun.
Anton tidak ingin istrinya khawatir, ia bahkan menolak keras permintaan Dewi yang ikut bersamanya. Akhirnya demi keselamatan Angga, Dewi mengikuti perintah Anton.
Anton yang pergi terlebih dahulu di bandingkan anak buahnya akhirnya sampai juga. Tempat itu adalah sebuah gedung yang telah terbengkalai lama.
__ADS_1
Di sambut anak buah Manda, Anton di bawa ke sebuah ruangan, Ia diminta duduk di situ. Sebuah ruangan yang gelap dan pengap, tercium hawa lembab dari ruangan yang sudah tak terpakai lama. Bahkan Anton tidak bisa melihat warna dan bentuk kursi yang ia duduki.
Blip, tiba-tiba lampu menyala terang, terasa silau hingga Anton sempat mengernyitkan matanya.
Terlihat Manda dan beberapa pria yang mendampinginya berjalan masuk kedalam ruangan itu. Ada satu pria yang berpenampilan berbeda diantara pria yang lainnya, itu pasti adalah pengacara Manda pikir Anton.
Manda dan pengacara duduk di hadapan Anton, sedangkan beberapa pria mengitari mereka, ada pula beberapa yang menunggu di luar. Anton baru bisa melihat kondisi ruangan setelah lampu menyala terang.
Ternyata Manda sudah mempersiapkan semua dengan matang. Terbukti dengan pemilihan tempat, banyaknya bodyguard dan juga berkas surat yang sudah siap yang kini terjejer di hadapannya.
"Tanda tangani ini," perintah Manda.
"Aku akan membacanya terlebih dahulu" ucap Anton.
"Kau baca atau tidak itu tidak akan ada bedanya. Toh, kau tetap harus menandatangani ini semua" ucap Manda sedikit mengejek.
Anton mengabaikan ucapan Manda, ia membaca berkas surat itu dengan santai. Sebenarnya itu dilakukan untuk mengulur waktu agar Dimas bisa membebaskan Angga terlebih dahulu.
"Bacalah dengan cepat!!! aku tidak memilik banyak waktu untuk meladenimu!!" Manda terlihat kehilangan kesabarannya.
"Aku mengumpulkan harta ini puluhan tahun, kau hanya menungguku selesai membaca untuk mendapatkan 50% nya. Apa kau tidak bisa menunggu dengan sabar" ucap Anton terlihat cuek.
Ketika membaca beberapa poin perjanjian, tiba-tiba Anton mengernyitkan keningnya.
"Aku ingin 50% lagi dari hartamu kau berikan pada putra kita. Aku tidak ingin istri barumu itu mengambil hak anak kita" ucap Manda mengerti pandangan Anton yang terlihat aneh.
"Ha...ha...ha...," Anton tertawa karena merasa konyol.
"Kau pikir istriku itu sepertimu, yang hanya memikirkan kesenanganmu sendiri" ejek Anton.
"Karena aku memikirkan masa depan putraku, aku tidak mengambil semua hartamu. Bukankah, itu tandanya aku Ibu yang baik. Jika kau tidak ingin kehilangan hartamu, aku tidak masalah jika kita memulai semua dari awal. Kau punya pilihan, aku tak masalah dengan pilihanmu."
Anton hanya berdecak kesal, ia malas menanggapi Manda yang mau menang sendiri.
"Baiklah, aku sudah membaca semuanya. Tapi sebelum aku menandatangani ini, aku mau lihat dulu putraku" Anton mengajukan permintaan pada Manda, ia ingin melihat apakah putranya baik-baik saja.
"Tunggu sebentar" Manda mengambil handphone miliknya, Ia melakukan video call. berkali-kali ia menghubungi Baby sitter anaknya, tapi tak ada jawaban dari sana.
Anton yang sudah tau situasinya, tersenyum samar.
__ADS_1
"Kalian berdua, pergi cek baby sitter dan anakku" raut wajah Amanda terlihat khawatir, ia menatap Anton curiga, tapi Anton menampilkan ekspresi datar.
TBC.